a6378-181809351_f4a48825c0_m

:Tuhan

Kau selalu mengatakan bahwa sabar dan ikhlas adalah sebenar-benar obat untuk menyembuhkan luka. Kau selalu mengatakan bahwa Engkaulah satu-satunya zat tempat aku meminta pertolongan. Kau selalu mengatakan bahwa memaafkan masih lebih baik daripada memendam dendam. Tapi Kau tidak mengatakan bahwa ternyata ada hal-hal yang tidak bisa begitu saja dimamah waktu.

Nyatanya, memaafkan dan melepaskan tidak pernah semudah itu.

Kemarin, ketika pengasuh anakku bertanya apakah gajinya sudah bisa kuberikan, aku harus memberinya kabar buruk. Tadi malam, ketika Ibu Kos untuk yang kesekian kali bertanya apakah aku sudah bisa membayar uang kos bulan ini, lagi-lagi aku harus memberinya kabar buruk.

Rasanya seperti sedang berada di dalam labirin, lepas dari satu jebakan untuk kemudian masuk kepada jebakan lainnya. Dengan terbata, aku memanjatkan satu doa, “Tuhan, semoga invoice segera cair.”

Tuhan …

Tadi pagi, aku kembali memukul anakku atas kesalahan-kesalahan kecil yang ia lakukan. Aku menamparnya, menyirami ia dengan air dingin padahal tahu pagi begitu gigil. Ia menangis, memandang mataku, kemudian menunduk karena mungkin ia tahu masih ada rasa marah di sana.

“What’s wrong with me?” adalah pertanyaan yang kuteriakkan sepanjang hari. Aku mencari-cari, menggantungkan kewarasanku di kait namaMu.

Kenapa aku bisa begitu marah? Kenapa hanya karena urusan telat membayar kos dan pengasuh lagi-lagi membuatku tidak stabil? Bukankah PPD sudah seharusnya berlalu sejak setahun lalu?

Kau pun tahu apa yang dikatakan psikolog yang sudah dua kali bertemu denganku. PPD bisa berkembang menjadi depresi major. Dengan gejala-gejala Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang aku miliki, tak ada yang tahu setan apa yang sebetulnya bercokol di dalam kepalaku.

Aku ketakutan, ada penyebab lain yang harus aku tangani.

Tuhan …

Berpuluh tahun ini, Engkau kerap kuanggap ada dan tiada. Hubungan kita selalu mengalami pasang surut, meski pada akhirnya aku tak pernah bisa lagi berpaling dariMu. Kau Yang Tak Pernah Pergi.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tengah mencari-cari penyebab utama yang membuat kewarasanku berada di ujung tebing. Aku tengah berusaha menemukan jejak hantu masa lalu di dalam sini. Seharian ini aku menangis, menyesali karena menjadi ibu yang berbahaya bagi anakku. Berkali-kali aku melapalkan namaMu.

Tuhan …

Isi kepala manusia adalah hutan belantara, bukan? Ketika hantu itu kutemukan, ternyata ia bukan berupa tagihan demi tagihan meski sedikit banyak memang membuatku tertekan. Api itu adalah nama 6 orang lelaki: 3 orang mantan suami, 3 orang mantan kekasih.

Kau tahu? Ingatan tentang mereka masih mendatangkan rasa marah, rasa trauma. Aku kerap menjadi setan yang tidak kukenali ketika ingatan-ingatan tentang mereka datang dan datang lagi. Di dalam kepalaku, peristiwa demi peristiwa layaknya pisau yang mencacah kewarasan.

Aku … mulai tak tahan. Aku masih marah ketika ingat salah satu dari mereka kerap pulang dalam keadaan mabuk pada dini hari buta. Aku masih marah ketika ingat salah satu dari mereka memukuliku layaknya binatang. Aku masih marah ketika ingat salah satu dari mereka meniduri perempuan lain yang segalanya tak lebih baik dariku, bahkan ketika aku hamil.

Aku masih marah ketika ingat salah satu dari mereka menghamiliku lalu pergi. Aku masih marah ketika ingat salah satu dari mereka datang dan berjanji akan menikahiku tapi kemudian pergi. Aku masih marah ketika ingat salah satu dari mereka menjadikanku layaknya sampah.

Tuhan …

Ketika Kau meniupkan ruh Aksa ke dalam rahimku, apakah Kau yakin aku akan jadi ibu yang pantas baginya? Jika iya, mengapa hal-hal buruk seperti tadi pagi masih saja terjadi?

Ketika Kau menghadiahkan Aksa kepadaku, apakah Kau yakin dengan kekuatanku? Jika iya, mengapa aku merasa begitu rapuh?

Tuhan …

Luka-luka itu masih ada. Luka yang diakibatkan pernikahan-pernikahan serupa neraka. Luka yang diakibatkan keparat-keparat yang mungkin hari ini sudah lupa kepadaku. Meski aku selalu mengingat mereka.

Maka demi anakku Aksa, demi jundi yang Kautitipkan kepadaku, aku si pelacur ini memohon tiga hal:

“Satu. Ajari aku cara memaafkan mereka, agar lekang luka-luka di dada. Agar masa lalu tidak lagi menjadi hantu yang membangunkan setan di kepalaku. Dua. Maafkan aku atas segala macam kebanalanku. Kau satu-satunya zat tempat aku meminta pengampunan. Kau adalah nyala yang selamanya menjadi pelita, sebenar-benar tempat aku pulang nanti. Tiga. Kuserahkan pengasuhan anakku sepenuhnya kepadaMu. Lindungi ia, Tuhan. Terutama dariku, ibunya.”

Aamiin.

5 Comments

  1. June 20, 2016 at 10:32 am

    Aamiin….

  2. June 20, 2016 at 2:34 pm

    Semoga badai cepat berlalu

  3. June 21, 2016 at 7:18 am

    Teh, :((

  4. June 21, 2016 at 11:59 pm

    Mbaaaak……

    Aku nangis

  5. June 28, 2016 at 10:27 am

    hugs

    mau dibantuin apa atuh ceu..

Leave a Reply