Zi, Matahariku

:Absurditas Ziarre Amaravati 

Ini pagi paling dingin di bulan Juni. Pagi yang di dalamnya nama Tuhan tak henti-henti kurapal. Apa kabar, Nak? Sudahkah kautemukan ayah yang benar?

Nak, engkaulah matahari yang tumbuh di rahimku. Nyala pelita yang tak akan pernah padam. Di dalam rahimku yang melulu berisi mendung, engkau berdetak dan mengada. Karena engkau, jantera yang menjadi cahaya. 

Tak pernah ada cinta yang lepas dari dalam dada. Barangkali orang-orang akan meninggalkan kita, hati mereka kelak bercecabang dari satu orang ke orang yang lain. Dari ketersesatan satu ke ketersesatan yang lain. Tapi engkau akan tetap bersamaku, sebab ibu dan anak tidak pernah saling meninggalkan, sekelam apa pun kesakitan mendera dan menyiksa. 

Anakku, matahariku. Matamu kelak menjadi pendar dalam hidup yang melulu suram. Tangan kecilmulah yang akan menuntunku untuk menapaki jejalan yang benar. Kaki-kaki kecilmulah yang akan senantiasa menunjukkan bahagia. 

Bahagia. 

Leave a Reply