Peranan Para Mamah Muda dalam Konstelasi Politik Indonesia
Langit Amaravati
| May 29, 2019

Jika ada negara yang pantas dijadikan kiblat gerakan feminisme, saya kira Indonesia adalah tempat yang paling tepat. Bukan hanya karena kita punya para racer perempuan yang ketika mau belok lampu sein ke kiri beloknya ke …. hanya Tuhan dan tukang parkir Alfamart yang tahu. Tapi juga karena kita punya para cyber army tangguh yang rela berperang demi membela lelaki calon pemimpin pilihannya.

Sebutkan saja mazhab feminisme yang Anda anut, saya akan dengan senang hati memberikan contohnya. Radikal? Liberal? Sosial? Ngebor? Patah-patah? Semuanya dimiliki perempuan Indonesia.

Memang benar apa yang dikatakan Adam Jones dalam Does ‘Gender’ Makes the World Go Round?  bahwa perempuan memainkan banyak peranan, khususnya sebagai aktor politik. Bukan, aktor politik di sini bukan seperti Sri Mulyani atau Ibunda Susi Pudjiastuti. Pekerjaan menyelamatkan anggaran negara atau menenggelamkan kapal bisa dilakukan siapa saja, tak hanya perempuan. Aktor politik di sini juga bukan seperti Puan siapa itu. Saya tidak begitu paham tugas beliau, jadi mohon maaf kalau saya tidak bisa menyebutkan contoh.

Aktor politik yang saya maksud adalah para perempuan penggiat media sosial yang tegak berdiri di garis depan ketika ada kisruh politik, terutama pada masa-masa Pemilu 2019 kemarin. Seperti idealisme yang dipegang Ukhti Hanum Rais, kami ada dan akan selalu berlipat ganda. Ngomong aja dulu, mikir belakangan.

Dibandingkan lelaki, perempuan memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap rasa sakit, mungkin itu sebabnya kenapa kami tahan ngebahas Pilpres dari baru bangun tidur sampai tidur lagi. Dari yang sekadar deklarasi calon, jadi analis politik kambuhan, sampai saling nyindir dan nyindir. Kontennya pun beragam, dari sekadar debat kinerja sampai komen-komen menggoda.

Disadari atau tidak, mamah-mamah muda inilah yang menggerakkan roda politik di dunia maya melalui status dan share. Para mamah ini jugalah yang menentukan elektabilitas calon entah itu presiden, gubernur, atau walikota.

Sebagai pengamat politik garis lucu, saya akan membahas 6 lelaki yang berhasil menggerakkan para mamah untuk terjun ke ranah politik praktis. Demi keamanan negara, Jokowi dan Mr. Prabs saya lewati. Demi tidak difatwa haram lalu dirajam dan masuk neraka, Pak Ma’ruf juga saya lewati. *sungkem

 

1. Sandiaga Uno

Di awal-awal kampanye lalu SU pernah mengadakan photo session dengan pose duduk di bus kota dengan raut wajah menggemaskan. Jika para lelaki lebih banyak memberi komentar seputar campaign strategy, komentar mamah-mamah ini lebih sadis lagi: provokatif cenderung subversif.

Berikut beberapa komentar yang berhasil saya dokumentasikan:

  • Mz, mau ditemenin nggak, Mz? Kasihan duduk sendirian. ==> Ini komen janda baru, masih genit-genit gimana gitu.
  • Ganteng sih, tapiii … ==> Komen mamah-mamah anak dua dengan pernikahan bahagia.
  • Kok bus kotanya kosong? Dia sewa cuma buat difoto? Tahu gitu gue numpang. ==> Para mamah yang tinggal di Jakarta coret tapi bekerja di Ibukota.
  • Mintain nomor WA-nya, dong. ==> Yang ini kayaknya komen saya, deh.

Jika diperhatikan sekilas, barangkali komen-komen itu tidak memberikan sumbangsih apa-apa terhadap kemajuan bangsa atau peta politik di negeri kita tercinta. Tapi, saya curiga bahwa SU dengan kekayaannya pesonanya berusaha mengadaptasi konsep kampanye RK. Sayangnya, strategi ini dikotori oleh drama mahasiswi yang tiba-tiba minta dijadikan pelakor istri kedua dan ternyata cuma sandiwara panitia itu.

Untuk kalian para tim sukses, tolong camkan baik-baik: poligami adalah satu-satunya isu yang akan membuat nyaris semua perempuan Indonesia berada di barisan yang sama dan siap jihad.

2. Agus Harimurti Yudhoyono

Sebetulnya, AHY memiliki kans yang lebih besar untuk difavoritkan oleh mamah-mamah jika saja blio masih memakai seragam. Alasannya sederhana, karena mirip tokoh Kapten dalam drakor fenomenal The Descendants of The Sun.

Sayang, meskipun gagah, elektabilitas AHY kurang mencolok di mata mamah-mamah. Alasannya juga sederhana, karena AHY berada di rentang usia nanggung. Disebut om-om bukan, brondong juga bukan. Selain itu, karier politiknya –setahu kami- masih ingusan. Ia ibarat lelaki yang datang dari ketiadaan lalu tiba-tiba mengetuk pintu rumah dan ngajak menikah. 

Mungkin nanti tahun 2024, ketika blio sudah 40-an dan berada di usia yang sedang ganteng-gantengnya. Uwuwuwuw.

3. BTP a.k.a Ahok

Kubu mamah-mamah terbagi 3.

Pertama, mamah-mamah salehah yang cenderung memilih pemimpin seperti memilih jodoh: tampan, mapan, seiman.

Dua, mamah-mamah moderat yang berpendapat bahwa agama adalah urusan dengan Tuhan, yang penting mah kasih sayang, eh, kinerja yang sudah terbukti.

Tiga, mamah-mamah yang tidak tinggal atau memiliki KTP Jakarta tapi paling banyak komentar di media sosial.

Elektabilitas BTP turun naik di jagad Facebook, terutama pasca beliau keseleo lidah di Kepulauan Seribu. Yang tadinya moderat tiba-tiba berubah haluan ke kubu salehah, membuat status berisi kutipan ayat, ditambahi penyedap rasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad melawan kebatilan. Oh, dan tidak lupa dengan magic spell ini: Tuhan tidak tidur.

Seakan-akan kerjaan Tuhan cuma ngurusin Pilgub.

Mamah-mamah kubu salehah ini memang ruarrr biasa ghirah-nya, saya kagum dengan militansi dan konsistensi seperti ini. Konsistensi yang hanya bisa ditandingi oleh twit-twit Hoeda Manis perihal calon istri dan kredibilitasnya membuat nasi keras. (Semoga dia nggak baca tulisan ini)

Saya? Saya jelas tidak masuk ke dalam ketiganya karena meskipun saya setuju dengan kinerja BTP, tapi enggak suka cowok yang sering ngomong kasar. Sukanya cowok yang sering “main” kasar. #Sikap

4. Anies Baswedan

Cerita tentang Anies ini lain lagi. Anies masuk dalam kriteria calon imam sempurna. Ketika beliau dicopot dari jabatan menteri, media sosial begitu berduka. Kami, para mamah, saling berpegangan tangan sambil memeluk anak-anak kami, khawatir tentang sistem pendidikan dan masa depan mereka. Terlebih lagi ketika surat pamitnya diunggah ke media sosial dan dibagikan oleh jutaan orang. Makin berlinanglah air mata kami.

Salam perpisahan berhamburan, doa-doa dipanjatkan. Anies adalah satu-satunya menteri yang kata-katanya quote-able dan kami sayangi sampai … dia kembali dalam bentuk yang lain. Beliau adalah sebuah dilemma, persis seperti ketika kita punya pacar baru sesudah susah payah move on, lalu si mantan datang dan minta balikan.

Iya, para mamah sulit untuk memutuskan apakah akan memilih blio yang memenuhi kriteria calon jodoh idaman ataukah setia dengan gubernur dari masa lalu.

5. Rocky Gerung

Mbep Rocky Gerung memang bukan kontestan, tapi di mata perempuan Indonesia, RG masuk dalam kriteria cowok yang bukan hanya bisa diajak diskusi politik, tapi juga pantas disepik.

Kalau tidak percaya, coba Anda baca reply-an twit-twitnya. Banyak akun cewek yang membalas dengan puisi, ada yang sekadar bilang rindu, ada pula yang setiap dua menit bilang “I love you”.

Ini jelas manuver politik yang cukup progresif, kalian cowok-cowok yang hanya cuma bisa saling mendungukan satu sama lain sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan balasan twit cewek-cewek itu.

Saya akui, meskipun omongannya lebih rumit dari tagihan akhir bulan, RG memang memesona sehingga banyak perempuan bertekuk lutut di thread twit-twitnya. Ya, mungkin mbak-mbak itu belum tahu aja gimana rasanya punya pasangan anak filsafat. Anak filsafat itu, girls, kita telat bikin kopi aja dibahasnya pakai kerangka Kierkegaard. Rumit! *curhat

6. Honorable Mention: Jan Ethes

Indonesia harus bersyukur karena punya tokoh pemersatu bangsa: Jan Ethes. Perannya dalam mendamaikan para mamah muda sudah terbukti dan diakui. Tidak ada para simpatiasan yang terlalu kerad di tangan balita ini. Semuanya sepakat dengan suara bulat bahwa Ethes itu menggemaskan.

Yang punya anak cewek memasang foto Ethes di wallpaper HP dan mendaulatnya sebagai calon menantu masa depan. Yang punya anak cowok sudah pasang strategi jangan sampai anaknya kelak bersaing dalam mendapatkan pasangan.

Ethes sekaligus membuktikan premis bahwa perempuan, sebrutal apa pun di lini masa, pada akhirnya akan jatuh cinta pada lelaki yang tepat. *naon?

See? Kami para mamah bahkan tidak perlu mendengar janji-janji atau orasi. Kami memilih berdasarkan intuisi dan kata hati. Untuk memertahankan lelaki pilihan kami, kami bersedia berperang di jagad maya melalui status-status kami yang brilian. Status yang dibuat di sela-sela aktivitas menyusui atau menunggui anak di sekolah.

Kami membagikan tautan-tautan berita dari sumber yang kadang tidak pernah kami cek validitasnya. Untuk apa? Perang status di Facebook sudah cukup mengurus tenaga kami, Bang. Janganlah kau tega kali nambah-nambah kerjaan kami. (Eh naha jadi logat Batak?)

Jangan pernah, saya ulangi, jangan pernah meremehkan suara mamah-mamah. Perempuan, Bung dan Nona, bisa menghentikan Perang Troya hanya dengan taktik “boikot kamar”. Sekadar Pilpres sih keciiilll. Keberanian kami meneriakkan aspirasi politik lebih agresif daripada ketika kami titik titik.

Oh, dan tolong jangan pernah khawatir tentang konflik horizontal yang mungkin saja timbul akibat status-status kami yang tak jarang berbau SARA. Ketika di dunia maya kami memang garang segarang-garangnya garang, kami tidak segan-segan saling sindir atau nyinyir atas nama kebebasan berpendapat.

Tapi, ketika bertemu, kami akan selalu ingat untuk menjaga tali silaturahmi, cipika cipiki, welfie, lalu mengunggahnya di Instagram dengan caption, “Best friend forever”.  

Melihat konstelasi politik dan relasinya dengan mamah-mamah, saya mengambil 3 kesimpulan:

1. Hilangkan Bilik Suara

Sebaiknya bilik suara dihilangkan, lumayan untuk menghemat anggaran. Toh nyoblos bukan “kegiatan ngamar” lagi karena aspirasi politik sudah diteriakkan di ruang publik.

2. Mamah-Mamah Sebagai Target Kampanye

Jika ingin memenangkan pemilihan, pertimbangkan mamah-mamah sebagai target audiens pertama, kalau perlu, yang utama. Pikat hati kami dengan cara elegan seperti misalnya hmmm … selalu tampil mesra dengan pasangan atau dengan anak. Itu simbol lelaki setia dan kami mendukung kesetiaan. Prinsip kami sudah jelas: jika seorang lelaki sanggup memimpin keluarganya, maka ia akan sanggup memimpin negara. 

Untuk yang enggak punya keluarga gimana? Ya, bisa memakai strategi pura-pura rujuk sama mantan, misalnya.

3. Tak Ada Calon Tanpa Cela 

Tak ada satu pun calon yang tanpa cela. Kami para perempuan memang pandai sekali mencari-cari kesalahan para lelaki. Camkan ini, kawan!

Saya tahu bahwa pada saat-saat seperti ini suhu media sosial sedemikian panas dan tulisan ini jelas tidak dimaksudkan untuk meredakannya. Tapi jangan khawatir, kami sudah terlatih cyber war dari mulai masalah susu formula vs ASI sampai persalinan normal vs sesar.

Setelah Pemilu berlalu, tak ada satu pun dari keenam lelaki tersebut yang akan kami bela-bela lagi sebab kami sadar bahwa lelaki tampan dan mapan dan terkenal akan kalah orang lelaki yang selalu ada. Yang punya pasangan akan kembali menjadi mamah-mamah nan manis bersahaja dan gemar mengunggah foto berdua lalu nge-tag suami meski dianya jangankan komen, nge-like saja tidak.

Yang enggak punya suami kayak saya gimana? Ah saya mah jangankan foto bersama, WA aja enggak pernah dibales. Hiks. 

Salam,

~eL

Share This