Untuk Putriku; Ziarre Amaravati

Lengking peluit kereta api
gelas styrofoam berisi kopi
akan menghantarmu kembali
padaku



Nak, jika kelak kita bertemu, akan kuceritakan padamu tentang riwayat paling jengat. Riwayat yang akan selalu kauingat. Cerita yang barangkali akan menjadi mimpi buruk paling mengerikan di pelepah tidurmu. Tapi jangan khawatir, bahkan ketika di dalam rahim, kau telah menjadi pejuang paling tangguh. Mimpi buruk tak akan menyurutkan la
ngkahmu, sebab ibumu adalah aku. Sebab engkau adalah putriku. 

Laki-laki itu, yang menanamkan engkau ke dalam rahimku tak pernah pantas kau panggil ayah, bapak, abi, atau sebutan apa pun. Aku bahkan tak yakin apakah ia manusia, seperti kita.  Maka jangan harap suatu hari nanti akan ada laki-laki yang mengajarimu bermain sepeda atau memangkumu ketika kau jatuh dan terluka. Tidak, kau akan berada di dalam perlindunganku, sepenuhnya. 

Ziarre sayang …. 
Perlu kautahu bahwa bumi yang akan engkau huni adalah tempat paling rapuh. Kau akan bertemu dengan manusia-manusia yang seperti daun luruh; mengangap hidup hanya sebagai jalan tempuh. Tapi engkau akan terlahir sebagai manusia yang utuh; petarung paling tangguh.

Laki-laki itu, yang seringkali merapal nama Tuhan di sela doa-doa yang ia panjatkan. Doa yang konon untuk kita, untuk kesembuhan kita, untuk keselamatan kita. Laki-laki itu, yang sering mengutuki kita sebagai anjing sehingga aku belajar berkata anjing, yang sering mengataiku gila sehingga aku betul-betul gila, yang sering menganggap engkau dan aku tak ada sehingga kita memang meniada.

Laki-laki itu, yang kini tengah melolong bersama sekawanan anjing di bukit Golgota dan memanggil-manggil namaku. Tahukah ia bahwa aku telah mati sejak tanggal 20 Mei? Tahukah ia bahwa benih yang ia tancapkan di rahimku kelak akan menjadi prajurit paling depan yang meminta keadilan? Tahukah ia bahwa menjadi ibu telah mendatangkan kekuatan maha besar?

Ia … laki-laki yang tak bertuhan, Nak. Sebab jika doanya dipanjatkan kepada tuhan yang benar, tentu ia tak akan sesetan sekarang; melarungmu kepada ketiadaan. Menganggapmu makluk yang tak pantas dipertahankan dan dilahirkan.

Ya, ia dan keluarganya begitu membenciku. Karena aku, dan kau, tetap bertahan hidup setelah badai yang mereka kirimkan. Kita salah karena bertahan, kita salah karena tak mati di tepi jurang atau membakar diri. 
Ziarre …
Aku tak akan melepasmu. Tak akan pernah. Tak akan pernah. Ibu dan anak tidak pernah saling meninggalkan. Bertenanglah di dalam rahimku hingga kelak engkau hadir. Berserahlah kepada takdir paling getir. Sebab engkau anakku, anak semesta. 

Mari kita berdoa. Semoga nama Tuhan yang sering laki-laki itu rapal kelak menyelamatkannya dari dosa-dosa yang ia tanam. Amin. 

Leave a Reply