Buzzer & Etika yang Terjun Bebas

Last updated Jul 27, 2019 | BLOGGING | 99 comments

Beberapa hari lalu, dunia blogger dihebohkan oleh seorang buzzer sekaligus blogger yang sedang campaign provider A. Sialnya, si buzzer membandingkan provider A dengan provider B, head to head gitu lah. Di dalam dunia bisnis dan digital marketing, komparasi produk itu lumrah, tapi mesti dilakukan dengan cara-cara yang elegan dan profesional.

Nah, sialnya lagi, si buzzer ini melakukannya dengan cara yang menurut saya tidak etis. Selain black campaign di Twitter, dia juga memposting hasil test speed provider B dengan caption kira-kira begini, “Ini nih test speed-nya provider B. Udah nggak bisa naik lagi nih.” Banyak yang memberi komentar dengan nada mengiyakan lalu menyebutkan bahwa mereka lebih suka memakai provider A yang notabane memang sedang dipromosikan oleh si buzzer yang bersangkutan.

Kenapa menurut saya ini tidak etis? Karena, setahu saya, yang namanya sinyal provider itu tergantung kepada lokasi, coverage area, device, dan kesalehan si pemakai. Tambahan dari Kak Haya: juga tergantung kepada simetrisnya arsiran alis mata. Misalnya nih, di kosan saya, sinyal internet yang bisa tembus cuma dari provider B dan C, sedangkan provider A dan D tiarap. Apakah itu artinya provider A dan D jelek? Ya nggak juga, soalnya ketika dibawa ke rumah Ibu di Babakan, sinyal provider D-lah yang justru mangprang. Contoh lain, saya dan kawan-kawan pernah pergi ke daerah pegunungan, masing-masing dari kami memakai provider yang berbeda. Apa kabar sinyal? Semuanya cuma satu bar, edge pula.

Oke, sekian dulu membahas provider. Kasus di atas hanyalah satu dari sekian kasus buzzer kurang ajar. Kali ini saya ingin membahas tentang etika menjadi buzzer dan etika ketika menulis sponsored post. Saya? Yang jarang-jarang nge-buzz ini membahas etika? Well, ini ilmu yang saya dapatkan dari para blogger senior, tak elok rasanya kalau saya pendam sendiri. Iya, tidak?


ETIKA BUZZER & BLOGGER

1. Fokus pada kelebihan

Fokus kepada kelebihan produk yang sedang dipromosikan, bukan kepada kekurangan produk kompetitor. Yang sempurna itu cuma Tuhan dan bulu matanya Syahrini, kawan. Tidak ada produk yang begitu sempurna hingga tak punya kekurangan, juga tidak ada produk yang begitu mengenaskan hingga tak punya kelebihan. Jadi, daripada kita menjelek-jelekkan produk kompetitor, lebih baik fokus kepada kelebihan produk yang sedang kita promosikan.

2. Objektif

Kita boleh saja setia terhadap satu produk, tapi itu bukan berarti bisa mempromosikannya dengan cara membabi buta. Lagi pula, ketika kita sedang nge-buzz, para follower akan bertanya apakah penilaian yang kita lakukan itu murni testimoni pribadi ataukah karena kita dibayar? Jadi, yang selow ajalah.

Terlalu “menjilat” akan membuat follower Anda jengah dan muak. Ini juga akan berefek negatif terhadap produk dan brand yang sedang kita promosikan. Masih ingat kan salah satu poin yang sering ada di dalam brief? Buat konten senatural mungkin. Kenapa? Ya karena konsumen Indonesia sudah lelah diberi “janji-janji surga”.

Lagi pula, sasaran buzzer itu siapa sih? Calon konsumen, follower, dan pembaca, kan? Bukan brand yang meng-hire kita, kan? Jadi buat apa menjilat sedemikian rupa? Biar di-hire lagi? Yakali. Yang dinilai oleh brand ketika campaign adalah impression, exposure, dan enggament dengan target pasar mereka. Konten dinilai dari seberapa “ahli” kita membujuk calon konsumen, bukan dari seberapa ahli kita menjilat brand.

3. Logis, realistis, dan spesifik

Setiap produk memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Setiap calon konsumen juga memiliki selera mereka sendiri. Jadi, tidak ada produk yang tepat untuk semua orang. Itu sebabnya mengapa sebelum nge-buzz kita harus memiliki product knowledge. Agar tetap logis, sasar calon konsumen yang spesifik. Manfaatkan pengetahuan Anda tentang demografi para follower atau pembaca blog Anda.

Contoh:
A: Pembersih wajah ini bagus banget, lho. Bisa mengangkat sisa makeup dalam sekali ulas.
B: Pembersih wajah ini bagus banget untuk kamu yang memiliki kulit wajah berminyak seperti saya. Bisa mengangkat sisa makeup dalam sekali ulas tanpa mengikis kelembapan alaminya.

Contoh A hanya menyebutkan manfaat tapi tidak spesifik, padahal kita tahu bahwa manfaat kosmetik sangat tergantung kepada jenis kulit si pemakai. Contoh B lebih baik karena beberapa poin: menyebutkan manfaat, menyebutkan jenis kulit yang spesifik, memberi kesan testimoni pribadi dengan menyebutkan “kulit wajah berminyak seperti saya”.

4. Persuasif

Ketika sedang nge-buzz, harap diingat bahwa Anda sedang menjadi “peluru” dari rangkaian digital marketing strategy yang diterapkan oleh brand. Salah satu poin penting dari strategi marketing adalah menarik calon konsumen, bukan memaksa atau hanya menjejalkan produk ke hadapan mereka. Brand sudah punya tim advertising sendiri, tugas kita sebagai buzzer adalah membujuk para calon konsumen untuk memutuskan.

Metode paling baik untuk menarik calon konsumen adalah dengan membujuknya. Bagaimana caranya? Gabungkan poin no 1, 2, dan 3. Fokus kepada manfaat produk, sasar calon konsumen yang spesifik, dan tidak berlebihan.

Contoh:
Misalnya kita sedang menjadi buzzer dari produk susu. Manfaat dari susu ini adalah untuk menjaga stamina dan mempercepat pemulihan pasca sakit. Kita tidak bisa mengatakan, “Pokoknya kamu harus minum susu ini biar cepat sembuh dan supaya sehat terus.” Kenapa? Karena, ada orang-orang yang alergi susu. Kedua, itu terlalu general.

Coba ganti dengan kalimat seperti ini, “Saya terbiasa begadang, nyaris setiap malam selalu tidur lebih dari pukul 12 malam. Nah, untuk menjaga stamina dan supaya kesehatan tidak nge-drop, biasanya saya minum segelas susu A dan mengonsumsi makanan yang seimbang. So far, saya jarang sekali mengalami gangguan kesehatan meskipun setiap hari begadang. Eh, ada 3 varian rasa, lho. Kalau kamu, suka rasa yang mana?”

Coba, contoh mana yang kira-kira lebih membujuk?

5. Komparasi Boleh, Asalkan …

Kalau kita mau mengkomparasikan dua atau lebih produk yang sejenis (bisa dari brand yang sama atau berbeda), pastikan dulu produk tersebut berada di level yang sama. Misalnya, Samsung Galaxy J7 Prime tidak bisa dibandingkan dengan Acer Liquid Z320 karena levelnya berbeda. Atau, OLX tidak bisa dibandingkan dengan Lazada karena sistemnya berbeda.

Detailnya seperti ini:

  • Pilih dua produk yang levelnya setara.
  • Buat poin-poin plus dan minus. Hindari membuat konten: produk yang satu plusnya saja, sedangkan produk yang lain minusnya saja. Itu black campaign namanya.
  • Kalau mau aman ketika membuat komparasi produk dengan brand yang berbeda, pilih 3 brand, jangan cuma 2.
  • Biarkan pembaca atau follower yang memilih, tidak usah mendikte.

6. Hindari Mengganggu Buzzer Lain

“Ini sponsored post atau murni testimoni, nih?”
“Waaahhh … kamu banyak job, bagi-bagi, dong.”
“Aku malah punya pengalaman jelek dengan produk ini bla bla bla.”

Anda familiar dengan komentar-komentar seperti di atas? Agak-agak pengen ngegampar ya kalau ada komentar seperti itu di thread sponsored post kita? Iya kalau datangnya dari “orang awam”, kalau dari sesama buzzer dan blogger? Sok hayang ngulub da saya mah.

Ayolah, nge-buzz produk kan bukan pertarungan politik, nggak usahlah ada campaign war segala. Sama-sama cari duit, sama-sama penjual jasa. Ya kadang, komentar-komentar seperti itu memang dimaksudkan untuk bercanda, tapi tetap saja, bercanda juga ada waktunya. Kalau Anda punya komplain tentang produk yang bersangkutan, komplain ke CS-nya, bukan di thread buzzer. Ngerti?

Harusnya tuh ya, bantu nge-like, bantu RT, bantu komen. Kalau ada waktu luang, berinteraksi dengan mereka yang sedang nge-buzz terkait produknya, berikan testimoni yang positif jika Anda punya. Jangan me-reply twit buzzer lain tapi yang dibahas tidak relevan. Misalnya, twit tentang produk A, lalu kita membalas seperti ini, “Hei, apa kabar? Udah lama enggak kelihatan ngetwit.”

Kalau buzzer lain mungkin akan senang hati menjawab, saya juga akan dengan senang hati … membloknya.

7. Boleh Kok Menolak Tawaran

Saya belajar banyak dari etika yang dipegang Ulul dalam hal menerima job. Tak peduli sebesar apa pun bayarannya, kalau tidak sesuai dengan niche blog dia ya akan ditolak. Atau seperti Mak Winda Krisnadefa, ada beberapa jenis produk (susu formula dan beberapa produk lain) yang tidak bisa masuk ke blog dia. Jujur, sebagai blogger tekno dan sagala aya a.k.a lifestyle seperti saya, setiap tawaran adalah godaan. Tapi saya juga harus bisa memilah.

Pernah ada yang menawari saya untuk ikut campaign produk alkohol/bir lokal, sayangnya harus saya tolak. Iya, saya peminum sosial, iya saya merokok. Tapi, saya tidak bisa campaign untuk kedua produk itu karena kode etik yang saya pegang. Anak saya follow IG dan kami berteman di Facebook. Saya tidak bisa mempromosikan produk yang yaaa … you know lah.

Pernah juga ditawari kampanye antirokok dengan honor lumayan. Agensinya tahu bahwa saya merokok dan mengatakan tidak apa-apa asalkan follower atau pembaca tidak tahu. Tetap saya tolak karena entahlah, bertentangan dengan hati nurani. Di satu sisi saya perokok yang tidak ingin orang lain ikut-ikutan merokok, juga perokok yang lebih sangar kalau melihat ada yang merokok di fasilitas publik seperti angkot atau bus kota. Tapi di sisi lain saya tidak ingin jadi munafik.

Ada satu contoh lagi. Di dalam sebuah grup blogger, admin memposting job dari brand susu formula. Ada bahkan banyak yang berkomentar begini, “Saya tidak menggunakan susu formula dan sering kampanye ASI ekslusif, tapi tertarik banget untuk ikut campaign ini. Boleh kan?”

Menurut saya sih boleh-boleh saja, tapi mungkin akan jadi kontra produktif.

8. Jeda Itu Perlu

Nge-buzz atau menulis untuk sponsored post itu sama seperti kita memperlakukan cinta: sama-sama butuh jeda. Kadang, kita menerima tawaran dari produk yang sama, tapi dari brand yang berbeda dalam waktu berdekatan. Untuk menjaga keberlangsungan dapur, boleh saja sih diterima, tapi:

  • Usahakan Anda memang sudah menggunakan produk-produk itu, jadi point of view-nya adalah berbagi pengalaman ketika Anda menggunakan produk-produk tersebut.
  • Tentukan jeda. Jangan sampai hari ini nge-buzz provider A, besoknya nge-buzz provider B. Aatau hari ini mempublikasikan sponsored post dari marketplace A, besoknya dari marketplace B, konten promonya sama pula. Berikan jeda, ya minimal satu bulanlah.

Tapi, poin ketujuh ini sepertinya pengecualian untuk para beauty blogger. Karena saya lihat mereka sering membahas produk yang nyaris sama dalam waktu berdekatan. Baiknya kita tanyakan kepada Nona Aprie dan KPM biar lebih jelas.

9. Jujur

Ini poin yang sulit. Di satu sisi kita terikat kontrak kerja sama dan harus menjaga nama baik brand, di sisi lain kita harus jujur kepada pembaca. Jika produk yang kita gunakan dan sedang kita promosikan memiliki kekurangan yang -menurut kita- penting untuk disampaikan, lebih baik konsultasikan dulu kepada brand sebelum dipublikasikan. Hal penting lainnya adalah cara menyusun kalimat, ada perbedaan besar antara membuat kritik yang membangun dengan menjelek-jelekkan sebuah produk. Anda sendiri yang tahu batasnya.

10. Totalitas

Ada seorang beauty blogger, namanya Roos. Saya tidak mengenal dia, tapi namanya sering direkomendasikan jika kebetulan ada brand yang membutuhkan beauty blogger. Alasannya sederhana: karena dia total, membuat artikel di blog semaksimal mungkin, bukan cuma seulas-dua ulas. Atau kalau Anda pernah memerhatikan para selebgram, coba lihat konten campaign mereka. Dari mulai foto, caption, semuanya dibuat semaksimal mungkin.

Totalitas seperti ini bermanfaat agar kita bisa menjalin kerja sama jangka panjang.

11. Profesional

Nah, kalau yang ini auto kritik untuk saya pribadi. Saya sering lupa kapan waktu untuk nge-buzz dan kapan waktu untuk mengirimkan report. Entahlah, ini sebenar-benar kelemahan saya. Sering lupa hari, sering lupa tanggal, sering lupa diri. #eh

12. Etika Lainnya

Di Twitter lagi nge-buzz brand A, di Facebook bikin status seperti ini, “Enaknya kerja sama dengan brand A adalah bla bla bla.” Udah tahu kalau follower Twitter dan teman di Facebook-nya itu-itu juga, masih aja. Kak, Kakak cageur? Boleh sih membuat status seperti itu, tapi ntar kalau periode campaign-nya udah selesai.

Atau ada juga yang seperti ini: postingan job di sebuah grup privat dibagikan kepada yang bukan anggota grup. Atuhlah, bukan begitu caranya bagi-bagi rezeki. Ada satu lagi contoh yang lebih kurang ajar, seorang blogger membuat status yang isinya sedang mencari buzzer untuk campaign produk tertentu. Yang daftar banyak kan, tapi karena ada beberapa buzzer yang tidak ia sukai, nah data buzzer yang tidak ia sukai itu tidak disampaikan ke brand. Di-skip gitu aja.

Saya pernah mengalami kejadian seperti itu. Ada satu brand yang kebetulan menghubungi saya untuk menawarkan campaign. Adegannya seperti ini:

  • Brand: Mbak Langit, kita mau nawarin campaign A, kompensasinya seperti ini, brief-nya seperti itu.
  • Saya: Sebentar, kemarin saya udah daftar untuk campaign A juga di statusnya Z. Ini campaign-nya sama atau beda, ya? Takutnya dobel.
  • Brand: Oh iya sih kami juga menghubungi Z untuk meminta bantuan dicarikan buzzer, tapi nama Mbak enggak ada tuh. Makanya ini saya hubungi langsung.

Sehabis kejadian itu, saya sih cukup tahu aja.


Saya menyadari bahwa pengalaman dan ilmu saya di bidang ini hanyalah sekulit ari, tak sebanding dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh para buzzer militan di luar sana. So, please feel free untuk menambahkan atau mengoreksi.

Well, kasus buzzer yang saya ceritakan di awal hanyalah satu dari sekian banyak pelajaran. Kasus yang mengingatkan saya pada status Ulul, bahwa medsos memang media yang bebas, tapi etika tak harus ikut-ikutan terjun bebas. Buzzer memang “orang-orang bayaran”, tapi ada nurani yang tidak bisa kita khianati, ada etika yang tidak bisa kita kangkangi, ada idealisme yang tidak bisa begitu saja dibeli.

Salam,
~eL


Related Posts:

Related Articles

Website Bisnis, Menjaring Peluang di Era Ekonomi Digital

Website Bisnis, Menjaring Peluang di Era Ekonomi Digital

Indonesia, Kepulauan DigitalBill Gates tidak bercanda ketika mengatakan, "Jika bisnis Anda tidak ada di internet, maka bisnis Anda akan gulung tikar." Kedengarannya memang agak berlebihan, tapi di era ekonomi digital, go online adalah hal yang tak bisa...

Pengertian dan Istilah-Istilah SEO untuk Pemula

Pengertian dan Istilah-Istilah SEO untuk Pemula

Apa yang dimaksud dengan SEO? Apa manfaatnya untuk blog atau web yang kita kelola? Meskipun peringkat bukanlah segalanya, tapi sebagai blogger saya kira kita perlu memahami SEO agar blog kita terhindar dari bahaya laten kesepian. Hmm ... maksud saya, sepinya trafik,...

Membuat Custom Post Layout dengan Gutenberg

Membuat Custom Post Layout dengan Gutenberg

Sejak resmi dirilis sebagai default editor di WordPress 5.0 awal Desember lalu, Gutenberg membuat jagad WordPress agak gempar. Kegemparan bukan hanya terjadi di kalangan blogger pengguna self hosted, tapi juga di kalangan developer dan jutaan pengguna WordPress...

Comments

99 Comments

99 Comments

  1. windah tsu

    Waini, aku kudu banyak belajar lagi buat jadi buzzer yang baik. Masih banyak kurang kurangnya

    Reply
    • LangitAmaravati

      Samaan lah kita, gue kan buzzer yang kurang baik. Kurang baik invoicenya, maksud gue. Bwahaha.

      Reply
  2. hayaaliyazaki

    Tolonglah Chaaan kenapa statement arsiran yang dimasukin, yang lebih bonafid sikit kek ah. *pelintir ujung daster koyak*

    Reply
    • LangitAmaravati

      Lah, ini semua kan poin-poin yang disebutin di Fun Bloggin dulu, cuma ya nggak disebutin. Hahaha.

      Reply
      • Ani Berta

        Lahhh Fun Blogging nya kok gak disebut :p

        Reply
  3. hayaaliyazaki

    Poin nomor 1 itu yang sering aku share ke temen2 yang lagi nge-buzzing. Misal, brand A lagi campaign kuota gak hangus, ya itulah yang digeber panjang kali lebar infonya dan tambahi sesuai pengalaman. Gak ada yang namanya nyerang brand lain. Seingatku sejak aku nge-buzzing dari tahun 2011, semua brand yang pernah kerja sama berpesan spy kami gak menyerang kompetitor.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Seingatku juga, sejak nge-buzzing tahun … tahun lalu, emang ga ada tuh yang nyuruh head to head. Bisa-bisanya kita aja jaga attitude kali, yah.

      Reply
  4. Titis Ayuningsih

    Nyimak Teh, ulasan yang bagus dan cocok untuk era digital ini.

    Reply
  5. Virly ka

    Well said, mbak Langit.
    Saya jg beberapa kali tuh membandingkan 2 produk head to head, tapi nggak sponsoran, nggak jelek2in juga. Itu bukan termasuk blek kempen kan ya?

    Reply
    • LangitAmaravati

      Sepanjang itu objektif dan proporsional, bukan black campaign.

      Reply
  6. yulia

    Bagian kesalehan pengguna dan arsiran alis yg simetris harusnya ditebalin plus digaris bawahi mba ?

    Reply
    • LangitAmaravati

      Dipakein highlight juga enggak biar lebih noted? Bwahahah.

      Reply
  7. makJuw

    Terimkasih mb sharingnya..sangat bermanfaat sekali tentang buzzer..

    Semua memng ada etikanya.noted

    Reply
  8. herva yulyanti

    baca ini bari mikir dan ber-oh masa aya nu kitu dugi teh langit hoyong ngulub hahaha..
    nuhun teh sharingna di catet pisan bagi abi yg newbie ini. salam kenal teteh ???

    Reply
  9. Fanny F nila

    Aku bukan buzzer, tp memang mba, aku jg sebeeeel bgt kalo nemu buzzer yg ngebandingin blak2an bgt antara produk A dan B. Hadeeuuh ga enak jd bacanya. Malah yg begini nih yg biasanya lgs males aku baca lg, dan lgs cari review lain dr yg lbh objektif :p

    Reply
    • LangitAmaravati

      Nah, ini pendapat dari yang bukan buzzer, harus dicatat baik-baik. Makasih lho udah sharing.

      Reply
  10. Arni

    Nah nah akhirnya ada yang nulis ini
    Selain memang agak gerah karena melihat kasusnya, saya juga banyak belajar dari tulisan ini

    Yup. Minimal jujurlah dalam menulis 🙂
    Berat itu kakaaaak

    Reply
  11. Ratna

    Aku mah fokus sama bulu mata Syahrini da, Chan *reumbaybarikuseurikokosodan*

    Reply
  12. ulu

    Teh, kenapa ya gak ada provider komunikasi yg ngontak saya jadi buzzer…. *preeeet hahahaha

    Btw paling geuleuh kalo lg ‘beriklan’ di medsos terus yg komen persis di poin no 6: adeeeu skrng diendorse euy, atau
    wah voucher makannya udah dipake niyeee, atau
    Dibayar berapa buat ngiklanin, lu? atau
    Cieee wuih job review lg banyak neh, atau
    dan sejenisnya lah.

    Geuleuh soalnya. Udah beriklan soft selling, malah komennya hard selling banget. Teu sopan.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Halah, ditawarin juga lebih banyak nolaknya kamu mah. :p

      Reply
  13. Yulia Rahmawati

    Nah, menurut saya, ini tulisan yg softselling… 🙂
    Semoga sukses acaranya, Teh… Amin

    Reply
  14. Retno

    Ulasan yang selalu Mak jleb sekaligus bikin ngakak …

    Reply
  15. Ika Puspitasari

    Noted banget ini Teh. Walopun ada yg sedikit nampar aku nih bagian sponsor yg harusnya ada jeda. Nah, blog ku itu udah kayak kost2an teh..haha :p

    Reply
  16. unggulcenter

    suka ulasannya. poin 6 menarik juga tuh. Jarang yang kepikir.

    Eniwei, Kalau saya, mengapa adam dan hawa diciptakan eh mengapa di tiap handphone ada dua slot bahkan ada tiga, karena saling mengisi kekurangan #eaaa jadi soal alis mata sedang miring, mari pindah ke bilik sebelah.Jika bilik sebelah lagi miring, pindah ke bilik lainnya.

    Selama ga dikontrak ekslusif (ada kayaknya yg seperti itu, tapi saya ngga pernah), saya berprinsip, poligami itu boleh. 😀 😀 kalau merasa kurang, bisa sampai empat. Beli lah satu hape lagi agar jadi empat, dan sah sah semua. #dikeplak

    Kalau si cantik sedang baik, bolehlah dipuji, kamu cantik banget hari ini, kulitmu terlihat “kencang dan lancar” 😀 Boleh berdasarkan pengalaman, rayuan dan “Ada maunya”.

    Tapi jangan bilang yang satunya jelek ya. Bisa berabe. Lain waktu, ketika yang satu sedang santai, bolehlah bermesra-mesra. Yang satu diademin dulu biarlah menikmati Me Time. #halah

    Demikian ceramah poligami Aa. Jangan diterapkan selain dari dunia gadget ya dan mikir yang nggak-nggak. Khusus poligami benda mati. Kalau benda idup, saya penganut paham Keluarga Berencana.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Aku cuma pake 1 kartu, soalnya poliandri harom, Mas. #eh

      Reply
  17. Liadjabir

    noted bgt nih mba…buat blogger newbie kayak diriku. Jgn sampe menjelek2an apalg black campaign.
    Yg bingung kl ngalamin produk/pelayanan jelek mba. Gak ditulis rasanya gmn…ditulis juga katanya gak baik ??

    Reply
    • LangitAmaravati

      Kalau aku pribadi sih emang lebih suka ditulis, tapi dengan cara yang sopan. 🙂

      Reply
  18. Shona

    Jadi kepo siapa orangnya, *kemane aje XD kudet

    Mupeng ikut kelas bloggingnya mbaaa, tapi fee buzzer belum diterima, tumben lamaa *curhat

    Reply
    • LangitAmaravati

      Hubungi Teh Asti, bilang dapat kompensasi HTM dari aku. Tapi jangan lupa bawa buku ya 🙂

      Reply
  19. riskiringan

    Saya terpaksa melakukan yg nomor 6 di status seorang teman yg lg ngebuzzer. Komentar awal saya tidak menyudutkan topik yg dia buzzerkan (bahkan saya buat seolah-olah saya tidak tahu kalau dia sedang ngebuzzer), tapi kata-kata yg dia pilih ketika membalas komentar saya sangat menyakitkan hati saya waktu itu. Jadi saya terpaksa membalas lagi komentarnya dengan yg seperti Kakak sebutkan di nomor 6 (balasan saya: bla bla bla. Oh iya lupa, kalo di sini, kartu ini kurang bagus jd saya ga pake)

    Reply
    • LangitAmaravati

      Berarti ini harus ditambahin etika membalas komentar. Eh makasih lho masukannya.

      Reply
  20. Ida Tahmidah

    Oh ieu kasus blekempen teh hihi… sempet bingung pada posting soal ini ternyata begitu to…. itu arsiran alis pengaruh yak xixixi

    Reply
  21. Nia Nurdiansyah

    Salam kenal Teh Langit ?
    Makasiy yaa, sharingnya bermanfaat pisan, apalagi buat nubi di dunia per buzzeran macam aku.

    Pengin ih ikut kelas yg bareng maximoms, mudah2an ada rezeki pas pulang ke Bdg

    Reply
  22. Sandra nova

    Hmmmm #nyimak #nyatet
    btw tgl 5 masih ada seat ngga? Kl ikutan boleh bawa anak? #eh #nanyaserius ?

    Reply
  23. Ria Rochma

    Iya bener itu, uang memang membuat ngiler.

    Reply
  24. shintadaniel

    Jadi buzzer/influencer ternyata emang harus Cerdas, pinter dan banyak skill/knowledge ya, nggak sembarangan posting2 aja apalagi yg sifatnya sponsored. Harus berani jujur juga, nggak semata2 karena dibayar…
    Thanks for sharing, wah banyak ilmu didapet dari sini.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Sama-sama, Kak. Kalau ada tambahan, please feel free ya.

      Reply
  25. Ratna Dewi

    Hmmm pantesan sinyal providerku suka lup lep, kayaknya alisku kurang presisi deh nih #eh

    Btw suka tulisannya, Teh. Pengalamanku pernah lagi nulis sponsored post brand A ada teman blogger yang komen pernah ada pengalaman buruk sama brand itu jadi males pakai lagi. Jadi gimana gitu padahal mah tau lagi SP. Kalo buzzer yang menjelekan jadi ingatnya malah kek buzzer politik. Duh pengen komen banyak sebenernya menyampaikan unek-unek yang iya banget pernah lihat soal buzzer dan etika-etikanya tapi hoream nulis via hape, haha.

    Reply
  26. Shanty

    Dipikir-pikir saya pernah hampir ngalamin kasus menjelek produk kompetitor.

    Kasusnya kebetulan saya memang menggunakan 2 produk itu. Produk A terkenal dipakai sejuta umat termasuk saya. Terus dapat rekomendasi produk lain yang lebih mahal, ternyata hasilnya bagus pake banget. Saking senengnya saya nyaris menyebutkan bahwa produk A nggak bagus.

    Untung udah makan, jadi bisa tahan diri untuk nggak perlu menyebut nama produk A di postingan.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Boleh aja sih menyebutkan merk asalkan tetap sopan ketika memaparkan kekurangannya. Kalau cuma bilang nggak bagus menurutku sih enggak solutif. Lebih baik dijelaskan alasannya.

      Reply
  27. Eni Martini

    Bacanya sedep sedep ngikik
    Nice, langit

    Reply
  28. Djulaeha

    Terima kasih penjelasan nya mbak

    Reply
  29. Uwien

    Aku baru ngeh lho, blek kempen itu ternyata sedang nge-buzz. Kirain orang lagi curhat aja. Ternyata lagi ada campange provider. *)lemotnya aku. hahaha

    Soal etika ini aku catat dan siap diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (ngiiik)

    Thanks for sharing Teh.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Segera terapkan ya, supaya dunia blogger semakin barakah. *halah

      Reply
  30. mysukmana

    ngebuzz ternyata kak sip mantap

    Reply
  31. newhildaikka

    Heuuu panjang juga, semoga melekat di ingatanku yang rada pendek ini gegara kebanyakan MSG XD
    Nice sharing Mbak eL, good as always :*

    Reply
  32. Penjaja Kata

    Ilmu yang sangat bermanfaat, teh. Izin mengaplikasikannya dalam kehidupan saya. hehe

    Reply
  33. Sashy Nuniek

    Setuju banget sama poin-poinnya mba Langit, kadang memang tawaran jadi buzzer itu menggiurkan tapi bukan berarti mengorbankan etika juga yah. Belakangan lagi sering baca artikel semacam ini deh, kayaknya bayank yang tergelitik untuk nulis tentang situasi dunia perbuzzeran terkini hihihihi

    Reply
  34. Frida Herlina

    Sepakat!
    Yak, etika harus digarisbawahi.

    TFS, Chan.

    Reply
  35. Ivonie

    Gems juga kalau ada sesama blogger yg komen seprti mbak sebutkan

    Reply
  36. Dede Ariyanto

    Keren tulisannya. Sama mbak, aku pernah ngalamin yang point 12. Etika Lainnya.

    Reply
  37. Mei Wulandari

    Hih itu orang yang ngeskip kita buat didaftarin ke brand jahat bener. Kalau emang gak suka dari awal gak usah nawar2in joblah hahaha. Eh teh langit malah langsung dicolek dari brand ya. Alhamdulillah , akhirnya cukup tau aja sama si pembuat status yg cari buzzer, eeeh

    Btw makasih teh atas sharingnya :*

    Reply
  38. ziasubhan

    Noted! Masalah totalitas itu bener banget. Wah, ada nama ka Roos, doi emang total banget dari mulai ngeblog sampe ngebuzz. Ilmunya udah aku bookmark. Makasih sharing-nya, teh. :*

    Reply
  39. HM Zwan

    Dan sampai sekarang aku g tau siapa yang lagi dibahas waktu itu,dan nggak mau kepo banget hehe. Yang penting aku ambil banyak hikmah dari kejadian itu…

    Mbakkk,makasih banyak sharingnya..siap laksanakann.^^

    Reply
    • echaimutenan

      Jangan…enakan jadi org yang ga tau drpd orang yang tau kalau masalah apple to apple tadi. Eaaakk

      Reply
  40. Yaney

    Makasih ilmunya, teh langit. Catatan yg sangat berharga.

    Btw, rejeki nggak kemana ya teh, dihalangin gimanapun tetap aja datang klo emang itu rejeki kita. Malah dapat bonus, bisa tau siapa yg nggak suka yg menyimpan bara di hatinya thd kita *yeah, bahasanya, hhihi

    Reply
  41. Levina

    Hmmmmm…thanks Mbak. Jadi instrospeksi diri sendiri juga. Terutama bagian yang totalitas.

    Reply
  42. Inayah

    bacanay penuh penghayatan banget ini aku. duh jauh euy di Bandung,,,sebagai blogger yang baru mencoba terjun…kasus2 yang belakangan ini terjadi adalah pelajaran berharga. harurnuhun..

    oiya belajar juga kosakata baru ‘marangpang’
    bapak sering pakai kata itu, baru tahu kalau basa sunda…wkwkw kirain basa gaul jaman dulu

    Reply
  43. Mustafa Zain

    Terimakasih telah berbagi, jadi nambah ilmu ku

    Semoga kedepannya para buzzer lebih kreatif dan cerdas dalam promosi-nya.

    Izin share ya Teh 🙂

    Reply
  44. echaimutenan

    Makanya aku nerima job itu pas udah selesai asix 😀
    Enakan ngejilat eskrim teh daripada brand xD

    Reply
  45. Widya

    Waa… Jadi pengen ngeblog mb.. Kira2 mb langit punya referensi buku yg bagus utk blogger pemula macam saya tak ya?

    Reply
  46. gelintang

    mbak Langit,, blog nya seru banget. Pas banget nih aku baru akan serius untuk monetize blog dan harus belajar banyaaak. Makasih banget sharingnya mbak. Ini lanjut ngubek blog nya mbak Langit lagi

    Reply
  47. avysaja

    menyimak….krn pengen jadi buzzer yang elegan juga hehehe

    Reply
  48. Lusi

    Kayaknya aku udah baca artikel ini ya waktu buzzer provider head to head dulu. Aku sempat ngingetin baik2 sih ke para buzzer ibu2 sholehah. Apalagi mrk smp ada yg masuk akun twitwor krn ada non buzzer yg marah. Aku ngingetin krn sayang. Buzzer yg bukan buibuk sih bodo amat. Hasilnya? Aku dinyinyiri berjamaah wkwkwkwk. Ya udah aku unfollow aja. Yg kejadian baru2 ini, beberapa hari lalu, aku ingetin lagi tp nggak mention buzzernya. Gak ngecek sih ini buzzer yg dulu atau baru lagi. Hasilnya? Gantian ada yg unfollow aku. Xixixxi. Yo weslah terserah. Yg penting udah tau aja siapa yg menghalalkan segala cara buat kasih makan anak2nya.

    Reply
  49. Yurmawita

    Waw, makanan bergizi sore ini thanks mba Langit ilmunya

    Reply
  50. Valka

    Waahh, makasih mbak buat tulisannya. Bermanfaat banget 🙂

    Reply
  51. Gita Siwi

    Padahal untuk menang ( TT ) nggak harus nyerang kan? pilih elegan akh saya. Secara masih terus belajar juga bagaimana cari buzzer yang baik, produktif dan rajin menabung. Eh 😄

    Reply
  52. Ega Tiara

    Suka banget kalimat terakhirnya Mbak. Terima kasih sharingnya. Segera diaplikasikan. Semoga kita Istiqomah dan tetap bermanfaat untuk semua.

    Reply
  53. Riyardi Arisman

    Selalu sukak tulisan Mbaknya… Aku catet buat ngingetin diri sendiri loh, dan poin profesional, aku wajib inget bgt, biar makin konsisten juga. Hehehe…

    Reply
  54. Rani Yulianty

    Noted, kakaaa…catetan banget untuk terus memperhatikan etika saat menerima tawaran kerja

    Reply
  55. tally syifa

    Dan aku masih belajar untuk semua ini. Kalau jadi konsumen, Iyes seneng baca-baca review orang dari pengalamannya. Makannya kalau ada yang nawarin job ngebuzz (eh emang ada? da aku mah masih piyik) nyobain dulu produknya minimal meganglah 😀 Btw, makasih Teh Uchan sangat bermanfaat bagi aku yang ilmunya masih cetek.

    Reply
  56. Dee Rahma

    Nice share, thanks for sharing ya 🙂

    Reply
  57. Sakinah Annisa Mariz

    Ini nih yang wajib dan harus dibaca para blogger. Etika. Etika. Two thumbs up Unda Aksa..

    Reply
  58. Adhi Hermawan

    Mantab nih ulasanya… bookmark dulu ah…
    Soalnya aku mau terjun juga ke dunia buzzer, biar ngerti lah masalah beginian mah…

    Reply
  59. Joe Candra

    Iye setuju bgt ceu, aku jg pernah dpt materi bgnian pas msh jd banker. Karena memang marketing itu ada etikanya yess ceu. Aku pun gak mau nulis atau promote yg gak sesuai dgnku, contohnya spt rokok yg ceceu sebut diatas, sejauh ini aku gak pernah nulis bahaya rokok even aku pernah menulis artikel kesehatan, I like your style ceu.

    Smg netizen yg budiman pada baca tulisan ini

    Reply
  60. Bambang Irwanto

    Terima kasih sharingnya, Mbak.
    Saya tercerahkan dan jadi banyak belajar dari tulisan ini.

    Reply
  61. desi

    wah ini pelajaran buat saya yang newbie,butuh banyak pencerahan

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This