Andai waktu bisa diputar ke belakang, ada banyak hal yang ingin saya perbaiki. Salah satunya adalah hubungan saya dengan Aksa, putra bungsu saya yang baru berusia 26 bulan itu. Beberapa bulan terakhir saya kerap sibuk dengan urusan saya sendiri dengan alasan yang semakin dibuat-buat: bekerjalah, mengawal konflik agrarialah, minta suaka WIFI-lah, liputan di luar kotalah, dan sebagainya, dan sebagainya. Padahal, jauh di dalam hati, saya tahu betul alasan saya apa: saya terlalu keras pada diri sendiri hingga lupa bahwa fungsi utama saya adalah seorang ibu, bukan pekerja, bukan pula relawan.

Akhir-akhir ini Aksa jadi lebih sering kolokan, lebih sering melemparkan barang, sering menangis ketika dijemput pengasuhnya, dan setiap kali saya bersiap-siap, dia selalu menatap saya dengan mata bulatnya, “Ana, Nda? Dedek ikut, Nda.”

Rengekan yang mau tidak mau membuat saya berpikir ulang, memangnya selama ini saya bekerja untuk siapa? Apalah arti kerja keras saya jika ujung-ujungnya justru menghancurkan hubungan kami? Mengapa saya lebih bersemangat menjadi bapak yang mencari nafkah alih-alih menjadi ibu baginya?

Jadi, ketika saya mengajaknya staycation di Zen Rooms Pasteur, hari Sabtu, 26 November 2016 kemarin, tanggapannya betul-betul di luar dugaan. Dia bertanya dari mulai ke mana kami akan pergi sampai menyarankan agar kami naik kereta api yang tentu saja harus saya tolak karena idenya agak-agak hiperbola. Iya, ternyata bukan saya saja yang butuh liburan, Aksa juga. Iya, kami berdua memang butuh menghabiskan lebih banyak waktu bersama.

aksa-kolase_1

Dia yang bahagia ketika diajak staycation sampai-sampai kabur ketika dipangkas rambut. (Foto: Yasintha)

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”no” background=”no”]Zen Rooms Pasteur Dangdeur[/heading]

hotel-amira_1

Hotel Amira, tempat kami menginap, terletak di Jalan Dangdeur Indah No. 20, Surya Sumantri, Bandung. Hanya berjarak 5.5 km dari tempat kos saya di Cibabat, kurang dari 1 km dari Babakan Sukaresik, tempat saya lahir dan dibesarkan. Saya kenal daerah Dangdeur, meski tidak lagi ingat kapan terakhir kali saya ke sana.

Tidak banyak yang saya persiapkan untuk staycation kali ini, hanya (((hanya))) membawa satu bagpack dan satu tas besar yang isinya lebih banyak barang-barang Aksa. Ternyata, liburan di dalam kota itu menyenangkan dan tidak “intimidatif”. Setidaknya saya tidak harus panik dengan perbekalan.

Ketika tiba di Amira sekitar pukul 2 siang, kami disambut akang-akang resepsionis. “Sudah booking via Zen Rooms atas nama Langit Amaravati,” ujar saya dengan gagah. Setelah mengkopi KTP, kami pun dibawa ke kamar 102, hanya selangkah dari meja resepsionis.

Anyway, booking kamar via ZenRooms ini emang asyik banget. Rate-nya itu, lho. Selisihnya sampai 200 ribuan jika dibandingkan dengan book via hotel langsung. Belum lagi dapet pouch cantik yang bisa banget dibawa pulang. Aku mah gitu da orangnya, bahagia banget kalau apa-apa boleh dibawa pulang teh.

Kamarnya tidak terlalu besar, standar tipe superior room-lah. Bagi saya sih cukup, meski bagi Aksa jelas tidak. Begitu masuk dia langsung berlarian kesana-kemari dan yaaa … tibabaradug tea ning. Mungkin lain kali kami harus staycation di lapangan futsal saja. T_____T

hotel-amira_2

Menandai daerah teritorial

Juragan weh sugan mah -__-

Juragan weh sugan mah -__-

Dari segi fasilitas, ZenRooms Pasteur Dangdeur cukup memadai untuk liburan keluarga kecil yang sedang rekonsiliasi bonding seperti kami. Tempat tidur queen size, televisi, lemari, air panas, air minum, kopi dan teh, AC, WIFI. Sayang, sinyal WIFI-nya agak luplep kalau di dalam kamar. Bagi saya sih tidak masalah, tapi jika Anda sedang dalam perjalanan bisnis dan membutuhkan Internet, Anda bisa kok menghubungi resepsionis untuk meminta password WIFI ID yang lain. Setahu saya memang ada beberapa ID sih.

Tapiii, saya suka letaknya yang tidak di pinggir jalan raya. Karena terus terang, saya benci tidur ditemani suara deru atau klakson kendaraan.

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”no” background=”no”]Hari Pertama Blogger Staycation[/heading]

Untungnya staycation kali ini saya tidak sendiri, melainkan bersama blogger lain. Yasintha, Ulul, dan Kang Ali Muakhir. Karena Amira tidak menyediakan room service dan tidak ada ATM center,  jadilah saya, Yasintha, Aksa, dan Ioo halan-halan ke depan untuk mencari makan siang. FYI, hotel berada di daerah pemukiman, sekitar 200 meter dari Jalan Surya Sumantri. Surya Sumantri adalah kawasan ramai, tidak sulit menemukan tempat makan siang. Ada banyak restoran cepat saji, restoran betulan, dan warung tenda di sepanjang jalan, terutama kalau malam. Tapi, jika Anda pemalas dan membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli di warung, sebaiknya beli dahulu sebelum ke hotel.

Usaha saya untuk memperbaiki hubungan dengan Aksa berjalan dengan lancar. Tidak ada insiden berarti. Dia pun tidak banyak tingkah. Ya, cuma melemparkan mobil-mobilan favoritnya ke kolam ikan di depan hotel dan tidak bisa diambil karena kolamnya cukup dalam, memecahkan gelas di tempat kami makan, berlarian hingga nyaris menyenggol wajan berisi minyak panas, menggulingkan vas bunga besar di depan meja resepsionis, dan menjatuhkan ponsel saya ke pinggir tempat tidur yang ngomong-ngomong perlu waktu lebih dari 30 menit untuk mengambilnya. (paragraf ini ditulis dengan helaan napas panjang)

Oke, jujur. Saya adalah orang yang workaholic, bahkan ketika sudah berjanji untuk betul-betul fokus ke Aksa pun saya tetap membawa laptop dengan niat untuk bekerja saat dia sudah tidur. Tapi mungkin karena sudah tiga hari saya nyaris tidak tidur, pukul 9 malam kami berdua sudah lelap. Rencana untuk foto-foto bersama Yasintha pun terpaksa batal karena saya sulit dibangunkan. Nyaman bangetlah bobonya.

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”no” background=”no”]Hari Kedua Blogger Staycation[/heading]

Oh iya, saya sudah cerita belum kalau staf ZenRooms Pasteur ini ramaaahhh banget? Mereka ngerti kalau kami membawa batita yang memiliki kans besar untuk membuat simulasi gempa bumi, jadi kalau anak-anak kami mulai berlarian di lobi atau menggulingkan vas bunga dan kami meminta maaf, mereka selalu tersenyum sambil bilang, “Nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga anak-anak.”

Dear staf ZenRooms Pasteur Dangdeur, 
Saya menghargai dan berterima kasih atas kesabaran kalian, sungguh. 😀

Seperti biasa, Aksa bangun pagi sekali. Dan seperti biasa pula, kegiatan memandikan dan memakaikan baju Aksa selalu diwarnai dengan insiden kejar-kejaran. Lumayanlah untuk mengurangi kalori. Tapi kali ini ditambahi dengan insiden dia yang menggedor-gedor pintu kamar mandi sepanjang saya mandi. Mamak-mamak yang senasib dengan saya coba mana suaranya?

Menu sarapannya asyik, lho. Macamnya tidak terlalu banyak sih, nasi kuning, lontong kari, sereal, roti bakar, buah, jus jambu, kopi, dan teh. Tapi rasanya enak, beneran. Papinya Ioo sampai nambah. (Eh, ini boleh dibahas di publik ga sih?) 😀

Dari sekian banyak ruangan di ZenRooms Pasteur, ruang makan semi outdoor ini adalah favorit saya. Karena luas dan letak satu meja ke meja lainnya tidak terlalu rapat, anak-anak bisa berlarian dengan gembira. Jadilah Aksa dan Ioo diasuh oleh Kakak Nabil (anaknya Ulul) sementara orang tuanya foto-foto. Selain itu tempatnya juga Instagram-able banget. Di pinggir ruang makan ada jalan setapak yang dipagari tanaman hingga membentuk lorong. Spot asyik untuk berfoto sehabis sarapan.

Ketika kami turun untuk sarapan, saya sudah memberikan briefing ke Aksa, meniru cara Yasintha mem-briefing Ioo. “Aksa, kita mau sarapan. Aksa nggak boleh lari-lari yah, nggak boleh mecahing piring atau melakukan simulasi gempa bumi.”

Apakah briefing yang saya lakukan berhasil? Tentu saja tidak, Marisol.

Sarapan dihiasi dengan:

[checklist type=”arrowed” margin_bottom=”no”]

  • Aksa memecahkan gelas jus ➤ kena charge 25 ribu
  • Aksa memakan semangka beserta kulitnya ➤ ini serius, dia nangis histeris waktu saya melarangnya, akhirnya saya biarkan agar dia tahu bahwa kulit semangka itu keras, seperti kehidupan
  • Aksa makan sereal dengan metode kobokan ➤ masukkan kedua tangan ke mangkok, ubek-ubek, makan
  • Aksa makan roti bakar yang dicelup jus jambu ➤ mungkin improvisasi, meski saya tidak berani mencobanya
  • Bercocok tanam ➤ sayangnya yang dia tanam adalah mobil-mobilan dan itu dilakukan di pot yang sudah ada bunganya

[/checklist]

aksa-kolase_2

Kiri: Dia yang sedang asyik makan sereal | Kanan: Dia yang sedang bercocok tanam

[heading centered=”yes” margin_bottom=”no” large=”no” background=”no”]The Most Favorite Moments[/heading]

Saya memang beruntung karena staycation bersama para travel blogger sekaligus fotografer kakoncara seperti Yasintha dan Ulul. Selain melatih kesabaran kencan dengan Aksa, bisa pula numpang difoto. Kalau kami harus difoto bertiga, tak usah welfie, cukup minta tolong kepada suami salah satu dari mereka yang juga fotografer. Di titik inilah saya mulai berniat minta balikan sama Akang (selain barista, dia juga tukang foto), dengan alasan yang teramat krusial: biar kalau ke mana-mana bisa ada yang motoin. ➤  Tanda-tanda gagal move on, abaikan, abaikan

Ya siapa pula yang tidak akan tergerak hatinya jika melihat hasil foto liburan sekece ini?

hotel-amira_8

Semacam pose foto keluarga, tentu saja saya yang paling tua | Foto: Papinya Ioo

Judul: Menunggu hilal jodoh | Talent: eL | Foto: Yasintha

Judul: Menunggu hilal jodoh | Talent: eL | Foto: Yasintha

Dan ya, saya juga harus berterima kasih kepada Saudari Yasintha Astuti karena berhasil meng-capture moment-moment saya dengan Aksa. Foto-foto inilah yang kelak menjadi saksi bahwa kami, saya dan Aksa, sesekali butuh menghabiskan waktu berdua agar hubungan kami kembali membaik. Foto-foto yang akan mengingatkan bahwa yang Aksa butuhkan dari saya bukan cuma biaya, melainkan juga kebersamaan.

Foto-foto yang berhasil “menampar” dan mengatakan kepada saya bahwa masa-masa tiga tahun pertama kehidupannya tidak akan pernah terulang. Saya rugi besar kalau berani-berani melewatkannya.

Foto: Yasintha

Foto: Yasintha

[icon icon=”heart” color=”” size=”small” icon_solid=”no”][/icon]

Kami check out sekitar pukul 11.30 siang. Sebelum pulang, Aksa kembali mengutarakan idenya agar kami naik kereta api atau angkot. Ide hiperbola Aksa ini kembali harus saya anulir mengingat bawaan kami yang seperti habis menginap seminggu. Meskipun Aksa nyaris menjatuhkan ponsel saya ke kolam ikan, tapi sepertinya saya tidak kapok staycation.

Nah, karena ada diskon 10% untuk second order di ZenRooms dan Zen Rewards berupa free night setelah melakukan pemesanan selama 6 kali, perlulah bulan depan diagendakan untuk staycation lagi. Dan karena ZenRooms tersedia di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Bali, Yogyakarta, Surabaya, Batam, dan Malang, mungkin sesekali kami harus pergi ke Jakarta, menumpang kereta api, dan menginap satu malam di sana. Agar ketika Aksa bertanya, “Ana, Nda? Aek eta api?” Saya akan dengan senang hati menjawab.

“Iya, Nak. Kita liburan lagi, naik kereta api.”

Salam,

~eL

Share This