Berziarah ke Masa Lalu

Namun kenangan, adalah apa yang berusaha kita kubur dalam-dalam
sekaligus kita kekalkan diam-diam.
READ THE STORY

Saya tidak akan pernah melupakan petang itu. Petang ketika untuk kali pertama menginjakkan kaki di Pulau Bintan. Datang sebagai 1 dari 14 orang karyawan rekrutan hanya dengan satu harapan: memperbaiki penghidupan.

Saya tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari ketika untuk kali pertama saya meninggalkan Pulau Jawa. Meninggalkan Salwa yang waktu itu masih berusia 14 bulan. Anak yang terpaksa saya titipkan kepada Ibu dan Bapak karena sejak usia Salwa 5 bulan, saya sudah resmi berpisah dengan ayahnya.

Saya tidak akan pernah melupakan malam itu. Malam ketika untuk kali pertama tidur di tempat yang begitu asing. Malam yang dihabiskan dengan tangisan karena belum apa-apa saya sudah rindu rumah dan dibebat perasaan bersalah karena tak bisa menemani Salwa di usia emasnya.

 

Di sanalah, di sebuah kawasan industri bernama Lobam, di sudut utara Pulau Bintan, saya tinggal selama lebih dari tiga tahun.

Di sanalah, di antara deretan dormitori dan gedung-gedung pabrik yang tidak pernah berhenti beroperasi, saya menemukan hidup. Saya tidak akan pernah seperti hari ini jika tak pergi ke sana.

Di sanalah, di kawasan industri yang setiap sudutnya berbatasan dengan laut saya belajar bersabar, belajar menjadi sebenar-benar manusia. Di sanalah, saya mulai serius “mencari” dan lebih mengenali Tuhan.

Lobam akan selalu lekat dalam ingatan, menjadi kota kecil yang sukar dilupakan.

Lobam, Sebuah Ingatan yang Buram dan Nyaris Padam

Februari 2005

Bekerja sebagai buruh pabrik di perantauan dengan masyarakatnya yang majemuk adalah sebuah perjalanan yang akan terus saya ingat. Banyak hal yang saya temukan. Banyak hal yang saya pelajari. Sedikit banyak mengubah cara pandang saya terhadap hidup.
Saya belajar tentang keberagaman. Mengenal orang-orang dari berbagai suku, agama, warga negara, dan budaya yang berbeda.

Lobam adalah miniatur Indonesia, seperti Jakarta. Melalui teman-teman satu dormitori dan kawan-kawan di PT, saya bukan hanya belajar menghargai, tapi juga memahami bahwa perbedaan hanyalah ilusi yang kita buat sendiri.

Dormitori tempat saya tinggal berisi 14 orang perempuan yang berasal dari daerah berbeda. 

Dibutuhkan sedikitnya 5 ribu kata untuk merangkum segala kisah yang terjadi di sana.

Saya belajar kelembutan hati dari Kak Belina, orang Mandailing yang setiap sahur sering kali membangunkan dengan cara menepuk kaki saya.

Saya belajar strata cinta dari Syila, gadis Palembang yang menjadi tulang punggung keluarganya. Saya belajar memperbaiki selera humor dari Kak Yani, perempuan Melayu yang mulutnya kadang tak bisa direm tapi ialah satu-satunya “pelawak” yang selalu menghibur kami. Saya belajar tentang kebaikan dari Mbak Nia, supervisor saya di perusahaan.

Di Lobam inilah saya kembali belajar menulis, sesuatu yang sempat saya lupakan bertahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, cerpen saya berhasil menembus media nasional.

Saya belajar dari banyak orang. Dari banyak hal. Belajar bertoleransi, belajar menghargai orang lain, juga belajar bahwa di perantauan, setiap kita adalah saudara.

PT CCI Bintan

PT tempat saya bekerja

Pantai Teluk Lobam

Tempat nongkrong, jaraknya hanya “selemparan batu” dari dormitori

Dormitori 16 Unit 7

Junior tidur di ranjang atas 😀

KEGIATAN LAINNYA

Di sana, kami tidak hanya bekerja, tapi juga difasilitasi dengan kegiatan-kegiatan seperti keagamaan, olahraga, dan “ekstra kulikuler” lainnya.

 

Pantai Sakera

Menjadi guru relawan untuk anak-anak nelayan

Perayaan 1 Muharam

Menjadi penabuh rebana

Berziarah Kepadamu

Berbeda dari tiga belas tahun lalu, Kawasan Industri Lobam sudah tak seramai dulu. Satu per satu perusahaan mulai tutup, begitu juga dengan penghuninya: pindah ke Batam atau ke tempat lain.

Lobam yang dulu gegap kini senyap.

Namun, seperti apa pun Lobam kini, saya ingin mengunjunginya sekali lagi. Ingin mengucapkan rasa terima kasih dan pamit dengan cara lebih baik.

Saya ingin kembali ke dorm 16 unit 7, tempat saya tinggal dulu. Ingin kembali menjejakkan kaki di pasir Teluk Lobam, tempat saya biasa menulis puisi atau menangis jika sedang rindu rumah. Saya ingin kembali menyusuri jalan-jalannya yang lengang, tempat saya mengendarai sepeda pinjaman sambil menikmati semilir angin pantai.

Saya ingin kembali ke Lobam. Sekali lagi ….

Sayangnya, dari sekian banyak hal berharga untuk diingat, tidak semuanya terekam oleh mata kamera. Anda sudah lihat foto-foto yang saya bagi, bukan? Itu semua diambil dengan tustel. Tiga belas tahun lalu belum ada ponsel dengan kamera. Atau kalaupun ada, belum masuk ke Indonesia. Untuk membuat foto, kami harus benar-benar memilih momen agar hemat film. Pun, untuk mencetaknya dibutuhkan perjalanan berkilo-kilo meter ke kota terdekat. Literally, harus melewati hutan belantara.

Di kedatangan berikutnya saya ingin datang dengan membawa ponsel dengan kamera kece agar dapat mengabadikan setiap sudut Lobam yang bersejarah bagi hidup saya.

KRITERIA SMARTPHONE IDAMAN
Dalam hal kriteria, sebetulnya saya tipe perempuan yang tidak banyak tuntutan.
Yang penting mah kamunya benar-benar sayang. (Nya, geus curhat deui si ieu mah)

Well, okay. Berikut kriteria smartphone idaman saya di tahun 2018. Smartphone yang akan saya bawa ke Lobam jika punya kesempatan kembali ke sana lagi.

01

Bokeh

Anda tahu apa yang saya lakukan selama ini untuk mendapatkan efek bokeh? Ngedit pakai Photoshop atau aplikasi tapi hasilnya nya kitu tea lah.

Jadi, smartphone yang dilengkapi dengan fitur efek bokeh otomatis dengan hasil stunning dan teu reregean? Mau atuhlaaahhhh.

02

memori besar

Ketika di Lobam nanti, saya ingin bisa “balas dendam”. Mau ngambil foto yang buanyaaakkk. Kan, enggak harus hemat rol film lagi, iya enggak?

Untuk itulah diperlukan memori yang besar agar ratusan foto dan video bisa disimpan dalam satu device.

03

selfie

Ini penting. Selfie adalah lifeskill abad ini. Itu sebabnya harus ditunjang oleh kamera yang bisa membuat wajah saya yang enggak cantik-cantik amat ini jadi terlihat flawless.

Ya, enggak usah sampai tanpa pori sama sekali, sih. Jadi mirip Raisa aja cukup. (Chan, ini smartphone, Chan, bukan mesin oplas. Hih!)

KEUNGGULAN

Huawei Nova 3i

Anda sudah membaca kriteria suami, eh, ponsel idaman saya untuk dibawa menziarahi masa lalu. Sekarang mari saya ajak berkenalan dengan Huawei Nova 3i, smartphone besutan Huawei.
01. Quad AI Camera

Kamera depan: 24 MP + 2 MP

Kemera belakang:16 MP + 2 MP

Teknologi Artificial Intelligence (AI) disebut-sebut sebagai masa depan fotografi smartphone. Ini ibarat memiliki virtual assistant sekaligus tutor seorang fotografer. Tutor lho, ya, bukan instagram husband.

Selain itu, AI membuat smartphone kita lebih tertib dalam hal kearsipan karena foto diklasifikasikan berdasarkan tempat, tanggal, orang, bahkan objek. Pernah menggunakan Google Photo, kan? Nah, kayak gitu.

Z

Mendeteksi Objek

Dengan AI, kamera mampu mengenali objek seperti manusia, tanaman, hewan, bangunan, pemandangan, dan sebagainya. Dengan begitu kamera akan memilihkan mode yang paling tepat agar hasil foto maksimal.

Bokeh? Dua kamera berfungsi untuk itu. Bisa otomatis atau di-setting sendiri. Kan seru ya kalau bisa macro photography pakai smartphone.

Z

Mendeteksi Wajah

Siapa di sini yang kalau selfie bawaannya ribet? Nah, AI dalam Huawei Nova 3i akan mengenali wajah Anda. Bukan, bukan untuk dikenalkan kepada calon mertua, tapi untuk memilihkan tone paling tepat.

Misalnya, dengan warna kulit sawo terlalu matang dan bentuk wajah seperti saya, maka akan dipilihkan mode paling tepat agar hasil selfie menjadi stunning dan instagram-able. 

Z

Mengatur Intensitas Cahaya

Jika Anda sama seperti saya yang sama sekali buta dengan teknik fotografi seperti aparture, lightingshutter speed, dan lain sebagainya,  AI akan membantu Anda.

Serius, kamera Nova 3i ini bisa mengenali apakah saat itu siang hari di luar ruangan, dalam ruangan, di pantai, malam hari di tengah jalan dengan lampu berkilauan, atau sedang bersama seseorang yang … ehem. *eh

Z

Slow Motion

Tahu, kan, video atau gif slow motion yang dramatis itu? Bisa, lho, memakai kamera ponsel. Jadi kalau misalnya sedang mengabadikan momen lari-lari di pantai, bisa lah pakai mode ini.

2. 128GB Storage

4 GB RAM + 128 GB ROM

Untuk sebuah smartphone, RAM 4 GB itu sudah termasuk “raksasa”. Kebayang, kan, kinerjanya akan seperti apa? Yup, Anda bisa mengucapkan selamat tinggal pada ponsel not responding karena tidak kuat dipakai membuka banyak aplikasi. Anda juga bisa mengucapkan selamat tinggal pada drama “insufficient memory”.

Tapi jangan khawatir masalah harga, Huawei Nova 3i termasuk smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB

03. Premium Design

Warna: Black, Irish Purple, Camaro

Saat smartphone lain hadir dengan warna-warna “aman”. Huawei justru hadir dengan gradasi biru dan ungu. Ini kalau di desain warnanya jadi spektrum indigo.

4. Powerful Performance

GBU Turbo | HUAWEI Kirin 710 | Android Oreo 8.1

Apakah ini artinya saya harus mulai main Mobile Legend? Hahahaha. Well, prosesor Kirin 710 yang ditanamkan di Huawei Nova 3i memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan pendahulunya. Di antaranya, lebih 75% lebih baik, dan lebih cepat saat men-download data. Ini yang menjadikan 3i lebih cepat baik dalam memproses data maupun performa.

Saya pribadi lebih tertarik membahas OS Android 8.1-nya. Ada beberapa keunggulan Android Oreo 8.1 yang membuat Nova 3i lebih menggiurkan untuk dibawa ke tempat kenangan:

Z

Identifikasi Kecepatan Jaringan WiFi/Internet

Dengan Oreo, kita bisa tahu jaringan mana yang Very Fast, Fast, OK, atau Slow.
Z

Emoji Baru

Selain emojinya jadi lebih cartoonish, kita juga bisa mempersonalisasi emoji sesuai dengan raut wajah, bahkan menambahkan suara.
Z

User Interface Lebih Sederhana

Sederhana berarti lebih mudah digunakan. Lebih mudah digunakan berarti memangkas waktu dan meningkatkan produktivitas.
Ini hasil foto dengan kamera Huawei Nova 3i yang saya pinjam dari Giz Guide. Hasil selfie dengan efek bokehnya akan membuat Anda tercengang, eh, tergiur.

Masa Lalu Adalah Cerminan

Kita semua punya masa lalu yang ingin diingat hingga akhir hayat. Juga punya masa lalu yang ingin kita lupakan dan kubur dalam-dalam. Namun, di antara semua kenangan, di antara seluruh tempat yang menjadi “a place to remember”, ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar momen. Bagi saya, masa lalu adalah cerminan. Tempat saya berkaca agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Masa lalu juga sekolah, tempat saya bersyukur atas pelajaran hidup yang saya terima.

Saya yang hari ini adalah saya yang dibentuk oleh keputusan-keputusan di masa silam. Jujur, dulu sempat menyesal karena tidak ada di samping Salwa pada masa-masa pertumbuhannya. Tapi ketika saya kembali berziarah ke ingatan di bulan Februari tiga belas tahun lalu itu, pada akhirnya saya tahu bahwa saya harus berterima kasih pada Lobam.

Salam,

~eL

Foto:

1. Huawei Indonesia

2. Nurul Noe

3. Langit Amaravati

4. Giz Guide

Teks:

Langit Amaravati

Share This