Nordianto Hartoyo Sanan dan Menyalakan Sebuah Harapan

“Tahu enggak, Bun? Temen sekolah aku hilang selama seminggu, kabur sama pacarnya yang dia kenal lewat Facebook. Dia ditemukan di semak-semak, meninggal. Teman yang satu lagi menikah pas mau naik ke kelas 9 kemarin. Kabarnya sih karena hamil duluan,” cerita Salwa pada suatu sore ketika kami sedang dalam perjalanan.

Udara di taksi yang kami tumpangi tiba-tiba terasa menyesakkan. Dada saya tercabik-cabik, bukan hanya karena peristiwa nahas yang menimpa teman-teman putri saya, tapi juga karena kemungkinan itu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada Salwa.

Saya menghela napas, mengalihkan pandangan ke luar jendela untuk menyembunyikan mata yang mulai berkaca. “Kamu tahu, kenapa anak-anak di bawah umur tidak boleh melakukan hubungan suami istri dan belum boleh menikah?” tanya saya dengan suara penuh getar.

Salwa menjawab ragu-ragu, “Karena belum bisa mencari nafkah sendiri?”

Saya mengangguk, “Kamu benar, tapi ada beberapa alasan lainnya yang jauh lebih penting ….”

Maka perjalanan sore itu menjadi semacam diskusi dan sex education antara seorang perempuan dewasa dan perempuan yang sebentar lagi beranjak dewasa.

GenRengers Educamp

Cerita teman sekolah Salwa adalah cerita yang purba, sudah pernah kita dengar, kita lihat, dan barangkali kita alami sendiri. Namun, walaupun sudah sedemikian familiar, saya pribadi tidak pernah merasa terbiasa. Pernikahan dini, apa pun latar belakangnya, tetap saja membuat saya gelisah.

Kegelisahan yang sama juga dirasakan oleh Nordianto Hartoyo Sanan, pemuda asal Pontianak yang menjadi salah satu Penerima Apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018 di bidang kesehatan. Tapi, apa, sih yang dilakukan Nordianto sehingga layak mendapatkan apresiasi ini? Mari kita ngobrol-ngobrol lebih jauh.

Nordianto Hartoyo Sanan

Foto: IG Nordianto

Sadar bahwa kampung halamannya, Kalimantan Barat, merupakan salah satu provinsi dengan tingkat pernikahan dini tertinggi di Indonesia, Nordianto memilih untuk tidak tinggal diam. Pada tahun 2016, ia menggagas sebuah gerakan yang dinamai GenRengers Educamp, kamp edukasi dengan misi mencegah pernikahan dini dan seks di luar nikah.

Sasaran edukasinya tak lain dan tak bukan adalah para remaja itu sendiri.

 

GenRengers (GenRe) sendiri bukan program baru. Ini merupakan program yang dikembangkan BKKBN dalam rangka mempersiapkan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui pemahaman pendewasaan usia perkawinan. Dengan kata lain, mencegah pernikahan dini dengan cara memberikan edukasi kepada remaja sekaligus pada orang tua.

GenRe Educamp

Salah satu kegiatan GenRe Educamp

Seperti kita tahu, pendidikan reproduksi adalah topik yang sensitif dan sedikit tabu. Apalagi jika disampaikan langsung kepada anak remaja, salah sedikit saja bisa fatal akibatnya.

Untuk mencegah kesalahan penyampaian informasi, GenRe melakukan pendekatan yang persuasif sekaligus solutif:

Z

Kegiatan edukasi tidak dikemas dalam bentuk seminar, melainkan camping selama 3 hari 2 malam sehingga anak-anak remaja tidak bosan.

Z

Materi kesehatan reproduksi disampaikan dengan cara menyenangkan, diselingi dengan permainan.

Z

Selain diberi materi, para peserta juga diajak untuk menggali penyebab masalah sosial (dalam hal ini, pernikahan dini) di lingkungannya dan diajak untuk bersama-sama mencari solusi.

Z

Setelah camp selesai, para peserta diharapkan bisa “menularkan” edukasi yang mereka terima dan menjadi role model bagi remaja sekitarnya.

Dari Satu Jadi Seribu

Kegiatan GenRe educamp rupanya tidak hanya berhenti di Pontianak, tetapi menyebar ke daerah-daerah lainnya. Pada tahun 2016, educamp melibatkan 14 kota dan kabupaten, 10 kota dan kabupaten pada 2017, dan 4 kegiatan educamp di 4 titik berbeda pada 2018. Dalam perkembangannya, kegiatan ini direduplikasi di lima provinsi lain. Terlihat juga dalam susunan pengurus GenRe yang tersebar di berbagai belahan Indonesia. Di antaranya Kalimantan Barat, Jawa Barat, DKI Jakarta, Bengkulu, Jawa Timur, Yogyakarta, Riau, dan provinsi lain.

Hal-hal baik cepat sekali menular, bukan?

Lalu, apa saja, sih, yang diharapkan atau target apa yang ingin dicapai dari educamp ini selain mencegah pernikahan dini? Berikut beberapa di antaranya:

Z

Membentuk mental dan kepekaan remaja terhadap isu pernikahan dan kehamilan dini.

Z

Memberikan edukasi sekaligus kaderisasi tentang bahaya pernikahan dini.

Z

Memberikan edukasi tentang pentingnya merencanakan hidup sesuai fase baik dalam hal pendidikan, pernikahan, jenjang karier, dsb.

Z

Menumbuhkan kepekaan masyarakat terhadap isu ini.

IMHO, apa yang dilakukan oleh Nordianto dan dan kawan-kawannya di GenRe educamp jelas patut diapresiasi. Ibarat nyala lilin kecil, satu lilin bisa padam, tapi seribu? Akan tetap menyala terang bak pelita.

Malam Penganugerahan

Penyerahan piagam dan apresiasi 

9th SATU Indonesia Awards 2018

Nordianto adalah satu dari 7 pemuda Indonesia yang menerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018, ada 6 pemuda lainnya yang tidak kalah berprestasi yang profilnya bisa dilihat di www.satu-indonesia.com/satuindonesiaawards. Mereka adalah:

  1. Surya Dharma (Pendidikan – Sulawesi Tengah) dengan program tuntas belajar 12 tahun
  2. Mohamad Hanif Wicaksono (Lingkungan – Kalimantan Selatan) dengan program konservasi tanaman buah asli Kalimantan
  3. Franly Aprilano Oley (Lingkungan – Kalimantan Timur) dengan program pengelolaan karst
  4. Narman (Kewirausahaan – Banten) dengan program promosi dan penjualan kerajinan khas baduy
  5. Azza Aprisaufa (Teknologi – Aceh) dengan program penyediaan kebutuhan masyarakat melalui aplikasi saufacenter.com
  6. Meidy Fitranto & Faris Rahman (Kelompok – DKI Jakarta) dengan program pendirian perusahaan bernama Nodeflux untuk menyediakan teknologi berbasis intelligent video analytics dengan deep learning dan computer vision.

Saya beruntung karena memiliki kesempatan untuk hadir dalam acara penganugerahan yang dihelat pada Sabtu, 27 Oktober 2018 pada malam puncak Ideafest 2018, di Jakarta Convention Center, Senayan.

Program apresiasi yang digagas oleh PT Astra International Tbk ini jelas bukan yang pertama. Tahun ini sudah memasuki tahun kesembilan, 53 orang mendapatkan apresiasi tingkat nasional, 192 orang lainnya mendapatkan apresiasi tingkat provinsi. Jumlah yang akan terus bertambah setiap tahunnya.

Anda tahu apa yang pertama kali terlintas di benak saya ketika nama Nordianto dan programnya ditampilkan di layar di hadapan saya? Salwa, putri saya yang baru berusia 15 tahun dan cerita tentang teman-temannya.

Sebagai seorang ibu yang tidak akan pernah berhenti mencemaskan masa depan anak-anaknya, apa yang dilakukan Nordianto adalah titik api harapan. Api yang semoga saja tidak akan pernah padam. Api yang semoga saja terus menular, menyalakan lentera demi lentera sehingga tidak akan ada lagi anak-anak yang putus sekolah karena hamil di luar nikah. Tidak akan ada lagi anak-anak yang menjadi korban kejahatan seksual karena tidak paham dengan organ reproduksinya. Tidak akan ada lagi para penerus bangsa yang terpaksa menanggalkan mimpi-mimpinya.

Semoga, dan semoga.

Salam,
~eL

Share This