WAKTU ITU, WAKTUKU

Aku tak pernah merasa setakut itu, saat dokter mengatakan padaku dengan nada perlahan seolah aku ini anak TK yang baru belajar membaca; Saya harap Anda tabah. Memangnya aku harus setabah apa? Apakah itu berarti tak ada yang bisa mencegah sel-sel darah putih dalam tubuhku menyerang sel-sel darah merahku? Yang seharusnya mereka bekerja sama, tapi malah saling membunuh di dalam sana.
Ini bukan vonis terakhir, aku tahu. Karena setelah itu rangkaian test dan segala macam pemeriksaan menunggu untuk dilakukan. Tapi aku tak mau. Aku tak mau mendapatkan legalitas itu. Aku tak mau para dokter akan merasa berhak untuk menentukan waktuku setelah mereka membaca dan menganalisa hasil diagnosa.
Setelah menangis berhari-hari sampai mata bengkak, lalu menyusun kebohongan demi kebohongan kepada seluruh anggota keluarga tentang mengapa aku seringkali mimisan, rambut rontok tak karuan, sesekali pingsan, aku pun menyerah. Sudah waktunya berhadapan langsung dengan apa yang ada dalam tubuhku.
Bodoh kalau aku bilang tak butuh pertolongan, tolol kalau aku bilang bahwa aku baik-baik saja. Tapi aku memang baik-baik saja, setidaknya bahagia. Bahwa ternyata aku tak perlu menunggu lama untuk bertemu dengan-Nya. Tidak perlu menunggu lama untuk dipanggang di neraka, daripada masih di sini dengan berlumuran dosa.
Aku sadar bahwa kematian akan datang, cepat atau lambat. Dengan cara apapun tanpa kuasa kita cegah. Dan sambil menunggu deadline itu datang, aku hanya menunggu. Menjadikan hari-hariku berarti.

Leave a Reply