Dua belas jam sebelum deadline lomba, saya dan Aksa tengah berada di rumah sakit. Aksa flu, demam, sariawan, dan dehidrasi parah sehingga dokter menyatakan bahwa putra saya harus dirawat. Saat itu saya mengantongi uang sebesar 600 ribu rupiah, 500 ribunya habis untuk rawat jalan dan membeli obat. Hanya tersisa 100 ribu dan saya tak akan bisa membayar biaya rumah sakit karena untuk rawat inap harus ada deposit sebesar 500 ribu. Dengan berat hati saya membawa Aksa pulang, menitipkannya kepada Bu Yayah, pergi ke salah satu butiknya Jenahara, lalu menyelesaikan naskah lomba yang diadakan oleh Blibli.com.

Mungkin Anda akan bertanya, “Ibu macam apa yang lebih mementingkan ikut lomba blog daripada merawat anaknya yang sedang sakit?” Jawabannya adalah: ibu macam saya. Ibu yang harus membuat keputusan-keputusan sulit di saat mendesak, bahkan ketika keputusan itu bertentangan dengan hati nurani sendiri.

Tapi saya tahu betul dengan apa yang saya lakukan.

Sisa uang yang saya miliki waktu itu dibagi dua: setengahnya saya berikan pada Bu Yayah, setengahnya lagi saya pakai untuk ongkos bolak-balik ke Jalan Supratman. Untuk apa ke Butik Jenahara? Riset lapangan. Saya ingin melihat dan memegang langsung baju-baju rancangannya. Meneliti dengan saksama cutting, bahan, pilihan warna, dan lain sebagainya. Kenapa harus melakukan riset sepelik itu? Karena saya harus bercerita tentang fesyen, tentang padu padan busana, tentang inspirasi gaya dan warna.

Bagaimana hasil lombanya? Menang, dong. Juara pertama, hadiahnya 4 juta.

Artikel lomba: Anggun dan Feminim dengan Minarets dari Jenahara

Itu hanya satu dari sekian banyak kisah yang jarang saya bagikan kepada publik. Jadi ketika Anda bertanya bagaimana caranya menang lomba blog, jawaban yang pasti adalah kerja keras dan gigih. Hal-hal lain hanyalah teknis.

Tapi apakah saya selalu seperti itu? Selalu memacu diri sampai titik keringat penghabisan? Tidak, tidak selalu. Saya tahu kapan harus menyerah dan merelakan kesempatan. Saya tidak pernah ikut lomba blog dengan berbekal “Yang penting ikut.” Kalau hasilnya tidak maksimal ya buat apa? Toh, keringat yang dikeluarkan sama banyaknya. Itu tip kedua: kalau sudah mencoba lalu merasa tidak sanggup dan malah stres, menyerahlah.

CERITA KEDUA

Ketika memutuskan untuk ikut lomba blog story telling So Good Cerdik yang diadakan Emak-Emak Blogger, saya tahu hambatan besar apa yang akan saya hadapi: saya tidak punya kamera. Nekad saja kalau saya memakai kamera ponsel sementara peserta lain sudah pamer hasil jepretan DSLR dan mirrorless. Tapi saya tetap memutuskan ikut karena temanya pas di hati, juga karena saya memang pengguna produknya.

Saya jadi ingat dengan yang dikatakan Dame a.k.a Napitupulu Rodame dalam salah satu blog post-nya. Bahwa ketika ikut lomba blog dan menghadapi hambatan, kita harus siap berimprovisasi. Pikirkan SOLUSI, bukan hanya mengasihani diri.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menghubungi teman-teman yang sekiranya dapat dimintai bantuan. Bukan, bukan meminta bantuan gratisan, saya mah “nyewa” jasa mereka. Kandidat pertama adalah Yasintha Astuti karena doi kan fotografer dan entah kenapa kalau dia yang motret, foto saya bagus terus. Sayang Yasintha rumahnya jauh di Pasir Impun sana. Kandidat kedua adalah Ulul. Waktu itu Ulul menyanggupi dan kami sempat janjian untuk melakukan pemotretan, sayangnya batal karena Ulul ada keperluan lain.

Dua hari menjelang deadline, dan saya belum punya foto padahal itu adalah salah satu syarat utama penilaian.

Di saat-saat seperti itu, terus terang saya sering ingin menikah. Kok ya kayaknya enak punya suami fotografer seperti Almazia atau istri-istri yang punya instagram husband/lover. (Naha jadi kanu kawin ieu teh?)

Lalu apa yang kemudian saya lakukan?

A. Memotret menggunakan smartphone
B. Membeli Canon D1300
C. Minta dinikahi Akang saat itu juga

Mohon maaf, pilihannya salah semua. Sore itu juga saya pergi ke studio foto di Cimindi. Fotografernya sempat bingung karena sebelum memotret saya harus briefing dia dulu.

Hasilnya? Juara ketiga, hadiahnya smartphone Samsung.

Artikel lomba: Sebab Tak Ada Ibu yang Sempurna: Ceritaku Bersama So Good Cerdik

Tip ketiga: improvisasi dan fokus pada solusi.

CERITA KETIGA

Masih ingat lomba blog BNI yang fenomenal itu? Lomba blog dengan hadiah paling besar pada masanya. Saya sudah pernah ikut dua kali dan dua-duanya kalah. Padahal saya sudah memakai teknik story telling, grafis, foto, video, tip-tip, dan segala macam. Dan, ini yang paling menyesakkan: saya sudah menggunakan BNI sejak entah tahun berapa.

Lalu, apa yang terjadi ketika blog post yang diikutsertakan dalam lomba itu kalah? Apakah saya menghapus postingan? Enggak, buat apa? Saya mengulas tentang kegunaan BNI Debit online dan step by step menggunakan Virtual Card Number (VCN). Jadi postingan itu tidak hapus, hanya dikurangi curhatnya, link-nya dicopot (supaya tidak terlalu banyak link keluar), dan sampai sekarang masih mendatangkan organic traffic.

Keputusan saya untuk tidak menghapus blog post itu adalah keputusan paling benar.

Tip keempat: seperti yang dikatakan oleh orang-orang bijak, jangan pikirkan apa yang akan kau lakukan ketika menang, pikirkan apa yang akan kau lakukan ketika kalah.  

♥♥♥

Saya yakin, setiap pemenang tidak pernah memiliki jalan yang lapang. Mereka berada di setapak yang sedemikian terjal untuk menggapai apa-apa yang diinginkan. Jadi, ketika Anda melihat saya dan blogger lain yang sering menang lomba, jangan lihat besaran hadiahnya, lihat kerja kerasnya.

Satu hal lagi. Tidak ada satu pun tip yang cocok bagi semua orang. Apa yang dikatakan kami, blogger yang pernah jadi juara, hanyalah panduan seperti halnya rumus matematika. Pada akhirnya, kerja keras Anda sendirilah yang menentukan apakah Anda akan jadi juara atau hanya penggembira.

Salam,
~eL