Alkisah, di sebuah negeri, hiduplah seorang gadis yang cukup jelita. Kulitnya bersih, bibirnya ranum, rambutnya ikal seperti ombak yang tengah berkejaran. Orang tuanya sering kali memuji parasnya, meski ia sendiri tidak tahu seperti apa. Iya, ia buta sejak lahir. Baginya dunia hanya kegelapan dan riuh suara-suara.

Ketika musim panen dan satu per satu gadis seusianya disunting lalu menikah, gadis ini pun ikut menunggu. Namun, tak pernah ada seorang pemuda atau keluarga yang datang mengetuk pintu rumah orang tuanya hingga musim panen berakhir. Begitu terus dari tahun ke tahun.

Si gadis, mulai percaya bahwa matanya yang buta adalah sebuah kutukan seperti bisik-bisik setiap orang. Ia mulai bersedih, menangis, dan membenci Tuhan karena tidak memberinya mata yang sehat seperti gadis-gadis lain. Ia berubah murung, pemarah, sinis, menyalahkan semua orang, termasuk ibunya sendiri.

Pada satu musim, panen di negeri itu gagal total karena kemarau yang berkepanjangan. Tak ada bahan pangan tersisa sehingga tak ada pula upeti yang bisa diberikan kepada para penguasa. Raja di negeri itu terkenal tamak dan tak mengenal belas kasihan. Satu per satu gadis yang masih perawan diambil dari rumah orang tuanya untuk dijual ke negeri seberang sebagai pengganti upeti, tak terkecuali si gadis buta. Ia sering mendengar desas-desus tentang penjualan perempuan untuk dijadikan budak berahi di kamar-kamar pengap dan gelap atau menjadi penari di pesta-pesta yang tak sanggup ia bayangkan.

Ia ketakutan. Sangat ketakutan.

Saat semua gadis dikumpulkan di balariung untuk diperiksa dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, para pengawal kerajaan kemudian tahu bahwa ia tak bisa melihat. Parasnya memang lumayan jelita, tapi gadis jelita yang dikutuk akan mendatangkan kesialan. Maka ia dipulangkan kembali ke kampungnya.

Di jalan masuk kampung, ia berjalan tersaruk-saruk sambil menangis, memanggil-manggil nama kedua orang tuanya. Tak sabar ingin memeluk mereka dan mengatakan bahwa ia bersyukur karena terlahir buta.

Selama bertahun-tahun dalam hidupnya ia habiskan untuk menyesali diri karena merasa menjadi gadis yang paling tidak beruntung. Penyesalan itu berubah menjadi rasa syukur, ia merasa beruntung karena matanya yang butalah yang justru menyelamatkan nyawa dan kehormatannya.

(Dikisahkan kembali dari ceramah K.H. Zainudin MZ yang sering saya dengar sewaktu kecil, dengan sedikit penyesuaian)

Share This