Category: Healthy

Ngopi Dulu, Bray, Biar Kuattt

Ngopi bukan hanya masalah selera, tapi juga soal budaya. Istilah ngopi juga mengalami perluasan makna dari yang tadinya menyesap secangkir cairan hitam pekat nan nikmat menjadi kumpul-kumpul, ngobrol, dan diskusi. Pun, dengan jenis sajian kopinya. Kian hari kian bermunculan varian menu yang membuat ngopi tidak lagi stagnan.

Saya sendiri penggemar kopi garis keras, tipe manusia yang jika tidak ngopi sehari saja maka mood saya akan turun drastis. Jauhkan saya dari kopi maka saya akan berubah dari cewek manis menjadi nenek sihir nan bengis (oke, ini lebay). Intinya, sih, kopi adalah bahan bakar yang membuat saya tetap kreatif dan berdiri tegar ketika menghadapi deadline demi deadline. Read more

Konsultasikan Alergi dan Ketahui Cara Mudah Mendeteksi Alergi dalam Tubuh

Saya alergi terhadap cuaca ekstrem, beberapa jenis obat-obatan, protein hewani (beberapa jenis ikan laut), kandungan kimia dalam deterjen, dan lain-lain. Jadi ketika melahirkan kedua anak saya, Salwa (13 tahun) dan Aksa (2,5 tahun), saya tahu bahwa mereka berdua juga memiliki risiko alergi yang sama. Meski pada perkembangannya, Salwa dan Aksa memiliki alergi terhadap alergen (pemicu alergi) yang berbeda. Salwa misalnya, alergi terhadap susu sapi, sedangkan Aksa sebaliknya, dia justru alergi terhadap susu kedelai. Saya dan Salwa alergi terhadap obat-obatan yang mengandung paracetamol sedangkan Aksa justru alergi terhadap ibuprofen. Begitulah, alergi memang unik. Itu sebabnya saya sebagai ibu harus tahu betul “keunikan” kedua anak saya agar kelak mereka tidak mengalami masalah kesehatan yang lebih serius. Anda yang memiliki riwayat alergi tapi belum menemukan jenis alergennya, saran saya sih sebaiknya konsultasikan alergi ke dokter yang tepat.  Read more

Sedentary dan Obesitas, "Musuh" Utama Para Freelancer

“Kamu hamil?” pandangan Ibu tertuju kepada perut saya, tajam dan menyakitkan. Sebelum dikutuk jadi ricecoker atau peralatan dapur lainnya, saya cepat-cepat menjelaskan bahwa kondisi perut saya yang gendut montok ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehamilan. “Teh, sini, Teh. Duduk di sini,” seorang lelaki menepuk bahu ketika saya menumpang sebuah bus kota. Jelas saya […]

Read more

[APPS] Konsula, Dokter dan Rumah Sakit Pribadi Anda

Seorang perempuan mengunci diri di kamar mandi semalam suntuk agar ia tidak kembali menyiksa anak-anaknya. Perempuan lain menghunuskan pisau ke leher dengan niat menghabisi hidup hanya karena anak batitanya menangis tak henti-henti. Perempuan yang berbeda kerap membenturkan kepala ke dinding ketika tidak bisa menangani halusinasi, monster-monster yang bersarang di kepalanya. Kisah-kisah mengerikan yang saya ceritakan […]

Read more

Tubuh, Kendaraan untuk Menghadapi Hidup

Saya akui, kesehatan adalah nikmat yang jarang sekali saya syukuri. Iya, saya lebih sering zalim terhadap tubuh sendiri dengan memforsirnya seakan-akan tubuh saya ini mesin. Namun, sejak 3 tahun lalu, tepat ketika menginjak usia 30, saya semakin sadar bahwa kesehatan adalah prioritas utama jika saya ingin hidup lama.   Saat ini usia saya 33 tahun, […]

Read more

Harga Sebuah Lambung

Jika waktu bisa diputar ulang, saya ingin sekali kembali ke tahun 1998. Tahun ketika saya baru masuk SMK dan mulai ikut berbagai macam ekstrakulikuler dari mulai OSIS, Paskibra, sampai keputrian. Tahun ketika saya mulai menganggap sekolah dan lapangan upacara sebagai rumah utama, sedangkan rumah orang tua hanya dianggap sebagai tempat singgah semata.

Jika tahun-tahun itu bisa diulang, saya akan dengan senang hati sarapan setiap pagi, makan siang tepat pada waktunya, dan makan malam dengan gembira. Jika tahun-tahun itu bisa diulang, saya akan bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal makan siang daripada makan bakso dengan kuah super pedas nyaris setiap harinya. Jika tahun-tahun itu bisa diulang, saya akan pulang paling lambat sebelum azan Magrib berkumandang agar masih bisa menyantap masakan Ibu, bukannya pulang nyaris pukul 9 malam dan menyantap mi instan. Read more

Up Green Tea Latte & Smoothies

Up Green Tea
Dua tahun terakhir ini, saya tergila-gila pada dua jenis minuman: green tea latte dan smoothies. Jika ada kesempatan nongkrong di kafe biasanya saya memesan salah satu jenis minuman ini. Tidak jarang pula sengaja menjajal kelezatan green tea latte di berbagai kafe dan membuat catatan kecil sebagai bahan perbandingan juga referensi. Meski kafe bertebaran di Bandung, namun sulit menemukan kafe yang menyajikan green tea latte yang pas (setidaknya di lidah saya). Ada yang rasanya pas, tapi terlalu encer. Ada yang kekentalannya pas, tapi terlalu manis. Ada yang manis dan kekentalannya pas, tapi ada rasa pahit-pahitnya. Begitulah.


Sejak melahirkan 11 bulan lalu, saya nyaris tidak bisa keluar “kandang”. Jangankan nongkrong di kafe, ke acara-acara sastra saja harus mengatur jadwal seminggu sebelumnya. Akhirnya saya lebih sering membuat green tea latte dan smooties di rumah. Rasanya? Lumayan. Mungkin suatu hari saya harus membuka kafe untuk menyalurkan hobi eksplorasi berbagai jenis minuman (baca: membuat dapur berantakan). ^-^

Jadi ketika mendapatkan oleh-oleh Up Green Tea dari CNI pada acara Fun Blogging 6, Sabtu, 5 September 2015 kemarin, yang terpikir dalam benak saya adalah: Ini kayaknya seru kalau dibuat latte atau smoothies.

Tapi sebelum kita sampai pada acara membuat dapur berantakan, saya mau cerita dulu tentang kenapa saya tergila-gila pada teh hijau dan smoothies. Well, saya perokok dan peminum kopi militan. Satu hari bisa menghabiskan 1-2 bungkus rokok kretek (tergantung banyaknya deadline tulisan dan layoutan) dan 4-8 cangkir kopi. Karena saya alergi terhadap beberapa jenis protein hewani, pola makan saya juga berantakan. Usia saya 32 tahun, tapi kulit saya tampak jauh lebih tua. Belum lagi kurang olah raga sehingga semua lemak berkumpul di tempat yang berbahaya: perut.

Memang, sejak beberapa tahun lalu saya setengah vegan, tapi karena pola hidup yang tidak sehat, tidak ada perubahan berarti baik pada lemak maupun kulit saya. Saya juga malas diet-dietan. Ketika orang-orang mencoba berbagai cara diet terbaru, saya mah cuek-cuek saja. Diet artinya makan teratur sedangkan saya hanya makan kalau sempat atau ingat. Sayangnya meski asupan makanan tidak terlalu banyak, metabolisme tubuh saya payah, jadi berat badan saya masih jauh dari ideal.

Saya butuh asupan nutrisi yang mampu mengikis radikal bebas, memperlancar metabolisme, sekaligus mengalihkan perhatian dari kopi. Mengonsumsi makanan sehat (setahun terakhir saya juga tergila-gila pada salad) dan teh hijau adalah salah satu solusi yang saya pilih.

Kenapa harus teh hijau, bukan jenis teh lainnya? Karena teh hijau mengandung EGCG (Epigallo 3-catechin gallate), EGCG ini adalah polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan bermanfaat untuk menghambat kerja radikal bebas yang dihasilkan dari radiasi sinar UV matahari. As we know, sinar UV akan mengikis kolagen pada kulit dan menyebabkan kulit menjadi kusam, kering, dan tidak lentur. Kulit saya yang kering dan mulai menampakkan keriput di kantung mata dan sudut bibir bisa dikembalikan kelembapan dan kekenyalannya dengan teh hijau. Dan yang paling penting, teh hijau dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Mengonsumsi secangkir teh hijau di pagi hari dapat membakar lemak hingga 4% dalam waktu 24 jam.

Yang malas diet dan olah raga tapi ingin perut rata, coba mana suaranya? ^-^

Biasanya, saya mengonsumsi teh hijau celup yang banyak dijual di supermarket. Atau kalau ingin membuat green tea latte, saya memakai ekstrak matca. Tapi ya itu, kantong teh kalau dicelup terlalu lama akan berbahaya bagi kesehatan, kalau dicelup sebentar malah tehnya tidak keluar. Dilema, sampai-sampai saya harus memasang timer agar mendapatkan rasa teh yang tepat tanpa mengganggu kesehatan. Sampai segitunya effort yang harus saya kerahkan. Hahahah. And you know what? Ekstrak matcha ini mahal, dijual per ons dengan harga yang lumayan. Bangkrut saya kalau terus-terusan begini. #eh

Untungnya, Up Green Tea ini berbentuk ekstrak, bisa langsung diseduh dengan air hangat atau air suhu ruangan. Hindari menyeduh teh hijau dengan air mendidih agar tidak merusak antioksidan di dalamya. Tanpa kantong teh! Bye-bye timer!

Selain itu, Up Green Tea adalah teh hijau jenis Sencha, teh hijau yang kandungan polifenol catechin-nya lebih tinggi dari jenis teh hijau lainnya dan memiliki kandungan kafein yang lebih rendah. What a good news. Jujur, saya baru tahu kalau ada jenis teh hijau selain matcha. Sebagai penggila green tea latte, saya merasa gagal. >.<

*
Banyak cara untuk menikmati secangkir teh hijau. Anda bisa langsung menyeduhnya dengan air hangat atau menambahkan perasan jeruk lemon untuk menambah kesegaran. Bisa juga dibuat penganan untuk si kecil seperti yang dilakukan teman saya mamah muda Armita Fibriyanti. Sssttt … tahukah Anda bahwa kesegaran Up Green Tea juga bisa dipakai untuk nyepik-nyepik mertua? Coba intip tips dari Ceu Dian Andari Yuan.

Karena saya penggila green tea latte dan smoothies, saya membuat dua jenis minuman itu dengan bahan dasar Up Green Tea, seperti di bawah ini:

UP GREEN TEA LATTE

Up Green Tea Latte

 

Bahan-bahan:

1. 1 sachet Up Green Tea
2. 2 sdm krimer nonfat (bisa juga menggunakan 100 ml susu UHT)
3. 100 ml air hangat
4. Bubuk kayu manis

Cara membuat:

1. Masukkan Up Green Tea dan krimer ke dalam mug yang agak besar, aduk.
2. Tuangkan air hangat lalu aduk menggunakan pengaduk teh, pengaduk kue, atau garpu agar sedikit berbusa. Kira-kira 30 detik. Karena saya pemalas, saya menggunakan blender. 😀
3. Tuangkan ke dalam cangkir, taburi dengan bubuk kayu manis.
4. Sajikan.

Tips:

1. Hindari menambahkan gula sebab gula akan menambah radikal bebas.
2. Jika Anda lebih suka dengan rasa manis, bisa menambahkan madu.
3. Atur kuantitas air sesuai selera Anda.
4. Jika ingin mendapatkan rasa teh yang lebih pekat, tingkatkan perbandingan menjadi 1:1 menjadi 2 sachet Up Green Tea + 2 sdm krimer. Tapi saya tidak menyarankan menambahkan krimer terlalu banyak sebab rasa teh hijaunya akan hilang.

Testimoni:

Aroma teh yang didapat sama menggodanya dengan ketika menggunakan jenis teh hijau lain, cuma kali ini mendapat bonus kandungan polifenol lebih tinggi. Karena saya menggunakan krimer nonfat, rasa gurihnya tidak terlalu kuat sehingga aroma teh hijaunya justru lebih muncul. Ini takaran yang pas buat saya, apalagi ditambah dengan aroma kayu manis. Hmmm … jadilah buka kafe kalau begini.


*

UP GREEN TEA MANGO SMOOTHIES

Up Green Tea Mango Smoothies

 

Bahan-bahan:

1. 2 sachet Up Green Tea
2. 1 buah mangga, kupas dan potong-potong
3. 1 buah pisang, kupas dan potong-potong
4. 1 gelas atau 250 ml susu UHT plain

CARA MEMBUAT:

1. Masukkan semua bahan dan blender hingga halus.
2. Tuangkan ke dalam gelas.
3. Sajikan.

Tips:

1. Hindari menambahkan gula, rasa manis dari buah-buahan sudah lebih dari cukup.
2. Pilih mangga yang tidak terlalu banyak serat dan sudah matang. Saya menggunakan mangga harum manis.
3. Anda boleh menambahkan pisang atau tidak. Saya sendiri sengaja menambahkan pisang agar lebih creamy dan kandungan gizinya jadi lebih kaya.
4. Saya sering menggunakan pisang ambon atau pisang raja.
5. Kalau tidak ada susu murni, saya menyarankan untuk memakai susu UHT. Hindari menggunakan susu kental manis karena gulanya aduh sekali.

Testimoni:

Rasanya kaya. Aroma dan rasa teh hijau, mangga, pisang, dan gurih susu dalam satu gelas. Sehat, segar, dan mudah. Oh dan satu lagi, saya menamakan smoothies ini sebagai “minuman tanpa rasa bersalah”.


*


Well, resep di atas hanya dua cara menikmati Up Green Tea. Please feel free to create your own recipe. Bagi Anda yang sudah bosan dengan dilema kantong teh, ingin hidup sehat dengan cara yang tidak riweuh, mungkin sudah waktunya Anda mengganti jenis minuman favorit Anda.

Di mana sih Teh bisa beli Up Green Tea? Mangga, silakan jalan-jalan ke Gerai CNI. Ada banyak pilihan produk kesehatan, Anda bisa memilih sesuai selera dan kebutuhan Anda.

Sehat itu ternyata mudah ya? Selamat tinggal lemak-lemak di perut, selamat tinggal kulit keriput. 😀

Have a good day,

~eL

Read more