Nunun tak pernah tahu bahwa hari itu maut akan menjemputnya. Setelah kopi tandas satu gelas, lekas ia mengambil cangkul dan linggis lalu menuju tebing garapannya, seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Menjadi penambang batu kapur di bentangan karst Citatah bukanlah jalan hidup yang kerap ia pertanyakan, ia hanya bekerja seperti penambang lainnya, mengais rezeki dan mempertaruhkan nyawa sendiri demi upah 300 ribu per minggu.

Nunun tak pernah tahu bahwa sore itu tebing-tebing yang selama belasan tahun memberi makan ia dan anak istrinya justru menjadi tebing yang juga mencabut nyawanya. Sore itu, 15 September 2011, ia ditemukan tewas tertimpa bebatuan yang longsor dari atas tebing tempatnya menambang.

Nunun … memang tidak pernah tahu.

Penambangan karst Citatah
(Foto: Mongabay Indonesia)

Aktivitas penambangan di Citatah
(Foto: Okenews)

Para Pemuda yang Gelisah

Kematian Nunun (61), warga Kampung Kutaluhur, Desa Ciburuy, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat ini bukanlah kisah fiksi. Bukan pula sekadar angka statistik. Nunun adalah satu dari daftar panjang korban pertambangan batu kapur di Kawasan Karst Citatah. Pun, kecelakaan serupa jelas bukan yang pertama, dan sayangnya tidak jadi yang terakhir.

Aktivitas penambangan di Citatah sudah dilakukan sejak tahun 1970-an dan selama itu pula gejolak tak terelakkan. Kecelakaan kerja dan isu lingkungan hanya dua dari sekian banyak polemik. Di satu sisi, tebing-tebing karst berusia jutaan tahun yang membentang dari Padalarang sampai Rajamandala ini mesti segera diselamatkan untuk mencegah kerusakan alam lebih jauh. Tapi di sisi lain, ribuan pekerja menggantungkan hidupnya dari sini.

Berangkat dari kegelisahan itu, para pemuda sekitar memulai langkah konkret untuk menyelamatkan pegunungan karst sekaligus kampung halaman yang mereka diami.

Tapi tidak, usaha penyelamatan lingkungan tidak hanya dilakukan dengan jalan berteriak di depan gedung pemerintahan atau protes terhadap perusahaan tambang. Sebaliknya, mereka berusaha menawarkan solusi dan edukasi, berusaha menjawab pertanyaan purba tentang kecukupan ekonomi.

Salah satu pemuda itu adalah Deden Syarif Hidayat (34). Tahun 2009, Kang Deden melalui Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC) dan para pemuda dari organisasi lainnya mulai menginisiasi konservasi.

Pergerakan inilah yang kemudian menarik perhatian PT Astra International Tbk. Kang Deden bersama 9 orang pemuda Cidadap memperluas pergerakan, tak hanya fokus ke karst, tapi juga membangun desa mereka sendiri. Pada tanggal 6 Juni 2017, Kampung Cidadap resmi menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) dan mendapat julukan baru: Cidadap Ecovillage.

Kampung Cidadap Berseri Astra

Kampung Cidadap RT 01 RW 12, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang
Kabupaten Bandung Barat (KBB) – Jawa Barat

Di Kaki Gunung Hawu

Kampung Cidadap Berseri Astra (KCBA) atau Cidadap Ecovillage terletak di Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jabar. Tak jauh dari Situ Ciburuy, Stone Garden, dan Gunung Hawu.

Saya dan Kang Wisnu a.k.a Akang tiba di sana selepas tengah hari. Perjalanan 13 km dari Cibabat, Cimahi, memakan waktu tempuh lebih dari 1 jam karena padatnya volume kendaraan. Memang cukup melelahkan, tapi rasa lelah itu sirna saat motor yang kami tumpangi sampai di Parapatan Arab lalu berbelok ke arah Jalan Andir Kepuh, salah satu jalan masuk ke Kampung Cidadap.

Sesuai namanya, ecovillage, Cidadap menyambut kami dengan deretan pohon di kanan kiri, rumah-rumah dengan pekarangan tertata rapi, dan tembok pondasi berwarna-warni.

Di kejauhan, terlihat pegunungan karst dengan tebing-tebing menjulang. Karst-karst berusia jutaan tahun yang menjadi saksi sejarah peradaban umat manusia. Karst-karst yang jika terus dieksploitasi tanpa kendali, keberadaanya pun hanya akan tinggal sejarah dan lubang menganga di perut bumi.

Walau belum dibangun gapura seperti di KBA lainnya, tapi jangan pernah takut tersesat. Penduduk di sini akan dengan senang hati menunjukkan jalan.

Kang Deden, ketua FP2KC sekaligus koordinator KCBA dan Kang Anjar dari komunitas Suku Badot yang saat itu sedang berada di balai bank sampah menyambut kami dengan ramah. Obrolan “warung kopi” bergulir begitu saja. Dimulai dari siapa kenal siapa, tebing mana saja yang sudah pernah dipanjat, dan seterusnya.

Sambil mendengarkan cowok-cowok ini ngobrol soal masa-masa jadi Mapala, mata saya berkelana ke hamparan kebun sayur tak jauh dari sana. Tak sabar mendengar cerita dari sebalik daun-daun hijaunya.

Jalan masuk KCBA
(Foto: KCBA)

Commitment Wall – Peresmian KCBA
(Foto: dokpri)

Jalan masuk KCBA
(Foto: dokpri)

Ruas jalan kampung
(Foto: dokpri)

Ki-ka: saya, Akang, Kang Deden Syarif Hidayat
(Foto: dokpri)

Suasana Kampung Cidadap
(Foto: KCBA)

Awal Mula Pergerakan

“Saya dan teman-teman awalnya bergerak di konservasi karst Citatah, awal 2016 Astra sudah mulai membantu. Lanjut ke Stone Garden lalu ke Tebing Gunung Hawu, berintegrasi dengan penduduk sekitar. Jadi KCBA ini adalah pengembangan dari konservasi karst Citatah,” jelas Kang Deden.

Kenapa Ecovillage?

Seperti yang disampaikan Kang Deden, ecovillage adalah kampung berbudaya lingkungan, bukan hanya persoalan menanam atau penghijauan. Ecovillage adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan dan kesehatan alam di sekitarnya.

Membangun kesadaran sekaligus menggerakkan 800 orang di kampungnya jelas bukan perkara mudah. Tapi, bukan pula perkara yang mustahil.

“Kami sih tidak banyak memaksa, karena membangun manusia tidak semudah membangun jalan aspal, yang penting terus melakukan sosialisasi dan edukasi. Kami juga ikut mendorong berbagai minat dan potensi. Kalau ada yang suka panjat tebing, ya mangga konsen di konservasi karst dan pariwisata. Kalau ada yang suka lingkungan, mari sama-sama berkegiatan,” ujar Kang Deden.

“Lalu apa korelasi antara konservasi karst di tebing sana dengan ecovillage di kampung sini?” tanya saya penasaran.

Kang Deden terdiam sebentar, barangkali tengah mengingat satu per satu tebing karst yang hilang hingga memengaruhi siklus air di sekitar, termasuk kampungnya. “Saya kan lahir dan besar di sini. Masa karst dikonservasi tapi kampung sendiri dibiarkan? Lagi pula, untuk membangkitkan semangat masyarakat agar peduli terhadap konservasi alam, harus dimulai dari ruang lingkup yang lebih kecil dulu.”

Saya mengangguk, pikiran saya melayang ke kampung halaman di Bandung. Sebuah gang sempit nyaris kumuh tempat saya lahir dan dibesarkan. Gang yang tak jauh dari universitas swasta ternama tapi tingkat pendidikannya rendah, mayoritas penduduk di kampung saya hanya tamatan SD. Dari tiga generasi, hanya ada 5 orang yang berhasil jadi sarjana. Di sana, jangankan memilah sampah, anjuran buang sampah ke tempatnya saja sulit dicerna.

Sejak tiga belas tahun silam saya “melarikan diri” dari sana, merantau ke berbagai daerah hingga akhirnya menetap di Cimahi. Lamunan itu bermuara pada gaung pertanyaan dalam kepala, “Nona Langit Amaravati, sampai kapan kamu akan lari? Apa yang sudah kamu perbuat untuk kampung sendiri?

Gaung pertanyaan yang -mau tidak mau- menohok ulu hati.

Kampung Percontohan

Bersama dengan ketua RT dan RW setempat, penggerak yang tadinya 10 orang bertambah menjadi 25 orang.

Dengan metode sosialisasi persuasif, semangat ecovillage terus menular dan membakar. Dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, program-program KBA berjalan dengan baik, warga pun mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.

“Kalau dulu, warga biasa membuang sampah ke mana saja. Kadang sampah ditumpuk begitu saja di pekarangan atau di tegalan, sekarang tidak lagi,” kata Kang Anjar.

Bukan itu saja, semangat ecovillage juga menjalar ke kampung-kampung di sekitar. Cidadap Ecovillage menjadi semacam kampung percontohan, program-programnya diadaptasi dan dikembangkan.

Alamat

Kampung Cidadap RT 01 RW 12
Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang
Kabupaten Bandung Barat (KBB)
Jawa Barat

Kick Off KBA

Resmi menjadi Kampung Berseri Astra pada 6 Juni 2017

Cakupan Wilayah

2 RW (RW 12 & 13), 5 RT, 800 jiwa

Program KCBA

Bank sampah, hidroponik & pertanian, rumah hijau, sosialisasi & edukasi,
pendidikan dan kebudayaan, pariwisata, kewirausahaan.

4 Pilar Program CSR Astra

Berkolaborasi untuk bersama-sama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

%

Pendidikan

Kesadaran untuk bersekolah, peningkatan kualitas pendidikan.

%

Kewirausahaan

Peningkatan stadar kesejahteraan.

%

Lingkungan

Kesadaran menjaga lingkungan agar bersih dan hijau.

%

Kesehatan

Membangun kesadaran perilaku hidup lebih sehat.

Selaras dengan 4 pilar program CSR Astra, setidaknya ada 7 program yang saat ini sedang berjalan di Cidadap Ecovillage. Uniknya, program-program Astra ibarat mata air yang alirannya menyesuaikan lekuk alam di sekitarnya. Setiap program disesuaikan dengan kebutuhan dan inisiatif warga, pun sinergis dengan program yang sudah pernah ada, baik itu dengan program pemerintah maupun dengan program kampung bersangkutan. Misalnya, program bank sampah sinergis dengan Posyandu, PAUD, dan kegiatan keagamaan di musala. Jadi, sebulan sekali ibu-ibu datang ke Posyandu bukan hanya untuk menimbang balita, tapi juga menimbang dan menyetorkan sampah anorganik.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah proses regenerasi para penggeraknya. Anak-anak muda didorong dan dipercaya untuk menjadi penggerak atau pengelola selanjutnya, sementara para “senior” tetap membimbing dan tak segan berbagi pengalaman. Proses regenerasi dalam komunal seperti ini patut diacungi jempol karena terus terang, saya sudah banyak melihat komunitas-komunitas yang tumbang akibat sistem “one man show“.

1. Sosialisasi & Edukasi

Melakukan sesuatu dengan ilmu adalah tekad, melakukan sesuatu tanpa pengetahuan memadai disebut nekat.

Sebelum mulai melakukan aksi nyata, warga diberikan edukasi agar mereka paham. Bentuk edukasi dan sosialisasi pun beragam, kadang dalam bentuk penyuluhan formal, kadang dalam “obrolan warung kopi” seperti yang kami lakukan hari itu, tak jarang pula dalam bentuk ngaliwet bareng. Tidak ada hierarki kuasa, yang ada hanyalah sesama warga Cidadap yang peduli terhadap alam sekitarnya.

Bukan itu saja, para penggeraknya pun terus mereguk ilmu. Mereka juga mengikuti pelatihan dan penyuluhan untuk kemudian disebarkan kembali ke warga.

Kerja bakti sekaligus ajang sosialisasi
(Foto: KCBA)

Kang Deden bersosialisi dengan warga
(Foto: KCBA)

Tradisi ngaliwet bareng
(Foto: KCBA)

2. Program Bank Sampah

Limbah domestik rumah tangga merupakan salah satu masalah serius di berbagai kota, termasuk KBB. Penanganannya tentu tak hanya cukup mengandalkan pemerintah atau dinas terkait, melainkan juga diperlukan kontribusi aktif dari penghasil sampah itu sendiri: rumah.

Sadar akan hal itu, penduduk Cidadap Ecovillage dengan bantuan fasilitas dari Astra membuat program terkait penanganan sampah di kampung mereka.

Sampah tidak hanya dipilah di TPA atau di tempat penampungan, tapi mulai dari rumah penduduk sendiri dan di ruang-ruang publik. Dengan begini, setiap orang teredukasi sekaligus diajak untuk langsung berkontribusi.

Pemilahan

Limbah rumah tangga dipilah di rumah-rumah dan public area. Sampah organik yang mudah membusuk seperti sisa makanan menjadi “makanan” komposter, sedangkan sampah organik seperti kertas dan kardus serta sampah anorganik dikumpulkan atau dimanfaatkan kembali.

Pengumpulan

Dua minggu sekali, para penggerak KCBA menjemput sampah kertas dan anorganik dari rumah per rumah untuk dikumpulkan di bank sampah. Ada pula penduduk yang mengantar langsung. Sampah juga dikumpulkan di Paud dan Posyandu.

Pengolahan

Sampah yang sudah terkumpul dibersihkan dan dipilah berdasarkan kategori. Sebulan sekali ada pengepul yang datang untuk membeli. Hasil penjualan digunakan untuk biaya operasional dan dibagikan kembali kepada warga. Ada pula yang dimanfaatkan kembali untuk kerajinan tangan.

Seperti yang saya paparkan sebelumnya, program bank sampah juga sinergis dengan program lain yang sudah ada. Misalnya, Posyandu, Paud, dan pengajian di musala. Program ini juga selaras dengan program ecovillage dari Dinas Lingkungan Hidup.

Saya tidak punya data pasti tentang volume sampah sebelum dan sesudah program ini, yang jelas jalan-jalan dan pekarangan di Kampung Cidadap bersih dan tertata. Ini bukti bahwa program berhasil menyadarkan warga tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Sayangnya, program pemilahan dan pengolahan sampah belum sampai pada kampanye pengurangan sampah itu sendiri. “Ini PR besar kami. Memang masih banyak yang mesti dibenahi,” jelas Kang Anjar.

Well, saya sih optimis bahwa program pengurangan sampah itu akan terealisasi tak lama lagi.

Komposter fasilitas dari Astra untuk mengolah sampah organik
(Foto: dokpri)

Saya: Teh, apakah mantan juga bisa didaur ulang?
Mereka: *Krik krik krik
(Foto: dokpri)

Halte sampah: pemilahan sampah juga dimulai di ruang-ruang publik
(Foto: KCBA)

Pemilahan sampah
(Foto: KCBA)

Penimbangan sampah di Posyandu
(Foto: KCBA)

Pemilahan sampah
(Foto: dokpri)

3. Rumah Hijau

Rumah adalah garda depan, portal pertama yang akan menentukan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Selain pemilahan sampah sejak dari rumah, Astra juga mendorong pemanfaatan pekarangan atau rumah hijau.

Program ini bertujuan agar pekarangan dimanfaatkan untuk menyumbang udara bersih sekaligus produktif.

“Astra men-support bibit. Kemarin teh bibit jeruk dan sayuran. Yaaa … minimal untuk kebutuhan dapur sendiri dulu lah,” kata Kang Deden.

Saya pun langsung melirik deretan pohon cabai dalam polybag. Asyiiikkk … bisa bikin seblak organik. 😀

Pemanfaatan pekarangan rumah
(Foto: KCBA)

Pekarangan yang instagram-able 😀
(Foto: KCBA)

Cabai untuk membuat seblak organik 😀
(Foto: dokpri)

4. Hidroponik & Pertanian

“Kenapa hidroponik padahal lahan masih luas?” kali ini gilirang Akang yang bertanya.

“Instalasi hidroponik lebih diarahkan ke pertanian organik, sih. Kalau yang di sentra pertanian sini dibikin pertanian vertikal,” jawab Kang Deden.

Karena Akang dan Kang Deden tengah asyik berbincang tentang potensi menanam kopi, saya memutuskan untuk keliling kebun ditemani Kang Anjar.

Teh, bisi bade panen mah, mangga weh (Teh, kalau mau panen mah, silakan)” ujar Kang Anjar sambil menunjuk hamparan sayuran hijau di hadapan kami.

Tawaran yang saya sambut dengan gembira. Tidak setiap hari saya bisa menyaksikan selada, kangkung, cabai, terong, dan sayuran lainnya langsung di tempat mereka tumbuh. Di kebun yang difungsikan sebagai sentra pertanian KCBA inilah berbagai sayuran ditanam. Tujuan utamanya tidak untuk dijual dulu, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pangan kampung sendiri.

“Kalau agroindustri belum, mungkin nanti. Sekarang mah menanam saja dulu. Jadi kalau ada yang mau masak sayur, ya tinggal petik di kebun. Jika ada kelebihan, baru dijual ke tukang sayur keliling atau ke siapa saja yang membutuhkan,” jelas Kang Anjar.

Penjelasan Kang Anjar mau tidak mau membuat saya tersenyum lagi. Prinsip kemandirian pangan seperti ini sudah jarang saya temui. Menanam karena cinta, bukan perkara kebutuhan ekonomi semata.

“Di kawasan penambangan karst begini, kan, rentan hama, pernah gagal panen enggak sih, Kang?” tanya saya sambil memotret.

Tapi sebelum pertanyaan itu dijawab, saya sudah berlari kecil karena tertarik pada pohon-pohon dengan buah berwarna jingga, “Eh, ada tomat!” seru saya. Tomat adalah salah satu sayur favorit saya.

“Nggg …. Teh, itu terong. Cuma emang udah masak banget jadi warnanya jingga,” Kang Anjar menahan senyum.

Sedetik saya terdiam, mengolah informasi. Berusaha meneliti terong yang menyamar sebagai tomat itu. Detik berikutnya kami sudah terbahak-bahak.

Setelah tawa reda, Kang Anjar bercerita bahwa beberapa waktu lalu panen pakcoy mereka pernah gagal dikarenakan serangan hama. Setiap tanaman memang memiliki karakteristik sendiri-sendiri, saat ini mereka pun sedang mengevaluasi jenis tanaman apa saja yang cocok di sana.

Selain hama, kendala lain kebun sayur di ketinggian 700 mdpl adalah irigasi. Karenanya, Astra men-support dengan membuat sumur bor untuk keperluan penyediaan air irigasi sekaligus air bersih untuk penduduk.

Sentra pertanian KCBA
(Foto: dokpri)

Menanam bersama
(Foto: KCBA)

Sentra pertanian KCBA
(Foto: dokpri)

Instalasi hidroponik
(Foto: KCBA)

Panen sayuran hidroponik
(Foto: KCBA)

Coba tebak, pohon apakah ini?
(Foto: dokpri)

5. Pendidikan & Kebudayaan

Meskipun bertajuk ecovillage, tapi bukan berarti hanya fokus kepada lingkungan. Pendidikan dan kebudayaan pun diperhatikan.

“Kami berusaha untuk membuat sekolah yang menyenangkan. Kegiatannya bukan hanya belajar di dalam kelas, ada juga kegiatan lain seperti kesenian dan olahraga. Kemarin Astra memfasilitasi dengan angklung untuk belajar anak-anak,” jelas Kang Deden.

Selain itu, anak-anak di Paud juga diperkenalkan untuk belajar menjaga lingkungan sejak dini. Pekarangan sekolah ditanami berbagai tanaman, tempat sampah dengan sistem pemilahan, serta kegiatan berbasis lingkungan lainnya.

 

Seni Musik Angklung MI Al-Mujtahidin
(Foto: KCBA)

Penghijauan di sekolah
(Foto: KCBA)

Tim futsal KCBA
(Foto: KCBA)

6. Pariwisata Berbasis Konservasi

Membicarakan potensi pariwisata artinya membicarakan pegunungan karst. Saat ini berbagai pihak tengah gencar menjadikan karst sebagai pariwisata berbasis konservasi. Artinya, tebing-tebing itu tidak melulu ditambang, tapi dilestarikan sekaligus dinikmati keindahannya.

“Ini juga sekaligus untuk menjawab pertanyaan para penambang, ‘Kalau kami tidak menambang, lalu mau makan apa?'”, ungkap Kang Deden.

Kang Deden sendiri mengakui bahwa sektor pariwisata masih memiliki beberapa hambatan, di antaranya akses jalan. Jalan-jalan besar biasanya dimiliki perusahaan tambang, akses yang dimiliki penduduk hanyalah jalan setapak.

“Akses perlu, tapi tidak lantas mengubah atau merusak bentang alam itu sendiri. Misalnya, untuk membuat akses jalan jangan meledakkan tebing. Biarkan saja begitu, sealaminya,” jelas Kang Deden lagi.

Saya melirik Akang, memberikan semacam kode, siapa tahu sehabis itu saya akan diajak foto prewed menikmati matahari tenggelam di Stone Garden. Sayangnya kode saya kurang keras sehingga diabaikan. Hahaha.

Tapi hei, kalau Anda kebetulan menyukai wisata ekstrem dan perlu untuk feed Instagram *eh, main-mainlah ke sini. Selain bisa menikmati keindahannya, olahraga, Anda juga bisa sekalian wisata lingkungan dan sejarah. Oh, satu lagi, bisa juga, lho, untuk foto prewed. *Kode lagi

Gunung Hawu
(Foto: KCBA)

Wisata hammock
(Foto: KCBA)

Tebing Citatah
(Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia)

7. Kewirausahaan

Barangkali Anda sudah pernah mendengar “legenda” Abah Asep, penduduk Kampung Cidadap yang berhenti menambang setelah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya pada tahun 1987 silam. Tidak seperti Nunun yang tewas di tempat, Abah Asep memang selamat, tapi kecelakaan kerja itu menyebabkan jemari kaki kanannya putus. “Cendera mata” yang terus ia kenang hingga sekarang.

Abah Asep sendiri berubah haluan menjadi petani jambu biji, menjadikannya salah satu petani sukses di Cidadap. Langkah ini diikuti oleh banyak penambang lainnya.

Per tahun 2018, mata pencaharian penduduk Kampung Cidadap sendiri bervariasi, mayoritas menjadi petani padi dan jambu biji. Hanya tersisa 2 orang yang masih menjadi penambang. Namun, mengingat pertambangan karst tidak akan bertahan selamanya, cepat atau lambat kedua orang ini harus mencari pekerjaan baru.

Program kewirausahaan ditujukan agar masyarakat Cidadap mandiri secara ekonomi, cerdas membaca peluang, serta memanfaatkan potensi yang ada di daerah mereka. Dalam jangka panjang, diharapkan dapat meningkatkan level Indeks Pembangunan Manusia.

Ada beberapa sektor yang diarahkan ke program kewirausahaan, di antaranya wisata karst, pertanian, dan kerajinan tangan. Secara khusus, program ini juga menyasar perempuan atau ibu-ibu rumah tangga agar selain berperan besar mendidik generasi bangsa, mereka juga mandiri secara ekonomi. 

Memang, belum ada sentra produksi karena kewirausahaan bisa dibilang program “bungsu”. “Ngeureuyeuh,” kalau kata Kang Deden mah.

Pemanfaatan bungkus kopi
(Foto: KCBA)

Hasil kerajinan tangan
(Foto: KCBA)

Pemanfaatan botol bekas minuman
(Foto: KCBA)

Testimoni Warga

Sebelum pulang saya sempat jajan seblak ngobrol-ngobrol sebentar dengan warga sekitar, bertanya tentang bagaimana program KBA berpengaruh terhadap kualitas hidup mereka.

“Sekarang mah enak, ada yang ngurusin sampah. Kampung jadi bersih. Warga pun jadi lebih semangat untuk menjaga lingkungan,” tutur Teh Tera (30).

Iya, iya, itu saya ngobrolnya sambil jajan seblak.

Saat saya bertanya tentang harapan ke depan, jawabannya sama dengan beberapa warga lainnya: ketersediaan air bersih saat musim kemarau.

Teh Tera, warga Cidadap
(Foto: dokpri)

Ecovillage adalah kampung berbudaya lingkungan, bukan hanya persoalan menanam atau penghijauan. Ecovillage adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan dan kesehatan alam di sekitarnya.”

– Deden Syarif Hidayat

Obrolan kami diakhiri dengan pertanyaan klise, “Apa harapan dan target ke depan?”

Tapi jawabannya jelas tidak klise.

Dengan adanya KBA, Kang Deden dan kawan-kawan berharap agar kampung mereka tidak tergerus oleh perkotaan yang bersifat eksploitatif. Bukan berarti Kampung Cidadap Berseri Astra tidak ingin bertumbuh karena suatu saat kampung pun akan berubah menjadi kota. Tapi setidaknya, dengan terbiasa peduli lingkungan, tidak akan ada lagi kerusakan alam dengan dalih pembangunan.

Harapan lainnya adalah agar semangat Cidadap Ecovillage menjadi inspirasi bagi kampung lain di sekitarnya. Juga menjadi inspirasi pada siapa pun yang berkunjung ke sana, saya salah satunya.

Siang mulai merangkak menuju petang saat saya dan Akang berpamitan. Dipayungi mendung yang mulai menggelantung di langit sana, motor kami melaju meninggalkan Cidadap dan kisah-kisahnya. Meninggalkan udara bersih dan deretan pepohonan hijaunya. Meski dengan berat hati, kami harus kembali kepada “peradaban”, kepada rutinitas kota dan jalan-jalan penuh polutan.

Di dalam hati saya berjanji untuk kembali ke sana lagi bersama para pemuda dari kampung saya sendiri. Tentu saja bukan hanya untuk memanen cabai sebagai bahan seblak organik, melainkan juga untuk mengajak dan menunjukkan pada mereka bahwa menjaga alam dan bumi mesti dimulai hari ini.

Sepanjang jalan, saya tak henti menengok ke belakang. Menatap tebing-tebing karst yang menjulang di kejauhan. Hari itu, Kang Deden dan kawan-kawan di Cidadap Ecovillage memberikan saya pemahaman baru tentang sebenar-benar perjuangan. Tentang bagaimana berkontribusi nyata kepada lingkungan sekitar.

Hari itu saya teryakinkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk berbakti pada kampung halaman.

Kita memang tidak bisa mengubah dunia, tapi setidaknya, kita bisa menjaga dan membuatnya menjadi tempat yang lebih baik. Bukan hanya demi diri kita sendiri, tapi juga demi anak cucu kita nanti.

Salam,
~eL

l

Disclaimer

Artikel ini diikutesertakan dalam “Anugerah Pewarta Astra 2018”.

l

Copyright

  • Teks: Langit Amaravati
  • Foto: Langit Amaravati, KCBA, Mongabay Indonesia, Okenews
Z

Daftar Pustaka

  • Agustianti, Cynthia. “Kondisi Umum Bentang Karst dan Kegiatan Penambangan Karst dan Kegiatan Penambangan Kapur di Kawasan.” Kebijakan Hukum Pidana Pengelolaan Kawasan Lindung dalam Kegiatan Penambangan Kapur di Kawasan Karst Citatah Kabupaten Bandung Barat, 2018: 55-77.
  • ASTRA. Kampung Berseri Astra. n.d. https://www.satu-indonesia.com/satu/kampungberseriastra.
  • FP2KC. Forum Pemuda Peduli Karst Citatah. n.d. http://pedulikarstcitatah.blogspot.com/.
  • Haryono, Eko, & Tjahyo Nugroho Adji. “Geomorfologi Karst.” Geomorfologi dan Hidrologdi Karst, 2004: 1-13.
  • Hidayat, Deden Syarif, interview oleh Langit Amaravati & Wisnu Adhi. Kampung Cidadap Berseri Astra (22 Desember, 2018).
  • Husodo, Hendro Susilo. Gua Bernilai Arkeologis di Cipatat Hancur oleh Penambangan. 7 Mei, 2018. https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2018/05/07/gua-bernilai-arkeologis-di-cipatat-hancur-oleh-penambangan-423985 (diakses 18 Desember, 2018).
  • Iqbal, Donny. Eksploitasi Karst Citatah, Kegiatan Merusak yang Mengundang Bencana. 25 April 2018. http://www.mongabay.co.id/2018/04/25/eksploitasi-karst-citatah-kegiatan-merusak-yang-mengundang-bencana (diakses 16 Desember 2018).
  • Rakyat, Pikiran. Penambang di Karst Citatah Tewas Tertimpa Batu Kapur. 16 September, 2011. https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2011/09/16/penambang-di-karst-citatah-tewas-tertimpa-batu-kapur (diakses 18 Desember, 2018).
  • Sudarmadji. Ekologi Lingkungan Kawasan Karst di Indonesia: Menjaga Asa Kelestarian Kawasan Karst di Indonesia. Yogyakarta: Deepublish, 2013.
  • WALHI. Jaga Karst, Jaga Kehidupan. Indonesia: Wahana Lingkungan Indonesia, 2016.
  • Wulandari, Indri, Erri N. Megantara, and Parekesit. “Ekosistem Karst Citatah dan Pemanfaatan Sumberdaya Hayatinya (Studi Kasus di Desa Gunungmasigit Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat).” Prosiding Nasional MIPA 2016. Jatinangor: Universitas Padjajaran, 2016. 205-213.
  • ZaraAndritra, Yoga. Info Jalan-Jalan ke Gunung Hawu. Januari 14, 2013. http://www.yogazara.red/2013/01/info-jalan-jalan-ke-gunung-hawu.html (diakses 22 Desember, 2018).
Share This