Category: Kontemplasi

[ODOP] Hingga Maut Memisahkan

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China, kata orang. Tuntutlah ilmu hingga ke liang lahat, kata saya. Iya, batasan menuntut ilmu bagi saya adalah senggal napas terakhir. Jadi, sepanjang napas masih di kerongkongan, sepanjang itu pula saya tak akan berhenti belajar.

Sebab ilmu adalah lautan, semakin kita reguk, semakin hauslah kita.

Tahun ini saya memang tidak punya resolusi khusus, saya hanya ingin menjalani hidup dengan tenang. Tapi meski tak punya resolusi, bukan berarti saya tak punya target pencapaian. Tahun lalu saya sudah bisa menaklukkan beberapa keahlian, tahun ini ada beberapa hal yang ingin saya pelajari. Read more

[ODOP] Gadis Buta dan Kisah Dini Hari

Alkisah, di sebuah negeri, hiduplah seorang gadis yang cukup jelita. Kulitnya bersih, bibirnya ranum, rambutnya ikal seperti ombak yang tengah berkejaran. Orang tuanya sering kali memuji parasnya, meski ia sendiri tidak tahu seperti apa. Iya, ia buta sejak lahir. Baginya dunia hanya kegelapan dan riuh suara-suara.

Ketika musim panen dan satu per satu gadis seusianya disunting lalu menikah, gadis ini pun ikut menunggu. Namun, tak pernah ada seorang pemuda atau keluarga yang datang mengetuk pintu rumah orang tuanya hingga musim panen berakhir. Begitu terus dari tahun ke tahun. Read more

Bekerja untuk Kemanusiaan

[smartslider3 slider=11]

Read more

Yang Sering Kita Lupa Sebagai Manusia

“Yang kayak gitu kan urusan pribadi, Chan. Ga harus di-share di media sosial.”

Inbox itu saya terima sebagai tanggapan atas status yang sempat saya tulis beberapa hari lalu. Status yang akhirnya saya setting private karena ada beberapa komen bernada olok-olok yang membuat saya merasa malu, betul-betul malu. Saya memang sempat membuat status di Facebook tentang kosan. Karena saya sudah menunggak dua bulan, Ibu Kos sudah memberikan lampu merah yang artinya saya harus pindah, meski saya tidak tahu harus pindah ke mana. Ketika membuat status, tujuan saya hanya bercerita, tidak kurang, tidak lebih. Karena toh, sebelum membuat status saya sudah melakukan berbagai macam usaha dari mulai menjual PC sampai kamera. Sayangnya tidak ada yang laku.

Saya mendapatkan banyak tanggapan, ada yang membantu, ada yang bersedia menerima saya dan Aksa di rumah mereka, ada yang mendoakan, ada yang menganggap itu fiksi, ada pula yang justru mengolok-olok. Reaksi terakhir seolah-olah mengatakan, “Yaelah, gitu doang mah nggak usah dibagikan di media sosial, kali.” Inilah yang mengganjal pemikiran saya selama beberapa hari. Read more

Bu, Kuku Saya yang Berdarah-darah Ini

Dari sekian banyak keputusan yang saya buat dalam hidup, masuk ke sekolah kejuruan adalah keputusan yang pernah saya kutuki sekaligus syukuri. Jujur, saya tidak pernah bercita-cita menjadi sekretaris atau petugas administrasi. Saya ingin jadi tentara, pengacara, guru, fotografer, desainer, dan entah apa lagi.

Masuk ke SMK Negeri I Bandung jurusan Administrasi Perkantoran adalah “jebakan” yang disiapkan Ibu. Alasan Ibu memasukkan saya ke sana memang sederhana: agar setelah lulus saya siap bekerja. Alasan yang disertai bujukan, “Teh, kalau sudah kerja dan punya uang sendiri, Teteh bebas kok mau kuliah di jurusan apa pun.”

Untungnya, meskipun ogah-ogahan, toh saya tetap rajin belajar. Meskipun sering sembunyi-sembunyi membaca novel Salandra ketika Bu Vida, guru Etika Komunikasi, sedang menerangkan, toh selama tiga tahun ranking saya selalu bagus, juara kelas malah. *songong Read more

Tuhan, Ada Setan di Kepalaku

a6378-181809351_f4a48825c0_m

:Tuhan

Kau selalu mengatakan bahwa sabar dan ikhlas adalah sebenar-benar obat untuk menyembuhkan luka. Kau selalu mengatakan bahwa Engkaulah satu-satunya zat tempat aku meminta pertolongan. Kau selalu mengatakan bahwa memaafkan masih lebih baik daripada memendam dendam. Tapi Kau tidak mengatakan bahwa ternyata ada hal-hal yang tidak bisa begitu saja dimamah waktu.

Nyatanya, memaafkan dan melepaskan tidak pernah semudah itu. Read more

Depresi Bukan Fiksi

Pertanyaan pertama yang paling sering diajukan kepada seorang penulis ketika ia menceritakan kisah hidupnya adalah: is it real? Apakah ini hanya untuk mendongrak popularitas?

Sebetulnya saya lelah menjelaskan, lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang justru menyudutkan. Penulis atau bukan, dibutuhkan keberanian besar untuk mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk meneriakkan permintaan pertolongan.

Saya cerpenis, kalau ini fiksi lebih baik saya menulis cerpen dan mengirimkannya ke Kompas. Kalau dimuat, lumayan bisa buat beli susu. Terkenal? Tidak ada orang yang ingin terkenal karena “gila”. Saya berkarya, penulis, blogger. Kalau memang ingin terkenal lebih baik saya menulis novel best seller.  Read more

Manfaat Membaca Buku Bagi Kesehatan

Sumber: Pixabay Banyak orang yang masih menyepelekan kegiatan membaca buku. Padahal kegiatan yang satu ini sangat menyenangkan dan bermanfaat. Orang-orang yang hobi membaca buku akan menemukan dunianya melalui lembar demi lembar halaman buku yang tuntas dibaca. Bukan hanya menambah wawasan, membaca buku juga akan memberikan beberapa manfaat ini untuk kita : Meningkatkan Kemampuan Membaca Pikiran […]

Read more

Perempuan yang Ditikam-tikam Malam

Foto: Pixabay
Foto: Pixabay

Ia berdiri di trotoar, rambut sebahunya diciumi angin pukul 11 malam. Bayi di gendongannya bergerak-gerak, ia merapatkan selimut berwarna biru lalu matanya kembali menyisir lengang jalanan.

Saya mengamatinya dari seberang jalan ketika duduk di bangku penjual bubur ayam, menyantap makan malam yang terlambat. Perempuan itu masih ada di sana ketika saya menyeberang dalam perjalanan pulang.

Ragu, saya mendekat. Ingin melihat lebih jelas, ingin bertanya mengapa ia dan bayinya masih keluyuran pada jam setan begini.  Read more

Saya Langit Amaravati, Saya Perempuan

KOLASE

Read more