Siap Menjelajahi Dunia Bersama ASUS Zenbook 13 UX331UAL

“The world is a book, and those who do not travel read only a page.”

-Saint Augustine

S aat gas air mata mulai ditembakkan dan bentrokan tak terelakkan, saya tahu bahwa saya harus segera lari dan melindungi diri. Setidaknya, jangan sampai terkena lemparan batu atau jadi korban popor senjata yang salah sasaran.

Tapi tugas tetaplah tugas. Saya memang melakukan perjalanan dari Cimahi ke sana dengan satu tujuan: meliput. Sebagai tim media di salah satu organisasi nirlaba, sudah tugas saya melakukan liputan, pendampingan, dan memastikan fakta-fakta di lapangan tidak diputarbalikkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Lari atau bersembunyi bukanlah pilihan. Yang bisa saya lakukan hanyalah menepi.

Anda yang pernah menjadi “wartawan perang” dan meliput konflik agraria atau demonstrasi pasti tahu situasinya seperti apa. Walau sudah mendapatkan pelatihan, namun terjun ke lapangan adalah hal yang sama sekali berbeda.

Di tengah teriakan, kerumunan orang, segala macam kekacauan, dan rasa panik yang mendera, ransel saya terjatuh. Padahal di dalamnya ada netbook, “nyawa” sekaligus tiket pulang saya hari itu.

“Krak! Krak! Krak!”

Bahkan di tengah kebisingan, bunyi netbook yang patah terinjak-injak orang itu masih jelas terdengar. Gaungnya menjadi mimpi buruk yang menghantui hingga hari ini.

Tak ada yang bisa saya lakukan lagi. Maka saya hanya menyambar ransel, menjejalkan netbook yang terluka ke dalamnya, lalu lanjut meliput. Tugas, tetaplah tugas, bukan?

Ketika situasi sudah mereda, meski mata masih perih karena terkena gas air mata, lekas saya mencari tempat aman untuk memeriksa netbook. Kondisinya sudah teramat parah dan tidak dapat diselamatkan. LCD retak, engsel pecah jadi entah berapa kepingan, dan … ah sudahlah. Saya malu mengatakan ini, tapi saat itu saya menangis. Benar-benar menangis.

Seorang kawan jurnalis di sebelah saya malah terpingkal-pingkal ketika melihat mata saya berkaca-kaca. Dia memang militan tapi tetap saja kurang ajar, situasi seperti itu tentu tak asing baginya. Ia sendiri sudah pernah berkali-kali kehilangan laptop dari mulai “sekadar” jatuh saat meliput sampai tercebur ke laut.

“Ngopi dulu, Chan. Nih, pakai aja punya gue kalau lu mau nulis laporan,” ia menyodorkan secangkir kopi dan laptopnya sendiri.

Dengan hati yang masih retak seperti LCD, saya langsung menulis laporan untuk dikirim ke “markas” supaya bisa segera pulang.

Tapi drama tidak berhenti sampai di situ.

Pukul satu dini hari, ketika saya sedang terlelap di dalam mobil menuju Cimahi, salah satu klien saya mengirimkan e-mail. “Chan, saya kirimkan revisi layout-an. Bisa minta tolong diselesaikan secepatnya? Besok pagi mau naik cetak.”

Saya menghela napas. Tiba-tiba … perjalanan hari itu jadi terasa amat panjang dan melelahkan.

Laptop dan Tanggung Jawab Profesi

Dengan alasan punya anak balita, saya tidak pernah mau lagi jika diturunkan ke lapangan. Padahal alasan sebetulnya ya itu, takut laptop rusak lagi. Meski tentu saja “perjalanan dinas” tak serta-merta selesai. Sebagai tim media, saya tetap harus melakukan kerja-kerja organisasi di luar kota.

Sebagai cerpenis, desainer, sekaligus blogger, sesekali saya juga melakukan perjalanan. Entah itu untuk menghadiri event blogger, pertemuan sastra, mengisi pelatihan, diundang jadi pembicara, riset, menghadiri seminar, atau sekadar liburan.

Dan di setiap perjalanan, tak peduli apa pun tujuan kepergian saya, sendirian atau bersama Aksa, laptop adalah benda wajib bawa. Lebih penting dari baju ganti atau sikat gigi. Demi tanggung jawab profesi, saya harus siap membuka laptop kapan saja, di mana saja, dalam situasi macam apa pun.

Bagi desainer lepas, tidak ada yang namanya jam kerja. Ada beberapa order klien yang harus diselesaikan saat itu juga. Tak peduli saya sedang ada di stasiun kereta api atau berada di tengah demonstrasi.

Membawa laptop, terutama dalam perjalanan penuh risiko, ibarat makan buah simalakama. Di satu sisi kita membutuhkannya, tapi di sisi lain kita juga khawatir dengan keamanannya.

Itu sebabnya bagi seorang pejalan seperti saya, seperti Anda juga, kita membutuhkan laptop “off road” yang tahan di segala medan. Laptop yang tidak akan retak berkeping-keping seperti hati walau terinjak atau tergilas motor sekalipun. Emang ada? Kabar baiknya, ya, laptop impian para traveler yang tahan digilas motor itu ada dan nyata. Yuk, saya ajak kenalan dulu dengan ASUS ZenBook 13 UX331UAL.

ASUS ZenBook 13 UX331UAL

Z enBook 13 UX331UAL pertama kali diperkenalkan pada pameran teknologi Consumer Technology Association (CES) di Las Vegas, Januari 2018 lalu. Di Indonesia sendiri, ZenBook super tipis ini resmi di-launching pada bulan Juli 2018 bersamaan dengan “saudaranya” ASUS ZenBook UX331UN.

Apa, sih, istimewanya ZenBook UX331UAL? Kenapa sampai digadang-gadang sebagai laptopnya para traveler atau remote worker? Selain dibekali dengan prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-8 terbaru dan RAM 8GB, bobotnya juga ringan (985 gram) dan tipis (13,9 mm). Jadi kebayang lah ya sekarang mah bawa laptop teh udah enggak bikin sakit bahu lagi.

US Military Grade MIL-STD 810G

Karena kita sedang ngobrol tentang laptop yang akan tetap survive meski dibawa bepergian ke berbagai medan, sama seperti saya, Anda tentu akan bertanya-tanya bagaimana mungkin laptop yang begitu tipis dan ringan ini bisa menahan “siksaan” perjalanan? Bagaimana laptop tetap bertahan ketika menghadapi risiko seperti terjatuh, terinjak, atau tergilas kendaraan?

Well, ini yang menurut saya seru. ZenBook UX331UAL tersertifikasi US Military Grade MIL-STD 810G. Untuk mendapatkan sertifikat ini dan mengecek daya tahannya, device harus melalui berbagai tahap pengujian. Menurut berbagai referensi yang saya baca, tesnya sampai 26 tahap. Di antaranya drop test, tekanan, guncangan, temperatur ekstrem, hujan es, kelembapan, jamur, dan sebagainya. Kalau penasaran, coba deh tonton di channel Youtube-nya Raditya Dika.

Namun, saya harus memohon maaf jika membuat Anda kecewa. Walau daya tahannya sudah teruji dan tersertifikasi, ZenBook tidak dibekali dengan ketahanan terhadap guncangan seperti sudah mendesain kartu undangan eh dianya nikah sama yang lain. (Ah, si ieu mah curhat wae eung) 😀

Daya tahan ZenBook 13 yang lebih detail akan saya bahas di bab lain. Sebelumnya, mangga cuci mata dulu dengan dua varian warna yang tersedia: Rose Gold dan Deep Dive Blue.

Spesifikasi
ASUS ZenBook 13 UX331UAL

Prosesor

Intel® Core™ i5 8250U Processor

RAM

8 GB LPDDR3 2133MHz SDRAM Onboard memory

Dimensi

13.3″ (16:9) LED-backlit FHD (1920×1080). Berat 985 gram.

Sistem Operasi

Windows 10 Home
 

Storage

256GB/512GB SATA 3.0 M.2 SSD

Baterai

3 -Cell 50 Wh Polymer Battery. Tahan sampai 15 jam.

Laptop Idaman Para Pejalan

FITUR-FITUR UNGGULAN ASUS ZENBOOK 13 UX331UAL
Terus terang, pengalaman bertahun silam yang saya ceritakan di awal, mau tidak mau menyisakan trauma. Setiap kali bepergian ke luar kota dan harus membawa laptop, saya menjadi over protektif dan impulsif. Laptop kerap diperlakukan seperti sebutir telur yang bisa pecah kapan saja. Belum lagi kalau tiba-tiba Aksa ingin “bekerja” dan mendominasi laptop emaknya. Kalimat-kalimat histeris seperti, “Do not touch my laptop, nanti tibeubeut,” atau “Aaarrggg …! Jangan injak laptop Bundaaa!” adalah makanan saya sehari-hari.

Dengan ASUS ZenBook 13 UX331UAL, saya kira kita para remote worker ini bisa bernapas lega dan melakukan perjalanan dengan tenang. Dari sekian banyak keunggulan, saya akan membahas 3 poin alasan kenapa ZenBook UX331UAL menjadi laptop idaman para traveler:

1. Tahan Banting

Standar military-grade MIL-STD 810G

Sasisnya (rangka) terbuat dari magnesium alloys. Campuran logam ini memiliki karakteristik yang unik: ringan tapi kuat dan tahan banting. Meskipun logam, magnesium alloys juga tahan terhadap korosif.

Jika memperhitungkan faktor risiko saat dibawa bepergian, mari saya rinci cobaan macam apa saja yang bisa dihadapi oleh ZenBook 13 UX331UAL:

Z

Terinjak

Mampu menahan bobot manusia dari mulai bayi sampai orang dewasa. Kalau dilihat dari percobaan yang dilakukan Raditya Dika dan Ridwan Hanif, sih, bobot Radit itu 66 Kg dan Ridwan 88 Kg. Mereka berdiri di atas laptop dan menginjak-injaknya, tapi si laptop tidak apa-apa. Tidak patah, tidak juga retak.

Jadi kalau suatu hari anak balita Anda nari zumba di atas laptop, ndak usah teriak panik. Selow aja selow.

Z

Terjatuh

Laptop tibeubeut dari meja? Biarin. Laptop jatuh nyium aspal? Senyumin. Enggak bakalan apa-apa, tergores pun tidak.

“Kalau jatuh ke jurang gimana, Teh?”

Kalau jatuh ke jurang mah hilang, Mas, Mbak. Susah pula ngambilnya nanti.

“Kalau jatuhnya ke hati yang lain?”

Maaf, apa hak Anda bertanya seperti itu?

Z

Tergilas

Nah, ini, nih. Coba bayangkan jika suatu hari Anda sedang dalam perjalanan, lalu laptop Anda jatuh di aspal dan tergilas motor. Apa yang Akan Anda lakukan? Nangis histeris? Ya enggak usah, wong laptop ini tahan, kok, meski digilas motor.
Z

Terbanting

Siapa di sini yang kalau bawa laptop pas traveling laptopnya dibungkus pakai busa berlapis-lapis karena takut terbanting-banting? Apa cuma saya? Yaaa … sekarang mah enggak usah lagi. Jangankan terbanting, dipakai sebagai pemukul bola kasti aja doi survive, kok.

2. Performa & Tahan Lama

Intel® Core™ i5 | RAM 8GB | Baterai 15 Jam

Bagi para freelancer dengan beberapa “jabatan” sekaligus, dibutuhkan laptop dengan dapur pacu ganas agar bisa mengakomodasi segala macam. Katakanlah, menulis, mendesain, mengedit video, membuat animasi, dan sebagainya.

Z

Mendesain dan Menulis di Perjalanan

Berhubung software desain itu beratnya minta maaf, jenis prosesor dan kapasitas RAM adalah hal paling krusial bagi desainer seperti saya.

Saat di perjalanan, saya harus tetap menata letak buku, mendesain kartu nama, atau membuat desain web untuk klien. Enggak ada waktu untuk menunggu jika laptop tiba-tiba nge-lag atau lebih parah lagi: blue screen atau black screen.

Dengan Intel® Core™ i5 dan kapasitas RAM 8GB, laptop akan tetap lancar meski dipakai beberapa software desain sekalipun.

Z

Baterai 15 Jam

Baterainya tahan sampai 15 jam, 3 kali lebih lama dari baterai standar. Sebetulnya, saya agak kezel juga sih dengan fitur ini. Soalnya udah enggak akan bisa lagi ngasih alesan, “Maaf, laptop saya lowbat, revisi dikirim besok aja, ya.”

Ini cocok banget untuk Anda yang sering tugas ke daerah pedalaman yang belum terjamah listrik. Juga cocok untuk Anda yang traveling-nya jauhhhh dan lama. Jadi, kita masih bisa produktif walau sedang dalam kendaraan, misalnya.

3. Aman & Ringan
Fingerprint Sensor | 985 Gram

Selain fisik, data laptop amatlah penting. Saat perjalanan, saya ingin memastikan segala data di dalam laptop saya tidak akan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Z

Fingerprint Sensor & Windows Hello

Ada pepatah yang mengatakan, “Gunakanlah password dengan kombinasi huruf besar dan kecil, angka, serta simbol.”

Pepatah itu tentu benar karena dimaksudkan untuk menjaga keamanan laptop yang kita bawa. Tapi kalau Anda adalah spesies manusia pelupa seperti saya, laptop ini tepat untuk Anda.

Dengan sensor sidik jari yang ada di ZenBook UX331UAL, saya bisa membuka kata kunci laptop hanya dengan satu sentuhan. Hebatnya lagi, karena ini sensor sidik jari, tidak ada orang lain yang bisa membukanya selain saya. Aman.

Oh ya, Anda yang pernah menggunakan Windows Hello pasti familiar dengan Cortana, virtual assistant yang bisa disuruh-suruh. Kalau mau buka e-mail, misalnya, Anda tingal ngomong sama laptop. Sayangnya Cortana belum bisa disuruh bikin kopi. 😀

Z

985 Gram - 310 x 216 x 13.9 mm (WxDxH)

Dengan bobotnya yang kurang dari 1 Kg, kita bisa membawa laptop sekaligus membawa barang lainnya yang diperlukan saat perjalanan. Tidak usah khawatir kelebihan bagasi atau rempong membawa barang-barang.

Karena tahan banting dan tipis, enggak usah khawatir juga untuk menenteng laptop supaya lebih mudah digunakan saat diperlukan.

Bahu kiri saya sempat patah waktu kecelakaan lalu lintas 10 tahun lalu, ini membuat saya tidak bisa membawa ransel dengan bobot terlalu berat. Punya laptop yang “ganas” performanya tapi juga ringan adalah impian saya, dan sudah pasti impian Anda juga.

Siap Menjelajahi Dunia

” Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did.
So throw off the bowlines, sail away from the safe harbor.
Catch the trade winds in you sail. Explore. Dream. Discover.”

-Mark Twain

Benar kata Mark Twain, lebih baik kecewa atau menyesal atas apa yang kita lakukan daripada apa yang tidak kita lakukan. Kehilangan laptop dan seluruh data di dalamnya ketika liputan memang membuat saya menyesal. Menyesal karena tidak menjaganya dengan lebih baik. Tapi perjalanan itu sendiri memiliki arti yang begitu besar dan tidak akan pernah saya sesali.

Dari setiap perjalanan, dalam rangka bekerja atau bukan, saya belajar banyak hal. Bertemu orang baru, mendengar cerita mereka, menyaksikan dunia yang sesungguhnya.

Dari setiap perjalanan pula, saya lebih mengenali diri sendiri.

Bumi ini begitu luas. Barangkali dibutuhkan waktu seumur hidup untuk mengelilingi dan mengenal setiap sudutnya. Tapi dengan ASUS ZenBook 13 UX331UAL, perjalanan menjelajahi dunia pasti akan terasa lebih ringan, lebih aman, dan -tentu saja- tidak akan ada lagi drama laptop rusak karena terjatuh dan terinjak-injak.

Cheers,
~eL

Disclaimer:

Artikel ini diikutsertakan dalam “Blog Competition: Laptop Idaman Sobat Travelers”.

Sumber Referensi:

1. ASUS Indonesia

2. Travelerien.com

Foto:

1. ASUS Indonesia

2. Travelerien.com

3. Langit Amaravati

Ilustrasi dan Teks

Langit Amaravati

Share This