Lomba-Lomba “Bedebah” Itu

by | Apr 4, 2016 | BLOGGING, OPINION | 116 comments

Kehidupan pribadi saya terancam berantakan sejak saya jadi blogger.

Lebih berantakan lagi ketika saya mulai intens ikut lomba-lomba blog yang menyita tenaga, waktu, dan pikiran. Saya sadar bahwa setiap kerja keras akan selalu terbayarkan, tapi saya lupa bahwa saya juga punya tanggung jawab profesi lain.

Profesi saya bukan hanya blogger, saya juga desainer dengan tenggat waktu padat merayap. Saya juga cerpenis yang sudah terlalu lama vakum. Saya juga wirausahawan yang bisa saja memiliki omzet besar kalau saya punya lebih banyak waktu.

Pekerjaan utama saya bukan blogger melainkan desainer. Ikut lomba hanyalah usaha saya untuk memicu adrenalin, untuk mencari sparring partner, sekaligus media agar saya berusaha meningkatkan skill. Menang ya syukur, kalah ya sudah.

Memonetisasi blog hanya ikhtiar saya menghargai jerih payah saya sendiri, sama dengan ketika saya menulis cerpen.

Pun, saya lupa bahwa selain memiliki tanggung jawab profesi, saya juga memiliki tanggung jawab sosial. Saya punya anak usia remaja yang sebentar lagi masuk SMP, saya punya anak batita yang sering protes karena tidak diperhatikan, saya juga punya (katakanlah) kekasih yang lebih sering jadi teman diskusi atau tukang bikin kopi karena setiap kali bertemu saya sedang dikejar deadline. Kalau begini terus, kapan cita-cita saya untuk membangun rumah tangga samara akan tercapai? Kapaaannn? (Eh naha jadi kadinya?)

Puncaknya adalah ketika dua minggu yang lalu Aksa harus menginap di rumah pengasuhnya selama beberapa hari berturut-turut. Karena apa? Karena saya sedang mengejar deadline. Hari pertama tidak ada masalah, hari kedua pengasuhnya datang ke kosan karena Aksa terus-menerus rewel sambil berceloteh, “Ndaaa … Ndaaa.” Ibu macam apa saya?

Lomba-lomba blog telah membuat saya kembali bertanya, apa prioritas utama hidup saya?

Untuk apa saya menang hadiah jutaan rupiah kalau pada akhirnya hubungan saya dengan anak-anak menjadi renggang? Untuk apa saya disebut-disebut sebagai pesaing utama Handiko Rahman si pengacau lomba itu kalau pada akhirnya saya dipecat ama si Akang?

“Manajemen waktu atuh, Teh.”

Mas, Mbak, dua tahun ini untuk napas aja saya susah, manajemen waktu macam mana lagi? Intinya, saya harus berhenti sejenak, menetapkan kembali skala prioritas kalau tidak ingin depresi.


RE-CHARGE & RE-THINK

Iya, saya jenuh. Lelah mengejar deadline lomba hanya untuk memicu adrenalin. Saya harus menjaga kembali keseimbangan hidup. Ada beberapa hal yang saya lakukan, ini bukan tip, bisa saja cocok untuk Anda bisa juga tidak.

1. Keluarga Adalah Nomor Satu

Eciyeee … yang sedang mem-branding diri jadi ibu sekaligus calon istri potensial. Oh well, kejadian dengan Aksa adalah tamparan telak bagi saya. Walau bagaimanapun anak-anak adalah nomor satu, saya tidak bisa egois dengan terus-terusan mengejar karier.

Ya persetanlah dengan karier dan profesi jika harus menyita waktu yang seharusnya saya pergunakan untuk anak-anak.

Saya jenuh dan lelah terus-menerus didera rasa bersalah. Saya tidak mau karier apa pun yang tengah saya tapaki malah jadi bumerang. Sejak dua minggu lalu saya sudah memutuskan untuk membatasi apa pun kegiatan saya, fokus kepada Aksa. Juga fokus kepada kesehatan diri saya sendiri.  

Jadi saya akan kembali ke jalan yang benar, jalan yang digariskan oleh Tuhan: ibu. 

2. Menyelesaikan SEMUA Outstanding Job

Saya punya beberapa outstanding job yang sempat terbengkalai karena terlalu serius ngeblog. Iya, ini salah saya. Sepenuhnya salah saya.

Selain kehidupan pribadi, kondisi finansial saya juga terancam. Meskipun freelancer, pendapatan rutin saya ya dari desain.Terus terang, sejak aktif ngeblog beberapa bulan lalu, pendapatan saya sama sekali berhenti karena saya tidak menyelesaikan order desain.

Ketahanan ekonomi akan menyeimbangkan antara idelisme dengan realitas. Kalau terus-terusan seperti ini, lama-kelamaan saya akan terjebak “jual diri”. Jujur, saya juga ingin mendapatkan DOLLAR dari blog, kalau perlu poundsterling yang nilai tukarnya lebih tinggi. Tapi saya tidak bisa, lebih tepatnya saya tidak mau.

Blog adalah media tulisan, dan menulis bagi saya adalah takdir yang harus selalu digenapi.

-Langit Amaravati

Kalau perlu dikomersialkan, cara saya menyeimbangkan idealisme dengan realitas adalah dengan membuat tulisan berkualitas sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi, tidak dengan cara “jual diri”.

Jadi kalau saya mau tetap berada di jalur takdir yang tepat, saya harus secure secara finansial. 

3. Mengurangi Intensitas Ikut Lomba Blog

Terutama lomba-lomba bertema teknologi yang harus mengeluarkan efforts banyak. Tenaga dan ide untuk membuat grafis lebih baik saya gunakan untuk mengerjakan layout-an yang hasilnya lebih jelas. Tolong jangan senang dulu, sesekali saya masih akan ikut lomba, tapi tidak akan memaksakan diri lagi. Kalau sempat ya ikut, kalau tidak ya sudah.

4. Menulis untuk Bersenang-Senang

Dalam dua minggu ini saya sedang ikut program One Day One Post (ODOP) yang diadakan oleh Fun Blogging. Setiap hari temanya berbeda-beda, tapi kami bebas menulis dari sudut pandang mana saja. Blog post saya “Anda dan Saya Blogger, Bukan Event Cheerleader” adalah bagian dari ODOP. Temanya adalah cara hemat ketika datang ke event blogger, entah kenapa saya malah nyasar dan menulis postingan yang kemudian menuai view polemik.

Begitulah cara saya bersenang-senang. Yang baru mengenal saya mungkin akan sedikit syok dan benci tapi rindu. Tapi Anda yang sudah mengenal saya lama pasti paham bahwa karakter tulisan saya memang berasa tomyam: asem, manis, pedas, tapi enak. (Iya deh, Chan, iya)

5. Menulis Cerpen

Dosa besar saya sebagai cerpenis adalah vakum menulis cerpen. Saking vakumnya, sampai-sampai ada cerpenis baru yang nyinyir setiap kali saya posting artikel lomba atau postingan-postingan sponsored post. Bukan salah dia memang, toh dia tidak tahu bahwa ketika dia masih belajar membuat opening lead, saya sudah ke UWRF. (Songong lu, Chan)

Dua tahun saya vakum menulis cerpen. Sudah waktunya saya kembali dan mengulang tahun-tahun kejayaan. *halah 

6. Membaca

Ada ratusan buku yang belum sempat saya baca. Buku yang selama ini hanya jadi penghias rak. Membaca selalu bisa menjadi bunker tempat saya melarikan diri dari kejenuhan macam apa pun. Lagi pula, membaca juga bisa berfungsi mengisi nutrisi.

Saya sadar, semakin sering menulis, apalagi untuk lomba, tulisan saya jadi semakin cair. Seperti kata Pandu Dryad dalam komentarnya, akhir-akhir ini blog saya hanya dibaca para blogger lagi, terutama postingan-postingan lomba. Dulu, meskipun komen dan view sedikit, saya punya pembaca loyal. Para pembaca yang memang suka dengan tulisan saya.

Sekarang? Berapa persen sih dari pembaca yang betul-betul ingin tahu fitur gadget? Kebanyakan kan cuma riset kompetitor atau melihat grafisnya.

Iya, kan?

7. Self Healing

Sebetulnya ketujuh poin ini juga berfungsi untuk self healing sih, saya cuma ingin menegaskan. Anda tahu tidak bahwa didera deadline terus-terusan bisa membuat kita stres? Dua minggu lalu saya sampai depresi. Lebay, ya? Da saya mah gini orangnya, di luar aja kelihatan sangar padahal hatinya mah lemah lembut dan gemulai. Nikahable banget lah pokoknya.

Oke, fokus!

Sebelum kejadian Aksa nangis sambil bilang “Ndaaa … ndaaa…” itu, pada suatu sore dia rewel sekali. Ingin main sepeda di luar padahal sedang hujan. Apa yang saya lakukan? Saya marahi dia, tidak tanggung-tanggung, saya sampai bilang begini, “Aku sudah mempertaruhkan hidupku demi mempertahankan kamu. Aku rela dimusuhi seluruh dunia agar kamu ada. Jangan uji aku dengan cara seperti ini!”

Setelah capek menangis, Aksa langsung tidur, tanpa minum susu, tanpa dipuk-pukin.

Setelah itu saya duduk di depan laptop, memandangi layar berisi draft postingan lomba, bertanya-tanya dalam hati mengapa saya sampai tega mengeluarkan kata-kata itu kepada Aksa? Dia bahkan tidak pernah minta dilahirkan dari rahim saya. Itu bukan hal yang bisa dia pilih. Tuhanlah yang mengirimkan Aksa kepada saya untuk menjadi jangkar.

Saya juga bertanya-tanya, apa yang menyebabkan emosi saya serentan itu? Jawabannya ada di depan saya: tenggat waktu membuat emosi saya tidak stabil. Karena saya keras kepala dan pantang berjuang setengah-setengah, besoknya saya meminta agar Aksa menginap di tempat pengasuhnya.

Apakah langkah saya berhasil? Tidak, yang ada adalah kejadian seperti yang saya ceritakan di awal. Saya menyerah. Memenangkan lomba tidak lebih penting daripada anak-anak dan kesehatan mental saya.


Jadi begitulah, manajemen waktu saja tidak cukup. Saya sudah semakin ahli mereview gadget, tapi semakin tumpul mereview hidup saya sendiri. Saya lelah didera deadline terus-menerus. Cemen? Boleh jadi. Kenyataannya memang kesehatan saya tidak mendukung untuk melulu begadang, lupa makan, lupa pacaran.

Kalaupun mau mereview karena saya suka bidang ini, saya akan melakukannya atas inisiatif sendiri, bukan cuma untuk memuaskan dewan juri. Kalaupun ingin ikut lomba, saya akan memilih lomba yang betul-betul ingin saya tulis.

Saya jenuh ngeblog hanya agar trafik bagus, memikat brand, atau hal-hal semacam itu. Saya akan kembali menerapkan prinsip “setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri-sendiri”. Untuk apa saya menulis hal-hal yang tidak saya sukai atau hal-hal yang tidak ingin saya bagi?

Personal branding. Menjaga hubungan baik dengan sesama blogger, agensi, dan brand. Menjaga engagement dengan pembaca. Hal-hal itu tentu masih akan saya jaga karena ini berlaku di setiap profesi.

Tapi, saya tetap ingin menjadi blogger amatir. Yang menulis blog karena suka, karena cinta. Dapat bayaran atau tidak, itu tidak lagi menjadi prioritas utama.

Salam,
~eL

116
Leave a Reply

avatar
116 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Langit AmaravatiIhwan HariyantoAjen AngelinaHairi YantiEty Budiharjo Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Donna Imelda
Guest
Donna Imelda

Saya jenuh ngeblog hanya agar traffic bagus, memikat brand, atau hal-hal semacam itu. Saya akan kembali menerapkan prinsip “setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri-sendiri”. Untuk apa saya menulis hal-hal yang tidak saya sukai atau hal-hal yang tidak ingin saya bagi? 》》》 suka bagian ini

Utami panca dewi
Guest
Utami panca dewi

Puncaknya adalah ketika dua minggu yang lalu Aksa harus menginap di rumah pengasuhnya selama beberapa hari berturut-turut. Karena apa? Karena saya sedang mengejar deadline. Hari pertama tidak ada masalah, hari kedua pengasuhnya datang ke kosan karena Aksa terus-menerus rewel sambil berceloteh, “Ndaaa … Ndaaa.” Ibu macam apa saya? (bagian ini bikin aku nangis lalu memeluk bayiku).

Dian Farida
Guest

Can not agree more! Ketika kita sudah merasa keteteran, berarti saatnya untuk memilih kembali mana yg prioritas. Gudluck Mbak! =)

Intan Novriza Kamala Sari
Guest

Good luck ya kak eL.Semangaaat! yeyeee go go gooo

Ida Tahmidah
Guest

Selalu bagus tulisannya….. 🙂 Iya ngeblog mah jangan dibikin cape dibikin seneng aja

Nisful Ardi
Guest

gak nyangka, dibalik kesuksesan mbak di event blog competition ternyata terdapat masalah serius, .. pas baca post ini aku jg kerasa di tampar.. sudah jarang kumpul bareng temen” lg, cuma nyusahin temen temen untuk koreksi blog aku yg bahkan mereka gak tahu manfaat blog itu apa.. Smg jalan yg dipilih benar ya mbak..

Pakde Cholik
Guest

Saya suka gayamu, Nduk.
Soal polemik itu biasa, namanya juga orang banyak.
Saya ngasih informasi katanya saya sotoy, busyeet deh.
Rapopo
Salam hangat dari Jombang

@zataligouw
Guest

mba Langit, saya juga sempet tuh sampe ditegur swami karena keseringan keluar rumah utk urusan blogging, hehehe, makanya balik lagi bikin prioritas…

Ade Delina Putri
Guest

Duh teteh, baru besok aku mau nulis tentang ini juga 😀 perlu rehat sejenak kayaknya dari per-ilmu-an ttg ngeblog 😀

rahayu pawitri
Guest

Aku komen apa ya …. Pokoke apa pun pilihan teteh, kita dukung dah (serius tidak hanya krn kompetitor berkurang kok he he he)

Alaika
Guest

Dari semua tulisan2mu, aq paling suka yang ini, Chan. Andai Aksa bisa baca tulisanmu ini, dia akan jadi anak yg paling happy sejagad, mengetahui bahwa Bunda meletakkannya pada prioritas utama, kini. 🙂
Suka banget dg 'setiap tulisan punya takdirnya sendiri2.' Ho oh, bener juga yaa?

Sukses selalu untuk semua keputusan yang Uchan ambil, ya!
Salam sayang untuk Aksa dan Salwa.

eva sri rahayu
Guest

Begitulah, Teh, sebagai seorang ibu banyak banget kita didera rasa bersalah saat terlalu fokus pada karier. Aku ngerasain banget itu.

Namora Ritonga
Guest

Kaaakkk Eeell.. aku ngerasain hal yg sama dgn lomba2 ituuuhh huhuhu

Melisa Mel
Guest

Tetap semangat yaaaa, Mbak.
Aku suka banget baca tulisan-tulisan blognya si Mbak.
Simpel tapi ngalir.

Kembali ke prioritas hidup memang gak bisa ditawar-tawar lagi.
Karena bahagia itu sederhana 🙂

Ratna Amalia
Guest

Kembali ke fitrahnya. Sudahlah, kita perlakukan begitu saja pun dalam menulis

Maya Siswadi
Guest

Ahhh itu sebabnya aku jarang ikut lomba, entah kenapa susah dapet feelnya. Rasanya pengen nulis yang mau aku tulis aja. Hahaha. Marilah kita menulis dan bersenang-senang.

Ruffie Lucretia
Guest

Aahhhh… spechless teh. Aku juga pernah ada di posisi teteh. Kemudian di tegur suami dan Tuhan yang membuat aku tepar sebulan. Setelah itu aku beneran off sebulan nge blog. Sisanya yaa liat aja tulisanku sekarang. Klo ada feel nulis ya nulis klo gak ada ya engga. Karena emang sekarang yang jadi prioritas anak dan keluarga ^^

Nunu Halimi
Guest

Saya beneran nangis di poin tujuh,rasanya pingin pukpukin nyiumin dede aksa, saya juga nge blog buat have fun aja teh.

Evi Sri Rezeki
Guest

Rehat sejenak Teh 🙂

Hilda Ikka
Guest

Waaah aku jadi ketampar juga X))

Aku kira cuma aku yang selalu gugup saat menjelang deadline. Tak ayal aku menjadi sangat sensitif.

Trus aku pun bakal berkeluarga. Kalo gini emang harus dipikir ulang ya, mana prioritas? :')

ARCHA BELLA
Guest

thats why..aku ga aktif nulis dan ngeblog..kehidupan nyataku lbh penting.. #ngeles
Yang jujur: karena aku tidak secanggih kamu… #mengheningkancipta

Yasinta Astuti
Guest

Ini aku banget teh, blog just for fun kalau yg utk pribadi hehe. Apalagi utk lomba blog saya hanya ikut yang saya ngerti dan paham betul teh, makanya ga pernah sekalipun ikut lomba berbau gadget. Selain teu bisa, ga paham juga yakin gakan pernah menang hehe (kasian bgt ya)
Yeaaay, aksa punya banyak waktu sama bundanya skrg hiihi .. Sukses teh langiiit

Yasinta Astuti
Guest

Ini aku banget teh, blog just for fun kalau yg utk pribadi hehe. Apalagi utk lomba blog saya hanya ikut yang saya ngerti dan paham betul teh, makanya ga pernah sekalipun ikut lomba berbau gadget. Selain teu bisa, ga paham juga yakin gakan pernah menang hehe (kasian bgt ya)
Yeaaay, aksa punya banyak waktu sama bundanya skrg hiihi .. Sukses teh langiiit

Annisa Arif Rizqiani
Guest

Family comes first.. Apapun yang terjadi di luar sana, keluarga selalu jadi tempat kembali..
Nungguin komen mas Anonymous lagi nih..

Witri prasetyo aji
Guest

Ngeblog untuk bersenang senang saja teh.. kl dapat rejeki daringeblog ya Alhamdullilah, kalo nggak InshaaAllah dapat rejeki dr tempat lain…

enny ridha alin
Guest
enny ridha alin

Aku bukan blogger segudang pengalaman dan julukan. Mengikuti tulisanmu di note fb dan blogmu meski jarang meninggalkan jejak. Aku jg datar datar aja membaca tulisannu soal blogger agar gak keblinger event.
Tapi membaca postingan kali ini, aku menangis membaca kemarahanmu pada Aksa hanya krn deadline. ..ya…deadline.

Ristin
Guest

Sukses ya Chan.. apapun kegiatan Uchan. Itulah mengapa aku hampir jarang ikut lomba, krn emang ga jago hehe, ikut event jg jarang.. ikut klo emang lg mau dan bisa aja. Ngeblog memang u relaksasi u aku, jd setuju dgn pernyataan “tulisan pny takdirnya sendiri2” biarkan mengalir yaa.. krn ada yg lbh utama yaitu : anak. 🙂

Prima Hapsari
Guest

HUaaaa, tulisannya nampar saya mbak. Semenjak ngeblog dan kenal dunia “event”, lomba” trafik deelel, pikiran saya jadi bercabang, prioritas mana yg harus saya utamakan. Pekerjaan utama keteteran dan kadang juga abai sama si kecil kalau udah megang laptop. Pengen konsen ngeblog, tapi masak iya saya seharian tidak istirahat, ngantor, momong, malem begadang?
Makasih tulisannya yaaa, saya akan kembali hidup layak.

Kecup.
Tabik.

sri rahayu
Guest

Ih ..tulisannya selalu bergizi..good luck mba

Avy Chujnijah
Guest

duuuhh… speechless

saya memilih menekuni ngeblog ketika anak2 sdh tumbuh dewasa, supaya tdk merasa bersalah ketika hrs sesekali terlantar…

tapi kenyataannya…. tetep sama saja
justru anak yg sdh mulai dewasa… hrs banyak di pantau dan didampingi

terima kasih ulasannya mbak…mata saya jadi melek

Gustyanita Pratiwi
Guest

Mantaaaabb suara hati banget ini teh, aku klo lomba banyak syarat n kudu ada inpograpis langsung mlipir tjantik ajah hahaaaiii

Btul, betul, sejak ngeblog ngoyo, idupku serasa kek dikejar dedlen…mulai sekarang aku mau sante ahhhh, nulis hal2 yg menyenangkan hati hihihi

Makasi teh tulisannya lagi2 mencerahkan, ni aku lagi namatin yg blog teteh satunya (yg headere langit penyihir amaravati) ^_^

Langit Amaravati
Guest

Aku juga suka ketika menulis ini. Well, seluruh blogpost ini. 🙂

Langit Amaravati
Guest

Kita bukan gadget yang bisa multitasking. Hahahaha.

Langit Amaravati
Guest

Ikut lomba yang curhat-curhat aja, yuk. Kayak yang waktu itu 🙂

Langit Amaravati
Guest

Mari bersenang-senang o/

Langit Amaravati
Guest

Sama aku juga udah jarang kumpul ama temen-temen yang bukan blogger, pas kumpul yang aku omongin malah soal blog sementara mereka nggak begitu ngerti. Jadinya obrolan nggak asyik lagi. 🙁

Langit Amaravati
Guest

Iya, Pakde. 🙂

Yoggy Satya
Guest

Saya nyasar disini dulu karena emang riset tulisan blog ini toh cuman baca dan tidak jadi ikut lombanya, heheh. Tapi emang tulisan diblog ini enak dibacanya, bahas-bahas review pun berasa cuman baca cerita. heheh 😀
Terimakasih atas sharenya, Teh. Rasanya memang harus re-think juga 😀

Langit Amaravati
Guest

Kak Zata: Aku mau lebih banyak olahraga juga kayak dirimu. Biar fit.

Madam: Ada, banyak. Aku yakin bukan aku satu-satunya.

Tetty Hermawati
Guest

suka lah, aku banget iniihh

Langit Amaravati
Guest

Asal jangan rehat nulis aja, aku mah nggak bisa berhenti nulis. Hahaha.

Langit Amaravati
Guest

Ilmu desain sudah diturunkan kepada teman-teman, semoga bisa beregenerasi. Hahaha.

Langit Amaravati
Guest

Tulisan seorang ibu yang depresif. Hahaha.

Langit Amaravati
Guest

Dan diteleponin Rasi terus-terusan ketika event. Hahaha.
Mungkin sudah waktunya kita ibu-ibu ini menetapkan kembali skala prioritas. 🙂

Langit Amaravati
Guest

Makanya aku banyak skip akhir-akhir ini.

Langit Amaravati
Guest

Bahagia seorang ibu ada di kebahagiaan anak-anak 🙂

Langit Amaravati
Guest

Pengen meluk juga bayinya, pasti lagi lucu-lucunya 😀

Langit Amaravati
Guest

Iya, kembali kepada takdir yang digariskan Tuhan: ibu. 😀

Langit Amaravati
Guest

Aku suka sih menulis tentang gadget, tapi capek juga kalau untuk lomba mah. 😀

Ade Anita
Guest

Kasihtau jika berhasil kembali ke asal. Aku novelis yg nyasar dan tersesat di dunia blogger lalu tidak tau jalan pulang sepertinya.

Share This