MENJAGA DAN MENGHARGAI TUBUH SENDIRI DENGAN NATSBEE HONEY LEMON

#AsikTanpaToxic

Meski lahir dengan kifosis (kelainan tulang belakang) dan memiliki riwayat alergi dengan daftar alergen sepanjang jalan kenangan, bisa dibilang saya tak pernah mengalami masalah kesehatan serius. Namun, hal itu berubah ketika pada tahun 2005 saya mulai bekerja sebagai buruh pabrik di Lobam, Pulau Bintan. Karena sehari-hari bekerja selama 12 jam, bersinggungan dengan epoksi, debu-debu intan industri, dan tinggal di dormitori yang notabene tetap berada di lingkungan pabrik, daya tahan tubuh saya melemah.

Saya mulai terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), mimisan nyaris seminggu sekali (dokter-dokter di sana sampai menyangka kalau saya mengidap leukimia), dan jangan tanya berapa kali alergi saya kambuh. Dari sekian ribu karyawan, barangkali saya memegang rekor karyawan yang paling sering dipulangkan dalam keadaan seluruh badan bentol-bentol sebesar koin dan wajah bengkak (moonface) atau hidung berdarah-darah.    

Di tahun keenam, tubuh saya benar-benar menyerah.

Saya tumbang diserang tifus dan ISPA, harus istirahat total selama 3 bulan. Berat badan saya turun hingga 10 kg. Walau bahagia karena bisa kembali memakai skinny jeans, tapi bukan diet seperti itu yang saya inginkan. Demi kesehatan, saya memutuskan untuk resign, pulang kampung ke Bandung, lalu meniti “jalan pedang” sebagai freelancer 

Sayangnya, walau berhasil “menyelamatkan diri” dari paparan polusi industri, itu tidak berarti tubuh saya benar-benar bebas dari polutan. Menurut data WHO, dari 7 juta kasus kematian yang disebabkan oleh polusi udara, 3.8 juta di antaranya justru disebabkan oleh polutan yang berasal dari asap rumah tangga. Iya, polusi juga bisa berasal dari rumah kita sendiri.

Penyakit yang Disebabkan Polusi Udara:
  • Pneumonia 16%
  • Stroke 20%
  • Penyakit Jantung 34%
  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) 19%
  • Kanker Paru-Paru 7%

Gangguan kesehatan yang saya ceritakan di atas hanyalah satu dari sekian banyak cerita sedih yang disebabkan oleh polusi dan toksin. Saya beruntung karena memutuskan untuk berhenti sebelum segala sesuatunya terlambat.

Kabar buruknya, polusi udara hanya satu dari sekian banyak faktor yang mengancam kesehatan manusia. Belum polusi tanah dan air, belum stres, belum makanan dan minuman yang kita konsumsi, belum tekanan sosial, belum ekonomi, belum tekanan perasaan #eh.

Intinya, setiap hari kita selalu berhadapan dengan toksin yang membahayakan kesehatan fisik dan mental.

Barangkali kita tidak pernah sadar bahwa setiap hari pula tubuh dan otak kita berjuang untuk melawan dan bertahan. Pertanyaannya adalah, usaha apa saja yang sudah kita lakukan untuk menjaga kesehatan?

Jenis-Jenis Toksin yang Berbahaya
Bagi Tubuh Manusia

Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap hari tubuh kita berpotensi terpapar atau bersinggungan dengan zat-zat berbahaya yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan. Zat-zat berbahaya ini ada yang menimbulkan reaksi langsung, ada pula yang mengendap dalam tubuh dan diam-diam menimbulkan kerusakan jangka panjang.

Dibutuhkan berpuluh lembar makalah khusus untuk membahas toksin ekstenal/internal dan bahayanya. Jadi kali ini saya akan membahas garis besarnya saja.

 

9

Polusi Air, Tanah, dan Udara

Polusi, apa pun jenisnya, berpengaruh buruk terhadap kesehatan makhluk hidup dan lingkungan. Bukan hanya itu, polusi juga menjadi salah satu penyebab kerusakan ekosistem.
9

Kuman, Virus, Bakteri

Kuman, virus, dan bakteri, tidak bisa benar-benar dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketiganya bisa berada di mana saja. Bisa menyebabkan sekadar flu sampai penyakit mematikan seperti demam berdarah.
9

Formalin

Formalin sering kita temukan pada produk-produk kayu, cairan pembersih, bahkan makanan. Bisa menyebabkan batuk, iritasi kulit, dan mata perih. Formalin juga bersifat karsinogen atau pemicu kanker.
9

Pestisida dalam Makanan

Setiap sayuran dan buah-buahan yang kita konsumsi bisa saja masih mengandung residu pestisida. Pada manusia, pestisida dapat menyebabkan kerusakan otak dan ginjal.
9

Styrofoam

Styrofoam mengandung benzena, salah satu komponen penyebab kanker. Styrofoam juga sulit terurai dan menjadi penyumbang sampah terbesar setelah plastik.
9

Zat-Zat Kimia

Misalnya zat kimia yang terdapat dalam produk sabun atau cairan pembersih lainnya. Tergantung komposisi bahan dasarnya, beberapa jenis sabun bisa menyebabkan iritasi kulit dan pengeruhan kornea bila terkena mata. Jika tertelan, larutan sabun (Lysol, Lysoform) dapat menyebabkan keracunan, gagal ginjal, kejang, syok, bahkan koma.

Aktivitas Sehari-hari

Pekerjaan utama saya sebetulnya orang tua tunggal dari dua orang anak (15 dan 4 tahun). Desainer dan blogger adalah pekerjaan sampingan. Sesekali turun jadi relawan. Sesekali juga datang ke event blogger untuk liputan.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang aktivitas sehari-hari. Barangkali sama saja dengan ibu-ibu freelancer lainnya. Ritual pagi dimulai sekitar pukul 6 atau lebih awal. Mencuci pakaian, mencuci piring, memandikan anak, menyiapkan sarapan, menyiram tanaman, beres-beres rumah, dan berusaha survive dari ranjau darat berupa lego atau mainan lainnya yang bertebaran di lantai.

“Ngantor” mulai pukul 8. Ibu-ibu pasti tahulah apa artinya bekerja sambil momong anak balita. Interupsi terjadi sekitar 10 menit sekali. Entah itu minta dibukakan bungkus makanan, minta diantar ke kamar mandi, minta dibacakan buku, atau ngajak main. Tak jarang pula, “bos besar” sudah menghilang dan ditemukan sedang main air di kolam ikan tetangga atau membuat mural dengan lipstik baru ibunya.

Saya baru bisa efektif kerja jika Aksa sudah tidur, saya sendiri tidur kalau to do list hari itu selesai. Jadi jangan heran kalau Anda masih melihat saya ngerusuh di Twitter pada pukul 1 atau 3 dini hari. 

 

Jam Kerja/Hari

Gelas Kopi

Jam Tidur

#AsikTanpaToxic

BERSIHKAN HARI AKTIFKU

Ada satu hal lagi yang mengancam kesehatan freelancer: gaya hidup. Freelancer atau profesi apa pun yang tidak banyak melakukan aktivitas fisik (sedentary) berisiko terkena tekanan darah tinggi, serangan jantung, gangguan kecemasan, depresi, dan dalam kasus-kasus tertentu bisa memicu kanker. Penggunaan mouse yang terlalu lama dan dengan posisi tidak benar dapat menyebabkan cedera otot tendon, ini yang paling sering saya alami. Freelancer yang terlalu lama duduk di dalam ruangan dan kurang minum juga berisiko mengalami gangguan pola makan dan kekurangan vitamin D.

Dengan 16 jam kerja per hari, itu artinya saya terpancang di depan meja selama 112 jam setiap minggunya. Ditambah dengan polusi, paparan toksin lain, pola makan buruk, dan tekanan pekerjaan, kesehatan saya pun sama berisiko dengan profesi lainnya. Jika tidak hati-hati, bukan tidak mungkin suatu hari tubuh saya memutuskan untuk “shutdown”

Ngomong-ngomong soal toksin dan risiko kesehatan, Anda pasti sudah tahu dong kalau kita bisa memanfaatkan bahan-bahan alami untuk mengikat zat berbahaya dan melepaskannya? Salah satunya adalah dengan lemon dan madu yang memiliki khasiat untuk detoksifikasi. Eits, tapi kalau Anda haroreaman seperti saya, ada minuman yang juga mengandung semua manfaat lemon dan madu: Natsbee Honey Lemon. Enggak perlu repot-repot memeras lemon atau berburu ke hutan mencari madu (yakali), tinggal minum aja. Natsbee Honey Lemon ini juga yang sering saya minum untuk mengurangi toksin dan menyegarkan tubuh. 

Nah, selain minum Natsbee, mau tahu cara saya menjaga kesehatan agar tetap aktif beraktivitas dan tetap #AsikTanpaToxic

1. Olahraga

Latihan kick boxing seminggu sekali. Lari dua hari sekali. Selain mencegah risiko kesehatan yang disebabkan pola hidup sedentary, olahraga juga membantu saya melepaskan toksin dari dalam tubuh, memperlancar metabolisme, dan memperbaiki struktur tulang belakang. Manfaat lainnya adalah ngasuh anak karena Aksa tipe anak yang tidak bisa diam, berlari-lari sepanjang lintasan di Brigif adalah rekreasi baginya.

Setiap kali olahraga, tidak lupa membawa bekal dua botol Natsbee Honey Lemon agar saya dan Aksa tidak dehidrasi dan tetap segar. Kandungan lemon dan madu di dalamnya juga membantu proses detoksifikasi. Jika biasanya lari 10 putaran saja sudah ngos-ngosan, seiring berkurangnya toksin dalam tubuh, jumlah putaran pun bertambah.

2.  Memelihara Tanaman

Ini baru saya lakukan sebulan belakangan. Meski bisa dibilang kesadaran yang terlambat, tapi masih jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Banyak jenis tanaman (indoor/outdoor) yang bermanfaat untuk menetralisir toksin sehingga memperbaiki kualitas udara di sekitar kita. Misalnya, tanaman sirih gading dan lili paris.

Tapi jika Anda punya anak balita, harap hati-hati memilih jenis tanaman untuk di rumah. Beberapa jenis tanaman memang bermanfaat memperbaiki kualitas udara, tapi juga beracun jika tertelan atau kontak langsung dengan getahnya. Contoh: daun bahagia dan monstera.

3. Sayur dan Buah Organik

Kita tidak pernah tahu di makanan yang mana residu pestisida, formalin, atau zat-zat berbahaya lainnya bersembunyi. Yang bisa kita lakukan hanya meminimalisasi dan mengubah pola konsumsi. Saya beruntung karena kenal teman yang bergelut di bidang sayuran dan buah organik. Jadi saya bisa memesan sayuran segar dan bebas pestisida sekaligus membantu bisnis teman.

Memang, sih, memilih dan memilah makanan seperti ini agak repot. Pun, saya tidak bisa pure mengonsumsi buah dan sayuran organik karena terus terang belum bisa sepenuhnya masak sendiri. Tapiii … kerepotan seperti ini sepadan dengan manfaat yang bisa kita dapatkan.

4. Menjaga Lingkungan

Enggak, saya enggak merevitalisasi hutan atau bikin seribu biopori. Hahahaha. Banyak, kok, hal-hal kecil yang bisa kita lakukan tapi tetap berpengaruh besar terhadap lingkungan.

  • Tidak membuang sampah sembarangan dan sebisa mungkin memilah sampah organik dan non-organik.
  • Mengurangi sampah plastik dengan cara membawa kantong belanja sendiri dan reuse plastik bekas pakai.
  • Sama sekali tidak menggunakan styrofoam. Kalau mau membeli makanan, biasanya saya bawa kotak makan sendiri.

Oh ya, kalau Anda punya banyak botol bekas Natsbee seperti saya, bisa lho dimanfaatkan untuk pot tanaman gantung. Isinya bermanfaat untuk menetralisir toksin dalam tubuh, botol kosongnya bermanfaat untuk menyumbang udara bersih di sekitar kita.

5. Mengurangi Stres

Masing-masing freelancer punya stimulan stres yang berbeda. Bagi saya, hal yang paling membuat stres adalah invoice yang lama cair, eh, tumpukan pekerjaan yang tidak teratur dan kesulitan memanajemen waktu.

Untuk mengatasinya, saya melakukan beberapa hal:

  • Membatasi jumlah order. Bukan berarti banyak banget orderan, sih, saya hanya menyesuaikan dengan kapasitas otak dan tubuh saya sendiri.
  • Daily, weekly, dan monthly planner. Dengan begini, saya punya target harian juga punya daftar order mana saja yang harus diselesaikan setiap harinya.
  • Tertib administrasi, termasuk manajemen keuangan. Mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran, menetapkan bujet bulanan, hanya membeli barang-barang yang memang saya butuhkan.

Manfaat Lemon dan Madu dalam Natsbee

Lemon (Citrus limon) adalah buah yang sudah sangat “tua”. Sudah diperkenalkan sejak zaman Yunani, 300 SM. Orang-orang Romawi bahkan menggunakan lemon sebagai penawar untuk berbagai jenis racun. Begitupun dengan madu, cairan manis ini sudah digunakan -baik sebagai konsumsi atau pengobatan- sejak 8 ribu tahun lalu. Karena khasiatnya, lemon dan madu sering digunakan dari mulai obat racik tradisional, industri makanan, kosmetik, sampai farmasi.

Jadi, apa saja sih manfaat NATSBEE Honey Lemon terutama untuk kita-kita yang aktif beraktivitas?
Berikut beberapa di antaranya:

Sistem Imun Tubuh

Kaya vitamin C (53 mg vitamin C/ 100 gram lemon), bermanfaat untuk menjaga sistem imun tubuh.

Detoksifikasi

Air lemon dapat membantu lever dalam proses pelepasan toksin dari dalam tubuh.

Antioksidan

Madu dan lemon sama-sama berfungsi sebagai antioksidan yang mencegah pertumbuhan sel-sel kanker serta mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung.

Mencegah Dehidrasi

Lemon mengandung elektrolit yang menggantikan cairan tubuh dan menghindari dehidrasi.

Meredakan Batuk

Campuran lemon dan madu sudah lama digunakan sebagai obat batuk tradisional.

Antibakteri

Memiliki kandungan hidrogen peroksida yang berfungsi sebagai antibakteri sehingga  mencegah dan mengobati infeksi.

Semacam Testimoni

Natsbee Honey Lemon tidak begitu manis, cocok bagi Anda yang tidak suka atau tidak boleh terlalu banyak mengonsumsi gula. Saya pribadi memang lebih suka jenis minuman seperti ini, teu giung kalau kata urang Sunda mah. Rasanya tidak terlalu asam sehingga aman bagi saya yang juga punya mag kronis. Tekstur minumannya ringan, segar, dan nyaris tak berwarna.

Oh dan satu lagi, saya sedang dalam fase alergi tungau debu yang mengakibatkan batuk parah. Meskipun lemon mengandung histamin, tapi justru kandungan vitamin C dan antioksidan di dalamnya membantu tubuh saya menyeimbangkan kadar histamin sehingga alergi saya mereda.

Overall, saya dan Aksa menyukainya bukan hanya karena rasanya, tapi juga manfaatnya.

TUBUH ADALAH AMANAT

Tubuh manusia memang sudah dilengkapi dengan organ-organ ekskresi atau proses pengeluaran zat-zat beracun dari dalam tubuh.  Sisa-sisa metabolisme akan dikeluarkan melalui keringat, urine, dan tinja. Namun, fungsi atau efektivitas organ ekskresi antara satu manusia dengan manusia lainnya bisa jadi berbeda, sangat tergantung kepada gaya hidup dan paparan zat-zat berbahaya yang diterima tubuh setiap harinya.

Di mana pun kita tinggal, entah itu di perkotaan yang penuh sesak dengan polutan atau di pedesaan yang udaranya belum tercemar, pada akhirnya kita tidak bisa betul-betul menghindari polusi dan toksin-toksin lainnya. Apa pun profesi kita, stres dan tekanan pekerjaan akan tetap ada.

Saya tahu, sekeras apa pun berusaha, saya tidak akan bisa hidup selamanya karena toh saya manusia. Makhluk biologis yang tubuhnya mengenal “masa kedaluwarsa”. Tapi dalam hal ini, tubuh dan kesehatan bagi saya adalah amanat. Sebagaimana titipan, tugas saya adalah menjaganya baik-baik. Kapan dan bagaimana cara tubuh ini dikembalikan ke tanah, biarlah itu menjadi keputusan-Nya: Sang Pemilik tubuh dan hidup saya sesungguhnya.

Salam,
~eL

Disclaimer

Blog post ini diikutsertakan dalam NATSBEE HONEY LEMON BLOG COMPETITION.

Sumber Referensi

  1. Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat, Farmakologi dan Toksikologi. Bandung: Penerbit ITB.
  2. Ameilia G. Dinda. 2010. Dampak Polusi Bagi Kesehatan Manusia. Makalah.
  3. WHO.
  4. National Geographic.
  5. Ruang Guru.
  6. The Guardian.
  7. Edison Institute of Nutrition.

Copyright

  1. Foto: Langit Amaravati, Unsplash.
  2. Ilustrasi: Langit Amaravati
  3. Teks: Langit Amaravati
Share This