Tubuh Perempuan; Benteng Pertahanan Sekaligus Senjata Mematikan

Seperti yang pernah dikatakan oleh Kang Ahda Imran di dalam salah satu percakapan kami, ketika laki-laki ‘menikmati’ tubuh perempuan, tidak jelas lagi siapa yang objek dan siapa yang subjek. Saya belum begitu memahami teori yang dikemukakan oleh Heidegger dan Merleau-Ponty, jadi tidak akan menelaahnya dari sisi filsafat atapun disiplin ilmu lainnya. Saya hanya berusaha mengamati realitas sosial dan interaksi antarpersonal.

Di dalam Islam, tubuh (bahkan suara) perempuan disebut sebagai aurat yang harus ditutup rapat. Bukan karena agama satu ini mendiskreditkan kemerdakaan perempuan dalam berpakaian, melainkan untuk melindunginya. ‘Keharusan’ menutup aurat ini jugalah yang sering dijadikan dalih oleh para pelacur hukum ketika dihadapkan kepada tindak kejahatan yang berhubungan dengan tubuh perempuan (pemerkosaan, pelecehan seksual, penganiayaan, dll). Tubuh yang tidak tertutup kemudian menjadi objek yang harus disalahkan ketika terjadi penyalahgunaan, menjadi semacam pembenaran ketika tubuh yang bersangkutan ‘dihancurkan’.

Tubuh perempuan sering kali dilolosi dari jiwa yang mengisinya; dibendakan atau dikambinghitamkan. Ketika hal ini terjadi, agama dan budaya lebih sering bersikap ‘I’ve told you so’. Di sinilah seharusnya kemanusiaan mengambil alih dan kembali menyatukan antara tubuh yang dibendakan dengan perempuan sebagai manusia yang memiliki jiwa.

KORBAN, ATAU DIKORBANKAN?
Jika dilihat dari sejarah berakhirnya perang Troya (yang juga diceritakan Kang Ahda), tubuh perempuan adalah subjek otonom yang memegang peranan penting, bahkan kendali di saat-saat genting. Hal inilah yang kerap kali tidak disadari oleh para lelaki maupun perempuan itu sendiri sehingga posisi objek dan subjek menjadi bias. Di dalam perang Troya, perempuan tahu betul bagaimana menggunakan tubuhnya. Istri-istri dari kedua belah pihak sepakat untuk tidak melayani suami mereka di tempat tidur jika peperangan tidak diakhiri. Perang pun berakhir. Ini menunjukkan bahwa di hadapan kuasa tubuh perempuan, prajurit perang paling hebat sekalipun bisa berubah menjadi pandir.

Mari mundur lebih jauh lagi ke tragedi Adam dan Hawa yang diusir dari surga. Di dalam literasi mana yang menyebutkan bahwa Hawa itu buruk rupa? Tidak ada! Hawa adalah blue print keindahan tubuh perempuan. Celakanya, Adam hanya diberi peringatan mengenai tipu daya iblis, bukan tipu daya pasangannya.

Izinkan saya merekonstruksi dialog mereka:

Hawa : Beb, makan deh buah ini. Enak lho.

Adam : Ga mau ah. Kata Tuhan itu buah terlarang.

Hawa : Yaelah, enak kali. Aku udah nyoba, kok.

Adam : Appah? Kamu udah nyoba? Oh my God! Kamu tuh ya, aku bilangin jangan makan ya jangan makan. *marah-marah, banting gelas

Hawa : Beuh, malah nyolot nih laki. Yaudah kalau ga mau makan, kamu ga dapat jatah tiga bulan.

Adam : *kleyengan

Ya, terlepas dari rekonstruksi dialog di atas yang agak-agak gimana gitu, seharusnya kita memang bersyukur. Coba kalau Adam tidak tergoda oleh bujuk rayu Hawa (dan tubuhnya), maka kita tidak akan tinggal di dunia (Di surga belum tentu ada facebook, lho).

Di dalam masyarakat modern yang tengah kita jalani ini, tubuh perempuan memang masih menjadi komoditi. Maaf, saya tidak sedang berbicara tentang pelacuran. Saya sedang berbicara mengenai realitas sosial yang ada di depan mata. Sebut saja satu bidang yang tidak menjadikan tubuh perempuan sebagai garda depan? Periklanan? Perfilm-an?Fashion? Seni? Semuanya ‘menggunakan’ tubuh perempuan bukan hanya untuk menarik perhatian tapi juga untuk menjaring para pelanggan. Coba perhatikan fashion show, yang menarik itu baju yang mereka pakai atau tubuh yang mengenakannya?

Apa ada yang salah dengan komoditi? Tidak. Toh perempuan juga diciptakan karena memiliki fungsi. Yang salah adalah ketika para perempuan itu sendiri selalu merasa bahwa tubuhnya dieksploitasi ketika seharusnya dialah yang memegang kendali. Di dalam prinsip paling dasar hutan rimba, mangsa dan pemangsa hanya dipisahkan oleh garis tipis bernama rasa takut. Jika Anda merasa menjadi korban maka Anda akan diperlakukan sebagai korban.

Jika Anda, para perempuan, selalu merasa bahwa tubuh Anda yang lemah namun indah itu adalah penyebab pelecehan para lelaki, maka sebaiknya Anda membaca tentang Cleopatra atau Dayang Sumbi. Selama ini, tindak kejahatan terhadap tubuh perempuan terjadi karena perempuan itu sendiri menganggap bahwa tubuhnya adalah benda. Tubuh bukan hanya tumpukan otot yang ditutup oleh kulit, ia adalah kendaraan Anda untuk menjalani hidup. Maka perlakukan ia dengan benar.

Pernah dengar tentang Drupadi atau double agent Sang Matahari? Coba katakan, siapa yang memegang kendali di dalam dua legenda tersebut? Kalau Anda masih berpikir bahwa Drupadi dan Sang Matahari adalah korban laki-laki, maka Anda akan terus-menerus diperkosa pemikiran Anda sendiri. 

Teruslah merasa menjadi korban dan laki-laki akan memperlakukan Anda sebagai korban. 

Anda para perempuan memiliki kuasa penuh atas tubuh yang Anda kendarai. Jika ingin dihijabi maka lakukanlah, jika tidak maka terserah. 

INI HANYA MASALAH MEMBALIKKAN POSISI

Apakah Anda tahu berapa banyak laki-laki yang menghubungi saya pasca saya memasang PP dengan dada tersembul bertato kupu-kupu? Lebih dari sepuluh orang, dan kesemuanya hanya menginginkan satu hal yang sama; tubuh. Apakah saya merasa dilecehkan? Merasa dimurah-meriahkan? Merasa keperempuanan saya dijajah? Tidak, ini memang sengaja saya lakukan sebagai riset untuk melihat sejauh mana laki-laki bisa bertahan terhadap kuasa tubuh perempuan. 

Sekarang silakan berpikir ulang, siapa yang melecehkan, siapa yang dilecehkan? 

Salam,

~eL

One Comment

  1. October 27, 2013 at 7:15 am

    ah, saya berpikiran yang sama perihal tubuh perempuan ini mbak. saya yang punya, saya yang pegang kendali. err, suka sekali dengan tulisan ini. <3

Leave a Reply