Haruskah Saya Berhenti Ngeblog?

May 9, 2021 | BLOGGING | 4 comments

“Kenapa tetap ngeblog?
Kenapa masih ingin tetap bergelut di platform ini?”

Ini tahun ke-12 saya ngeblog dan pertanyaan itu kerap datang. Bukan dari orang lain melainkan dari diri sendiri. Di tengah gempuran media sosial dan platform lain yang lebih banyak -dan lebih mudah- mendatangkan uang, bertahan di blog rasanya seperti ide yang utopis.

Selama dua belas tahun, saya menyaksikan bloger-bloger baru bermunculan. Selama itu pula saya menyaksikan satu per satu dari mereka berguguran. Tak ada yang perlu disalahkan atau disayangkan, karena toh begitulah siklus kehidupan: ada yang datang, ada juga yang pergi.

Terus terang, saya pun tergoda untuk berhenti. 


Rehat Sejenak

Akhir tahun 2018 kemampuan menulis saya menghilang sama sekali. Bukan karena tidak ada ide atau tidak ingin menulis, tapi karena kata-kata seperti lesap begitu saja. Menulis yang tadinya terasa menyenangkan dan mudah jadi terasa menyiksa.

TIDAK BISA MENULIS LAGI!

Saya yakin setiap penulis pasti pernah mengalami writer’s block. Pun, sebelum ini saya pernah mengalami, tapi tidak lama dan tidak parah. Bagi orang yang sudah menulis sejak kelas 6 SD, rasanya seperti kutukan. Percayalah, hal itu menyakitkan. Teramat menyakitkan.

“Apa penyebabnya?”

Tidak tahu, sungguh saat itu saya tidak tahu.

Saya sudah mencari penyebabnya, pun berusaha keras dan memaksa untuk terus menulis. Sayangnya usaha saya sia-sia, malah semakin terasa menyiksa. 

“Jadi haruskah saya benar-benar berhenti ngeblog?”

Maka untuk menjawab itu, di tahun 2020, tahun yang begitu badai bagi kita semua, saya memang berhenti.

Saya mengambil jarak dari kata-kata, tak lagi mencari solusi atas sesuatu yang penyebabnya tidak saya ketahui. Sebaliknya, saya memulai perjalanan baru: perjalanan menemukan dan memahami diri sendiri


Perjalanan Menemukan & Memahami Diri Sendiri

Jujur, selama berhenti menulis itu saya frustasi. Kerap memaksakan diri untuk menulis yang berujung pada kekecewaan lebih dalam. Belum lagi gangguan kepribadian yang saya derita membuat saya kesulitan menangani gempuran emosi.

Namun, dalam perjalanannya, saya menemukan beberapa hal:

  • Sulit  Menerima Kekalahan

Bencana itu bermula tepat setelah saya mengikuti sebuah lomba blog dan kalah. Disusul tiga lomba blog lain, 2 di antaranya kalah, 1 “hanya” dapat juara 3. 

Lucu memang, saya selalu mengatakan bahwa kalah dan menang dalam sebuah perlombaan adalah hal biasa. Ya, itu karena saya selalu menang. Giliran kalah, eh, kolaps.

Daeng Ipul saksinya karena saya pernah curhat sambil nangis-nangis perkara kalah di lomba blog ini. 😀

Tolong jangan salah sangka, hal ini tidak ada hubungannya dengan kualitas para pemenang atau juri atau penyelenggara. Ini murni karena tulisan para juara memang lebih baik daripada tulisan saja. Itu saja.

  • Validasi Emosi

Karena berkali-kali kalah itu, saya kecewa dan marah pada diri sendiri, tapi tidak mau mengakui itu. Saya angkuh, merasa diri paling hebat di dunia kepenulisan dan blogging, tak ada yang lebih hebat dari saya. Gede hulu kalau kata urang Sunda mah, tapi tidak mau mengakui itu. Alih-alih introspeksi dan evaluasi, saya malah menyalahkan orang lain atas kegagalan-kegagalan yang saya alami.

Emosi negatif yang terus disimpan tapi diabaikan ibarat bara dalam sekam. Lama-lama akan membakar. 

Maka untuk memadamkannya, saya mulai mengakui bahwa ya saya marah, kecewa, dan angkuh. Selanjutnya adalah berhenti menyalahkan orang lain dan diri sendiri. Prosesnya tidak mudah, but I did it

  • Menyusun Kembali Motivasi

Apa, sih, yang saya harapkan ketika berkecimpung di dunia kepenulisan? Terkenal dan dapat uang? 

Sepertinya bukan.

Itu motivasi yang teramat dangkal. Meski terus terang, saat mengikuti lomba blog atau menerima sponsored post ada motif ekonomi, tapi toh bukan itu tujuan saya menulis. 

Saya menulis karena ini bidang yang saya cintai.

Tapi rasa cinta perlu diuji.

  • Berhenti Berkespektasi

Keberhasilan adalah sebuah anak tangga. Semakin tinggi kita menjejak, semakin jauh dari tempat semula kita berpijak. Begitu pula dengan saya. Setiap kali berhasil memenangkan lomba atau mendapatkan apresiasi -dan puja puji-, semakin tinggi pula anak tangga yang saya tapaki. 

Ketika tangga semakin tinggi, kita tak punya pilihan selain terus naik. Di satu sisi saya lelah, tapi di sisi lain saya tak ingin turun. Menikmati ketika berada di puncak dan jemawa akan selamanya berada di sana, lupa bahwa Bumi ini memiliki gravitasi. 

Suatu saat, saya harus turun. Dua tahun lalulah saat itu.

Maka untuk “menguji” rasa cinta terhadap kepenulisan dan mengembalikan motivasi ke jalan kebenaran (((jalan kebenaran))), saya berhenti berekspektasi. Tak lagi punya target tinggi-tinggi. Termasuk berhenti ikut lomba blog. 

  • Melepaskan dan Menerima

Selama nyaris dua tahun, tak terhitung berapa banyak kesempatan yang saya lewatkan. Entah itu lomba blog ataupun sponsored post

Mula-mula terasa menyakitkan, like, “Mestinya gue ikutan. Mestinya gue yang menang.”

Tapi lama-kelamaan, seiring perjalanan memahami diri sendiri, saya belajar melepaskan. Tak lagi menempatkan diri sebagai bounty hunter di kancah perlombaan melainkan sebagai penggembira dan penonton. Kadang ikut retweet kalau ada yang lagi ikutan lomba, ikutan komen, bergembira dan mengucapkan selamat pada para pemenang tanpa tendensi apa-apa. 

Saya juga belajar menerima bahwa sebagai penulis, sebagai manusia, saya hanyalah makhluk daif. Kemampuan menulis saya hanya setitik debu. Belajar menerima bahwa kegagalan, dalam hal apa pun, merupakan sebuah keniscayaan. Setiap orang pasti pernah gagal, pasti pernah jatuh, and it’s okay.

Terus terang, hidup lebih baik dengan melepaskan dan menerima, terutama menerima kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia.


Selamat Datang Kembali Kata-Kata

Sebagaimana cara dia menghilang, begitu juga cara ia datang: tiba-tiba.

Desember 2020, tepat dua tahun setelah vakum menulis, kata-kata datang begitu saja. 

Lebih tepatnya, saat itu saya sedang kambuh-kambuhnya dan kesulitan menemukan coping mechanism. Ketika rasa sakit mulai tak tertahankan saya tersesat di blognya Hoeda Manis dan entah bagaimana, saya mulai menulis, menulis, dan terus menulis.

Perlahan namun pasti, kemampuan saya menulis datang kembali. 

“Apakah setelah ini akan kembali ikut lomba blog?”

Nggg … nggak dulu. Untuk saat ini, saya hanya ingin menulis seperti biasa. Menulis karena ingin, karena suka, bukan karena demi menang lomba. Walaupun nanti ikut lomba blog, saya sudah siap kalah.

“Jadi, apakah akan berhenti ngeblog?”

Kali ini saya tahu jawabannya. Tidak, saya tidak akan berhenti ngeblog. 

Saya akan tetap di sini, menulis sesuatu yang semoga saja bermanfaat bagi pembaca. Saya akan tetap di sini, tak peduli apakah blog ini menghasilkan uang atau tidak. Saya akan tetap di sini, merajahkan kata-kata. 

Salam,
~eL

Traktir Kopi!

 

Suka dan merasa konten di blog ini berguna buat Anda?

Traktir saya kopi supaya saya bisa terus membuat konten-konten yang bermanfaat.

Thank you. 🙂

 

Nih buat jajan

Related Articles

Step by Step Migrasi dari Blogspot ke WordPress Self Hosted

Beberapa waktu lalu kita sudah pernah ngobrol tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum migrasi dari Blogspot ke WordPress. Nah, jika Anda sudah mantap jiwa raga (halah), sekarang kita bahas langkah-langkah migrasinya. Migrasi atau pindah antarplatform layaknya...

Persiapan Sebelum Migrasi dari Blogspot ke WordPress Self Hosted

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan sebelum memutuskan untuk migrasi dari Blogspot ke WordPress self hosted. Hal-hal yang perlu dipikirkan matang-matang agar ketika sudah migrasi, blog Anda tidak jadi terbengkalai. Sebelum masuk ke pembahasan, perlu...

Comments

4 Comments

4 Comments

  1. Agung Pushandaka

    Halo, ini pertama kali saya ‘nyasar’ ke blog ini. Salam kenal.
    Untuk urusan berhenti dari ngeblog, saya sudah sering melewati periode dimana saya hampir memutuskan berhenti dan tidak melanjutkan langganan domain blog saya. Tapi kok rasanya sayang ya.
    Akhirnya, saya cuma mengikuti mood dan semangat saja. Kalau semangat ngeblog sedang redup, ya saya ikuti saja, tidak ingin memaksakan diri.
    Keadaan mungkin berbeda kalau saya menulis untuk ikut lomba, mengejar hadiah, atau memburu adsense. Tapi sampai sekarang saya belum berani ‘terjun’ terlalu dalam di bidang itu.

    Salam.

    Reply
  2. Bama

    Senang rasanya menemukan blog lain yang masih dipertahankan di tengah-tengah trend orang-orang berbondong-bondong meninggalkan blog mereka karena dianggap usang, tidak menghasilkan lagi, tidak semenarik Instagram, dan banyak alasan lainnya. Senang rasanya menemukan blog lain yang masih dipertahankan karena alasan yang sangat mendasar, yaitu kecintaan terhadap kata-kata. Salam kenal dari pemilik blog lain ini yang masih bertahan karena kecintaannya berbagi cerita (dalam bentuk yang lebih panjang dari yang dimungkinkan oleh platform media sosial pada umumnya).

    Reply
  3. Jagawana Kimi

    Yeaay… senang Mbak Langit tetap ngeblog! Tadinya aku sudah khawatir pas baca judulnya. Takut kalau Mbak Langit bakalan beneran berhenti ngeblog.

    Reply
  4. Iqbal

    Halo, salam kenal mb. Saya senang membaca artikel ini di mana kesimpulannya adalah tidak berhenti ngeblog.

    Ada kata-kata yang saya pegang dari Matt, co-founder WordPress. Dia pernah nulis di blognya, tulislah blog untuk 2 orang, pertama, untuk diri sendiri di masa kini dan masa depan. Kedua, untuk seseorang yang dalam bayangan kita akan membaca tulisan tersebut layaknya kita menulis surat untuknya. (source: ma.tt/2014/01/intrinsic-blogging/).

    Setiap orang memiliki tujuan masing-masing ketika menulis blog. Saya ingin menulis blog yang memiliki impact buat diri sendiri dan keluarga, setelah itu buat pembaca umum. Saya mendapati memiliki purpose yang jelas akan membuat seseorang enjoy melakukan sesuatu, termasuk menulis blog.

    Reply

Leave a Reply to Agung Pushandaka Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *