Vajra; Bahagia Itu Tidak Sederhana

Judul    : VAJRA; DIAMOND IN EVERY HEART
Penulis : Jenny Jusuf
Penerbit: Sheila, Imprint Andi Publisher, 2008
Tebal    : x + 150 halaman
ISBN   : 978-979-29-0393-5

Kedua belas cerita dalam kumpulan cerpen Vajra tidak mendatangkan rasa apa-apa bagi saya kecuali satu kata; sinetron. Entah karena cerita-cerita di dalamnya tipikal remaja yang jelas-jelas tak cocok untuk usia saya atau karena terlalu banyak basa-basi tentang kehidupan yang seringkali membuat saya murka. Yang jelas, Vajra is not my cup of coffee.

Nyaris semua cerita dalam Vajra berkutat di masalah-masalah seputar cinta, ketulusan, kebaikan hati, kejujuran, harapan, mimpi, dan tetek bengek yang sudah seringkali diceritakan. Tidak ada tema baru, tidak ada gaya penceritaan baru.

Bagi saya, semua cerita di dalam Vajra adalah sinetron; mimpi dan harapan yang diperjualbelikan, cerminan yang sama sekali datar. Ending seakan dibuat sangat kebetulan, seakan-akan karma atau malaikat atau bahkan Tuhan mengambil alih semua cerita dan bersiap memberikan pencerahan. Nyaris seperti kisah-kisah di dalam Chicken Soup, cuma yang satu ini dikemas dalam bentuk sinetron yang dikumcerkan.



Yang paling parah adalah When Heart Speaks (hal. 77). Lana, gadis 18 tahun, seorang model dan aktris kenamaan ibukota baru putus dari pacarnya Erik karena masalah perbedaan pandangan. Erik tidak suka kehidupan glamor Lana, sebaliknya Lana tidak suka kehidupan ‘biasa’nya Erik. Ketika Lana berjalan-jalan di Bandung dalam rangka membangun kembali kenangan ia dan Erik, mobil Lana mogok di tengah jalan, bertemu preman, nyaris diperkosa, dan di situlah Erik datang sebagai pahlawan. Cinta mereka pun kembali bermekaran seperti sakura di musim semi setelah Erik yang (kebetulan) jago taekwondo itu berhasil menumbangkan sang preman meski ia harus dirawat karena luka tusukan.

Yes, it’s so inspiring. Yes, it’s so warming & charming. Yes, it’s sooo… boring. 

Meski Vajra berusaha keras untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa harapan dan cinta itu ada, tapi please, tidak dengan cara yang seperti ini. Alih-alih ingin menghangatkan, Vajra menjadi semacam kumcer kacangan. Sama sekali tidak bisa dibedakan dengan sinetron-sinetron Indonesia yang menjual mimpi dan imaji. Bahwa semua masalah akan tertangani dengan baik. No, no, no. Bahagia barangkali bisa sangat sederhana, tapi tidak memikat jika disajikan dalam cerita dengan teknik seperti ini.

Bandung, 21 Maret 2013
~eS



4 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    March 21, 2013 at 10:56 am

    Ceu Nisa; Cuma masalah selera 😀

    Sinta; Iya, ga cocok buat aku. Aku malah lebih suka isi blog-nya Jenny karena lebih inspiratif daripada cerpen-cerpennya 😀

  2. March 21, 2013 at 10:19 am

    review yg sadis 😀

  3. March 21, 2013 at 10:22 am

    Aku pernah baca buku ini, tapi udah lama banget dan isinya emang 'begitu'. Emang keliatan banget gak cocok ma Tek Sky yang gak suka bermanis2 ria 😀

  4. April 21, 2013 at 7:53 am

    Kadang jujur dalam mereview buku itu butuh keberanian.

    Tidak hanya sekedar menyanjung dan membuat penulis tidak maju.

    Salut!

Leave a Reply