Ubud; Secarik Ingatan Tentang Tubuhmu di Tubuhku

:Kamu

“But I have to go.”

Hanya kata-kata itu yang masih aku ingat. Lima kata yang seperti pisau lipat; menyayat dengan tepat. Kamu harus pergi, kembali kepada dunia yang selama ini kamu tinggali. Kadang, aku ingin bertanya, adakah namaku tertoreh di barisan dadamu itu? 

Bertahun-tahun aku menyimpan asmara yang tak kunjung padam, untukmu. 

“Sini, mari kupeluk,” katamu.

Maka aku dengan ingatan kanak-kanak menyelusup ke rengkuhan tanganmu untuk kemudian tubuhku merekat erat ke tubuhmu. Tahukah kau bahwa satu buah pelukan berarti banyak bagiku? Satu, sebab kamu memang berutang itu. Dua, karena bagiku kamu adalah satu-satunya lelaki yang tak pernah berhenti aku cintai. Ketiga, karena pelukanmu adalah tempat pulangku. 

Tapi akhirnya kamu pergi seperti selama ini.

Sebetulnya aku berharap malam itu ada hujan badai atau banjir bandang agar kita berdua bisa mendekam di dalam kamar, menari sampai malam usai atau sampai kita berdua lelah dibakar gairah. Tapi kamu harus pergi, seperti selama ini. 

Sebetulnya aku tak ingin kamu pergi agar kita bisa bercinta sekali lagi.

Tapi kamu pergi.

Dan aku harus kembali … sendiri. 

One Comment

  1. October 24, 2013 at 1:09 am

    cari lagi ganti

Leave a Reply