YANG INI HATIKU, YANG MANA HATIMU?


Oleh: Skylashtar Maryam

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”

(Asy-Syua’raa: 87-89)

Panca indera manusia dikendalikan oleh dua hal. Yang pertama adalah pikiran (otak) dan yang kedua adalah perasaaan (hati). Pikiran akan selalu menjurus kepada hal yang sekiranya menguntungkan bagi dirinya, sedangkan hati lebih banyak menuruti hawa nafsunya. Kita mesti mempunyai tali kekang atas pikiran dan hati, agar keduanya tidak menjerumuskan kita ke dalam maksiat. Tali kekang itu adalah takwa.

Hati yang sehat akan mampu menahan pemiliknya dari maksiat. Bagaimanakah hati yang sehat itu? Ialah hati yang terbebas dari syahwat, dan terjauh dari subhat-subhat. Selain itu, hati yang sehat selalu lebih condong untuk mengerjakan segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah.(Al-Hujurat:1)

CIRI-CIRI HATI YANG SEHAT


Raba hati Anda, apakah ia memenuhi cirri-ciri berikut ini:

Kerinduannya kepada Allah, seperti kerinduannya/kebutuhannya akan makan minum, dan bernafas.

Pemilik hati yang sehat hanya punya satu keinginan, yaitu taat kepada Allah

Hati yang sehat bakhil terhadap waktu. Artinya ia tidak pernah membiarkan ada waktu yang terbuang untuk perbuatan yang sia-sia.

Jika telah tiba waktu shalat, lenyaplah segala harapan dan kesedihannya terhadap dunia.

Tidak pernah letih untuk berdzikir kepada Allah

Tidak pernah bosan untuk berhikmah kepada Allah

Hati ini tidak pernah bersikap manis kecuali kepada orang yang menunjukkan jalan kebenaran atau yang mengingatkan ia pada Rabb-nya

Perhatiannya untuk membenarkan amalan (membuat semua amalan itu dilaksanakan dengan benar) melebihi perhatiannya untuk beramal.


HATI YANG MATI

Hati dikatakan mati jika ia tidak ingin tahu lagi dan mengenal Rabb-nya. Terjebak dalam kesenangan duniawi. Terpenjara dalam rasa malas untuk beribadah. Hati yang mati tidak pernah memikirkan kehidupan di akhirat, bahkan adakalanya hati yang mati tidak percaya akan adanya akhirat.

Apabila hati sudah mencapai kondisi kronis seperti ini, maka akan sangat sulit untuk menghidupkannya kembali. Namun, Allah adalah Maha pemberi hidayah. Jika kita datang sambil merangkak, Allah datang kepada kita sambil berjalan. Jika kita datang kepada-Nya sambil berjalan, maka Allah akan datang kepada kita sambil berlari. Jika kita mendekat kepada Allah, maka Allah akan lebih dekat lagi kepada kita.

HATI YANG SAKIT

Hati yang sakit ialah hati yang cenderung kepada dorongan yang paling kuat. Jika syahwatnya yang berkuasa, maka ia akan berkubang dengan nafsu dunianya. Jika takwanya lebih dominan, maka ia akan berada dalam ketakwaan.

PENYEBAB SAKITNYA HATI

Musibah syahwat yang merusak niat doa dan ibadah

Musibah syubhat yang merusak ilmu dan etika.

BEBERAPA HAL YANG MERACUNI HATI

Banyak bicara (mendorong manusia kepada fitnah dan ghibah)

Banyak makan (jika perut kekenyangan, akan malas baik dalam bekerja maupun dalam beribadah)

Berlebihan dalam bergaul

Banyak memandang

YANG DAPAT MENGOBATI HATI

Dzikir dan membaca Al-Qur’an

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu . Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

(Al-Baqarah: 152)

Istigfar (memohon magfirah kepada Allah baik meminta ampunan ataupun menutupkan dosa-dosa)

Do’a

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.”

(Mu’min: 60)

– Bersholawat atas Nabi SAW

Qiyamul lail (Al-Muzzammil:20)

Sumber: Al-Qur’anul karim

Kajian Nisa 24 Des ‘05

Leave a Reply