Pernah tidak Anda mendapatkan ribuan backlink dari satu web saja? Wow, hebat dong dapet ribuan backlinkNo, honey. Your blog is under attack. Logikanya begini:

  • Web A ==> backlink ke web B sebanyak 1-5 kali = natural.
  • 100 kali = spam.
  • Web A ==> backlink ke web B 1000 kali = SEO poisoning.

Iya, mendapatkan backlink atau inbound link sebanyak mungkin adalah salah satu teknik optimasi SEO karena backlink merupakan satu dari 200 ranking factor yang akan memengaruhi peringkat blog kita di hasil pencarian. Tapi dari kacamata search engine, backlink dibagi dua: good backlink yang akan menaikkan peringkat blog kita dan bad backlink yang akan membuat blog kita menghilang dari jagad internet.

Inbound & Outbound Link
Inbound & Outbound Link
  1. Inbound link = link yang menuju ke blog kita. Disebut juga backlink.
  2. Outbound link = dibagi dua:
    • Internal link = link antarlaman atau artikel di blog kita.
    • External link = link keluar dari blog kita menuju ke web/blog lain.

Jenis-Jenis Backlink Berbahaya bagi Blog

Anda pasti sudah aware bahwa Google Penguin sekarang live. Ini salah satu algoritma Google yang fungsinya memonitor link building (link masuk dan keluar) dari setiap web. 

Web yang link building-nya sehat akan dinaikkan peringkatnya di mesin pencari. Sebaliknya, web-web yang memanipulasi link akan terkena penalti. 

Mari saya perjelas apa artinya terkena penalti oleh Google Penguin=penurunan trafik secara signifikan. Dalam beberapa kasus, sama sekali tidak ada trafik. Apa artinya blog tanpa trafik, coba? Apa artinya monetisasi blog jika pageviewblog Anda 0?

Unnatural inbound links/backlink berbahaya⇒ link/tautan masuk ke sebuah web yang sengaja dibuat untuk memanipulasi PageRank.

-Google

Berdasarkan Google Webmaster Guideline, ada beberapa jenis backlink yang berbahaya:

1. Link Exchange

Tidak ada salahnya saling bertukar link dengan sesama blogger. Saya juga sering, kok, ngasih link ke artikel blogger lain yang memang relevan dengan topik yang sedang saya bahas. Malah, itu sudah menjadi kebiasaan. Yang menjadi masalah adalah ketika itu dilakukan secara berulang-ulang dan dengan banyak blog dengan maksud agar mendapatkan backlink balasan.

Memang enggak boleh mendapatkan backlink do-follow dari blogger lain? Ya, boleh. Kalau memberikan backlink dengan atribut do-follow? Tentu saja boleh. Saya kalau ngasih backlink ke blogger lain selalu do-follow, kok.

Tapiii … tidak berlebihan. Misalnya, artikel 1 nge-link ke blogger A, nanti blogger A ngasih backlink balik. Terus, artikel 2 nge-link ke blogger B, nah si blogger B ngasih backlink balik. Begitu seterusnya dengan berpuluh-puluh bahkan ratusan artikel.

Googlebot sudah cukup pintar untuk mengidentifikasi link exchange seperti ini.

Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memberikan backlink ke blog atau web lain:

  • Kontennya memang relevan. Misalnya: Anda menulis tentang “Cara Membuat Brownies Kukus”, jangan ngasih backlink ke artikel saya yang topiknya tentang “Cara Membuat Kategori Blog”. Selain tidak nyambung, Googlebot juga tahu, kok, kalau saya tidak bisa memasak.
  • Deeplink. Memberikan backlink ke artikel terkait lebih baik daripada hanya memberikan backlink ke home. Kecuali kalau Anda hanya menyebutkan nama si blogger tersebut.
  • Kuantitas. Misalnya, Anda ngasih backlink ke blogger yang itu-itu aja. Nanti dikira pacaran lagi. Kalau memang sayang, jangan cuma ngasih backlink, kasih mobil, kek. *naon sih?
  • Do-follow atau no-follow? Do-follow atuh kalau di artikel mah. Asal memang natural dan -sekali lagi- kontennya relevan.
  • Blog berpasangan. Nah, ini yang sering bikin artikel saling berpasangan gitu, saya sarankan link-nya memakai atribut no-follow.

2. SEO Poisoning/Link Farming

SEO poisoning adalah salah satu teknik black-hat SEO. Dibuat dengan maksud untuk menaikkan peringkat sebuah web (web sendiri atau web kliennya) tapi dengan cara memanipulasi mesin pencari dan merugikan web orang lain. Saya pernah cerita, kan, kalau blog saya pernah diretas? Nah, karena blog terinfeksi malware jadi ribuan backlink yang berasal dari web berisi malware menuju blog saya, pun ribuan link keluar dari blog ini menuju ke web lainnya. 

Beberapa teknik SEO poisoning:

  • Memasukkan link ke web orang lain. Link tidak dimasukkan dengan cara normal, biasanya diinjeksikan melalui backdoor atau malware.
  • Link farming. Membuat ratusan atau ribuan backlink ke ratusan web lain. Dengan adanya injeksi malwarebacklink ke satu web akan membuat backlink ke web lainnya secara otomatis. Begitu seterusnya.

3. Widget/Footer/Banner

Pernah memasang widget berisi blog-blog favorit/blogroll/blog teman/link list? Pernah memakai theme gratisan dengan link di footer-nya? Pernah memasang banner (komunitas/afiliasi/dll.)?

Coba cek atribut link-nya, do-follow atau no-follow? Kalau no-follow berarti sudah oke. Kalau do-follow, ubah segera jadi no-follow. Kalau tidak bisa diubah? HAPUS. Iya, termasuk link blog saya yang dipasang di sidebar Anda.

“Tapi, Teh, kalau link di banner komunitas memang harus do-follow.”

With all respect, jika ada admin komunitas yang kebetulan membaca ini, mohon dikaji ulang tentang tata cara pemasangan banner. Bagi kita para member, ini sepenuhnya pilihan.  


4. Dummy Blog

Ini teknik lama. Dummy blog atau blog-blog satelit yang sengaja dibuat untuk menaikkan peringkat blog utama, terutama ketika lomba-lomba SEO. Beberapa mungkin berhasil, tapi risikonya tidak sebanding dengan keuntungan yang bisa Anda dapat.

Dalam skala yang lebih besar atau jika dilakukan dengan banyak dummy blog, ini termasuk link farming.

Lalu bagaimana jika punya beberapa blog karena berbeda niche? Pastikan link yang dipasang di masing-masing blog (widget/menu) memakai atribut no-follow. Lho, kalau no-follow tidak akan dihitung backlink, dong? Ya, memang itu tujuannya. Pilih mana, mending sedikit backlink atau dipenalti Google?


5. Backlink dari Web Berbahasa Asing

Jika blog Anda berbahasa Indonesia tapi mendapatkan ratusan backlink dari blog-blog berbahasa Rusia atau India atau Jepang, misalnya. Ini mencurigakan dan Google tidak segan-segan mengambil tindakan. Ya, gimana enggak mencurigakan orang tulisannya aja beda, kok.


6. Spam di Kolom Komentar

Siapa di sini yang masih menaruh link hidup di kolom komentar blog orang? Anda belajar SEO di mana, sih? Backlink yang didapat dari kolom komentar blog orang apalagi jika jumlahnya banyak akan menjadi bumerang karena dianggap spam. Bukannya menaikkan peringkat atau trafik, yang ada malah blog Anda diturunkan dari mesin pencari.

Blogwalking memang perlu (iya, Chan, perlu, makanya kamu harus sering blowalking juga) tapi blogwalking juga perlu etika agar selain silaturahmi dan mendapatkan ilmu baru, kita juga tidak merugikan si empunya blog dan diri kita sendiri.


7. Low Quality Backlink

Backlink yang berasal dari web-web ndak jelas dan tidak berkualitas. Contohnya:

  • Web tempat download dokumen/software bajakan.
  • Web berisi malware.
  • Web porno.
  • Web judi.
  • Web yang isinya auto generated atau scraped content.
  • Web mantan. #eh

8. Auto Generated Backlink

Backlink yang dibuat secara otomatis. Contoh: backlink maker-nya smallseotools. Coba lihat contohnya di bawah ini. Saya sudah cek URL-nya satu per satu, kebanyakan dari web-web yang entah apa. Bahkan ada dari web yang sudah “mati”.

Contoh backlink maker

Saya mengerti bahwa banyak mitos-mitos seputar optimasi SEO yang beredar di kalangan blogger. Sayangnya, tidak semua teknik yang diajarkan oleh -konon- ahli SEO itu sejalan dengan peraturan. Banyak di antaranya yang justru membahayakan.

SEO bukan ilmu eksak seperti 1+1=2, ini ilmu yang dipengaruhi banyak faktor dan terus berkembang. Google sendiri terus-menerus melakukan langkah-langkah perbaikan algoritma demi hasil pencarian yang semakin relevan.

Saya sendiri jelas bukan ahli. Dalam hal optimasi, saya hanya memakai satu referensi utama: Google Webmaster Guideline. Kalau ada referensi lain yang bertentangan ya, tidak saya pakai. Panggil saya blogger idealis, tapi saya pribadi lebih memilih punya trafik dan hasil SERPs standar daripada trafik gila-gilaan namun memakai teknik-teknik manipulatif.

Oke, demikian ngobrol-ngobrol kita kali ini. Semoga bermanfaat. Seperti biasa, jika ada koreksi, tambahan, atau pertanyaan, mohon ajukan di kolom komentar.

Salam,
`eL

Share This