Lomba-Lomba “Bedebah” Itu

Last updated Dec 11, 2019 | BLOGGING, OPINION | 116 comments

Kehidupan pribadi saya terancam berantakan sejak saya jadi blogger.

Lebih berantakan lagi ketika saya mulai intens ikut lomba-lomba blog yang menyita tenaga, waktu, dan pikiran. Saya sadar bahwa setiap kerja keras akan selalu terbayarkan, tapi saya lupa bahwa saya juga punya tanggung jawab profesi lain.

Profesi saya bukan hanya blogger, saya juga desainer dengan tenggat waktu padat merayap. Saya juga cerpenis yang sudah terlalu lama vakum. Saya juga wirausahawan yang bisa saja memiliki omzet besar kalau saya punya lebih banyak waktu.

Pekerjaan utama saya bukan blogger melainkan desainer. Ikut lomba hanyalah usaha saya untuk memicu adrenalin, untuk mencari sparring partner, sekaligus media agar saya berusaha meningkatkan skill. Menang ya syukur, kalah ya sudah.

Memonetisasi blog hanya ikhtiar saya menghargai jerih payah saya sendiri, sama dengan ketika saya menulis cerpen.

Pun, saya lupa bahwa selain memiliki tanggung jawab profesi, saya juga memiliki tanggung jawab sosial. Saya punya anak usia remaja yang sebentar lagi masuk SMP, saya punya anak batita yang sering protes karena tidak diperhatikan, saya juga punya (katakanlah) kekasih yang lebih sering jadi teman diskusi atau tukang bikin kopi karena setiap kali bertemu saya sedang dikejar deadline. Kalau begini terus, kapan cita-cita saya untuk membangun rumah tangga samara akan tercapai? Kapaaannn? (Eh naha jadi kadinya?)

Puncaknya adalah ketika dua minggu yang lalu Aksa harus menginap di rumah pengasuhnya selama beberapa hari berturut-turut. Karena apa? Karena saya sedang mengejar deadline. Hari pertama tidak ada masalah, hari kedua pengasuhnya datang ke kosan karena Aksa terus-menerus rewel sambil berceloteh, “Ndaaa … Ndaaa.” Ibu macam apa saya?

Lomba-lomba blog telah membuat saya kembali bertanya, apa prioritas utama hidup saya?

Untuk apa saya menang hadiah jutaan rupiah kalau pada akhirnya hubungan saya dengan anak-anak menjadi renggang? Untuk apa saya disebut-disebut sebagai pesaing utama Handiko Rahman si pengacau lomba itu kalau pada akhirnya saya dipecat ama si Akang?

“Manajemen waktu atuh, Teh.”

Mas, Mbak, dua tahun ini untuk napas aja saya susah, manajemen waktu macam mana lagi? Intinya, saya harus berhenti sejenak, menetapkan kembali skala prioritas kalau tidak ingin depresi.


RE-CHARGE & RE-THINK

Iya, saya jenuh. Lelah mengejar deadline lomba hanya untuk memicu adrenalin. Saya harus menjaga kembali keseimbangan hidup. Ada beberapa hal yang saya lakukan, ini bukan tip, bisa saja cocok untuk Anda bisa juga tidak.

1. Keluarga Adalah Nomor Satu

Eciyeee … yang sedang mem-branding diri jadi ibu sekaligus calon istri potensial. Oh well, kejadian dengan Aksa adalah tamparan telak bagi saya. Walau bagaimanapun anak-anak adalah nomor satu, saya tidak bisa egois dengan terus-terusan mengejar karier.

Ya persetanlah dengan karier dan profesi jika harus menyita waktu yang seharusnya saya pergunakan untuk anak-anak.

Saya jenuh dan lelah terus-menerus didera rasa bersalah. Saya tidak mau karier apa pun yang tengah saya tapaki malah jadi bumerang. Sejak dua minggu lalu saya sudah memutuskan untuk membatasi apa pun kegiatan saya, fokus kepada Aksa. Juga fokus kepada kesehatan diri saya sendiri.  

Jadi saya akan kembali ke jalan yang benar, jalan yang digariskan oleh Tuhan: ibu. 

2. Menyelesaikan SEMUA Outstanding Job

Saya punya beberapa outstanding job yang sempat terbengkalai karena terlalu serius ngeblog. Iya, ini salah saya. Sepenuhnya salah saya.

Selain kehidupan pribadi, kondisi finansial saya juga terancam. Meskipun freelancer, pendapatan rutin saya ya dari desain.Terus terang, sejak aktif ngeblog beberapa bulan lalu, pendapatan saya sama sekali berhenti karena saya tidak menyelesaikan order desain.

Ketahanan ekonomi akan menyeimbangkan antara idelisme dengan realitas. Kalau terus-terusan seperti ini, lama-kelamaan saya akan terjebak “jual diri”. Jujur, saya juga ingin mendapatkan DOLLAR dari blog, kalau perlu poundsterling yang nilai tukarnya lebih tinggi. Tapi saya tidak bisa, lebih tepatnya saya tidak mau.

Blog adalah media tulisan, dan menulis bagi saya adalah takdir yang harus selalu digenapi.

-Langit Amaravati

Kalau perlu dikomersialkan, cara saya menyeimbangkan idealisme dengan realitas adalah dengan membuat tulisan berkualitas sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi, tidak dengan cara “jual diri”.

Jadi kalau saya mau tetap berada di jalur takdir yang tepat, saya harus secure secara finansial. 

3. Mengurangi Intensitas Ikut Lomba Blog

Terutama lomba-lomba bertema teknologi yang harus mengeluarkan efforts banyak. Tenaga dan ide untuk membuat grafis lebih baik saya gunakan untuk mengerjakan layout-an yang hasilnya lebih jelas. Tolong jangan senang dulu, sesekali saya masih akan ikut lomba, tapi tidak akan memaksakan diri lagi. Kalau sempat ya ikut, kalau tidak ya sudah.

4. Menulis untuk Bersenang-Senang

Dalam dua minggu ini saya sedang ikut program One Day One Post (ODOP) yang diadakan oleh Fun Blogging. Setiap hari temanya berbeda-beda, tapi kami bebas menulis dari sudut pandang mana saja. Blog post saya “Anda dan Saya Blogger, Bukan Event Cheerleader” adalah bagian dari ODOP. Temanya adalah cara hemat ketika datang ke event blogger, entah kenapa saya malah nyasar dan menulis postingan yang kemudian menuai view polemik.

Begitulah cara saya bersenang-senang. Yang baru mengenal saya mungkin akan sedikit syok dan benci tapi rindu. Tapi Anda yang sudah mengenal saya lama pasti paham bahwa karakter tulisan saya memang berasa tomyam: asem, manis, pedas, tapi enak. (Iya deh, Chan, iya)

5. Menulis Cerpen

Dosa besar saya sebagai cerpenis adalah vakum menulis cerpen. Saking vakumnya, sampai-sampai ada cerpenis baru yang nyinyir setiap kali saya posting artikel lomba atau postingan-postingan sponsored post. Bukan salah dia memang, toh dia tidak tahu bahwa ketika dia masih belajar membuat opening lead, saya sudah ke UWRF. (Songong lu, Chan)

Dua tahun saya vakum menulis cerpen. Sudah waktunya saya kembali dan mengulang tahun-tahun kejayaan. *halah 

6. Membaca

Ada ratusan buku yang belum sempat saya baca. Buku yang selama ini hanya jadi penghias rak. Membaca selalu bisa menjadi bunker tempat saya melarikan diri dari kejenuhan macam apa pun. Lagi pula, membaca juga bisa berfungsi mengisi nutrisi.

Saya sadar, semakin sering menulis, apalagi untuk lomba, tulisan saya jadi semakin cair. Seperti kata Pandu Dryad dalam komentarnya, akhir-akhir ini blog saya hanya dibaca para blogger lagi, terutama postingan-postingan lomba. Dulu, meskipun komen dan view sedikit, saya punya pembaca loyal. Para pembaca yang memang suka dengan tulisan saya.

Sekarang? Berapa persen sih dari pembaca yang betul-betul ingin tahu fitur gadget? Kebanyakan kan cuma riset kompetitor atau melihat grafisnya.

Iya, kan?

7. Self Healing

Sebetulnya ketujuh poin ini juga berfungsi untuk self healing sih, saya cuma ingin menegaskan. Anda tahu tidak bahwa didera deadline terus-terusan bisa membuat kita stres? Dua minggu lalu saya sampai depresi. Lebay, ya? Da saya mah gini orangnya, di luar aja kelihatan sangar padahal hatinya mah lemah lembut dan gemulai. Nikahable banget lah pokoknya.

Oke, fokus!

Sebelum kejadian Aksa nangis sambil bilang “Ndaaa … ndaaa…” itu, pada suatu sore dia rewel sekali. Ingin main sepeda di luar padahal sedang hujan. Apa yang saya lakukan? Saya marahi dia, tidak tanggung-tanggung, saya sampai bilang begini, “Aku sudah mempertaruhkan hidupku demi mempertahankan kamu. Aku rela dimusuhi seluruh dunia agar kamu ada. Jangan uji aku dengan cara seperti ini!”

Setelah capek menangis, Aksa langsung tidur, tanpa minum susu, tanpa dipuk-pukin.

Setelah itu saya duduk di depan laptop, memandangi layar berisi draft postingan lomba, bertanya-tanya dalam hati mengapa saya sampai tega mengeluarkan kata-kata itu kepada Aksa? Dia bahkan tidak pernah minta dilahirkan dari rahim saya. Itu bukan hal yang bisa dia pilih. Tuhanlah yang mengirimkan Aksa kepada saya untuk menjadi jangkar.

Saya juga bertanya-tanya, apa yang menyebabkan emosi saya serentan itu? Jawabannya ada di depan saya: tenggat waktu membuat emosi saya tidak stabil. Karena saya keras kepala dan pantang berjuang setengah-setengah, besoknya saya meminta agar Aksa menginap di tempat pengasuhnya.

Apakah langkah saya berhasil? Tidak, yang ada adalah kejadian seperti yang saya ceritakan di awal. Saya menyerah. Memenangkan lomba tidak lebih penting daripada anak-anak dan kesehatan mental saya.


Jadi begitulah, manajemen waktu saja tidak cukup. Saya sudah semakin ahli mereview gadget, tapi semakin tumpul mereview hidup saya sendiri. Saya lelah didera deadline terus-menerus. Cemen? Boleh jadi. Kenyataannya memang kesehatan saya tidak mendukung untuk melulu begadang, lupa makan, lupa pacaran.

Kalaupun mau mereview karena saya suka bidang ini, saya akan melakukannya atas inisiatif sendiri, bukan cuma untuk memuaskan dewan juri. Kalaupun ingin ikut lomba, saya akan memilih lomba yang betul-betul ingin saya tulis.

Saya jenuh ngeblog hanya agar trafik bagus, memikat brand, atau hal-hal semacam itu. Saya akan kembali menerapkan prinsip “setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri-sendiri”. Untuk apa saya menulis hal-hal yang tidak saya sukai atau hal-hal yang tidak ingin saya bagi?

Personal branding. Menjaga hubungan baik dengan sesama blogger, agensi, dan brand. Menjaga engagement dengan pembaca. Hal-hal itu tentu masih akan saya jaga karena ini berlaku di setiap profesi.

Tapi, saya tetap ingin menjadi blogger amatir. Yang menulis blog karena suka, karena cinta. Dapat bayaran atau tidak, itu tidak lagi menjadi prioritas utama.

Salam,
~eL

Related Articles

Website Bisnis, Menjaring Peluang di Era Ekonomi Digital

Website Bisnis, Menjaring Peluang di Era Ekonomi Digital

Indonesia, Kepulauan DigitalBill Gates tidak bercanda ketika mengatakan, "Jika bisnis Anda tidak ada di internet, maka bisnis Anda akan gulung tikar." Kedengarannya memang agak berlebihan, tapi di era ekonomi digital, go online adalah hal yang tak bisa...

Pengertian dan Istilah-Istilah SEO untuk Pemula

Pengertian dan Istilah-Istilah SEO untuk Pemula

Apa yang dimaksud dengan SEO? Apa manfaatnya untuk blog atau web yang kita kelola? Meskipun peringkat bukanlah segalanya, tapi sebagai blogger saya kira kita perlu memahami SEO agar blog kita terhindar dari bahaya laten kesepian. Hmm ... maksud saya, sepinya trafik,...

Jenis-Jenis Backlink Berbahaya

Jenis-Jenis Backlink Berbahaya

Pernah tidak Anda mendapatkan ribuan backlink dari satu web saja? Wow, hebat dong dapet ribuan backlink. No, honey. Your blog is under attack. Logikanya begini: Web A ==> backlink ke web B sebanyak 1-5 kali = natural.100 kali...

Comments

116 Comments

116 Comments

  1. Donna Imelda

    Saya jenuh ngeblog hanya agar traffic bagus, memikat brand, atau hal-hal semacam itu. Saya akan kembali menerapkan prinsip “setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri-sendiri”. Untuk apa saya menulis hal-hal yang tidak saya sukai atau hal-hal yang tidak ingin saya bagi? 》》》 suka bagian ini

    Reply
  2. Utami panca dewi

    Puncaknya adalah ketika dua minggu yang lalu Aksa harus menginap di rumah pengasuhnya selama beberapa hari berturut-turut. Karena apa? Karena saya sedang mengejar deadline. Hari pertama tidak ada masalah, hari kedua pengasuhnya datang ke kosan karena Aksa terus-menerus rewel sambil berceloteh, “Ndaaa … Ndaaa.” Ibu macam apa saya? (bagian ini bikin aku nangis lalu memeluk bayiku).

    Reply
  3. Dian Farida

    Can not agree more! Ketika kita sudah merasa keteteran, berarti saatnya untuk memilih kembali mana yg prioritas. Gudluck Mbak! =)

    Reply
  4. Ida Tahmidah

    Selalu bagus tulisannya….. 🙂 Iya ngeblog mah jangan dibikin cape dibikin seneng aja

    Reply
  5. Nisful Ardi

    gak nyangka, dibalik kesuksesan mbak di event blog competition ternyata terdapat masalah serius, .. pas baca post ini aku jg kerasa di tampar.. sudah jarang kumpul bareng temen” lg, cuma nyusahin temen temen untuk koreksi blog aku yg bahkan mereka gak tahu manfaat blog itu apa.. Smg jalan yg dipilih benar ya mbak..

    Reply
  6. Pakde Cholik

    Saya suka gayamu, Nduk.
    Soal polemik itu biasa, namanya juga orang banyak.
    Saya ngasih informasi katanya saya sotoy, busyeet deh.
    Rapopo
    Salam hangat dari Jombang

    Reply
  7. @zataligouw

    mba Langit, saya juga sempet tuh sampe ditegur swami karena keseringan keluar rumah utk urusan blogging, hehehe, makanya balik lagi bikin prioritas…

    Reply
  8. Ade Delina Putri

    Duh teteh, baru besok aku mau nulis tentang ini juga 😀 perlu rehat sejenak kayaknya dari per-ilmu-an ttg ngeblog 😀

    Reply
  9. rahayu pawitri

    Aku komen apa ya …. Pokoke apa pun pilihan teteh, kita dukung dah (serius tidak hanya krn kompetitor berkurang kok he he he)

    Reply
  10. Alaika

    Dari semua tulisan2mu, aq paling suka yang ini, Chan. Andai Aksa bisa baca tulisanmu ini, dia akan jadi anak yg paling happy sejagad, mengetahui bahwa Bunda meletakkannya pada prioritas utama, kini. 🙂
    Suka banget dg 'setiap tulisan punya takdirnya sendiri2.' Ho oh, bener juga yaa?

    Sukses selalu untuk semua keputusan yang Uchan ambil, ya!
    Salam sayang untuk Aksa dan Salwa.

    Reply
  11. eva sri rahayu

    Begitulah, Teh, sebagai seorang ibu banyak banget kita didera rasa bersalah saat terlalu fokus pada karier. Aku ngerasain banget itu.

    Reply
  12. Namora Ritonga

    Kaaakkk Eeell.. aku ngerasain hal yg sama dgn lomba2 ituuuhh huhuhu

    Reply
  13. Melisa Mel

    Tetap semangat yaaaa, Mbak.
    Aku suka banget baca tulisan-tulisan blognya si Mbak.
    Simpel tapi ngalir.

    Kembali ke prioritas hidup memang gak bisa ditawar-tawar lagi.
    Karena bahagia itu sederhana 🙂

    Reply
  14. Ratna Amalia

    Kembali ke fitrahnya. Sudahlah, kita perlakukan begitu saja pun dalam menulis

    Reply
  15. Maya Siswadi

    Ahhh itu sebabnya aku jarang ikut lomba, entah kenapa susah dapet feelnya. Rasanya pengen nulis yang mau aku tulis aja. Hahaha. Marilah kita menulis dan bersenang-senang.

    Reply
  16. Ruffie Lucretia

    Aahhhh… spechless teh. Aku juga pernah ada di posisi teteh. Kemudian di tegur suami dan Tuhan yang membuat aku tepar sebulan. Setelah itu aku beneran off sebulan nge blog. Sisanya yaa liat aja tulisanku sekarang. Klo ada feel nulis ya nulis klo gak ada ya engga. Karena emang sekarang yang jadi prioritas anak dan keluarga ^^

    Reply
  17. Nunu Halimi

    Saya beneran nangis di poin tujuh,rasanya pingin pukpukin nyiumin dede aksa, saya juga nge blog buat have fun aja teh.

    Reply
  18. Hilda Ikka

    Waaah aku jadi ketampar juga X))

    Aku kira cuma aku yang selalu gugup saat menjelang deadline. Tak ayal aku menjadi sangat sensitif.

    Trus aku pun bakal berkeluarga. Kalo gini emang harus dipikir ulang ya, mana prioritas? :')

    Reply
  19. ARCHA BELLA

    thats why..aku ga aktif nulis dan ngeblog..kehidupan nyataku lbh penting.. #ngeles
    Yang jujur: karena aku tidak secanggih kamu… #mengheningkancipta

    Reply
  20. Yasinta Astuti

    Ini aku banget teh, blog just for fun kalau yg utk pribadi hehe. Apalagi utk lomba blog saya hanya ikut yang saya ngerti dan paham betul teh, makanya ga pernah sekalipun ikut lomba berbau gadget. Selain teu bisa, ga paham juga yakin gakan pernah menang hehe (kasian bgt ya)
    Yeaaay, aksa punya banyak waktu sama bundanya skrg hiihi .. Sukses teh langiiit

    Reply
  21. Yasinta Astuti

    Ini aku banget teh, blog just for fun kalau yg utk pribadi hehe. Apalagi utk lomba blog saya hanya ikut yang saya ngerti dan paham betul teh, makanya ga pernah sekalipun ikut lomba berbau gadget. Selain teu bisa, ga paham juga yakin gakan pernah menang hehe (kasian bgt ya)
    Yeaaay, aksa punya banyak waktu sama bundanya skrg hiihi .. Sukses teh langiiit

    Reply
  22. Annisa Arif Rizqiani

    Family comes first.. Apapun yang terjadi di luar sana, keluarga selalu jadi tempat kembali..
    Nungguin komen mas Anonymous lagi nih..

    Reply
  23. Witri prasetyo aji

    Ngeblog untuk bersenang senang saja teh.. kl dapat rejeki daringeblog ya Alhamdullilah, kalo nggak InshaaAllah dapat rejeki dr tempat lain…

    Reply
  24. enny ridha alin

    Aku bukan blogger segudang pengalaman dan julukan. Mengikuti tulisanmu di note fb dan blogmu meski jarang meninggalkan jejak. Aku jg datar datar aja membaca tulisannu soal blogger agar gak keblinger event.
    Tapi membaca postingan kali ini, aku menangis membaca kemarahanmu pada Aksa hanya krn deadline. ..ya…deadline.

    Reply
  25. Ristin

    Sukses ya Chan.. apapun kegiatan Uchan. Itulah mengapa aku hampir jarang ikut lomba, krn emang ga jago hehe, ikut event jg jarang.. ikut klo emang lg mau dan bisa aja. Ngeblog memang u relaksasi u aku, jd setuju dgn pernyataan “tulisan pny takdirnya sendiri2” biarkan mengalir yaa.. krn ada yg lbh utama yaitu : anak. 🙂

    Reply
  26. Prima Hapsari

    HUaaaa, tulisannya nampar saya mbak. Semenjak ngeblog dan kenal dunia “event”, lomba” trafik deelel, pikiran saya jadi bercabang, prioritas mana yg harus saya utamakan. Pekerjaan utama keteteran dan kadang juga abai sama si kecil kalau udah megang laptop. Pengen konsen ngeblog, tapi masak iya saya seharian tidak istirahat, ngantor, momong, malem begadang?
    Makasih tulisannya yaaa, saya akan kembali hidup layak.

    Kecup.
    Tabik.

    Reply
  27. sri rahayu

    Ih ..tulisannya selalu bergizi..good luck mba

    Reply
  28. Avy Chujnijah

    duuuhh… speechless

    saya memilih menekuni ngeblog ketika anak2 sdh tumbuh dewasa, supaya tdk merasa bersalah ketika hrs sesekali terlantar…

    tapi kenyataannya…. tetep sama saja
    justru anak yg sdh mulai dewasa… hrs banyak di pantau dan didampingi

    terima kasih ulasannya mbak…mata saya jadi melek

    Reply
  29. Gustyanita Pratiwi

    Mantaaaabb suara hati banget ini teh, aku klo lomba banyak syarat n kudu ada inpograpis langsung mlipir tjantik ajah hahaaaiii

    Btul, betul, sejak ngeblog ngoyo, idupku serasa kek dikejar dedlen…mulai sekarang aku mau sante ahhhh, nulis hal2 yg menyenangkan hati hihihi

    Makasi teh tulisannya lagi2 mencerahkan, ni aku lagi namatin yg blog teteh satunya (yg headere langit penyihir amaravati) ^_^

    Reply
  30. Langit Amaravati

    Aku juga suka ketika menulis ini. Well, seluruh blogpost ini. 🙂

    Reply
  31. Langit Amaravati

    Ikut lomba yang curhat-curhat aja, yuk. Kayak yang waktu itu 🙂

    Reply
  32. Langit Amaravati

    Sama aku juga udah jarang kumpul ama temen-temen yang bukan blogger, pas kumpul yang aku omongin malah soal blog sementara mereka nggak begitu ngerti. Jadinya obrolan nggak asyik lagi. 🙁

    Reply
  33. Yoggy Satya

    Saya nyasar disini dulu karena emang riset tulisan blog ini toh cuman baca dan tidak jadi ikut lombanya, heheh. Tapi emang tulisan diblog ini enak dibacanya, bahas-bahas review pun berasa cuman baca cerita. heheh 😀
    Terimakasih atas sharenya, Teh. Rasanya memang harus re-think juga 😀

    Reply
  34. Langit Amaravati

    Kak Zata: Aku mau lebih banyak olahraga juga kayak dirimu. Biar fit.

    Madam: Ada, banyak. Aku yakin bukan aku satu-satunya.

    Reply
  35. Langit Amaravati

    Asal jangan rehat nulis aja, aku mah nggak bisa berhenti nulis. Hahaha.

    Reply
  36. Langit Amaravati

    Ilmu desain sudah diturunkan kepada teman-teman, semoga bisa beregenerasi. Hahaha.

    Reply
  37. Langit Amaravati

    Dan diteleponin Rasi terus-terusan ketika event. Hahaha.
    Mungkin sudah waktunya kita ibu-ibu ini menetapkan kembali skala prioritas. 🙂

    Reply
  38. Langit Amaravati

    Iya, kembali kepada takdir yang digariskan Tuhan: ibu. 😀

    Reply
  39. Langit Amaravati

    Aku suka sih menulis tentang gadget, tapi capek juga kalau untuk lomba mah. 😀

    Reply
  40. Ade Anita

    Kasihtau jika berhasil kembali ke asal. Aku novelis yg nyasar dan tersesat di dunia blogger lalu tidak tau jalan pulang sepertinya.

    Reply
  41. Molly

    Suka banget sama postingan ini mba ! Hidup jangan ngoyo, semua ada porsinya masing-masing. Termasuk urusan blogging ya hehehe. Aku tercerahkan baca tulisanmu mba ;).

    Reply
  42. Uwien Budi

    Tulisanmu mah emang gitu , Teh. Kalau yang belum kenal Teh Uchan atau yang baru pertama baca emang seperti… tulisan yang (maaf) minta digampar. hihihi pisss

    Saya yakin, kalau teteh bisa melewatinya dengan baik. Kita botram yuk ah. :)))

    Reply
  43. Rohma azha

    tulisan ini mewakili banget sma yg kurasakan, teh
    pernah nulis berlembar-lembar sampai rela ga bantuin acara tujuh hari meninggalnya nenek demi ngejar deadline. tapi sayangnya, usaha yang kulakukan sia-sia, hahahaii.. dan akhirnya hanya sedikit shock, dan kok bisa -kok bisa
    yaudah, aku nulis sesukanya aja.. 😀

    Reply
  44. Ipeh Alena

    Tehm aku padamu uwuwuwuwuw. Saya bahkan jarang banget bisa ikutan acara blogger, suka pilih2 lomba blog soalnya suka ga mudeng :D, setiap baca tulisanmu Teh, serasa dibela kalau saya gak salah dengan memilih prioritas keluarga sebagai yang utama…

    Sehat terus ya Teh

    Reply
  45. Rin Herlina

    Beberapa bulan ke belakang saya tertarik untuk menaikan traffic apalah itu teh. pernah ikutan lomba juga, tapi saya sadar pashion saya gak cari duit dari blog. Lalu, kembali ketujuan awal ngeblog cuman sekedar berbagi pengalaman. Mau traffic rendah, pengunjung sedikit tidak masalah.Asal ada yang numpang lewat buat baca doang juga syukur banget, teh. 😀

    Salam kenal teh. 😀

    Reply
  46. Eny

    Begini ya ternyata kehidupan sesungguhnya para pemenang kontes blogger. Semoga apa yang sudah ditebar menuai manfaat bagi para pembaca.

    Reply
  47. niee

    Aku gak pernah keceplung mbak. Tapi sempat iri dengan temen temen blogger yang diundang event ini itu dapet hadiah ini itu. Well tapi aku lupa bahwa pekerjaan aku sekarang udah cukup bisa buat aku membeli sendiri iphone 6 traveling keluar negeri satu dua kali setahun tanpa perlu ikut lomba blog.

    Ya aku harus bersyukur kan yak. Mungkin rmang rejekiku bukan dari blog. Tapi dari tempat laen. Dan blog just for fun. ?

    Reply
  48. Rebellina Santy

    ahai. kukira selama ini aku kesepian dengan pilihan sikapku, mengutamakan anak-anak dan rumah tangga ketimbang mengejar karir sebagai blogger yang itu pun enggak jelas nanti ke depannya seperti apa. kadang ada kesepian dan merasa sendirian kala melihat blogger yang lain begitu rame review ini itu, ikut lomba ini itu, sementara akunya malah terkesan pilih-pilih dan nulis sesantai dan sesenang mungkin. Kalau ikut lomba, ikut yang jelas-jelas aku bisa nuangkan apa yang kutahu, dan enggak mau ikutan di bidang yang aku jelas enggak punya skill sama sekali. Ternyata.., pilihanku tidak salah, karena aku kemudian bahagia dengan caraku, walau terkesan blogger yang sendirian. maaf ikutan curhat ya, karena pernah merasakan yang sama…

    Reply
  49. Rani R Tyas

    entah kenapa aku pengen bikin quote dari kalimatnya Teteh yang ini :

    “Tapi, saya tetap ingin menjadi blogger amatir. Yang menulis blog karena suka, karena cinta. Dapat bayaran atau tidak, itu tidak lagi menjadi prioritas saya.”

    Reply
  50. Naqiyyah Syam

    takdir sebagai ibu lebih kuat kan? Suka tulisan ini.

    Reply
  51. Haya Nufus

    Mbak Langit selaku orang yang belum kenal dekat sama mbak saya cuma bisa bilang 'You did great!' semua…mua… itu tetap aja prestasi meski ada cerita di belakang nya. Ada yang diraih, ada pengorbanan dan selalu ada pilihan mau melakukan apa atau mau fokus kemana selanjutnya. Semangat mbak… dan salam kenal 😉

    Reply
  52. Inna Riana

    *nganga lagi*
    yampun lagi2 suara hatiku seolah terwakili. meski baru sekali menang lomba, itu ga bikin ketagihan n uji nyali di lomba berikutnya. betul, bikin postingan u lomba itu menyita waktu, energi n menguras perasaan *halah*
    adanya peraturan ketat dr suami jg membuat kesempatan bercengkrama dgn netbuk hny boleh pada hari kerja n jam kerja aja. sdngkan saat yg sama, banyak kerjaan selain urus rumah n anak, yaitu urus toko. kapan ngeblognyaaaa??? harus pas jam segitu. titik. apa daya peraturan adl peraturan. sebaiknya dituruti sj drpada ditalak suru pisah dgn ngeblog. etapi aku msh boleh bikin bros kapan saja. sepertinya kudu balik bikin n jualan bros lagi drpada tangan gatel n baper ga bisa nulis hehe

    Reply
  53. Rachmah Setyawati

    Indeed … setuju sekali, kita bukan gadget yang bisa multitasking 🙂
    Salam kenal dari Surabaya mbak .
    Tulisannya bagus sekali, nice sharing …

    Reply
  54. Irly -

    Keren banget tulisannya.. menyajikan sudut pandang lain dari jagoan-jagoan lomba. Jujur.. saya belum pernah ikut lomba dengan hadiah yang sempat bikin saya bilang “Wuihhh/wow” entah karena mental saya emang cemen atau karena sadar akan butuh effort besar untuk menulis artikel tersebut, padahal saya punya kewajiban di kantor dan butuh olahraga. Menggiurkan memang, tapi rasanya saya belum cukup tergoda untuk ikut, saya tahu diri (dari segi kemampuan dan kebutuhan).

    Reply
  55. eda

    setuju mba.. ngblog ngblog aja, ga usah merhatiin angka-angka. toh blog punya pembaca loyal sendiri2.. justru, skrg kalo kebanyakan lomba dan iklan malah banyak yg males baca *pengalaman pribadi* L:D

    Reply
  56. Timur Matahari

    Masih blogger amatiran. Menulis cuma untuk berbagi dan ikut mood. Kadang-kadang ikut lomba. Kadang juga biarin lombanya lewat begitu aja meski hadiahnya menggiurkan.

    Yah, semua kembali lagi ketujuan semula. Buat blog untuk berbagi, mengisi waktu kosong, dan buat seru-seruan.

    Reply
  57. Heri Bassista

    Saya suka baca tulisan mbak, tulisan ini mewakili perasaan orang banyak, salah satunya saya, salam kenal mbak

    Reply
  58. Innnayah

    Dan saya akan makin senang baca blog ini. Makin greget tiap waktu

    Reply
  59. Rindang Yuliani

    Oowh saya suka membaca tulisan seputus asa ini. Pecah. But happy ending karena kesadaran diri penulisnya bahwa tak ada yg lebih baik daripada anak-anak dan kesehatan mentalnya.

    Reply
  60. Fajar

    mantap..kih… hee..he.he.. ngeblog pernah ikut lomba eh.. ndak pernah menang..hihihih.. yang penting..bagi saya.. ada inspirasi..tulis..ndak.. ada..ya sudah.. menunggun inspirasi di jiwa yang sunyi..hihihihihi..

    Reply
  61. Dewa Putu Adikarma Mandala

    mbaaaaak,…
    saya suka kata kata yg ini “setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri-sendiri”.

    stuju bgt 🙂

    Reply
  62. Mohammad Agustiar

    wah ternyata dibalik kemenangan ada yang kayak begini juga ya, saya cuma beberapa kali ikut lomba karena cuma mau ngetes kemampuan aja mbak “Menang ya syukur, kalah ya sudah”

    Reply
  63. Arina Mabruroh

    Hehe *tutupmuka* kadang di depan komputer itu tidak terasa sudah ngabisin hari dan membiarkan batitaku main sendiri.. 😀

    saya ngeblog buat hepi2, tapi kalau bisa dapat duit ya ga nolak lah *mataijo*

    Reply
  64. PIPIT

    Hai teh.. Pertama kalinya aku komen diblog teteh.
    Baca ini jadi sadar juga. Aku masih single sih, jadi belum paham betul rasanya jadi teteh. Cuman dari postingan ini aku jadi semakin mantap kalau ngeblog just for fun aja, ngalir apa adanya. Menyeimbangkan pikiran dengan tidak mengejar target karena uang dari hasil ngeblog. Ikut arus aja pokoknya. Kembali ke fitrah sebagai cewek dan ngeblog karena cinta dengan menulis dan mau berbagi.

    Semangat teh, salam kenal 🙂

    Reply
  65. Ria Lyzara

    Dulu saat SMA sampai kuliah, getol banget ikutan lomba. Seneng banget kali pas menang, saat mulai naik dari semester ke semester saya mulai merasa gak nyaman dengan diri saya yang “memaksakan diri” untuk ikutan lomba :') Banyak komentar teman di sekitar kalo saya dikejar Deadline pasti keras banget sama mahasiswa yg saya ajar (kebetulan jd asdos saat itu). Alhasil saya vaksin ngelomba. Sampai saat ini belum ikutan lomba apapun. Pengen ikutan? tentu! Rindu sekali dapat rupiah dan gadget dr Blog :')
    tapi nunggu lomba yang benar2 ria suka dan ingin tulisin. *lhah jadi curhat. Hehe.
    Terima kasih postingan nya ya mak. Salam kenaaaall 🙂

    Reply
  66. Frida Herlina

    One day trip with Aksa part 2 sudah menanti nih.
    Beneran ya, bakal naik kereta api?

    Bakalan jadi nutrisi tuh, Chan, buat balancing.
    ����

    Reply
  67. Ruli retno

    Pd akhirnya sy setuju keseluruhan isi post ini. Sy yg juga sbg ibu mendadak meleleh melihat lagi, apa yg sy lakukan terhadap blog dan anak2 saya.. Pelajaran bgt ini teh 😉

    Reply
  68. (sulis) bunda raka-alya

    Ini pertama aku mampir nulis comment. Biasanya silent reader doank. Aku suka tulisan ini mbak… Selamat menikmati hidup…

    Reply
  69. Dian Prihantoro

    Judulnya mantab mbak.. membuat berpikir ulang untuk mulai ikutan lomba-lomba lagi.. bagaimanapun keluarga adalah prioritas utama. Semangaaat..

    Reply
  70. Susindra

    Salam dari blogger pemula Mbak….
    Saya sejak dulu ngeblog karena suka. Soal pejwan, trafik, DA/PA dan apalah-apalah itu datang sendiri, tanpa manupulasi dan kontroversi

    Reply
  71. Eko Nurhuda

    Ini kayanya jadi jawaban posting buat lomba S7 yang gak rampung itu ya? Saya baca bener-bener kok kayanya gak seperti biasa nulisnya, terus ternyata memang menggantung. Agak lama bertanya-tanya, masa iya sengaja digantungin? Tapi mungkin ini jawabannya. Mungkin…. 🙂

    Reply
  72. yos mo

    'bedebah' kece yang buat artikel ini. Jarang-jarang blogger masa kini berani menyatakan kegelisahan dengan jujur tanpa tendeng aling-aling. Biasanya blogger kekinian lebih sering bikin artikel gimmick yang udah di make up, padahal jauh dari realita. Sok paham suatu produk, tapi sedikit mengerti dan jarang membeli. hehehe
    Gue salut & respek sama teteh Langit.
    beberapa hari lalu gue sebenarnya pengen komentar jujur di artikel 'Blogger bukan Cheerleader', tapi nggak jadi, khawatir banyak yang tersinggung :))

    Reply
  73. Indra3H

    Dari dulu selalu kagum dengan tulisan dan infografis Mbak Langit

    Reply
  74. Langit Amaravati

    Tapi jangan karena itu terus berhenti ngeblog lho. Kan menulis itu harus kontinyu 🙂

    Reply
  75. Langit Amaravati

    Iya, sudah saatnya menempatkan keluarga tetap di urutan pertama 😀

    Reply
  76. Langit Amaravati

    Fun Blogging itu bagus untuk membakar api semangat ngeblog, lho.

    Reply
  77. Langit Amaravati

    Kalau masih bisa bagi waktu dan tugas utama sebagai ibu dan istri salehah tidak terbengkalai ya nggak apa-apa sih. 😀

    Reply
  78. Langit Amaravati

    Dia nggak akan komen lagi kayaknya. Pasti udah capek. Hahaha.

    Reply
  79. Langit Amaravati

    Makasih lho sudah mampir dan berkenan berkomentar. Semoga bermanfaat. 🙂

    Reply
  80. Langit Amaravati

    Sama-sama, semoga kita tidak lupa tugas utama kita sebagai ibu ya, Mbak. 🙂

    Reply
  81. Langit Amaravati

    Kamu kan single, Gy. Sana ikut lomba macem-macem. Mumpung ada tenaga. 😀

    Reply
  82. Slamsr

    kenapa komentar di blog ini sudah kaya antri sembako?
    #eh…

    Reply
  83. Ety Budiharjo

    Untuk kedua kalinya, Alhamdulillaah tidak pernah terjerumus pada lomba blog yg bedebah ini…

    Reply
  84. Hairi Yanti

    Ada prioritas dalam hidup kita masing2 ya, Mbak. Dan prioritas utama seorang ibu adalah buah hatinya.

    Reply
  85. Langit Amaravati

    Ambil nomor antrean di sebelah sono, woi. Bwahaha.
    Aduh, saya juga nggak tahu kenapa. Maaf nih buat teman-teman yang komennya belum dibalas.

    Reply
  86. Langit Amaravati

    Menulis cerpen adalah panggilan jiwa, Teh. Itu aja dari aku mah. *eheum

    Reply
  87. Langit Amaravati

    Aku juga baru sadar sekarang. Eh, untungnya cepet sadar deng. 😀

    Reply
  88. Ajen Angelina

    Aku koment sini aja dehhh.. Yang sebelah terlalu vital dan jadi pembicaraan di banyak grup blogger ???
    Gue sebagai yg kenal elo lama saat lo masih menjadikan cita2 jadi penulis nomor satu dan pernah kena mulut lo yang tajam itu ketawa ngakak aja deh lihat ulah lo itu..

    Beuh Teh Langit mulai lagi bkn sensasi ?

    Semoga Aksa tumbuh sehat yah, Teh dan gue udah mulai malas dengarin lo janji bkn cerpen untuk kompas. Om Kumis aja cerpennya udah duo di sono ???

    Reply
  89. Langit Amaravati

    Konon, sebelum menulis kita memang harus menyelesaikan masalah-masalah pribadi dulu biar lantjar. 😀

    Reply
  90. Ihwan Hariyanto

    Kita dalam posisi yang sama Mbak, saya ingin blog saya sukses seperti bloher femes itu (termasuk Mbak) tapi di satu sisi saya harus sadar diri dengan tanggung jawab saya sebagai pekerja, suami dan ayah. Kalau kemarin-kemarin saya masih suka perang batin maka sekarang sudah enggak lagi. Kalau ada lomba yang cocok temanya dan waktunya ada ya ikut, kalau nggak cocok dan waktunya mepet saya pass aja.

    Reply
  91. Langit Amaravati

    Itu juga tujuan hidup, eh, ngeblog saya dulu. Sekarang mau diseimbangkan saja: menulis dan dapet duit. Bwahahaha.
    Etapi nggak ngoyo,kok.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This