Wisata Kata Bersama Telimpuh


Judul: Telimpuh (Kumpulan Puisi)
Penulis: Hasan Aspahani

Penerbit: Penerbit Koekoesan (Juni 2009)
Halaman: 107 + xiii
ISBN: 978-979-1442-28-2

Saya kerap tercengang dan iri ketika membaca puisi-puisi Hasan Aspahani di Telimpuh. Tercengang karena di tangan Hasan, segala benda di hadapan yang tadinya biasa saja ternyata bisa menjadi momen dan diksi puitis. Iri karena kepekaan seperti itu belum bisa saya miliki.


Teknik pengolahan Hasan sedikit banyak mengingatkan saya kepada Arif Fitra Kurniawan (penyair muda asal Semarang) meski pendekatan metafora keduanya tidak bisa dibilang seragam. Eksplorasi pemilihan kata Hasan mau tidak mau mendobrak unsur-unsur puitis yang selama ini kita tahu, semisal: hujan, malam, daun, gerimis, dan lain sebagainya.



Melalui telimpuh, saya diajak untuk menyusuri petak-petak kamus bahasa Indonesia yang jarang sekali saya buka dan baru menyadari bahwa banyak kata yang disebutkan itu memang benar-benar ada. Ah, betapa bodohnya saya. 


Yang sering saya amati dari sebuah puisi adalah kenikmatan membaca. Memamah Telimpuh bisa diibaratkan dengan menyantap sepotong kue beraroma teh hijau; legit, harum, gurih. Bahkan setelah potongan terakhir habis dimamah perut, rasa legit masih tersisa di mulut. 


Sayangnya Hasan seperti mulai kehilangan tenaga di Bab IV “Tetapi, Aku Penyair!”. Entah karena puisi-puisi yang ada di bab itu diperuntukkan kepada kawan-kawan sesama penyair sehingga ia harus menggali ingatan (yang terus terang memang melelahkan), atau karena ia terlalu berhati-hati. Di bab ini saya tidak lagi bisa merasakan kebebasan Hasan seperti di bab-bab sebelumnya. 


Overall, Telimpuh berhasil menjadi salah satu buku puisi favorit saya.

Leave a Reply