Tuhan di Perut Orang-Orang Lapar



“Punten, Neng. Bapak mau mengganggu sebentar.” 

Seseorang menyapa dengan suara bergetar ketika saya sedang berada di warung makan, menyantap makan siang dengan menu yang nyaris sama setiap harinya: telur dadar dengan dua jenis sayuran. 


Saya menoleh, mendapati lelaki berusia sekitar 60 tahun dengan wajah keriput dan bibir pecah-pecah. Kemeja putih lusuh, celana katun biasa, dan sandal karet khas orang tua. 


“Iya, Pak?” saya menghentikan suapan.

“Bapak dari Tasik, mau ke Cipageran. Tapi kehabisan ongkos, ini juga jalan kaki dari Stasiun,” jelasnya.

Ah, ini dia, pikir saya. Penipuan yang lain lagi. Tapi saya menahan diri, siap mendengarkan cerita pilu beragam versi. “Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

“Bapak boleh minta makan?” ia kembali mengeluarkan suara. Terdengar lapar.

Bukan uang? Bukan ongkos yang diminta dengan paksaan? Modus seperti ini sudah sering saya temui di jalanan. Orang-orang, tua dan muda, dengan berbagai cerita yang dibuat semalang mungkin. Berpura-pura kehabisan ongkos hanya untuk meminta uang, lebih sering secara paksa. Orang-orang seperti ini, yang menjual kemalangan hanya untuk mendulang rasa kasihan, selalu membuat saya muak. Tapi lelaki di depan saya ini berbeda, dia tidak meminta uang, dia hanya meminta makan.   


“Neng …,” suaranya kembali terdengar. 

Saya tertegun sebentar kemudian kembali sadar, mungkin ia tidak sedang main-main atau mencari korban. “Oh boleh,” saya berdiri. “Bapak mau makan di mana? Di sini aja atuh.”

“Dibungkus aja, Neng. Maaf merepotkan,” katanya sambil keluar warung dan duduk di pinggir jalan.

Gegas, saya meminta pemilik warung untuk membungkuskan nasi rames. Ayam goreng, dua jenis sayuran, dan kerupuk, lengkap dengan air minum. Saya menyerahkan bungkusan itu, dia berterima kasih dan menyalami tangan saya. Lalu saya kembali ke dalam dan melanjutkan makan.

Selama makan, kepala saya berisi banyak hal: kisah, persangkaan, dan pertanyaan. Saya bahkan menyangka bahwa lelaki tua itu adalah talent sebuah reality show sehingga dengan konyol saya menunggu serbuan kamera dan pembawa acara yang akan bertanya, “Kenapa Mbak menolong bapak tadi?”. Lalu saya akan diberi hadiah berjuta-juta, masuk televisi, dan dikatai sebagai orang baik dan penolong. Syukurnya, hal itu tidak terjadi. 


Sebuah pertanyaan lain juga mengusik. “Bagaimana kalau ternyata lelaki itu tak lebih dari sekadar penipu?” Saya meletakkan sendok, berhenti makan sebentar untuk menghela napas panjang. Pertanyaan seperti ini kerap kali hinggap di benak orang-orang ketika menolong orang yang tidak dikenal, pertanyaan yang juga hinggap di kepala saya. 

Untuk menjawab pertanyaan yang mengusik itu, saya menatap makanan di atas meja. Makanan berat pertama yang saya temui setelah dua hari tidak menyantap nasi. Puasa? Diet? Bukan, itu karena memang baru hari itulah saya sanggup membeli nasi. Uang saya habis dua hari sebelumnya, dipakai untuk membeli popok, susu, dan persediaan MPASI Aksa. Hari itu saya bisa makan karena meminjam uang dari Ibu Kos. 

Jadi, saya mengajukan pertanyaan yang berbeda, “Chan, bagaimana rasanya lapar?”. Saya tahu, pertanyaan itu tidak perlu dijawab, juga pertanyaan sebelumnya. Kemudian saya tahu bahwa sebuah kebaikan hanya urusan saya dengan Tuhan, bukan dengan orang yang saya tolong. Saya tak peduli lagi apakah lelaki tua itu hanya penipu atau memang betul-betul orang lapar yang sedang membutuhkan pertolongan. Kebaikan akan tetap dicatat sebagai kebaikan. 

Ketika makanan di piring saya tinggal sisa sepertiganya, saya teringat Jupiter dan Mercury yang datang ke Phrygian. Kedua dewa itu menyamar sebagai pengemis, berpura-pura meminta pertolongan dari penduduk Phrygian hanya untuk menguji kebaikan mereka. Bersenang-senang a la dewa. Dengan senyum konyol saya meneruskan makan, setidaknya saya sudah mencegah Cimahi disulap jadi danau oleh dewa yang kesal dan kurang kerjaan. 

*

Saat saya keluar dari warung makan, lelaki tua itu sudah tidak ada. Mungkin pergi ke tempat lain, mungkin sedang berjalan kaki ke Cipageran seperti yang dikatakannya. 

Di saku saya masih tersisa uang Rp57 ribu, maka saya mampir ke minimarket untuk membeli susu Aksa karena susu yang saya beli dua hari sebelumnya nyaris habis. Sekotak susu, 3 bungkus mi instan untuk persediaan, dan kopi. Uang 100 ribu yang saya pinjam dari Ibu Kos habis seketika, hanya tersisa 3 ribu rupiah. 

“Sialan, cepet banget duit abis,” saya memasukkan dua lembar uang kembalian ke saku celana. 

Tidak, kalimat itu bukan gerutuan sebab saya mengatakannya sambil tersenyum, meski getir. Saya sudah sering berada di situasi seperti itu, satu atau dua hari tidak makan tidak akan membuat saya mati. 

Sesampainya di kamar kos, sudah banyak notifikasi di Facebook. Saya memang meninggalkan netbook dalam keadaan menyala, kebiasaan jelek yang tidak disarankan. Oh ya, mungkin yang baru mengenal saya bertanya-tanya, di mana Aksa? Aksa masih ada di rumah pengasuhnya. Setiap hari dari pukul 8 sampai 5 sore dia dititipkan agar saya bisa bekerja.

Coba tebak, notifikasi apa yang saya dapatkan? Satu, inbox dari seseorang yang menawarkan pekerjaan sebagai content writer. Kedua, tagging dari Mak Winda yang mengabarkan bahwa saya jadi juara II lomba SMESCO. Saya berseru gembira, tapi kemudian teringat sesuatu: lelaki yang saya beri makan beberapa saat sebelumnya.


Euforia kemenangan terhenti saat itu juga. Saya duduk di depan netbook dengan mata menerawang selama beberapa detik, mengingat kembali Baucius dan Philemon yang menjadi penunggu kuil Dewa Jupiter atas kebaikan mereka menjamu Jupiter dan Mercury ketika penduduk Phrygian yang lain justru tak peduli. Di detik berikutnya saya justru tertawa, terpingkal-pingkal sampai perut saya pegal. Bersyukur karena lelaki tua itu bukan Jupiter sehingga saya tak harus jadi penunggu kuil dalam bentuk pohon ek atau pohon linden.    

Pada saat yang sama, ada gema suara-suara di dalam kepala saya. Suara yang mengatakan bahwa kebaikan sebesar biji zarah pun akan dibalas dengan kebaikan berkali lipat. Suara yang mengatakan bahwa berbagi ketika kita lapang adalah hal besar, tetapi berbagi ketika kita berada di dalam kesempitan adalah hal yang jauh lebih besar. 

Kejadian hari itu sekaligus meneguhkan kembali hubungan saya dengan Tuhan, zat yang tidak pernah pergi meski saya sering kali berlari. Kejadian seperti itu memang bukan kali pertama, tapi rasanya masih saja menghangatkan. Seakan-akan ada yang mengatakan, “Ketika kau menitipkan diri dan anak-anakmu kepadaKu, kau tidak akan pernah kekurangan.”

Hari itu, insiden yang dimulai dengan sebungkus nasi rames berakhir dengan saya yang menatap langit-langit kamar sambil bergumam, “Tuhan, aku tahu Engkau ada. Tuhan, terima kasih karena selalu menjaga. Tuhan ….”

Cimahi, 27 November 2015
~eL
Tulisan ini diikutsertakan pada 


40 Comments

  1. April 12, 2016 at 2:05 am

    Aaaakkk … baru nyadar ada Mbak Mugniar. 😀
    Makasih udah mampir, Mbak. Saya tersanjung.

  2. December 25, 2015 at 3:13 am

    Selamat ya, tulisannya keren.
    Kalau penulis fiksi menulis kisah nyata, selalu indah meski itu sederhana 🙂

  3. December 22, 2015 at 9:56 am

    Hatur nuhun. 🙂

  4. December 22, 2015 at 9:55 am

    Terima kasih, semoga mengispirasi. *halah

  5. December 22, 2015 at 9:52 am

    Ahiw, hatur nuhun. 🙂

  6. December 22, 2015 at 9:51 am

    Karena yang dicatat oleh Tuhan adalah niat. Betul begitu, bukan? 😀

  7. December 21, 2015 at 7:54 am

    aah, bagus. selamat ya udh menang ^^

  8. December 19, 2015 at 6:15 am

    ini mah juara juga ,, keren lah dengan cerita2 sliweran para dewa .. congratulation ,, belajar banyak dari tulisan ini :*

  9. December 11, 2015 at 4:49 am

    Ceritanya keren Mbak. Persis banget seperti pengalaman saya ketika ada orang yang meminta tolong. Mau kasih banyak takut ditipu, akhirnya kasih dikit dengan masa bodo. Terserahlah, itu urusan dia dengan TUHAN. Niat saya hanya membantu.

Leave a Reply