03 June 2017

Mengatasi Low Disk Space di Wordpress

WordPress
Mengatasi low disk space di WordPress
Foto: Freepic Diller/Freepik

Bagi Anda pengguna WordPress dan menggunakan domain serta self hosting, “surat cinta” berisi peringatan low disk space dari provider hosting pasti kerap kali Anda terima. Memang apa, sih, artinya? Ya, itu artinya kapasitas penyimpanan data yang Anda sewa sudah tidak cukup lagi untuk menampung kenangan data. Akibatnya akan menghambat loading blog Anda dan well, pada kasus-kasus yang berat, akan membuat blog sama sekali tidak bisa diakses.

Meskipun disk space blog saya cukup memadai untuk ukuran blog (2 GB), tapi sayangnya surat cinta itu pun nyaris setiap bulan datang. Jadi kudu dikumahakeun atuh? Upgrade paket? Itu solusi terakhir, sih, kalau menurut saya mah. Ada beberapa solusi lain yang bisa kita lakukan.


Cara Mengatasi Low Disk Space di Wordpress

1. Periksa cPanel

Yang harus pertama kali Anda lakukan adalah masuk ke cPanel dan lihat direktori mana yang memakan kapasitas paling besar. Biasanya public_html dan softaculous_backups adalah dua “penjahat” utamanya.

Public_html berisi data-data yang ditampilkan di front end seperti image, konten, theme, plugin, dan lain-lain, sedangkan softaculous_backups berisi backup. Untuk melihat detailnya, Anda bisa melihat di File Manager.

Download semua file yang ada di softaculous_backups, simpan di komputer, lalu hapus yang ada di dalam cPanel.

Disk usage di cPanel

2. Optimasi Plugin

Update semua plugin yang Anda gunakan ke versi terbaru, termasuk update versi WordPress ke versi terbaru juga. Kenapa ini penting? Karena setiap kali update, selain  fitur baru, plugin tersebut juga diperbaiki oleh developer-nya. Misalnya, kalau ada bug atau conflict dengan plugin lain.

Kenapa WordPress Perlu Di-update?
BACA JUGA

Kenapa WordPress Perlu Di-update?

“Teh, kata A kalau mau tetep pakai classic editor, aku enggak perlu update WordPress. Jadi ya, aku enggak update,” ujar seorang blogger …

Baca Selengkapnya

Nonaktifkan dan hapus SEMUA plugin yang tidak digunakan. Pakai plugin yang sekiranya dapat mengakomodasi nyaris semua kebutuhan Anda. IMHO, Jetpack bagus karena bisa dipakai segala macam, sayangnya sering konflik dengan plugin lain.

Kembali ke cPanel dan lihat apakah disk usage sudah berkurang atau tidak. Jika tidak, hapus file plugin yang tidak digunakan dari File Manager.

cPanel ► File Manger ► public_html ► wp-content ► plugin ► pilih plugin yang akan dihapus ► delete

Cara menghapus plugin di cPanel

Beberapa orang menyarankan untuk menggunakan plugin P3 Profiler yang konon bisa mendeteksi plugin mana yang memakan memori paling besar. Tapi sialnya, P3 Profiler teh sudah tidak update sejak 2 tahun lalu, eung. Kalau ada yang tahu plugin bagus atau web yang bisa mengukur performa plugin, mohon tuliskan di komentar. Thank you.

3. Optimasi Theme

Ini agak sulit dan dilema. Ibarat memilih antara Hamish Daud dan Keenan Pearce. Di satu sisi, kita ingin theme yang ketjeh dan memiliki banyak fitur yang uwow. Tapi di sisi lain, theme yang ketjeh itu biasanya berat. Entah itu CSS-nya lah, jQuery-nya lah, Javasscript-nya lah, apanyalah.

Ada berapa banyak theme yang terinstal di blog Anda? Ratusan? Hahaha. Nah, jumlah theme yang terinstal juga tentu memakan diskspace. Jadi, hanya instal theme yang digunakan (parent theme dan child theme) dan 1 theme default WordPress untuk fallback. Hapus yang tidak dipakai.

Kira-kira seperti inilah: 1 child theme, 1 parent theme, 1 theme lain untuk fallback.

“Kenapa harus ada theme untuk fallback segala, Teh?”

Jika terjadi sesuatu dengan theme utama yang Anda gunakan, misalnya crash, maka WordPress akan deaktif theme utama dan mengaktifkan theme lain sebagai penggantinya. Semacam cadangan gitu. Jika tidak ada theme cadangan, biasanya blog Anda tidak bisa diakses.

“Boleh enggak Teh kalau saya cuma instal child theme tanpa menggunakan parent theme? Kan, supaya hemat diskspace.”

Tidak bisa. Child theme tidak akan bekerja kalau tidak ada parent theme. Kasihan dia nanti jadi yatim piatu.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengoptimasi theme:

  • Pilih theme yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, kalau kebutuhan Anda hanya blog, ya tidak susah memakai theme yang memiliki banyak fitur.
  • Apabila Anda membutuhkan banyak fitur, beli theme premium yang satu bundel agar Anda tidak usah mempergunakan banyak plugin tambahan.
  • Jika misalnya theme yang Anda miliki dilengkapi dengan Woocommerce tapi Anda tidak berniat jualan online di blog, nonaktifkan atau hapus plugin-nya.

4. Optimasi Image

Secara tertulis, maksimal ukuran image yang bisa diunggah ke WordPress adalah 2 MB. Tapi pada praktiknya, 500 KB saja sudah membuat blog kita ngadegdeg. Saya masih melihat teman-teman yang lalawora mengunggah gambar dengan ukuran 1 MB bahkan lebih. Berat pisan eta teh, Iroh. Aslina.

TIP:
- Image size untuk featured image: maks 250 KB.
- Image size di dalam artikel: maks 150 KB.

Tapi, hanya karena ingin menghemat disk space, bukan berarti kita bisa mengunggah _image dengan kualitas yang _euleuh-euleuh karena walau bagaimanapun, keindahan dan estetika adalah bagian dari user experience. Ada dua cara optimasi yang bisa kita lakukan: on-site dan off-site.

A. Optimasi Image On-Site

Artinya, kita mengoptimasi image _dari dalam blog kita sendiri. Berapa sih ukuran _image yang sekiranya cukup? In my opinion, maksimal 250 KB untuk featured image biasa dan ilustrasi di dalam blog post, maksimal 350 KB untuk header dan featured image untuk blog post yang full width (tanpa sidebar).

  • Gunakan jenis file JPEG untuk foto dan PNG untuk ilustrasi yang memerlukan detail. FYI, PNG memang memiliki kualitas yang lebih baik, tapi file-nya juga lebih besar.
  • Sebagai alternatif, Anda bisa menggunakan SVG karena file-nya yang ringan. Tapi harap diingat, SVG memiliki isu keamanan dan rentan terhadap peretasan.
  • Perkecil ukuran gambar sebelum diunggah ke blog. Tapi, memperkecil ukuran gambar biasanya juga akan menurunkan kualitasnya. Untuk mengatasi ini, saya menggunakan image resizer yang berfungsi memperkecil ukuran gambar tanpa membuatnya nge-blur. Ada tiga image resizer yang saya rekomendasikan, Web Resizer , TinyPNG dan Compressor io.
  • Ketiganya memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Web Resizer memiliki beberapa pilihan ukuran sehingga apabila gambar masih terlalu besar, kita masih bisa memperkecilnya. Kekurangannya: untuk file PNG biasanya gambar malah jadi lebih besar, Web Resizer juga tidak bisa dipasang sebagai plugin. TinyPNG tidak memiliki pilihan ukuran, gambar akan diperkecil secara otomatis, tapi kita bisa memasangnya langsung di blog dan mengoptimasi semua gambar. Silakan coba dan pilih mana yang paling membuat Anda nyaman.

Web Resizer

Web Resizer

  • Hapus semua image yang tidak diperlukan di media library. Pernah kan kita mengunggah _image untuk ilustrasi atau _featured image atau header, tapi ternyata gambar itu tidak cocok atau tampilannya kurang bagus. Nah, langsung hapus saja gambar-gambar yang tidak dipakai itu.
  • Hapus gambar yang file-nya terlalu besar di cPanel lalu ganti dengan gambar baru jika diperlukan.
    • Masuk ke cPanel ►File Manager ► public_html ► wp-content ►uploads ► pilih folder tahun ► pilih folder bulan ► lihat gambar mana yang ukurannya besar ► delete.
    • Karena di cPanel tidak ada thumbnail, untuk melihat gambar apa yang akan dihapus ► klik kanan ► view.

B. Optimasi Image Off-Site

Cara lainnya adalah dengan meng-embed gambar atau Insert from URL. Pada prinsipnya, kita menyimpan file gambar di tempat lain untuk menghemat kapasitas disk space hosting dan melampirkannya di blog post atau widget atau di mana pun di blog kita.

Sayangnya, cara ini bukan tidak memiliki kekurangan. Karena file-nya disimpan di tempat lain, browser memerlukan tenaga lebih untuk menampilkan gambar tersebut di blog sehingga akan sedikit berpengaruh pada loading. But so far, saya jarang sekali menemui masalah, sih.

Di simpan di mana? Google Photos, Photobucket, ImgBB, atau bahkan dari media sosial. Pixabay atau web free photo stock lainnya? Nope, foto dari sana tidak bisa di-embed. Dari Facebook atau Twitter bisa, sih, tapi akan menyebabkan broken link. Hahaha. Dropbox? Untuk file yang bisa diunduh oleh pembaca, saya biasa menggunakan Dropbox, tapi untuk image tidak karena, ya, memang tidak bisa.

Saya merekomendasikan menggunakan Image CDN untuk penyimpanan foto-foto web kita.

Image CDN untuk Mempercepat Loading WordPress dan Menghemat Diskspace
BACA JUGA

Image CDN untuk Mempercepat Loading WordPress dan Menghemat Diskspace

Loading speed dan keterbatasan diskpace adalah dua masalah utama yang sering dihadapi oleh para bloger dan webmaster yang menggunakan WordPress self …

Baca Selengkapnya

5. Optimasi Draft & Revision

Anda pernah menulis draft blog post langsung di WordPress? Mending kalau iya dipublikasikan, kalau hanya untuk menyimpan ide-ide biar tidak hilang lalu draft itu dibiarkan menumpuk begitu saja? Tah, nu kitu teh goreng gadag, ieuh. Hahahaha.

Meskipun ukuran draft itu tidak besar, tapi kalau ada 200 draft mah ya tetap saja memakan memori. Coba, deh, biasakan membuat draft di notepad atau di Word atau di tempat lain selain draft blog post.

Selain itu, riwayat revisi juga bisa memakan memori yang tidak sedikit. Anda pernah, kan, nulis satu paragraf save, tambah berapa paragraf save lagi? Nah, riwayat revisi itu akan disimpan di mana lagi kalau bukan di server hosting? Belum lagi WordPress sendiri memiliki fasilitas auto-saved.

Sekadar tip, hapus riwayat revisi jika blog post sudah dipublikasikan. Saya sendiri menggunakan plugin WP-Optimize.

Update 2019: Plugin WP-Optimize membuat CPU di server meningkat drastis yang berpengaruh pada performa blog kita. Jadi gunakan ketika diperlukan dan uninstal ketika sudah selesai.

6. Optimasi Konten dan Komentar

Tahu tidak kenapa saya menggunakan tampilan edan-edanan hanya untuk blog post lomba dan sponsored post? Ya, karena blog post untuk lomba itu membuat blog saya tertatih-tatih. Blog post-nya mungkin jadi bagus, ada entrance animation, hover, dan lain sebagainya. Tapi di balik itu semua, CPU Usage selalu berada di kisaran 90% yang artinya akan menghambat loading speed.

Hal lainnya adalah dengan mengoptimasi komentar. Itu komen-komen SPAM atau berisi broken link hapus aja lah daripada menuh-menuhin disk space.

7. Optimasi E-mail

Pada suatu hari, saya merasa bahwa memiliki alamat email dengan ekstensi nama blog sendiri itu keren. Tapi seiring berlalunya waktu dan mahalnya upgrade paket hosting, pikiran saya berubah.

Akhirnya daripada keberadaan email ini justru merampok memori, saya kembali menggunakan Gmail. Lagipula, email seperti el@langitamaravati.com itu isinya SPAM semua, belum lagi susah dibuka, belum lagi lambat pisan nyampena.


Cara untuk mengatasi low disk space memang bukan hanya 7 poin ini, ada banyak cara lainnya. Dari beberapa artikel yang saya baca, kebanyakan menyarankan untuk menggunakan plugin A, B, C, dan entah apa lagi. Padahal IMHO, sebagai webmaster kita harus tahu root cause-nya. Apa yang saya sampaikan sebetulnya hal-hal yang paling esensial untuk menghemat kapasitas hosting, tapi jika Anda memiliki ide lain, please feel free untuk berbagi.

Salam,
~eL

S H A R E:

Langit Amaravati

Langit Amaravati

Web developer, graphic designer, techno blogger.

Aktivis ngoding barbar yang punya love-hate relationship dengan JavaScript. Hobi mendengarkan lagu dangdut koplo dan lagu campursari. Jika tidak sedang ngoding dan melayout buku, biasanya Langit melukis, belajar bahasa pemrograman baru, atau meracau di Twitter.

Komentar