Jakarta, kota yang kerap kali saya “caci maki” karena gedung-gedungnya yang pongah dan cuaca panasnya yang mengintimidasi. Jakarta, kota yang jalan-jalannya kerap mengiris hati, berisi ingatan bahwa di salah satu ruasnya saya pernah memandang seseorang yang pergi. Tapi entah kenapa, dibandingkan kota lain, justru kota inilah yang setahun belakangan sering kali saya kunjungi.

Perjalanan saya ke Jakarta kali ini jelas bukan cuma rihlah atau mengingat-ingat luka lama. Hari Sabtu, 29 Oktober 2016 kemarin itu saya datang untuk menghadiri blogger gathering sekaligus softlaunch beberapa fitur baru Uangkudigital wallet atau e-wallet yang akan resmi dirilis tanggal November 2016 mendatang.

Acara yang diinisiasi Blogger Perempuan Network ini dihelat di Artotel Thamrin, dihadiri oleh perempuan-perempuan blogger yang sebagian sudah lama tak bersua, sebagian lagi justru sama sekali belum pernah bertemu muka. Itu sebabnya mengapa saya memutuskan datang, semacam kesempatan untuk kangen-kangenan.

SHARING SESSION BERSAMA UANGKU

Anda yang sering berbalanja di e-commerce, social shopping, atau malas membawa uang tunai tentu sudah familiar dengan berbagai macam metode pembayaran, termasuk digital wallet. Sayangnya, beberapa metode pembayaran yang selama ini kita tahu agak kurang efektif, juga tidak terlalu aman. Nah, Uangku adalah metode pembayaran yang memangkas keribetan sekaligus melindungi pembeli dan penjual dari kejahatan online. Bentuknya (bentuk?) aplikasi yang bisa diunduh di android dan iOS for free.

Selain berkenalan lebih jauh tentang fitur-fitur Uangku, yang paling menarik adalah ngobrol-ngobrol dengan Kak Caroline Adenan atau yang lebih akrab disapa Oline. Sebagai pemilik Aura Batik dan aktivis online shopper, beliau tentu punya banyak pengalaman dengan transaksi online.

“Kadang ada pembeli yang bilang udah transfer tapi ketika dicek di mutasi rekening belum sampai-sampai,” jelas Kak Oline. Well, I feel you.

Kegelisahan (((kegelisahan))) Kak Oline dan banyak pemilik online shop ini dijawab oleh Mbak Fanny Verona dari Uangku. “Kalau memakai Uangku, penjual akan mendapatkan notifikasi ketika dana sudah ditransfer. Pembeli juga tidak perlu mengirimkan bukti transfer.”

Menurut penerawangan saya, metode pembayaran seperti ini akan sangat booming dalam satu atau dua tahun mendatang karena efektif, terutama untuk transaksi jual beli online. Bagaimana dengan transaksi offline? Yup, aplikasi digital wallet juga bisa digunakan, tapi seperti buku vs e-book, saya kira ini tidak akan menggantikan uang dalam bentuk fisik.

Fitur apa saja sih yang ada di Uangku? Mangga kalau mau ngintip dulu. Memang belum semua fitur bisa digunakan, tapi kalau mau unduh dulu aplikasinya ya boleh banget.

fitur uangku

Pokoknya seluk-beluk online dan social shopping dibahas tuntas oleh Mbak Fanny dan Kak Oline. Mbak Fanny juga menjelaskan tentang hambatan-hambatan yang selama ini dialami baik penjual maupun pembeli ketika melakukan transaksi dan bagaimana Uangku bisa menjadi solusi.

Sebetulnya saya ingin sekali membahas aplikasi ini secara lebih komprehensif, nanti saja ya mau coba dulu belanja online dan offline biar empiris. *halah

Acara dimulai dari pukul 09.30 hingga pukul 13.00, diakhiri dengan makan siang. Saya makan bersama Liswanti dan Hani. Setelah lama kenal di dunia maya, baru kali inilah saya bertemu dengan Hani. Seriously, ternyata aslinya anak ini emang imut. Setiap blogger gathering, part yang paling saya suka ya acara ketemuannya. Biasalah, ngobrol masalah kesetaraan gender dan politisasi rumah tangga. 😀

Oleh-oleh dari Uangku

Oleh-oleh dari Uangku

Setelah acara seru ini selesai, siang itu juga saya langsung pulang dengan menumpang kereta api Argo Parahyangan, seperti biasa. Kembali lagi ke Cimahi ketika matahari sudah pamit pergi. Dan yaaa … suatu hari akan kembali ke Jakarta, ke kota yang entah bagaimana mulai membuat saya sadar bahwa cara paling baik menangani luka adalah dengan menghadapinya.

Salam,
~eL

Share This