:Tuhan

Ini surat entah, sebab aku tak tahu bagaimana cara beribadah kecuali mengingatMu dalam setiap detak jantungku yang dedah. Tuan, aku masih tersesat, berjalan dari rumah ke rumah, dari pintu ke pintu hanya untuk menemukanMu. 

Di tanganku, Tuan. Masih kusimpan carikan tiket tanpa tanggal keberangkatan, sebab Engkau hanya menyebutkan satu janji yang akan tetap kupegang, bahwa kelak, Kau akan mengajakku pulang. MenemuiMu.

“Sesungguhnya Aku dekat, lebih dekat dari urat lehermu.”


SuaraMu kerap terngiang di telinga. Mengajakku untuk menolak lupa bahwa Engkau ada. Bahwa Engkau akan selalu ada. 

Tuan, bisakah Kau menghitung rindu yang berdegup di jantung? Rindu yang menjantera darahku agar terus-menerus mencariMu. 

Tuan, jika suatu saat aku lelah dan tak lekas menemukanMu, maukah Kau berjanji satu hal padaku? Bernjanjilah untuk datang menjemputKu. 

Sebab aku akan selalu menunggu.

MenungguMu.

Leave a Reply