Do not judge the film by it books. Itulah mantra yang harus diingat apabila mau menonton sebuah film yang diadaptasi dari novel. Kenapa? Karena kalian tidak akan pernah menikmati filmnya sebab malah sibuk membandingkan adegan di film dengan bab di buku. Catatan: mantra ini tidak berlaku bagi ‘The Lord Of The Ring’. Sebab menurutku bukunya terlalu membingungkan jika dibandingkan degan filmnya. Dan yah, aku si penggila buku ini pun menyerah di halaman 25 ketika membaca buku yang ke-dua. Lalu memutuskan untuk tidak membaca daripada aku berubah jadi troll atau goblin dan tersesat di pegunungan berkabut.




Harry Potter lain dengan Lord Of Ther Ring. Rowling begitu mempesona dengan bukunya. Sehingga sejak halaman pertama hingga terakhir, buku setebal babon itu berhasil kulahap. Sampai bela-belain begadang selama dua malam.





Nah, ketika nonton filmnya, otakku juga sibuk membanding-bandingkan setiap adegan di film dengan bagian-bagian di buku. Jadinya nggak konsen nonton. Mungkin setiap bagian dalam buku setebal babon itu memang tidak akan cukup divisualisasikan ke dalam film berdurasi dua jam lebih. Tapi, kenapa justru bagian-bagian penting yang harus dirombak?




Misalnya, adegan ketika Harry & Dumbledore mengambil horcrux di gua. Di buku, Rowling menggambarkan gua itu dengan detail, sehingga membacanya saja sungguh menyeramkan. Eh, di filmnya justru kesan seram itu tidak kelihatan (bahkan imperinya). Ketika perahu muncul di permukaan air, si sutradara tidak mau repot-repot memperlihatkan adegan ketika mereka berdua menyebrangi danau. Begitu perahu muncul, beberapa detik kemudian frame berganti dengan adegan Dumbledore & Harry yang sudah berada di tengah pulau. Busyet, cepet amat.




Pada saat Harry terkapar di kereta api yang menuju Hogwarts dengan hidung berdarah akibat dianiaya oleh Malfoy, setahuku yang menemukan dia adalah Tonks. Kenapa di film jadi Luna ya?




Adegan paling mengecewakan adalah pada saat Dumbledore dan Harry kembali dari gua. Cerita di buku seperti ini: mereka tiba di Hogsmade tepat pada saat para Death Eater sudah masuk ke Hogwarts melalui pintu penghubung dan memasang tanda kegelapan. Pertempuran para Death Eater dengan para Auror dan beberapa murid Hogwarts pun terjadi. Billy Weasley diserang Grey Back sehingga wajahnya yang tampan jadi rusak. Mereka tiba di menara, lalu Malfoy datang.




Adegan di film seperti ini: Harry dan Dumbledore tiba di menara. Lalu Malfoy datang ditemani para Death Eater. Kemudian muncul Snape dan membunuh Dumbledore dengan kutukan ‘avadakedabra’. Dumbledore mati, Death Eater, Malfoy, dan Snape kabur. Dan suasana tenang kembali. Kecuali pondok Hagrid yang terbakar, tak ada kekacauan, tak ada pertempuaran, tak ada apa-apa. Sampai di sini aku ingin teriak-teriak dan melonjak dari kursi “WHERE ARE MY AURORS? WHERE ARE THEY? I WANT MY AURORS!”




Well, selain pemeran Ron yang semakin gendut dan Luna yang ternyata tidak se‘freak’ di buku, film ini benar-benar mengecewakan.




Tapi, harga tiketnya cuma dua puluh ribu, sedangkan bukunya ratusan ribu. Jadi aku kira ini sepadan.




*




Oke, oke, oke! Pasti kalian mau protes kan? Ini film yang bagus kan? Ya, dari segi perfilman ini memang film yang bagus. Special efek, suara, setting, dll. Film ini keren. Tapi sayangnya aku nonton setelah membaca bukunya. Jadi inilah yang terjadi. Kekecewaan dari hasil membanding-bandingkan.




Dan, tolong kembalikan aurorku!

***

Leave a Reply