Ratecard Bukan Perkara Nominal, Kawan!

Last updated Jul 24, 2019 | BLOGGING | 95 comments

Bekerjalah seperti seorang amatir, tapi kirimkan invoice seperti seorang profesional. Prinsip inilah yang selama ini saya pegang dalam menyikapi monetisasi blog. Untuk sponsored post, content writer, atau buzzer, saya bekerja seperti seorang amatir yang bekerja karena cinta. Tapi ketika mengirimkan invoice, saya berubah menjadi seorang profesional yang memastikan bahwa jerih payah saya dibayar.

Tapi uang bukanlah segalanya sebab ada hal-hal yang tidak bisa dinilai dengan angka. Itu sebabnya saya tidak punya ratecard yang spesifik. Iya, saya tahu kemampuan saya sampai di mana, sebagai blogger saya kan masih entry level.

Iya, saya tahu “harga pasaran” berapa. Tapi sekali lagi, banyak hal yang saya pertimbangkan ketika menerima pekerjaan atau ketika mengajukan nominal kepada klien.


Menetapkan Ratecard

Bagi blogger baru yang masih bingung tentang ratecard, secara sederhana, ratecard adalah “daftar harga” jasa-jasa kita.

Berikut beberapa pertimbangan dan langkah-langkah yang saya lakukan ketika menetapkan ratecard:

1. Ketahui Harga Pasar

Penting untuk mengetahui harga pasar agar saya tidak menetapkan ratecard yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ini untuk menjaga stabilitas harga di kalangan blogger. Untuk kerja sama yang bersifat one night stand (Istilah lu, Chan!), biasanya saya akan memberikan ratecard di atas rata-rata atau di batas minimal.

Contoh:

  • Content placement ► 250 ribu
  • Sponsored post ► 500 ribu – 3 juta (tergantung kuantitas tulisan dan jenis promonya)
  • Social media campaign ► 100 – 500 ribu/post
  • Content writer ► 350 ribu/artikel (500-750 kata)
  • Consultant ► 500 ribu – 12 juta (personal dan korporasi, tergantung tingkat kesulitan)

Referensi tambahan: Cara Membuat Media Kit & Ratecard

Jadi kalau ada klien yang hanya satu kali kerja sama, biasanya saya akan mengajukan ratecard seperti di atas. Kadang boleh nego, lebih sering tidak.


2. Minta Penawaran

Ini tip yang saya dapatkan dari Teh Ani Berta. Kalau ada calon klien yang menanyakan ratecard, saya akan meminta penawaran dari mereka dulu. Bila sesuai dengan batas minimal, ya saya terima, jika tidak, ya, nego atau ditolak. Sesederhana itu.

TIP:

  • Tanyakan berapa bujet yang mereka alokasikan.
  • Tanyakan goal seperti apa yang ingin mereka capai. Misalnya, harus mendapatkan 5 ribu like, pageview sekian, CPA (cost per action) sekian, dsb. Tinggal kitanya yang hitung-hitungan, dengan goal yang diminta, sanggup enggak kita memenuhi itu? Harganya masuk akal enggak?
  • Tanyakan bentuk kerja samanya secara detail. Harga satu artikel dengan 2 backlink tentu berbeda dengan harga satu artikel dengan 5 backlink.
  • Tanyakan kuantitas tulisan dan jenis kelengkapannya. Misalnya, mereka minta berapa kata. Apakah harus ada foto asli yang kita ambil sendiri ataukah boleh memakai foto dari tempat lain (tentu saja dengan atribusi). Apakah harus ada infografis, video, atau lainnya?
  • Setiap blogger memiliki kebijaksanaan sendiri tentang kuantitas tulisan. Kalau saya, pokoknya jangan minta artikel di bawah 750 kata. Saya enggak bisa nulis pendek, sukanya yang panjang-panjang.

FYI, ada beberapa tipe calon klien:

  • Klien idaman banget ► yang memberikan penawaran terlebih dahulu dengan nominal di atas batas minimal.
  • Klien idaman ► yang meminta ratecard dan deal tanpa nego.
  • Klien masih idaman ► yang meminta ratecard, nego dikit, lalu deal.
  • Klien naon atuh ieu teh ► yang meminta ratecard, lalu hilang tanpa kabar. Mirip-mirip mantan pacar saya gitu lah. *eh
  • Klien minta dijambak ► yang meminta ratecard, bilang kemahalan dan membandingkan kita dengan harga yang diberikan blogger lain, lalu hilang tanpa kabar.

3. Jenis Pembayaran

Tidak semua klien membayar dengan uang tunai, ada juga yang membayarnya dengan produk (barang atau jasa) atau voucher. Menurut saya ini penting untuk dipertimbangkan karena kadang produk atau voucher yang diberikan justru tidak bermanfaat bagi kita. Misalnya, ada calon klien yang menawarkan barter sponsored post dengan voucher salon tapi salonnya di Jakarta. Ya buat apa atuh da saya mah tinggalnya di Cimahi. Kudu ka Jakarta heula mun rek nyalon? Tidak berfaedah.

Dibayar dengan produk juga harus milih-milih, lho, karena tidak semua produk bisa dijual lagi bermanfaat bagi kita. Misalnya, saya akan menolak kalau ada klien yang mau barter sponsored post dengan mobil karena saya tidak bisa menyetir dan tidak punya garasi. (Yakeeennn bakalan nolak mobil?)

TIP:

  • Opsi pertama dan utama: dibayar tunai.
  • Saya lebih suka voucher Sodexo daripada MAP karena Sodexo bisa dipakai di lebih banyak merchant.
  • Kalau dibayar dengan produk, pastikan produk itu memang akan kita gunakan. Kalau tidak kita gunakan, pastikan produk itu memiliki nilai ekonomi dan mudah dijual kembali. Kok dijual lagi? Ya, daripada enggak dipake.
  • Voucher diskon gimana? Biasanya akan saya tolak karena ah haroream weh. Kalau diskonnya 100{02d8985cb44908aab44f386f6bd0e95916cda84c60bf28944fb245c4f338b584} sih leh uga.

4. Kerja Sama Jangka Panjang

Ada beberapa klien yang memberikan fee di bawah batas minimal tapi job yang diberikan banyak dan terus-menerus. Setiap bulan selalu ada sponsored post atau content writing atau social media campaign. Ini jenis klien yang harus ditangani dengan serius. Maksudnya, harus di-maintain.

TIP:

  • Demi menjaga hubungan baik, kita tak harus menerima semua job yang ditawarkan. Pilih jenis job yang sesuai dengan blog dan karekteristik audiens sosial media kita.
  • Pertimbangkan juga sebesar apa effort yang harus kita berikan. Kita sendiri yang tahu apakah honor yang ditawarkan sesuai atau tidak.

5. Jangka Waktu Pembayaran

Saya pernah punya klien yang nilai invoice-nya lumayan tapi baru cair setelah tiga bulan. Ada juga klien yang tulisan belum publish tapi honor sudah ditransfer. Kalau bukan klien jangka panjang, biasanya saya mengindari klien yang jangka pembayarannya lebih dari 30 hari.

TIP:

  • Ketahui jangka waktu pembayaran dengan pasti agar kita tidak usah harap-harap cemas menunggu invoice cair.
  • Jika sudah lewat tenggat waktu yang disepakati tapi pembayaran belum diberikan, jangan segan-segan untuk bertanya. Ini untuk membantu klien sekaligus membantu diri kita sendiri.
  • Kalau jangka waktu pembayaran menurut kita tidak sesuai, lebih baik tidak usah diterima daripada kerja tapi kukulutus.
  • Jika ada masalah dengan tenggat waktu pembayaran, yang harus pertama kali Anda hubungi adalah klien, bukan curhat media sosial. Kirim surel, tanyakan baik-baik, minta kejelasan dan tanggal pasti, lalu tunggu.

Referensi tambahan: Cara Membuat Invoice untuk Blogger

Untuk agensi seperti Sociabuzz atau iBlogMarket, saya tidak menetapkan tenggat waktu melainkan jumlah invoice. Dikumpulkan dulu sampai beberapa invoice supaya nominalnya cukup besar. Hitung-hitung nabung.


6. UKM/Usaha Milik Teman

Untuk UKM atau usaha yang dimiliki teman, saya jarang minta bayaran. Biasanya saya akan dengan senang hati mempromosikan produknya for free. Semacam personal social responsibility.


7. Efforts

Misalnya, ada klien yang menawarkan sponsored post tapi untuk menulis itu saya harus pergi ke Surabaya. Honor yang mereka tawarkan sebesar 1 juta all in. Ini jelas akan saya tolak karena saya harus mengeluarkan dana untuk transportasi dan akomodasi. Tarohlah setelah dikurangi ongkos, honor yang tersisa sebesar 250 ribu. Ya, mending saya pacaran ngerjain layout-an di kosan daripada jauh-jauh pergi dan hanya dibayar segitu.

Bukannya sok ngartis, tapi saya kepala rumah tangga, bertanggung jawab atas hidup anak saya. Nyari duit enggak harus segila itu.


8. Kredibilitas Klien

Ini pertimbangan terakhir yang saya pakai ketika menetapkan ratecard. Misalnya, kalau Samsung meminta ratecard, saya tidak akan memberikan angka 500 ribu, tapi 2 juta. Kenapa? Takutnya mereka merasa terhina kalau saya kasih harga murah. *ditabok

Sama halnya ketika bertemu klien yang perhitungan. Klien yang menganggap bahwa menulis sponsored post itu semudah bersin sehingga pantas dibayar murah. Ada juga yang menambahi dengan kalimat, “Kami biasa membayar blogger lain dengan harga yang kami tawarkan dan mereka setuju, kok.” Bila berhadapan dengan klien tipe ini, saya jarang mau nego. Bodo amat, cari aja blogger lain kalau gitu.

Referensi tambahan:


Well, selama satu setengah tahun (iya, saya masih pemula di bidang monetisasi) honor terbesar dari monetisasi sebetulnya bukan hanya perkara angka yang tertera di invoice. “Honor” juga bisa berupa hubungan baik dan jangka panjang dengan klien, kepuasan klien sehingga kelak mereka menggunakan jasa saya lagi, kepuasaan klien sehingga mereka merekomendasikan saya kepada klien lain, dan tentu saja melatih kemampuan saya menulis.

Oh, dan satu lagi, tidak semua review di blog ini adalah sponsored post. Kadang saya menulis review produk (barang atau jasa) karena ingin berbagi informasi, ingin berbagi pengalaman.

Tapi ada satu hal yang paling penting: sponsored post dibuat untuk pembaca, bukan untuk klien. Tugas kita sebagai blogger dan buzzer adalah untuk membantu pembaca dan calon pembeli mengambil keputusan. Pastikan kita jujur dan memberikan ulasan yang objektif terhadap produk yang sedang kita ulas.

Salam,
~eL

Related Articles

Website Bisnis, Menjaring Peluang di Era Ekonomi Digital

Website Bisnis, Menjaring Peluang di Era Ekonomi Digital

Indonesia, Kepulauan DigitalBill Gates tidak bercanda ketika mengatakan, "Jika bisnis Anda tidak ada di internet, maka bisnis Anda akan gulung tikar." Kedengarannya memang agak berlebihan, tapi di era ekonomi digital, go online adalah hal yang tak bisa...

Pengertian dan Istilah-Istilah SEO untuk Pemula

Pengertian dan Istilah-Istilah SEO untuk Pemula

Apa yang dimaksud dengan SEO? Apa manfaatnya untuk blog atau web yang kita kelola? Meskipun peringkat bukanlah segalanya, tapi sebagai blogger saya kira kita perlu memahami SEO agar blog kita terhindar dari bahaya laten kesepian. Hmm ... maksud saya, sepinya trafik,...

Membuat Custom Post Layout dengan Gutenberg

Membuat Custom Post Layout dengan Gutenberg

Sejak resmi dirilis sebagai default editor di WordPress 5.0 awal Desember lalu, Gutenberg membuat jagad WordPress agak gempar. Kegemparan bukan hanya terjadi di kalangan blogger pengguna self hosted, tapi juga di kalangan developer dan jutaan pengguna WordPress...

Comments

95 Comments

95 Comments

  1. Witri Prasetyo Aji

    Keren banget, udah jut-jutan nih

    Consultant… mendadak merinding, 12 juta 🙂

    padahal aku mau konsul loh teh… heheh

    Reply
  2. Nurul dwi larasati

    Bermanfaat nih teh El. Saya sedang kerjasama tapi invoicenya ditunda lagi sebulan. Padahal udah ngarep pake banget bakal cair bulan ini.

    Reply
  3. Rusydina Tamimi

    membantuu sekali teh langit tulisannyaa 😀
    sukaa sukaa hihi
    kadang sering bingung ih sama rate card huhu

    Reply
    • LangitAmaravati

      Semoga bermanfaat dan semakin banyak sponsored post 🙂

      Reply
  4. Ade Delina Putri

    Intinya untuk menentukan rate card harus dilihat juga ‘kredibilitas’ kita sendiri ya. Nice teh!

    Reply
    • LangitAmaravati

      Iya, kitalah yang tahu kemampuan kita sampai di mana.

      Reply
  5. Gisela Vianney

    Bermanfaat banget ini huat blogger newbie kayak akuuu ❤
    Makasih banyak ka! *langsung bookmark

    Reply
  6. Hilda Ikka

    Huwaah makasih banyak pencerahannya ya Teh. Duh aku merasa bersalah ama klien2 ku dulu mungkin kurang puas hihi. Aku mau perbaikin kualitas dan lebih profesional ah kayak Teteh 🙂

    Reply
    • LangitAmaravati

      Sama lah, aku juga masih belajar lebih profesional. 😀

      Reply
  7. herva yulyanti

    keren sekali teteh sampe dua digitlah 😍😍 aku mendadak amnesia rek komen terkesima sama angka hahaha thx u teh

    Reply
  8. Ucig

    Artikelnya geulis banget teh 😀
    Utk UKM atau usaha temen, aku setuju sekaliiii…
    Nuhun…

    Reply
    • LangitAmaravati

      Iya, blogger lain pun kebijakannya sama kok kalau untuk UKM.

      Reply
  9. andyhardiyanti

    Yang minta penawaran itu belum pernah saya coba. Bagus juga ya, biar tahu budget mereka berapa gitu 🙂

    Reply
  10. Merida my id

    12 jeti mameeen.. you’re rock mba eL
    Lgsg aku bookmark nih. Tq so much ya

    Reply
    • LangitAmaravati

      Dih, harga segitu kan untuk korporasi. Itu pun karena aku bikin tim.

      Reply
  11. Lucky Caesar

    Makasiih mbaaaak sharingnyaaa. Bermanfaaat bangeeet. 😄 Harus bijak dan lebih professional juga ya mbak dalam memberikan ratecard . 😊 mbaak panutaan emang hehehe. .

    Reply
  12. Enny Law

    kerenlah si teteh, aku mw tiru 😀

    Reply
  13. Iskandar Dzulkarnain

    Tanya balik budget ini belum saya coba. Bisa dicoba nanti kalo ada yang nawarin job review. Makasih.

    Reply
  14. Prima Hapsari

    Lengkap teh. Emang klien jangka panjang kebanyakan rate dibawah minimal, gpp dikit yg penting rutin.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Iya, jadi kalau dapat job yang regular rasanya udah kayak gajian. 🙂

      Reply
  15. Widyanti Yuliandari

    Tfs chan. No 2 dan 8 masih sering lupa aku. Wkwkwk… Kalau poin lainnya, kita mirip ternyata.

    Reply
    • LangitAmaravati

      Ini emang panduan standar yang sering dipegang para blogger. 🙂

      Reply
  16. endang cippy

    Terima kasih sdh berbagi dan berbuka-bukaan
    sedikit rahasia dapur. 😊🙏
    Jadi lebih mengerti dunia blogger 😊 😄

    Terima kasih u Titis. teman yg sdh berbagi link ini 😊😘

    Reply
  17. Widya

    Menambah wawasan sekali mb..
    Salam kenal.. 😊

    Reply
  18. iKurniawan

    Terima kasih sharingnya mbak
    walau masih jarang (banget) ada yang minta rate card blog saya, tapi pasti bingung kalau pas ditanya “berapa rate card” nya
    🙁

    Reply
    • LangitAmaravati

      Semoga nanti makin banyak yang nanya ratecard dan deal. 🙂

      Reply
  19. Dewi Nuryanti

    Makasih Teh untuk uraiannya mengenai rate card. Berguna bgt untuk saya yang baru ini.

    Reply
  20. Hastira

    makasih tip2nya

    Reply
  21. Fubuki Aida

    Terima kasih mbak
    Tulisannya memotivasi untuk menghargai tulisan karya sendiri.

    Reply
  22. Rhoshandhayani KT

    Wuah iya tuh, aku pernah ditawarin imbalannya berupa voucher belanja, tapi cuma di wilayah jabodetabek
    Padahal kan aku di jember
    Jauh banget laaaaah
    Juga nggak seberapa
    Hahaha

    Reply
    • LangitAmaravati

      Hahahah. Sering bingung kalau dapet voucher yang enggak bisa dipake.

      Reply
  23. shona

    Uish manstaaap.. lengkap sedaaapp..

    btw DA PA mempengaruhi kan teh. utk nilai diatas 10 atau 15 dst misalkan.

    Reply
  24. Khoirur Rohmah

    Jadi, rate card juga disesuain sama kemampuan blogger menyanggupi yang diminta klien ya, unchan?
    Syukurlah banyak ilmu lagi di sini, selalu saja bingunh kalo ditanya ratecard, tapi nanti baliknya pun juga ke pertanyaan2 yg terpampang di situ juga sik. Heee
    TFS Unchann 😘😍😍😍😍

    Reply
    • LangitAmaravati

      Iya, supaya nanti hasilnya maksimal. Eh tapi aku juga masih belajar sih untuk poin ini mah. Berusaha menahan godaan honor dan mengkaji kemampuan sendiri.

      Reply
  25. Shine Fikri

    Mantap, jadi tercerahkan.
    Dibayar pertama kali pernah sampe jut jut gitu. Tapi seiring banyaknya Blogger sekarang, jadi nurun eta si ratecard 😂

    Reply
  26. Faridilla Ainun

    Makasih infonya, alhamdulillah ya kalo dapat klien idaman banget 😀

    Reply
    • LangitAmaravati

      Iya, dapet klien idaman banget itu rezeki yang luar biasa. 🙂

      Reply
  27. Yasinta Astuti

    Makacii teteeeh. Harus cerna baik – baik semuanya dulu ini

    Reply
  28. Putu Ayu

    Huduuuh teh Langit profesioanl bingiiits! Nuhun sharing-nya.. Sukses selalu ya ^^

    Reply
  29. yellsaints

    Tulisan yang seperti ini yang aku cari-cari selama ini.

    Terima kasih banget mbak infonya, detail dan enak cara ulasannya.

    Reply
  30. Rudi Hartoyo

    makasih sharingnya mbak,, bermanfaat banget untuk belajar yang seperti ini. 🙂

    Reply
  31. Rotun DF

    Makasih sharingnya Teteeeh^^
    Klien minta dijambak, ada bangeeeet. HAHAHAHA
    Btw tentang voucher MAP, di Palopo sini cuma ada satu merchant, yaitu Sport Station. Jadilah dari job berbayar voucher, aku telah mengoleksi 4 pasang sepatu sport. Sungguh sebuah motivasi untuk rajin olahraga. LOL.

    Reply
  32. Lia djabir

    Aku suka bingung kl ada yg bilang jd blogger jgn money oriented. Abisnya gimana dong… Untuk nuliskan butuh effort. Kl gak sesuai, lebih baik saya menghabiskan waktu dengan anak saya drpd nulis sponsor post *curcol hehehe
    Thx for sharing yaa teh… Ternyata urang bandung tohh. Siapatau pas mudik kebdg, aku bisa berguru kepada dirimu 😘😘

    Reply
  33. samuri chan

    Thanks for sharing mba… Kalimat pembukanya ngena’ banget.
    Baru tahun ini merasakan jadi buzzer, gak pernah kepikiran untuk tetapkan harga atas jerih payah sendiri.. Biasanya dikasi segitu ya terima saja. hehehe…

    Sangat bermanfaat tulisannya.. Salam Kenal mba.

    Reply
  34. Irly

    Bener Teh, kadang tawaran berupa voucher itu lebih gede, tapi jadinha mesti belanja. Males, saya kan sukanya menabung #eh

    Reply
  35. Dita Indrihapsari

    Waaahh makasiih ya teh udah nulis ini.. Jadi tercerahkan buat aku yang blognya belum begitu dimonetize.. 🙂

    Reply
  36. Eko Nurhuda

    Aku suka gak jodoh sama trik tanya balik itu. Ada beberapa agency yg kutanya balik budget mereka berapa malah ngilang tanpa kabar. Tapi ada juga sih yg sukses, maksudnya sukses bikin mereka nyebut tawaran fee yang biasanya sih tega banget. Masa iya ada yang nawarin 50rb per artikel dengan tambahan, “nanti kita kerja sama jangka panjang bla bla bla.”

    Anyway, nice post. Bermanfaat banget buat blogger ampas tahu macam aku 😂

    Reply
  37. Yurmawita

    Wadaw merinding lihat angkanya teh, tapi sebanding juga ya dengan ilmu nya teh langit yang melangit klien pasti puas dengan artikelnya,

    Reply
  38. uli

    setuju , terima kasih sudah berbagi

    Reply
  39. deddyhuang.com

    Rate card teh Uchan mah udah keren banget… mau belajar jejaknya 😀

    Reply
  40. Nurul Fitri Fatkhani

    Ah…sukaaa kalo mampir ke sini. Banyak manfaat yang bisa diambil. Termasuk ini panduan untuk buat rate card. Nuhuun Teteeh…

    Btw ngakak baca type klien : klien naon atuh ieu teh, sama klien minta dijambak hahaha…
    Aya-aya wae Teteh mah…😂😂

    Reply
  41. Desy Yusnita

    Dah lama ga mampir disini. Pas bahas duit eyke muncul yekaaaan….

    Menetapkan rate sesuai dengan effort emang penting teh. Diriku jg mulai memperhitungkan itu.
    Jadi mau kirim rate card teteh kapan? ☺️

    Reply
  42. Wiwid

    Aku sering galau kalau ditanya ratecard. Haha.. blogger yg blognya masih merayap msh ada yg tanya ratecard. Baca tulisan teteh jadi melek euy..

    Reply
  43. Ika Puspitasari

    Alhamdulillah lebih sering ketemu klien yang ketika dikasih rate card (meski mereka nawar) tapi akhirnya deal. Tapi pernah juga sih ada yg ngilang, hehe

    Reply
  44. Ardiba

    Aku termasuk yang gak pede pasang rate card, apalagi kalo jobdesknya belum tahu. Biasanya minta penawaran dari agencynya dl sih, kalo kewajibannya gak berat, bayarannya cucok, hayuk. Pke prinsip belanja di pasar*lah

    Reply
  45. suga tangguh

    Makasih Teh:) suka celingak-celinguk kalau harus balas email suruh nyebutin nominal. Hehe.

    Reply
  46. Siti mudrikah

    Baca ini serasa dpet pencerahan, pokoknya pertama harus tau kualitas blog kita,bagusin dulu kualitas blog kita nya Teh, harus ada yang kita jual.
    Semoga bisa lebih baik lagi nih kedepannya, biar ada klien yg mau kerja sama. Hehehe.

    Reply
  47. Va Madina

    Makasih Teh, Tipsnya keren banget, nambah lagi pengetahuan saya.

    Reply
  48. sucianadwi

    Izin ss tulisan mbak buat di save hihi, kemarin ada yang nawarin sponsored post tp masih bingung batas minimalnya berapa…setelah baca ini jadi tahu. Makasih ya

    Reply
  49. Vita

    Jangan sampai menghina Samsung dan brand gede lainnya. HAHAHA. “Kamu pikir kami gak bisa bayar?” Jangan sampai brand tersinggung, Terima kasih atas postingan yang berfaedah ini kak Langit.

    Reply
  50. Marya

    hatur nuhun tips-nya, teh… 😀

    aku dapet rekomendasi link teteh waktu bingung nentuin rate buat sponsored post, pas jalan2 malah dapet banyak tips berguna yang lain. maklum newbie, blogging udah lama tapi baru mulai belajar monetisasi blog sekarang. hihi.

    salam kenal atuh yah, kebetulan sami2 mojang cimahi! 😛

    Reply
  51. Moiismiy

    Mantap tipsnya. Thanks mba 🙂

    Reply
  52. Vita Pusvitasari

    Salam kenal ya teh el, nuhun tos share, sering oge pendak klien nu idaman dan masih idaman, tapi teu jarang oge aya nu klien naon ieu teh hehehe

    Reply
  53. Reni Dwi Astuti

    Makin mantap menentukan rate card untuk Sponsored Post dan content Placement setelah baca ulasan Teh Langit. Mantaappp….
    Makasih ya Teh, membuat saya jadi nggak ragu-ragu lagi untuk menawarkan rate, tentu dengan tetap berkaca pada kemampuan diri.

    Reply
  54. Bety Sulistyorini

    Selalu suka sama tulisannya mba Langit. Banyak contoh kasus dan tips yang enakeun dibacanya euy. Saya masih binun mau nentuin rate card dan bla bla bla … tulisan ini memberi pencerahan. Nuhun Mba!

    Reply
  55. Blog Sabda

    saya baru mau bikin rate blog, eh ga taunya nyari di google ketemu blognya mbak, heheh…

    well, tetiba saya dikontak sama seseorang mau dikasih job review. ketika tanya rate saya bingung harus jawab berapa.

    Pertama, karena belum saya masih baru, belum genap setahun,

    kedua, saya ga punya refrensi, takut kemahalan or kemurahan mbak,

    ketiga, blog saya niche khusus finansial.

    saya bingungnya apakah rate blog itu sesuai dengan rangking blog, misal DA, PA, pageview, atau bahkan alexa…

    But, tulisan ini paling ga udah ngasih gambaran untuk saya,

    Reply
  56. Alma Wahdie

    Setuju banget!!!
    Keren teh sharing-nya asyik.
    Kaya aku kalo dateng acar nyesuain dulu ama banyak hal. Trus kalo dapet pocer biasanya kukasih ke temen yg di sana aja. Da hoream mau dipake pocernya kudu ke kota heula. Ari abdi teh di kampung wkwkkwkwk

    Reply
  57. Sakinah Annisa Mariz

    Wajarlah teh jadi blogger hits. Semua tulisannya berfaedah dan terasa membantu yang pemula, namun reminder buat yang senior. Aku belajar banyak ini dari teteh

    Reply
  58. Asep Lukman

    untuk cari di google dan dapat artikel ini, soalnya di tanya masalah ratecard saya jadi cengo, bingung apa itu ratecard untuk influencer..

    Terima kasih banyak, sangat membantu

    Reply
  59. ellafitria

    Inspiratif bgt nih, pas baca kepalaku auto manggut2, bener juga sih.. Makasih teh, setelah da pa anjlog mau upgrade rate card, hehe

    Reply
  60. Sabda Awal

    terimakasih tulisannya mbak, saya sendiri masih bingung mau netapin rate card, jadi agak dapat inspirasi dari tulisan ini,

    Bener juga sih, tanya aja berapa budget yg mereka alokasikan, kalau udah sesuai sama batas bawah kita, bisa langsung yess

    Reply
    • Langit Amaravati

      Sebagai blogger finance, pasti kamu udah hafal lah gimana cara ngitung profit and loss. 😀

      Reply
  61. Rumi

    Mencerahkan sekaliii, thanks

    Reply
    • Langit Amaravati

      Sama-sama.

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This