Judul               : Virgin Suicide
Penulis            : Jeffrey Eugenides
Penerbit          : Dastan Books, 2010
Hal                   : 352 halaman
ISBN               : 978-979-3972-32-9
Harga              : Rp 25,000,- (harga setelah diskon di pameran buku)
Satu per satu gadis keluarga Lisbon bunuh diri dengan alasan yang tidak diketahui. Dimulai dari Cecilia, putri bungsu keluarga Lisbon. Cecilia yang baru berusia tiga belas tahun menyayat pergelangan tangan kanannya sendiri dengan silet lalu berendam di bak mandi. Ia memang tidak berhasil mati tapi di percobaan bunuh diri berikutnya ia berhasil; tertancap di pagar rumah mereka setelah meloncat dari atap.
Kematian Cecilia menimbulkan tanda tanya besar di lingkungan rumah mereka, sebuah kota kecil di Michingan. Orang tua Cecilia, Mr. dan Mrs. Lisbon bersikeras dengan penyangkalan, mengatakan kepada siapa saja bahwa keluarga mereka baik-baik saja. Namun hal itu tentu semakin dipertanyakan setelah satu per satu keempat putri mereka melakukan bunuh diri secara bersamaan, dengan cara yang berbeda.
**

Tulisan International Bestsellerdi sampul novel ini jadi terkesan berlebihan bahkan mengada-ada setelah saya membacanya. Untuk sebuah novel thriller yang bahkan telah mendapatkan penghargaan, Virgin Suicide begitu membosankan, bahkan di bab pertama.
Dibuka dengan teknik ala Marquez yang melegenda itu, seharusnya novel ini berhasil menjawab pertanyaan pembaca tapi yang terjadi adalah alur mundur dan maju yang sangat lambat. Paragraf-paragraf yang begitu panjang seperti menyaksikan sebuah perahu merayap di danau tanpa riak; menyiksa sekaligus mengesalkan. Penulis seolah sedang berusaha menunda-nunda mengungkap misteri yang barangkali dirasa akan membuat pembaca tetap bertahan demi sebuah kesimpulan. But, it doesn’t work. Yang terjadi adalah kebosanan demi kebosanan yang membelit bahkan sampai di akhir cerita.
Seharusnya, sebuah cerita dengan konflik seperti ini diceritakan dengan kecepatan yang pas sehingga ketegangan dan aksi tetap terjaga. Sayangnya tidak ada aksi sama sekali, pun ketegangan yang sekiranya dikedepankan malah membuat frustasi.
Sudut pandang cerita yang mengambil orang kedua jamak (kami) terasa sangat aneh, jauh, dan tidak membantu membangun cerita secara keseluruhan. Penokohan, konflik internal gadis-gadis Lisbon dibuat dari kacamata orang kedua jamak tersebut, sehingga cerita jadi seperti sebuah buku harian dari orang luar. Tidak menyentuh esensi konflik sesungguhnya. Ditambah lagi, tokoh Cecilia yang seharusnya menjadi tokoh sentral malah dikesampingkan. Hanya karakter Lux Lisbon yang banyak sekali dibahas, tapi itu tidak menolong.
Keadaan keluarga Lisbon memang sengaja diceritakan dari sudut pandang banyak orang, para tetangga, teman sekolah, semua dari orang lain. Untuk sebuah cerita thriller, tentu hal ini sangat disayangkan. Padahal jika penulis mau bersusah payah mengganti sudut pandang, barangkali novel ini akan berhasil. Tidak sebagai International Bestseller, tapi lumayan berhasil sebagai novel bergenre thriller.
Overall, ini novel thriller paling mengenaskan setelah Perfume.

Leave a Reply