Untuk Calon Imamku

: Dedicated to Absurditas Malka

Perahu timpang ini akan menuju kepadamu. Engkaulah dermaga sekaligus suar, tempat satu layar bertambat dan beristirahat. Kelak kita tak akan menemukan bangkai-bangkai perahu karam yang disisakan gelombang sepanjang desir pantai. Masin udara laut mungkin akan tetap menjadi tempuhan, sebab pasang dan surut tak pernah sekalipun lisut dari perjalanan bernama hidup. Ketika saat itu tiba, layar dan buritanku akan senantiasa berpegangan pada kokoh atau rapuh kayu-kayumu. Selalu…

Ada kecipak maya saat aku sadar bahwa sosokmu bukan lagi lelaki di balik jendela. Engkau kini bisa kusentuh, senyummu kini bisa kurengkuh. Ruanganku perlahan penuh. Tidak lagi kelengangan dan kamar-kamar kosong tempat berbagai angin dan musim mampir lalu pergi. Kini pintuku telah dikunci mati. Tertutup rapat-rapat untuk apa atau siapapun yang mendekat. Sebab selamanya, namamu akan berada di sana.

Ini hari kesekian setelah pertemuan kita yang memar di tengah gegap terompet awal tahun dan deru jalanan, malam yang sakral, malam yang janggal. Ini entah hari keberapa setelah untuk pertamakalinya dadaku tertambat di dermagamu. Cinta, ternyata tak mengenal awal, semoga juga tidak mengenal bahasa akhir.

Kekasih…

Dalam rapal hening malam ini, begitu banyak rasa dan asa yang ingin aku terjemahkan ke dalam kata sehingga mereka menjelma mantra, dan doa. Kata ‘semoga’ diperuntukkan untuk apapun yang meretas dari bibir dan dada.

Semoga ini awal perjalanan yang akan membawa kita ke dalam tenang peribadatan. Ke dalam lengang kehidupan. Semoga pergantian musim apapun tak akan sanggup meruntuhkan pancang tiang dan desir yang mulai tenang.

Sebab aku telah kekal menyebut namamu, dan kau telah kekal pula menyebut namaku. Surgaku sendiri telah berpindah ke atas bahumu. Remah bahagiaku telah melesat ke rengkuh peluk dan derap senyummu. Maka jangan, jangan pernah, melepasku. Begitupun aku, tak akan pernah melepasmu. Kekal merapal namamu.

Leave a Reply