Secangkir kopi menguarkan asap sedap bersama kilatan hitam di atas cangkir styrofoam, berdiri pongah di samping laptop yang berdengung sebab sudah semalaman diajak kerja paksa pemiliknya. Zeya, berbalut celana pendek dan kaus jelek kusam bergambar artis namun sablonanannya sudah pudar, sehingga gambar itu menjelma jadi lycan di tengah penerangan cahaya suram kamar kost-nya. Sudah dua pak rokok yang ia tandaskan, sedangkan kopi itu sendiri entah kopi yang diseduh keberapa kali; di dalam cangkir styrofoam yang sama.

Ada berbagai laporan, selusin dokumen, dan kertas-kertas kerja berserak tak berbentuk di atas meja, Zeya lelah. Ia ingin sekali tidur dan bergelung, namun apalah daya. Esok hari akan jadi perang besar bila semua laporan dan dokumen itu tak ia selesaikan. Maka Zeya pun meneguk kopinya, kembali bergulat dengan kertas-kertas yang ingin sekali dibakarnya.

Dering telepon membuat matanya kembali menyala.

“Sialan! Pagi buta begini, masih saja ada yang iseng nelepon gue,” makinya sambil merenggut handphone yang kian bergetar dan menyalak.

Nomor Kandhita di caller id.

“Lu insomnia, dhit? Atau kurang kerjaan nelepon gue jam segini? Lu nggak tahu apa kalau gue lagi begadang nyiapin dokumen-dokumen anjing ini?” gerutu Zeya.

“Selamat malam juga Ibu Zeya, senang sekali mendengar kata-kata sambutan Anda tadi,” Kandhita dan sarkasmenya.

“Better if it is important. Ada apa?” gerutuan Zeya belum lagi habis.

“Ada roh gentayangan di luar rumah gue,” suara Kandhita yang tenang seakan roh gentayangan di luar rumahnya adalah insiden biasa.

“Terus?”

“Gue capek ngurusin mereka, lu ke sini deh,” Kandhita menguap.

“Lho, kalau gue ke sana, bukannya mereka malah lari? Lu handle aja lah, tanya kek apa maunya, atau lu ajak masuk dan makan nasi goreng gitu.”

“Ha ha ha… so funny. Ada lima belasan roh, lu pikir aneh nggak?”

“Sebanyak itu? Nggak biasanya,” Zeya meneguk kopi, lalu mematikan laptopnya. Sepertinya ia harus bergegas.

“Nah, itu yang gue maksud. Mereka berkeliaran di luar. Emang sih, gue udah pasang proteksi jadi mereka nggak bisa masuk. Tapi roh sebanyak itu mendatangi gue dalam waktu bersamaan, seberapa lama proteksi gue bisa tahan? “

“Gue ke sana sekarang,” Zeya berjalan ke garasi.

“Ze, you better hurry. Mereka udah mulai anarkis, tuh.”

“I’m on the way,” Zeya menutup telepon.

*

Ini baru satu setengah bab dari novel yang lagi gue garap. Nggak tahu bakalan sampai di mana nanti. Bisa jadi bakalan jadi draft-draft yang terbengkalai di file komputer. Bisa jadi juga tahun gajah baru selesai ni naskah. Pokoknya mah kerjain aja lah. The most important is; i enjoy write this story.

Leave a Reply