Category: PERSONAL

Sebab Tak Ada Ibu yang Sempurna: Ceritaku Bersama So Good CERDIK

SEBAB TAK ADA IBU YANG SEMPURNA Ceritaku Bersama So Good CERDIK Haaaiii …! Halo, Om dan Tante, Teteh dan Aa! Perkenalkan, namaku Aksara Lazuardi. Om dan Tante boleh memanggilku Aksa atau Ultraman. Usiaku 3 tahun 2 bulan. Masih balita dan sedang lucu-lucunya. Aku mau bercerita tentang permainan baru favoritku, Storybook CERDIK (Cerita Digital Interaktif). Tapi […]

Read more

Manfaat Berkata "IYA BOLEH" pada Si Kecil

Pagi itu saya dibangunkan oleh suara keran kamar mandi yang mengucur dengan deras. Siapa lagi pelakunya kalau bukan anak saya, Aksa (2 tahun 8 bulan). Gegas saya ke kamar mandi dan mendapati dia sedang “memandikan” semua mobil-mobilan, baju yang dia pakai tentu sudah basah semua. Tadinya saya akan marah, tapi saya tahan.

Saya: Hai, lagi ngapain?
Aksa: Eh, Unda udah banun. Ini agi anti popok, mobiyna eek. (Eh, Bunda udah bangun. Ini lagi ganti popok, mobilnya eek)
Saya: *ngakak

Setelah itu, saya langsung memandikannya dan memberi pengertian bahwa kalau mau ke kamar mandi, harus minta izin dulu kepada saya. Termasuk kalau dia mau “mengganti popok” mobil-mobilannya. Setelah hari itu, dia selalu bertanya, “Unda, mobiy yang ini boyeh dicuci?” atau “Unda, Dedek boyeh anti popok ndili?” Read more

[ODOP] Isra Mikraj dalam Ingatan

Saya tidak merayakan Isra Mikraj, atau lebih tepatnya, tidak lagi merayakan hari raya agama apa pun. Tapi, Isra Mikraj atau yang sering disebut Rajaban mau tidak mau memberikan kesan tersendiri. Pertama, karena saya tinggal di lingkungan Muslim, maka aura Rajaban masih terasa. Kedua, karena hal-hal tentang perjalanan Nabi Muhammad dan turunnya perintah salat 5 waktu ini pernah pula lekat dalam kehidupan, juga ingatan.  Read more

[ODOP] Berziarah ke Masa Lalu Melalui Sinetron Tahun 90-an

Memang benar, setiap generasi memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Pun dengan generasi 90-an yang tumbuh besar ketika stasiun televisi mulai ada di Indonesia. Diawali dengan TVRI, lalu RCTI, kemudian stasiun televisi lainnya. Saya mengalami masa transisi itu. Masa ketika permainan kucing-kucingan di tegalan berganti dengan menonton Candy-Candy dan Doraemon. Masa ketika meraut buluh layang-layang sudah tak menarik lagi, digantikan dengan duduk diam di depan televisi dan menonton Ksatria Baja Hitam.

Ngomong-ngomong soal televisi, tentu tak lepas dari yang namanya sinetron. Di tahun 90-an, perfilman Indonesia sedang mati suri, digantikan dengan hadirnya puluhan sinetron yang layak maupun tidak layak tonton. Well, terlepas dari kualitasnya, sinetron-sinetron inilah yang menurut saya justru membentuk karakteristik generasi 90-an yang waktu itu masih kanak-kanak dan berada di fase remaja. Televisi, sejak kemunculannya pertama kali hingga hari ini, memang layaknya gurita yang tentakelnya mengubah benak dan pemikiran banyak orang. 
Read more

Bekerja untuk Kemanusiaan

[smartslider3 slider=11]

Read more

Yang Sering Kita Lupa Sebagai Manusia

“Yang kayak gitu kan urusan pribadi, Chan. Ga harus di-share di media sosial.”

Inbox itu saya terima sebagai tanggapan atas status yang sempat saya tulis beberapa hari lalu. Status yang akhirnya saya setting private karena ada beberapa komen bernada olok-olok yang membuat saya merasa malu, betul-betul malu. Saya memang sempat membuat status di Facebook tentang kosan. Karena saya sudah menunggak dua bulan, Ibu Kos sudah memberikan lampu merah yang artinya saya harus pindah, meski saya tidak tahu harus pindah ke mana. Ketika membuat status, tujuan saya hanya bercerita, tidak kurang, tidak lebih. Karena toh, sebelum membuat status saya sudah melakukan berbagai macam usaha dari mulai menjual PC sampai kamera. Sayangnya tidak ada yang laku.

Saya mendapatkan banyak tanggapan, ada yang membantu, ada yang bersedia menerima saya dan Aksa di rumah mereka, ada yang mendoakan, ada yang menganggap itu fiksi, ada pula yang justru mengolok-olok. Reaksi terakhir seolah-olah mengatakan, “Yaelah, gitu doang mah nggak usah dibagikan di media sosial, kali.” Inilah yang mengganjal pemikiran saya selama beberapa hari. Read more

Jalan Neraka

“Koak, koak, koak!”

Suara gagak membelah udara, menjadikan petang yang sunyi di tepi Pantai Sakera berubah riuh dan gaduh. Kepakan sayap, koak yang serak, melatarbelakangi matahari yang pamit pulang di ujung barat sana. Saya tidak akan melupakan petang itu, petang yang membuat saya terkapar di jalanan dengan kepala berdarah-darah dan bahu patah.

Andai waktu itu Tuhan sudah rindu dan memutuskan untuk memanggil saya pulang, tidak akan ada penulis bernama Langit Amaravati. Yang ada adalah headline berita di koran lokal bertajuk, “Seorang Perempuan Berusia 24 Tahun Tewas di Perantauan”.  Read more

Patah Hati? Ha Ha Hanjir

Kalau Anda sudah berusia kepala 3, pernah menikah lebih dari satu kali, dan sudah pernah berurusan dengan berbagai macam bajingan lelaki, Anda akan sampai kepada pertobatan bahwa cinta hanyalah lelucon. Dan patah hati tak lebih dari sekadar lelucon lain. Tapi hati seorang perempuan tetaplah hati perempuan, bukan babadotan. Bahkan hati perempuan seperti saya pun masih bisa patah, berserak-serak, berdarah-darah.

Seumur-umur, setelah patah hati berkali-kali, baru kali ini saya “berhasil” menangis di angkot dan membuat penumpang lainnya salah tingkah. Ini memang bukan insiden patah hati paling menyakitkan, tapi kami sedang merencanakan pernikahan sebelum akhirnya dia pergi. Perempuan mana pun pasti merasa sedih. Padahal saya sudah memilih model kebaya, sudah melobi Bapak dan Ibu, sudah mempersiapkan diri agar bisa memenuhi syarat calon istri yang ia tentukan. Tapi toh, saya tidak cukup baik untuk dia. Dan mungkin untuk lelaki mana pun. Read more

5 Kado Bermanfaat untuk Teman yang Baru Melahirkan

Membeli sebuah kado teristimewa untuk teman, keluarga, atau pasangan yang baru berulang tahun mungkin sudah biasa. Anda pun tak perlu bingung ketika menentukan hadiah untuknya. Namun, beda halnya jika memberikan sebuah kado atau hadiah untuk teman yang baru melahirkan. Sama seperti saya, pastinya Anda akan memikirkan kado apa yang paling bagus untuk diberikan. Karena memilih kado tidak semudah kelihatannya, kalau sudah mentok ujung-ujungnya kita memilih hadiah yang paling umum. Atauuu … kalau sudah benar-benar kehabisan ide, jatuhnya malah ngasih uang tunai. Memang sih, uang tunai bermanfaat, tapi menurut pengalaman nih, uang tunai kerap kali dilihat dari nominal dan kurang istimewa. Mau ngasih sedikit takutnya kurang, mau ngasih banyak dananya terbatas. 😀 Read more

Hal-Hal yang Tak Usang Dimamah Waktu

Anak perempuan itu berdiri di podium. 
Menggenggam piala di tangan kiri dan piagam penghargaan di tangan kanan. 
Di kedua benda itu tercetak namanya dengan huruf bertinta emas yang bersanding dengan gelar “Juara Umum”, gelar yang sudah terlampau sering ia terima, tak ada yang istimewa. 
Orang-orang masih bertepuk tangan dengan riuh ketika ia turun dari panggung. 
Wali kelasnya memberi selamat, merangkul bahu, dan memberikan tepukan di punggung.
 
Tapi hari itu ia lupa untuk tersenyum. Pandangannya berkeliaran ke arah pintu gedung. 
Menanti dua sosok yang ia tahu tak akan pernah datang. Tapi ia tetap menunggu. Orang tuanya.

Susan Kecil

Saya tidak pernah bisa mengingat berapa banyak piala atau piagam penghargaan yang pernah saya terima karena memang tidak pernah menghitungnya. Juara cerdas cermat? Juara umum? Juara bidang studi matematika? Juara bidang studi PPKN? Sebut saja. Rasanya waktu kecil saya sudah pernah dihadiahi berbagai penghargaan di bidang akademis.

Read more