Barangkali memang benar, perempuan dalam kultur Indonesia sering kali diidentikkan dengan sumur, kasur, dan dapur. Stigma yang kemudian dijadikan dalih bahwa perempuan tidak memerlukan pendidikan tinggi. Pada perkembangannya, banyak perempuan yang kemudian merangsek maju ke ranah publik hanya untuk melawan stigma tersebut. Sayangnya, “perjuangan” para perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan melawan stigma justru mengakibatkan terbengkalainya ranah domestik. Lama-kelamaan, perjuangan itu hanya bermuara kepada agar perempuan bisa bekerja dan memiliki profesi, sama seperti lelaki.

Padahal, jika kita mau mengkaji ulang, peran perempuan dan laki-laki atau istri dan suami dalam kehidupan rumah tangga tidak melulu berdasarkan patron sosial yang selama ini ada, melainkan berdasarkan kesepakatan.

Menurut saya, stigma sumur kasur dapur tak sepenuhnya harus dilawan. Paradigma atau kerangka berpikir kitalah yang justru mesti diluruskan. Dari yang tadinya “karena perempuan berkutat di ranah sumur, kasur, dan dapur, maka perempuan TIDAK memerlukan pendidikan tinggi” menjadi “karena perempuan berkutat di ranah sumur, kasur, dan dapur, maka perempuan HARUS berpendidikan tinggi”.

Mengapa demikian? Karena perempuan berpendidikan akan mandiri secara intelektual. Dan perempuan yang mandiri secara intelektual tahu ke mana harus mencari informasi.

Berikut beberapa alasannya:

  1. SUMUR

Sumur merupakan simbol sanitasi. Berkaitan dengan kebersihan rumah dan lingkungan. Seorang perempuan, seorang ibu, tentu harus memiliki pengetahuan yang cukup agar kebersihan rumah dan lingkungannya terjaga.

Contoh kecil saja, idealnya sikat gigi harus diganti tiga bulan sekali. Ini untuk menjaga agar sikat gigi itu tetap berfungsi secara maksimal, juga agar tidak melukai gusi ketika dipakai. Berapa persen ibu di Indonesia yang tahu tentang ini?

Oke, itu hanya sikat gigi. Bagaimana dengan penanganan jentik nyamuk? Bagaimana dengan ventilasi udara, penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya, memilah sampah, dan lain-lain? Jika tidak berpendidikan cukup, bagaimana seorang perempuan dapat memikul tanggung jawab sebesar ini?

  1. KASUR

Kasur tidak hanya mewakili kehidupan seksual, tetapi juga reproduksi dan maternity. Kehamilan, bersalin, nifas, dan menyusui adalah hal yang sangat kompleks. Mitos turun-menurun saja tidak akan cukup untuk bekal seorang istri dan ibu. Kasus-kasus masalah kesehatan ibu dan anak sebetulnya bisa diminimalisasi jika semua perempuan Indonesia cukup teredukasi.

  1. DAPUR

Bukan, ini bukan tentang keahlian memasak. Ini justru berkaitan erat dengan kesehatan dan pemenuhan gizi keluarga, terutama anak-anak. Berapa banyak ibu di Indonesia yang betul-betul paham bahwa MPASI baru bisa diberikan setelah bayi berusia 6 bulan karena pada saat itulah lambungnya sudah siap? Berapa banyak ibu di Indonesia yang tahu bahwa bayi di bawah 1 tahun belum boleh diberi garam dan gula?

Selama ini, kasus-kasus bayi kurang gizi, usus buntu, gagal ginjal, atau masalah kesehatan lainnya seolah-olah hanya menjadi PR besar tenaga kesehatan. Penyuluhan-penyuluhan kepada kaum ibu diberikan hanya sebagai langkah “menambal kebocoran”. Padahal, jika kaum ibu cukup terdidik, mereka akan lebih cerdas. Memang, gizi anak tidak selalu diajarkan di sekolah, tapi seorang ibu yang cerdas tentu akan tahu ke mana harus mencari informasi, bukan?

Itu baru MPASI, belum lagi kebutuhan gizi secara keseluruhan. Tak usahlah jauh-jauh kepada penghitungan kalori, pemenuhan vitamin, protein, dan semacamnya. Cara memasak sayur bayam saja dulu. Jika kita masih menemukan seorang ibu yang memanaskan kembali sayur bayam yang telah dimasak, berarti kita sudah dalam fase darurat edukasi untuk para ibu.

Pada ruang lingkup yang lebih luas, seorang perempuan tidak hanya berperan sebagai penjaga gawang sumur, kasur, dan dapur. Di dalam rumah, seorang perempuan, seorang ibu rumah tangga, juga akan berperan sebagai guru, akuntan, dokter, ahli gizi, desainer interior, kasir, psikolog anak, petugas pemadam kebakaran, dan sebagainya, dan sebagainya.

Jika seorang perempuan tidak mendapatkan pendidikan yang cukup, bagaimana kita bisa menjalankan 1001 peran tersebut?

Selain mandiri secara intelektual, perempuan yang teredukasi juga memiliki kans yang lebih besar untuk mandiri secara ekonomi. Pengaruhnya tentu lebih besar lagi bagi keberlangsungan hidup keluarga. Bila sebuah keluarga diibaratkan sebagai kapal dan suami adalah nakhoda, maka istri adalah sekoci penyelamat yang mencegah awak kapal tenggelam di saat darurat.

Jadi, barangkali memang benar bahwa perempuan identik dengan sumur, kasur, dan dapur. Oleh karena 3 hal tersebut memiliki urgensi tinggi, maka setiap perempuan harus cukup teredukasi, bukan sebaliknya.

Salam,
~eL

P.S. Artikel ini ditulis ketika sedang waras

Share This