:Irvan Mulyadie

Kau selalu mengatakan bahwa cinta adalah penjara. Jeruji yang mengerangkeng kita layaknya dua orang pesakitan. Kau terkungkung, begitu juga aku. Kaki-kaki kita dibebat berbagai rasa sakit sehingga tidak bisa saling menuju. 

Van, setiap kali kau mengatakan bahwa melupakanku adalah siksaan. Kau pun mestinya tahu bahwa setiap kali aku menemukan hati yang baru, aku selalu kembali kepadamu. 

Mengapa saling mencintai harus sebegini menyakitkan?

Malam tadi, ketika kau berkata sudah ada di Cimahi, aku yang sedang dalam perjalanan bergegas pulang. Satu jam terasa bereon-eon bagiku. Aku ingin lekas sampai, kepadamu. Selama di perjalanan aku ingin waktu berlari agar kau tak usah menunggu. Aku bahkan sudah mereka-reka kalimat apa yang akan aku ucapkan, senyum seperti apa yang harus aku pasang, baju seperti apa yang malam tadi harus aku kenakan. 

Tapi kau tak ada. 

Ketika aku bersabar dalam rindu yang redam, kau datang lalu pergi lagi dengan cara yang sebegitu nyeri.

Kau tahu seberapa gegas aku mengejar? Kau tahu berapa lama aku berdiri diam di pinggir jalan? Mencari-cari punggungmu di antara laju kendaraan dan lampu-lampunya yang menyilaukan. Aku mencarimu.

Kau tahu berapa ratus kali aku mencoba menghubungimu? Kautahu berapa puluh pesan yang kularungkan? Kau tahu berapa lama aku menangis? Ada hal-hal yang kukhawatirkan selain hatiku yang remuk. 

Ini kali kedua aku memohon kepada seorang lelaki, Van. Dan kau, membalas semua pesanku dengan membuangku, seperti biasa. 

Cinta memang penjara, bukan? Tapi ini terakhir kalinya aku terkungkung asmara. Menjadi kekasihmu telah membuatku menipu banyak orang, termasuk hatiku sendiri. 

Malam tadi, adalah kali terakhir kau bisa menginjakkan kaki di sini, di hati dan tempat tinggalku. Kali lain mungkin kau akan menghadapi perempuan yang berbeda. Aku sudah puas dijadikan persinggahan olehmu. 

Selamat tinggal.   

   

23 Comments

  1. December 24, 2015 at 9:49 pm

    Finalize.
    Goodbye is goodbye.
    Move on!

  2. December 24, 2015 at 9:55 pm

    *jadi bikhuni #eh

  3. December 24, 2015 at 10:25 pm

    Kau tak perlu mencariku, Teh. Aku selalu ada untukmu. Hihihihi.

  4. December 25, 2015 at 12:11 am

    Let it go teeeh..
    Yang benar akan datang tanpa dicarii.. Tiba2 menemukan kita..
    Semangaaat selalu

  5. December 25, 2015 at 12:38 am

    Semangat Teh !

  6. December 25, 2015 at 1:48 am

    Aih ini apaan Teh? Saya jadi ikut terseret sama kata-katanya. Apapun itu, nyata atau tidak. Tetap semangat ya Teh 😉

  7. December 25, 2015 at 6:02 am

    This comment has been removed by the author.

  8. December 25, 2015 at 6:06 am

    This comment has been removed by the author.

  9. December 25, 2015 at 6:12 am

    This comment has been removed by the author.

  10. December 25, 2015 at 6:24 am

    Cinta, pengorbanan, kesakithatian, kemarahan, jiwa yang murka, semua akan bermuara di satu titik akhir yang sejatinya adalah yang terbaik, bagi para pemilik hati.

    *komen naon sih ieu*

Leave a Reply