Cara Membangun Personal Branding di Twitter untuk Freelancer dan Bloger

Cara Membangun Personal Branding di Twitter

Twitter adalah platform media sosial yang unik. Di sini, kita bisa memuntahkan apa saja mulai dari sambat, nyepik, bahkan twitwar dengan orang yang tidak kita kenal. Tapi apakah hanya itu? Tentu saja tidak.

Dengan pengguna aktif di Indonesia sebanyak 18.45 juta per Januari 2022 (sumber: statista), juga karena algoritmanya, Twitter bisa dijadikan sebagai media untuk promosi dan marketing. Salah satunya, sebagai media untuk personal branding.

Personal branding diperlukan oleh setiap profesi, tak terkecuali oleh para freelancer dan bloger.

Maka, mari kita ngobrol-ngobrol tentang cara membangun personal branding di Twitter, khusus untuk freelancer dan bloger. Artikel ini akan berisi tip-tip yang didapat dari pengalaman saya, beberapa referensi, dan hasil pengamatan saya terhadap beberapa akun.


Pengertian Personal Branding

Secara sederhana, personal branding adalah apa yang diingat orang tentang diri Anda atau bagaimana orang mengenal Anda.

Contoh:

  • Kalau Anda mendengar nama Tiarbah, apa yang pertama kali terlintas di benak? Masakan, nasi goreng, chef.
  • Ketika ada yang membutuhkan layouter buku, berkali-kali saya di-mention orang padahal saya tidak kenal. Itu berarti orang mengenal saya sebagai layouter buku. Dengan begitu, personal branding saya selama ini berhasil. Ehem.

Baca juga: How to “Jual Diri” di Internet


Fungsi Personal Branding untuk Freelancer

Tapi apa, sih, gunanya membangun personl branding di media sosial? Kenapa freelancer dan bloger perlu melakukan itu? Kenapa tidak dibiarkan saja bebas lepas sambat dan memuntahkan segala macam unek-unek di Twitter?

Well, karena hidup adalah percabangan pilihan, tentu Anda bebas menentukan. Bisa menggunakan media sosial sebagai media interaksi dan bersenang-senang, bisa juga menggunakannya sebagai channel yang mendatangkan uang.

Apa pun motivasi Anda, berikut beberapa fungsi dan manfaat personal branding di Twitter:

  1. Memperkenalkan diri kita kepada publik (semacam membangun brand awereness).
  2. Memperkenalkan produk (barang/jasa) yang kita jual.
  3. Konversi follower/mutual jadi klien. Klien ya, bukan pacar.
  4. Membangun kepercayaan.
  5. Networking.
  6. WoM (Word of Mouth) marketing.
  7. Dll.

Cara Membangun Personal Branding

Freelancer yang saya maksud di artikel ini lintas profesi. Bisa saja untuk bloger, desainer, web developer, ilustrator, dan lain sebagainya. Intinya adalah para pekerja paruh waktu.

Tidak pernah ada formula yang tepat untuk setiap orang. Jadi poin-poin yang akan saya sampaikan tentu butuh penyesuaian. Pilihlah poin yang paling sesuai untuk Anda, coba dan lihat mana yang paling berhasil.

1. Profil

Profil adalah hal pertama yang akan dilihat oleh publik, termasuk oleh calon klien.

a. Bio

Gunakan nama asli, nama panggilan, atau nama pena. Hindari menggunakan nama aneh-aneh atau alay. Juga tuliskan profesi Anda di pofil.

b. Username

Teh Ani Berta, mentor saya di dunia bloger, mengatakan bahwa untuk bloger sebaiknya menggunakan username yang sama antara semua akun media sosial dan relevan dengan domain blog. Ini agar orang-orang mudah mengingat kita dan lebih mudah untuk personal branding. Tip yang sama saya kira cocok juga untuk diimplementasikan kepada semua profesi, bukan hanya bloger.

c. Foto

Usahakan gunakan foto sendiri/ilustrasi/logo. Hindari menggunakan ava kucing, ava Korea, atawa naon lah. Bukan apa-apa, memakai foto aneh-aneh teh agak riskan kalau dilihat calon klien karena sering dikira akun palsu. Gunakan foto yang sopan. Kita tidak perlu memperlihatkan belahan dada hanya untuk mencari klien.

d. Web dan Kontak

Cantumkan alamat web kita dan kontak yang bisa dihubungi. Kontak bisa berupa alamat email dan atau nomor WhatsApp. Jika Anda memiliki beberapa web atau ingin menyematkan banyak link di profil, bisa gunakan fasilitas seperti LinkTree.

Beberapa akun Twitter yang profilnya bisa ditiru:

Mbak Putty, ilustrator
Andrew, bloger
Mas Dwi, desainer

Atau, kalau Anda tidak mau yang terlalu serius, bisa coba cara saya. Yang penting profesi utama disebutkan dengan jelas.

personal branding langit amaravati
Langit Amaravati, web developer

3. Membicarakan tentang Bidangmu

Kalau desainer ya ngomongin desain, kalau bloger yang ngomongin blog, dll. Tapi tidak perlu setiap saat. Boleh lah membicarakan tentang hal-hal lain. Persentasenya sekitar 65% membicarakan bidang kita, 35% membicarakan hal lain.

4. Proses Kreatif

Seperti kata Bang Pinot, publik tidak hanya perlu tahu hasil kerjamu, tapi juga proses di baliknya. Kita bisa bercerita tentang pendekatan-pendekatan yang kita lakukan, software yang digunakan, solusi dari permasalahan yang dihadapi, dan sebagainya. Intinya adalah bercerita tentang proses berkarya.

5. Hasil Karya

Mengunggah hasil karya, baik itu hasil eksplorasi/latihan maupun project yang sudah kita lakukan. Tapi hati-hati, ada project yang sifatnya rahasia dan tidak boleh dibagikan. Sebaiknya tanya dulu ke klien. P.S. Project plat merah biasanya tidak boleh dibagikan.

Hasil karya juga bisa difungsikan menjadi semacam portofolio.

Baca juga: Tip Membuat Portofolio

6. Berbagi Pengetahuan

Kalau ini, saya dapatkan dari Pak Sandhika Galih, dosen online kita semua. Apa yang didapat dari komunitas, dikembalikan lagi ke komunitas. Maksudnya, selama ini saya banyak mendapatkan ilmu dari berbagai sumber. Gratis pula. Pengetahuan itu tentu harus diestafetkan agar bermanfaat.

Sejak tahun 2019 saya konsisten membuat utas tentang blog, desain, web developer, dan dunia freelance di Twitter. Utas-utas tersebut dikumpulkan dalam moment (ada fiturnya di Twitter) dan di-pinned di profil agar mudah dicari. Dalam waktu 2 tahun cara ini mulai menuai hasil, selain orang-orang mulai mengenal saya sebagai desainer dan web developer, saya juga mulai mendapatkan klien dari Twitter.

Anda bisa memilih topik yang relevan dengan profesi Anda. Dengan berbagi pengetahuan, selain memberikan manfaat bagi peradaban umat manusia (halah), juga sebagai ajang untuk mengasah pengetahuan kita sendiri. Karena seperti kata orang bijak, cara paling baik untuk belajar adalah dengan menuliskan/menyampaikannya kembali.

Dari kacamata personal branding, ini juga berfungsi untuk membangun expertise dan trust. Maksudnya begini, saat kita membuat utas tentang bidang kita secara berkala. Jika apa yang disampaikan memang bermanfaat dan berisi, dengan sendirinya orang-orang akan menganggap kita ahli dan PERCAYA. Kalau orang-orang sudah percaya, mereka tidak akan ragu menggunakan jasa kita.

Tentu saja dengan catatan, utasnya jangan hasil copas atau mencuri dari utas orang lain.

7. Encourage People

Masih formula dari Bang Pinot. Anda pasti sering melihat orang-orang setor karya ke blio dan Bang Pinot selalu mendorong orang untuk terus berkarya. Tidak, kita tak perlu mengkritisi. Hanya beri masukan jika diminta.

Hal ini juga saya lakukan. Encourage people untuk belajar bahasa pemrograman, belajar desain, belajar ngeblog. Meski kalau ngajar langsung atau jadi tutor mah saya belum sanggup. Saya cuma bisa ngasih resource/tempat belajar.

“Enggak takut jadi banyak saingan, Teh?”

Ngapain? Bagi saya, hidup bukan tentang kompetisi. Bukan juga tentang saling berebut pundi-pundi rezeki. Sebab sejak jadi pekerja lepas tahun 2011 silam, saya tahu betul bagaimana ganasnya profesi freelancer, tahu betul bagaimana sulitnya untuk bertahan.

Saya pribadi justru senang jika kemudian orang-orang mendapatkan manfaat dan -lebih baik lagi- mendapatkan penghasilan dari apa-apa yang saya bagikan.

8. Menjawab Pertanyaan & Membalas Komentar

Ketika mulai terkenal dikenal, pasti akan ada mutual yang bertanya terkait bidang kita. Itu karena mereka menganggap kita cukup ahli dan bisa memecahkan masalah mereka. Ini juga pertanda bahwa personal branding yang kita lakukan berhasil.

Nah, jika ada yang bertanya di reply atau dm, sebisa mungkin jawablah. Pada dasarnya setiap orang tidak suka diabaikan, termasuk mereka yang bertanya. Tapi kita juga tak harus jadi people pleaser, ada beberapa tip yang bisa dilakukan.

Tip menjawab pertanyaan:

  • Bila tahu, jelaskan dengan sederhana.
  • Bila tidak, minta maaf dan katakan terus terang.
  • Bila Anda tidak bisa menjawab tapi tahu ada sumber lain yang bisa menjawab pertanyaan mereka, berikan sumbernya. Bisa berupa artikel di website, video di Youtube, atau sumber lain.
  • Bila Anda punya artikel di blog sendiri yang bisa menjawab pertanyaan mereka, berikan saja link-nya. Lumayan, kan, nambah-nambah trafik. *eh
  • Bila karena satu dan lain hal Anda tidak bisa menjawab karena misalnya sedang sibuk dengan pekerjaan, katakan juga terus terang. Tentu saja dengan bahasa yang sopan.

Tip lain:
Ini bukan lagi chat dengan gebetan. Jadi kita tak harus menunggu beberapa menit atau hari supaya dikira jual mahal. Balaslah segera jika memungkinkan.

9. Achievement

Tidak ada salahnya pamer keberhasilan atau pencapaian. Karena pamer kekayaan mah jelas tidak punya (elu doang itu mah, Chan!).

Achievement bisa berupa:

  • Menang lomba, misalnya.
  • Lulus dari sebuah kursus.
  • Berhasil memecahkan masalah terkait pekerjaan.

Ada freelancer yg pamer materi seperti rumah, mobil, pamer nominal rekening. Ya, sah-sah aja. But not my cup of coffee.

10. Hati-Hati dengan Tab Likes

Kita sudah pernah menyaksikan akun-akun besar bahkan pejabat tumbang gara-gara nge-like akun porno atau yang tidak pantas. Entah sengaja atau tidak. Hal yang sama juga berlaku untuk freelancer. Anda mau lihat twit apa pun terserah, tapi jangan di-like karena tombol like bisa dilihat oleh publik.

Sssttt … kalau mau, ada fitur bookmark yang tidak bisa diakses publik. Untuk tab likes saya mah isinya Uda Ivan Lanin semua. *eh

11. Following & Follower

Ini juga sama. Enggak usah follow akun aneh-aneh lah kalau masih mau nyari makan di Twitter. Begitu juga dengan follower. Kalau ada akun porno follow Anda, langsung blok aja.

12. Interaksi

Kita rep atau rt pasti kelihatan oleh orang lain. Kurang-kurangin reply twitwor atau polemik yang tidak perlu. Ngapain? Enggak jadi duit pun. Saya pernah lihat freelancer yang selalu komen di tiap twit di base-base/twitwor like selow banget idup lo, cuy!

Poin 12 juga evaluasi untuk saya sendiri. Kadang saya ge sok getek weh hayang nyamber.

13. Rahasia-Rahasia

Tidak semua hal perlu dibagikan ke publik karena jejak digital itu kejam. Kita tak perlu munafik dan selalu tampak seperti orang baik. Tapi apa yang rahasia, biarlah tetap rahasia.

14. Hindari Polemik

Di Twitter, setiap hari ada saja topik yang sering dijadikan keributan. Entah itu sekadar ribut tentang bekal makan siang untuk pacar sampai polemik-polemik lain yang SEBETULNYA BUKAN URUSAN KITA.

Sebagai makhluk sosial, kita tentu tergoda untuk menanggapi dan berbagi opini MESKI TIDAK DIMINTA. Tapi kalau kita masih peduli dengan keberlangsungan beras di dapur, sebaiknya hal-hal tersebut dihindari.

Sekali lagi, belajarlah untuk menutup mata dan telinga.

15. Mulutmu Harimaumu

Rasanya memang agak meragukan mendapat tip ini dari saya yang sering anjing-anjingan di media sosial (kecuali Instagram dan LinkedIn). Tapi percayalah, freelancer atau bukan, tak ada yang suka berurusan dengan orang yang kasar, sinis, dan menyebalkan.

“Tapi, kan, itu personal. Yang penting ketika bekerja kita profesional.”

Memang, idealnya seperti itu. Sayangnya dunia ini tidak ideal. Tidak pernah ideal. Orang-orang, dalam hal ini klien dan calon klien, lebih sering mempekerjakan freelancer yang mereka suka, yang sesuai dengan value mereka.

Tidak, Anda tidak perlu menjadi ibu peri atau malaikat bersayap rembulan, tapi setidaknya jaga mulut dan berhati-hatilah di internet.

16. Konsisten

Semua poin di atas akan jadi sia-sia jika tidak dilakukan secara konsisten.


Membangun personal branding adalah proses yang tidak sebentar. Hasilnya mungkin baru kita dapatkan bertahun kemudian. Tapi sebagaimana proses, langkah besar adalah sekumpulan langkah-langkah kecil.

Sekian ngobrol-ngobrol kita tentang membangun personal branding di Twitter. Semoga bermanfaat.

Salam,
~eL

Foto Langit Amaravati

Langit Amaravati

Web developer, graphic designer, techno blogger.

Peminum kopi fundamentalis. Hobi mendengarkan lagu dangdut koplo dan lagu campursari. Jika tidak sedang ngoding dan melayout buku, biasanya Langit melukis, belajar bahasa pemrograman baru, atau meracau di Twitter.

Related Posts

Memulai Karier Sebagai Freelancer, Tekad atau Nekad?

buat invoice online gratis

Cara Membuat Invoice Online + 6 Aplikasi Invoice Gratis

Tip Membuat Desain Portofolio

Tinggalkan komentar

Traktir Kopi

Suka dengan artikel-artikel di blog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Traktir saya kopi agar saya bisa terus berkarya. Terima kasih. :)

Nih buat jajan