Select Page

[row_container full_width=”yes” dark=”no” padded=”yes” bgr_url=”http://www.langitamaravati.com/wp-content/uploads/2016/11/coffee-1250411_opt.jpg” bgr_parallax=”yes” css_class=””]

[big_title small_margin=”no”]

Bagi Kami, Usia Hanyalah Angka

#UsiaCantik

[/big_title]

[/row_container]

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”yes” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

Seseorang pernah mengatakan, hidup seorang perempuan dimulai pada usia 30-an. Ketika petualangan bukan lagi traveling, panjat tebing, atau bungee jumping, melainkan menelusuri kulit wajah yang mulai berbintik hitam dan uban yang datang terlalu awal. Ketika cantik tak lagi memakai ukuran tinggi, langsing, putih, melainkan berdasarkan parameter yang kita tetapkan sendiri. Ketika jatuh cinta bukan lagi api yang menggelora di dada, melainkan bara hangat yang senantiasa ada. Ketika patah hati tidak lagi tentang rasa nyeri di hati, melainkan tentang bagaimana berdamai dengan diri sendiri. Ketika usia … hanyalah angka.

Namun, menjadi perempuan berusia kepala 3 tidaklah mudah, setidaknya bagi saya. Ketika genap berusia 30 tahun, saya kerap memandangi foto-foto ketika saya masih 20-an. Ingin agar waktu berputar ke belakang, kembali ke saya yang masih berambut panjang, kulit wajah mulus tanpa flek hitam. Kembali kepada saya yang angka timbangannya tak pernah lebih dari 50. Tapi begitulah, tak ada yang bisa memutar balik usia. Sebab menjadi tua adalah kodrat manusia. Pilihan saya hanya dua: terjebak dalam nostalgia ataukah bertumbuh seiring usia.

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”no” background=”no”]Jam Pasir Bernama Waktu[/heading]

[/row_container]

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”yes” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

[column width=”eight” position=”first”]Tapi, masih ada satu stasi usia yang harus saya hadapi: 35. Orang-orang mengatakan ini adalah awal mula #UsiaCantik, usia ketika perempuan tidak lagi “bertarung” dengan hal-hal yang sekadar fisik.

Tahun ini usia saya 33 tahun, hanya beberapa bulan menuju 34, hanya beberapa belas bulan lagi menuju 35. Meski sudah sedikit terlatih menjadi perempuan berusia kepala 3, tapi mau tidak mau saya panik juga. TIGA PULUH LIMA. Angka yang kemudian menjadi semacam momok, menjadi angka yang menjantera pertanyaan seperti:

“Gue masih menarik nggak sih?”
“Gue masih pantes pake jeans dan kaos bersablon Metalicca, nggak sih?”
“Berapa banyak waktu yang tersisa untuk menggenapkan cita-cita?”

Terus terang, saya kerap iri menyaksikan perempuan-perempuan lain yang semakin berumur malah semakin gemilang. Mereka kok bisa ya nyaman sekali dengan dirinya sendiri? Di usia 35+, mereka justru terlihat semakin cantik, semakin matang, semakin bijaksana, semakin … utuh.

Saya hanya punya waktu kurang dari dua tahun lagi untuk mempersiapkan diri agar seperti mereka, perempuan-perempuan penuh cahaya di usia yang semakin dewasa. Maka, sebagai langkah persiapan juga tabungan pengalaman, saya menghubungi sahabat saya, Ceu Ratna Ayu Budhiarti atau yang di kalangan penyair lebih dikenal dengan nama Ayu.

“Ceu, gimana sih rasanya berada di usia 35?” tanya saya.

Meski dia selalu menolak setiap kali saya menegaskan perbedaan umur kami, toh dia akan dengan senang hati berbagi pengalamannya ketika sudah sampai di #UsiaCantik.

[/column]

[column width=”eight” position=”last” ]

usia-cantik_1

[/column]

[/row_container]

[row_container full_width=”yes” dark=”no” padded=”no” bgr_url=”” bgr_parallax=”yes” css_class=””]

 

[counters centered=”yes”]

[column width=”four” position=”first”][counter_item id=1 number=”2″ title=”Bulan menuju 34″][/counter_item][/column]

[column width=”four” position=””][counter_item id=2 number=”14″ title=”Bulan menuju 35″][/counter_item][/column]

[column width=”four” position=””][counter_item id=3 number=”74″ title=”Bulan menuju 40″][/counter_item][/column]

[column width=”four” position=”last”][counter_item id=4 number=”134″ title=”Bulan menuju 45″][/counter_item][/column]

[/counters]

[/row_container]

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”no” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

[big_title small_margin=”yes”]

Ratna Ayu Budhiarti

Usia Hanyalah Angka

[/big_title]

[/row_container]

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”no” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

[column width=”eight” position=”first”]

Sejak mengenalnya 20 tahun silam, tak banyak yang berubah dari seorang Ratna Ayu Budhiarti. Ia masih tetap perempuan cantik yang ramah tapi kadang pemarah, sopan tapi kadang judes, murah hati tapi kadang “perhitungan”, dan polos. Di antara kami bertiga (saya, Meitha KH, dan Ceu Ayu), Ceu Ayulah yang paling tua. Tapi, dia pulalah yang isi kepalanya paling “steril”. Sedangkan saya dan Meitha KH punya jutaan tabungan trik-trik “kotor”, terutama dalam masalah percintaan.

Kami bertiga sama-sama penulis, meski berbeda fokus. Ceu Ayu dan Meitha lebih banyak menulis puisi, sedangkan saya lebih banyak menulis cerpen. Tadinya saya kira, hidup Ceu Ayu tidak terlalu memiliki banyak gejolak, tidak seperti saya dan Meitha. Tapi ternyata, itu bukan karena gejolak itu tidak ada, melainkan karena ia begitu pandai menyembunyikannya.

Saya tahu, beberapa tahun terakhir adalah masa-masa paling berat dalam hidupnya. Tapi RAB adalah RAB, perempuan dengan seribu gua di dalam dadanya. Tempat ia menyembunyikan luka dan air mata. Yang ia bagi kepada kami, sahabat-sahabatnya, hanyalah berita-berita gembira sedangkan rasa nyeri kerap ia telan sendiri.

[/column]

[column width=”eight” position=”last” ]Meskipun dalam beberapa hal ia terlihat tenang, toh ketika berurusan dengan usia, ia panik juga. Sama seperti perempuan lainnya. Tahun lalu, ketika ia masih 34, ia kerap merasa bahwa menjadi perempuan berusia cantik artinya menjadi perempuan sempurna. Usia 35 dijadikan semacam tenggat waktu target pencapaian.

Ia sempat berpikir bahwa di usianya yang nyaris 35, ia belum memiliki apa-apa, belum membuat sesuatu yang luar biasa, masih merasa bahwa hidupnya tidak beranjak ke mana-mana. Bayangkan, seorang Ratna Ayu Budhiarti, salah satu penyair perempuan yang karyanya diperhitungkan bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia, pengusaha muda yang ketika para penggiat online shop masih kimcil-kimcil dia justru sudah punya toko online dan offline.

Seorang RAB yang pernah mendapatkan penghargaan di bidang “Wanita dan Budaya” dari sebuah majalah bergengsi. Yang kalau dia mengaku berusia 20 tahun orang pasti percaya, panik ketika menyambut #UsiaCantik? Apatah saya yang sedikit berkarya banyak galaunya?

[/column]

[/row_container]

ratna-ayu-budhiarti

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”no” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”no” background=”no”]#USIACANTIK BAGINYA[/heading]

Well, walau bagaimanapun, tak ada yang bisa menghentikan waktu. Waktu akan terus berlari meski tanpa kita sadari.
Tahun ini usianya genap 35 dan ia sudah berdamai dengan rasa paniknya. Berikut beberapa tip yang ia bagi kepada saya:

[/row_container]

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”yes” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

[column width=”eight” position=”first”]

[iconed_featured_text title=”Memakai ‘Sepatu’ Berbeda” icon=”heart” icon_solid=”no” icon_color=”accent_color” href=””][/iconed_featured_text]

Sebelum ini, ia kerap membandingkan pencapaian hidupnya dengan hidup orang lain, menempatkan dirinya di “sepatu” orang lain. Seiring bertambahnya usia, ia tahu bahwa komparasi tak akan membawanya ke mana-mana. Maka ia mulai memakai “sepatu” sendiri, membuat perbandingan yang wajar.

“Toh setiap orang memulai dari titik yang berbeda, jadi wajar kalau pencapaiannya juga tidak sama. Kerja keras dan perjuangannya pun berbeda,” katanya.

[iconed_featured_text title=”Fokus Kepada Hal Positif” icon=”heart” icon_solid=”no” icon_color=”accent_color” href=””][/iconed_featured_text]

Ceu Ayu yang saya kenal adalah orang paling polos sedunia. Maksudnya, dia jarang berpikiran buruk terhadap orang lain sehingga sering membuat teman-temannya kesal. Dia adalah orang terakhir yang akan kita ajak ngomongin kejelekan orang karena pasti ditanggapi dengan, “Masa sih? Mungkin maksudnya tidak begitu. Mungkin itu cuma sangkaan lu aja. Coba deh klarifikasi ke dia langsung.”

Mungkin itu sebabnya memfokuskan diri kepada hal-hal positif tidak terlalu sulit baginya. Di usia 35, ketika sebagian besar perempuan justru merasa tua, ia justru semakin “mangprang”. Di bidang karya, puisi-puisinya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Ia ikut membidani beberapa komunitas kesenian di Garut, tempat kelahirannya. Di bidang pendidikan, ia sedang berusaha menyelesaikan tesisnya. Saya lihat dia juga mulai aktif ikut yoga. Daaannn banyak sekali kegiatan dan cabang-cabang usaha yang ia buka.

[/column]

[iconed_featured_text title=”Bercermin Kepada Masa Lalu” icon=”heart” icon_solid=”no” icon_color=”accent_color” href=””][/iconed_featured_text]

Orang yang paling pantas dijadikan objek perbandingan tak lain adalah diri sendiri. Dan memang begitulah yang dilakukan Ceu Ayu. Ia membandingkan dirinya yang sekarang dengan dirinya di masa lalu. Mengakui bahwa ada hal buruk terjadi dan bisa ia tangani, tapi lebih banyak lagi hal baik yang berhasil ia raih.

“Ketika mengenang gue di masa lalu dan membandingkan diri gue yang sekarang, saat itulah gue merasa begitu bersyukur.”

[iconed_featured_text title=”Prestasi Tak Kenal Kata Berhenti” icon=”heart” icon_solid=”no” icon_color=”accent_color” href=””][/iconed_featured_text]

“Prestasi terbesar gue sebetulnya ya menjadi ibu paling keren buat Khanza,” katanya dengan seloroh.

Ah iya, di dunia kesenian di Jawa Barat, Khanza memang lebih terkenal dari ibunya. Gadis kecil yang kini berusia 6 tahun ini memang sering kali mencuri banyak perhatian. Tapi ngomong-ngomong soal prestasi, setiap orang pasti memiliki parameter yang berbeda.

“Apa pencapaian paling tinggi yang berhasil lu raih dalam 35 tahun ini?” tanya saya.

Berhenti ngantor dan menjadi “tuan” atas diri sendiri, itu salah satu jawabannya. Yang kedua adalah tetap eksis di dunia kepenulisan dan berhasil masuk dalam lingkaran “sastrawan nasional”, itu yang kedua. Prestasi lainnya adalah kuliah S2, cita-cita yang sudah ia simpan sejak 12 tahun lalu, ketika almarhum papanya meninggal.

Dan yang terpenting, usia tidak lantas membuat prestasi berhenti.

[/row_container]

[row_container full_width=”yes” dark=”no” padded=”no” bgr_url=”http://www.langitamaravati.com/wp-content/uploads/2016/11/coffee-1250407_opt.jpg” bgr_parallax=”yes” css_class=””]

[big_title small_margin=”no”]

Surat untuk Masa Depan

Sepucuk surat cinta untuk saya di #UsiaCantik nanti

[/big_title]

[/row_container]

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”no” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

Dear eL,

Ketika membaca ini, aku tak tahu kau sedang tinggal di mana, bersama siapa, atau bekerja di bidang apa. Ketika membaca ini, barangkali kau masih merasa panik dengan bertambahnya usiamu. Seperti aku yang hari ini, barangkali kau ingin kembali ke masa lalu, berusaha memperbaiki apa pun yang menurutmu tidak sesuai.

Tapi ketahuilah, eL. Ada hal-hal yang tak harus kita lawan. Sebab usia hanyalah angka yang menandakan bahwa kau dan aku benar-benar manusia. Ya, kau akan bertambah tua. Kulitmu akan kehilangan kekenyalan dan binarnya. Uban di rambutmu akan mulai meraja, tak bisa lagi kau sembunyikan dengan berbagai macam pewarna. Ya, kau akan terus bertambah tua. Tubuhmu akan ikut merenta seiring tik tak jarum jam. Tik tak yang sama sekali tak bisa kau hentikan.

eL, sayang …

Aku tak tahu akan segemilang apa kau di #UsiaCantik-mu. Aku tak bisa meramalkan masa depan kita. Aku yang hari ini tak akan bisa menebak kehidupan macam apa yang akan kau jalani nanti. Tapi, eL. Kita sudah sepakat bahwa seorang perempuan tidak hanya dinilai dari luaran, bukan? Maka teruslah bergembira bersama usia.

eL, ketika kau merasa jatuh dan rapuh, ingatlah bahwa kau pernah melalui berbagai macam badai dalam hidup. Kau pernah dihantam dengan tiga pernikahan yang gagal. Kau pernah berurusan dengan suami pemabuk, tukang pukul, dan suami tak tahu diri yang meninggalkanmu ketika kau mengandung. Tapi ingatlah bahwa pada akhirnya kau berhasil melalui perpisahan paling menyakitkan sekali pun.

eL, jika kau mulai menyesali masa lalumu, kembalilah kepada aku. Bacalah surat ini dan camkan baik-baik. Ingatlah bahwa kita sudah terlatih mengkonversi rasa sakit menjadi tenaga. Tidak akan ada eL si cerpenis jika kita tidak pernah memiliki suami tukang pukul. Tidak akan ada eL si desainer jika dulu lelaki itu tidak meninggalkan kita. Tidak akan ada eL si blogger, eL si aktivis, eL si relawan, eL si trainer, atau eL lainnya jika hidup kita sedatar permukaan meja.

Aku berharap, kita di masa depan adalah perempuan yang mulai tahu bagaimana cara menikmati hidup. Aku berharap, di usia 35 kau sudah menjadi perempuan utuh, perempuan yang luka-lukanya sudah sempurna sembuh. Kau adalah perempuan hebat, eL. Ibu dari Salwa dan Aksa, dua matahari yang selalu menjadi cahaya.

Di #UsiaCantik-mu, tentu kau akan bertemu dengan badai sebab hidup disebut hidup jika memiliki gelombang. Arus tenang hanyalah kematian, eL. Tapi aku yakin, kau di usia 35 adalah kau yang lebih tenang, lebih pandai memilih langkah strategis alih-alih sporadis seperti kau di usia 20-an.

Di #UsiaCantik-mu, mungkin kau akan kembali jatuh cinta, patah hati, lalu jatuh cinta lagi. Tapi aku yakin, kau di usia 35 adalah kau yang lebih pandai memindai mana lelaki baik dan mana lelaki yang kurang baik. Kau di usia 35 adalah perempuan yang akan menempatkan anak-anak di urutan pertama sedangkan kekasih di urutan kesejuta. Hey, lagi pula, tidakkah kau lelah jatuh cinta?

Di #UsiaCantik-mu, aku berharap kau telah menjadi perempuan seperti yang kita inginkan. Perempuan dengan segudang prestasi, berdiri di atas kaki sendiri, menjadi tangan yang selalu di atas alih-alih menengadah, menjadi manusia yang berguna bagi manusia lainnya.

Di #UsiaCantik-mu, aku berharap kau telah berhenti mengejar predikat cantik menurut parameter orang-orang. Ya, kau akan lebih rajin membersihkan wajah, tidak lupa memakai pelembap, peduli terhadap tubuhmu. Tapi kau melakukan itu bukan karena orang-orang atau pasangan, melainkan karena kau sayang terhadap tubuh yang kau pakai untuk menjalani hidup.

Mungkin akan ada hal-hal yang berubah, kau akan bertemu lebih banyak orang, menapaki lebih banyak pengalaman. Mungkin nanti kau sudah duduk di bangku kuliah, menggenapkan cita-cita kita untuk menjadi sarjana, mereguk ilmu yang tidak bisa kita dapat dari buku-buku. Mungkin kau sudah menjadi desainer terkenal yang karyanya bertebaran di man-mana. Atau mungkin saja kau sudah berhasil menuliskan novel pertamamu.

Tapi terlepas dari itu semua, eL. Manusia layaknya buah, kita akan matang dengan sendirinya. Yang terpenting adalah, bertumbuhlah seiring usia. Tak ada yang harus kita lawan, toh usia hanyalah angka. Tua dan muda bukan hal yang harus dipermasalahkan.

Sambut usia dengan bahagia, eL. Kau akan tetap menjadi perempuan dan ibu yang hebat, hari ini, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, dan tahun-tahun yang menanti. Sebab usia hanyalah angka, bukan? Jadi tetaplah merasa muda, dan tetaplah berkarya.

Love,

dirimu di masa lalu

[/row_container]

[row_container full_width=”no” dark=”no” padded=”yes” bgr_url=”” bgr_parallax=”no” css_class=””]

[highlight dark=”no”]“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”[/highlight]

[/row_container]