Vagina vs Penis; Fungsi, Atau Esensi?

“Diskriminasi gender sudah ditanamkan terus-menerus oleh masyarakat sejak kita kecil.”

(Kang Guruh_Ruang Publik)


Tanpa kita sadari, masyarakat telah menanamkan doktrin-doktrin menyesatkan sejak kita kecil. Di Indonesia, kalimat-kalimat larangan, perintah, maupun anjuran selalu diawali dengan frasa ‘kamu kan laki-laki/kamu kan perempuan’. Contoh: ‘Kamu kan perempuan, jadi harus bisa memasak’. ‘Kamu kan laki-laki, jadi tidak boleh menangis’. Mungkin orang tua kita beranggapan bahwa ini semacam sex education, tapi salah arah. Padahal organ-organ reproduksi tidak akan lantas menyimpang hanya karena seorang perempuan tidak bisa memasak atau hanya karena anak laki-laki kerap menangis. 

Jadi inilah kita, produk generasi yang mentato vagina dan penis di kening masing-masing. Jenis kelamin dijadikan border line untuk membatasi; semacam kawat berduri di daerah perbatasan yang kalau dilanggar maka kepala kita harus siap dihadiahi tembakan. 

Saya tidak sedang berbicara mengenai kesetaraan atau feminisme dalam konteks radikal. Saya sedang berbicara mengenai paradigma masyarakat yang mengaku modern tapi isi kepalanya luar biasa konservatif, tak jauh dengan zaman jahiliyah ketika bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Saya sedang berbicara mengenai masyarakat kita, yang menjadikan gender sebagai dalih semata. 

Persetan dengan emansipasi Kartini yang diagung-agungkan bersama tapi pada praktiknya diingkari bersama pula; oleh laki-laki dan perempuan. Toh dalam masyarakat Indonesia, perempuan cerdas selalu dianggap entitas yang berbahaya. 


Anda pernah bekerja di kantor atau tempat lain dengan struktur organisasi resmi? Susah dipromosikan bukan karena Anda tidak kompeten, tapi karena Anda perempuan? Hanya karena bawahan yang harus Anda pimpin mayoritas laki-laki? Jangan khawatir, Anda memiliki banyak kawan seperjalanan. 

Apakah Anda tahu bahwa jabatan untuk anggota dewan perempuan itu memakai kuota? Bukan karena di Indonesia sukar menemukan perempuan pintar untuk duduk di kursi tersebut, tapi karena posisi perempuan lebih sering dianggap sebagai hiasan. Menyedihkan, bukan? 

Pernahkah Anda, sewaktu kecil, dihardik karena terlalu banyak bertanya dan tidak mendapatakan jawaban yang memuaskan hanya karena Anda perempuan? Pernahkah Anda, gagal menjadi ketua OSIS dan ditempatkan sebagai wakil atau sekretaris, bukan karena Anda tidak layak tapi karena para bedebah di institusi pendidikan itu beranggapan kalau laki-laki adalah pemimpin sejati dan perempuan adalah pendamping? 

Pernahkah Anda, bertengkar dengan suami hanya gara-gara argumen Anda valid tapi ia segan mengakui? Biasalah, ego laki-laki yang ditanamkan sejak ia kecil. Istri yang terlalu cerdas atau bahkan lebih cerdas dari suami kadang menjadi ‘aib’ di masyarakat. Dan istri biasanya berpura-pura bodoh hanya karena enggan membuat konflik. 

Lucu juga, masyarakat kita sering kali menjadikan agama dan budaya sebagai senjata untuk ‘menempatkan’ laki-laki dan perempuan di posnya masing-masing. Padahal jika dilihat dari sejarah (dalam hal ini Sirah Nabawiyah Muhammad SAW), belum pernah saya menemukan perempuan-perempuan yang ‘dibodohkan’ seperti sekarang. Khadijah adalah enterpreneur sejati, bahkan Muhammad sendiri adalah karyawannya. Dengan aset sebesar itu, Khadijah tentu perempuan yang cerdas. Apakah Nabi lantas mempermasalahkan itu? Tidak tuh. Laki-laki zaman sekarang saja yang enggan mengakui kebenaran ini. Aisyah adalah perawi hadis-hadis Nabi. Beliau penulis, salah satu perempuan paling cerdas yang pernah saya tahu. Hellow! Laki-laki tidak akan bisa membaca hadis-hadis Nabi yang sekarang sering dijadikan senjata kalau saja Aisyah sebodoh keledai. 

Budaya Indonesia bahkan dibangun dengan blue print perempuan; ibu. 

Bahkan setelah para feminis berteriak tentang kesetaraan gender sampai harus jadi imam salat Jumat segala (tunggu, saya ingin tertawa dulu kalau ingat ini), kesadaran gender tetap saja mengalami distorsi dari hari ke hari. Seiring kemajuan zaman dan derasnya arus informasi serta teknologi, pola pikir perempuan-perempuan Indonesia mengalami semacam revolusi. Ada yang tetap berada di jalur konvensional, ada juga yang radikal. Ini tentu dipengaruhi oleh kesempatan mengecap pendidikan yang semakin terbuka lebar. Sayangnya, pola pikir laki-laki tidak serta merta mengimbangi. Tetap saja berkutat di urusan kelamin dan superioritas. 

Ya, sekarang perempuan memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan dengan laki-laki. Tapi dalam tataran sosial, perempuan yang S3 dan laki-laki dengan tingkat pendidikan sama tetap memiliki ‘harga’ berbeda. Ya, sekarang perempuan sudah lumrah memiliki karier di luar rumah. Tapi tetap saja, laki-laki masih merasa perlu malu terhadap masyarakat kalau jabatan istrinya lebih tinggi atau kalau gaji istrinya lebih besar. Ya, sekarang ini perempuan bisa berargumen apa saja, tapi siapa yang mau mendengar lantas sadar?

Ya, kita para perempuan dituntut untuk pintar karena harus mendidik anak-anak yang kelak jadi penerus bangsa. Tapi berapa banyak dari kita yang mau mengakui bahwa kecerdasan perempuan sebagai hak integritas manusia? Bukan sebagai fungsi sampingan semata? 

Sampai kapan kita akan menjadikan gender sebagai sekat pembeda untuk hal-hal yang tidak esensial? Bagaimana kita akan memperbaiki peradaban kalau kelamin saja kerap menjadi pertentangan yang tak pernah usai? 

Leave a Reply