“Dokternya nggak bisa masuk, Teh. Dilarang oleh petugas piket.”

Pesan itu saya tatap dengan mata nanar diikuti nyeri yang menghunjam ulu hati. Saya tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, rasa khawatir terhadap kondisi kesehatan kawan-kawan petani yang ditahan di Mapolda Jabar, ataukah kenyataan bahwa polisi sudah lupa bagaimana menjadi manusia?

“Keparat!” saya hanya bisa mencaci udara. 

Jumat, 18 November 2016

Tiga hari lalu (Kamis, 17 November 2016), saya mendapat kabar terjadinya bentrokan antara aparat dengan para petani di Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat. Apa lagi kalau bukan terkait pembangunan proyek BIJB, bandara internasional yang sudah diwacanakan dalam MP3EI sejak 2011 silam.

Terus terang, saya sempat heran. Setahu saya Komnas HAM sudah mengeluarkan surat permintaan penundaan pengukuran runway. Surat bertanggal 14 November 2016 ini ditujukan kepada Gubernur Jabar, Kapolda Jabar, dan Bupati Majalengka. Tapi, yang paling penting dari isi surat ini adalah bahwa Gubernur, Kapolda, dan Bupati diminta untuk menghormati dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia masyarakat Desa Sukamulya.

surat-komnas-ham-1

SURAT kOMNAS HAM (2).jpg

Saya tertegun ketika melihat foto situasi di lokasi yang dikirimkan via WhatsApp. Foto yang mengingatkan saya pada konflik agraria sebelum ini. Rembang, Karawang, Lahat, dan ribuan lainnya. Begitu pulalah petani-petani di Majalengka ini, laki-laki dan perempuan yang sehari-hari menggarap sawah berhadapan dengan ribuan aparat yang dilengkapi dengan tameng dan senjata.

Dada saya terasa ngilu.

situasi-di-sukamulya_1

Aparat gabungan TNI dan Brimob

SITUASI DI SUKAMULYA_2.jpg

Para petani

situasi-di-sukamulya_3

Kendaraan aparat

Hari Kamis, enam orang petani diciduk dan diamankan di Polres Majalengka atas tuduhan penyerangan terhadap petugas dan entah tuduhan apa lagi. Pada hari Jumat, 18 November 2016, mereka dipindahkan ke Mapolda Jabar. Mereka kemudian didampingi oleh kawan-kawan dari LBH Bandung, WALHI Jabar, dan Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Malam itu juga, mereka langsung di-BAP.

Tapi bukan itu yang menjadi kekhawatiran saya, toh masalah hukum sudah dikawal oleh kawan-kawan LBH yang lebih kompeten. Saya justru lebih memerhatikan kondisi kesehatan Pak Carsiman dan Pak Dastam yang terluka cukup parah. Iya, saya tahu bahwa dari pihak kepolisian ada juga yang terluka, tapi setidaknya mereka langsung ditangani tim medis, sedangkan kawan-kawan petani jangankan diperiksa oleh dokter, dikasih obat merah aja nggak. Padahal sudah ada yang sampai (maaf) muntah-muntah, sepertinya gegar otak ringan.

Dada saya makin terasa ngilu saat Bung Haerudin Inas a.k.a Capung yang waktu itu mendampingi petani di Mapolda Jabar mengirimkan foto-foto petani yang terluka. Pak Carisman sendiri mengatakan bahwa dia memang mendapatkan intimidasi fisik dan psikis sejak di Polres Majalengka. Yaaa … saya sendiri tahulah penyidikan di kantor polisi itu seperti apa.

“Kepala saya dipukul waktu di Polres Majalengka,” tutur Pak Carisman kepada Capung.

Sialnya, polisi sama sekali tidak memberikan pertolongan medis. Ketika kami meminta, mereka menolak dengan alasan klinik Polda sudah tutup. Jadi, kawan-kawan pendamping hanya bisa memberikan pertolongan “seadanya”. Saya tidak tahu bagaimana Polda menangani saksi yang terluka sebelum ini. Ya mungkin begitulah: BAP dulu, keselamatan manusia kemudian.

“Bangsat!” lagi-lagi saya hanya bisa mencaci udara.

 

pak-carisman

Kondisi Pak Carisman saat di Mapolda Jabar

Malam itu kami konsentrasi kepada dua hal: mendampingi penyidikan dan mengusahakan pertolongan. Kami sudah meminta agar para petani (saat itu statusnya masih saksi) yang terluka dibawa dulu ke fasilitas kesehatan terdekat, tapi ditolak oleh penyidik dengan tiga alasan:

  1. Tidak ada keluhan secara VERBAL dari saksi yang terluka.
  2. Klinik  Polda tutup di akhir pekan dan saksi tidak diperbolehkan dibawa ke fasilitas kesehatan di luar itu.
  3. Kalau mau diperiksa, harus mendatangkan dokter sendiri.

Jadi Saudara-saudara. Jika suatu saat Anda menjadi saksi dalam keadaan terluka, pastikan itu tidak terjadi saat akhir pekan karena KLINIK POLDA TUTUP. Jujur, secara pribadi saya mulai memertanyakan prosedur P3K pihak kepolisian. Jika pihak kepolisian membaca ini, silakan menggunakan hak jawab Anda.

Akhirnya kami mengusahakan opsi ketiga. “Teh, bisa mengusahakan dokter, nggak?” pesan Capung lagi.

Karena saya berada di luar, gerak saya lebih bebas, maka mulailah saya bergerilya mencari dokter yang bisa didatangkan ke Polda. Jujur, meski sudah 3 tahun sering nongkrong di KPRI, ini pengalaman pertama saya benar-benar terlibat dalam penanganan konflik. Ternyata tidak mudah. >.<

mapolda_1

Para petani yang beristirahat sehabis penyidikan

Mencari dokter adalah cerita yang lain lagi. Saya sudah mengerahkan semua “jaringan” yang saya punya, hasilnya nihil. Lagi pula, semua dokter dan perawat yang saya kenal sebagian besar tinggal di luar kota. Kawan-kawan yang lain pun sama. Hari Jumat, malam, akhir pekan, konflik agraria, adalah 4 frasa kata kunci yang saya kira bisa membuat semua orang gugup.

Saya sudah menelepon PMI, tidak tersambung. Menelepon Rumah Zakat, mereka sudah tutup dan tidak bisa memberikan pelayanan di luar jam operasional. Menelepon 119, ternyata mereka hanya bisa mendatangkan ambulans sementara tim dokter tidak tersedia. Saya bahkan menghubungi klinik sunat yang buka 24 jam. Persetanlah, pikir saya, yang penting dokter. Meski pada akhirnya saya gagal membujuk mereka datang karena, seperti yang Anda kira, ini bukan jenis pelayanan yang biasa mereka berikan.

Karena Aksa sedang flu dan tidak bisa dibawa keluar, saya berusaha menahan godaan untuk “ngadudut” dokter dari klinik atau UGD rumah sakit mana pun. Malam itu, kami gagal mendatangkan dokter. Kami gagal meyakinkan para penyidik bahwa di atas status saksi para petani, masih ada status yang lebih tinggi: HAK ASASI MANUSIA.

Setelah melalui pemeriksaan maraton, 3 orang petani dinyatakan bebas sedangkan 3 orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka.

Lagi-lagi, ada rasa ngilu dan nyeri di dada.

Sabtu, 19 November 2016

mapolda_2

Ki-ka: Pak Carsiman, Pak Darni, Pak Sunardi

Usaha untuk mendatangkan tim medis tetap dilakukan. Kali ini saya menelepon layanan Homecare-nya Rumah Sakit Al-Islam. Anda tahu bahwa layanan Home Care hanya bisa dipesan satu hari sebelumnya karena pagi-pagi sekali mereka sudah arrange jadwal kunjungan? Mendatangkan tim medis saat itu juga, ke Polda pula, nyaris tidak mungkin.

Suara saya sudah serak, menahan dada yang kian sesak ketika membujuk petugas customer service Homecare di ujung telepon, “Teh, punten diusahain atuh yah, ini darurat sekali. Kami sudah berusaha memberikan pertolongan pertama, tapi kami butuh diagnosis medis, takutnya ada apa-apa.”

Tidak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka setuju. Ambulans pun dipersiapkan, tim medis diberangkatkan ke Mapolda Jabar.Tapi, perjuangan kami tidak hanya sampai di situ.

Saat tim medis datang, kuasa hukum petani sudah ada di lokasi, pun kawan-kawan dari KPRI. Bersamaan dengan itu, datang pula keluarga petani dari Majalengka, istri-istri mereka. Saya menyeka ujung mata yang mulai basah ketika wajah-wajah mereka hadir di layar smartphone. Ah, perempuan-perempuan sederhana, yang datang dengan bekal dan harapan sederhana pula: bertemu dengan suami mereka.

MAPOLDA_3.jpg

Waktu itu saya kira usaha penanganan petani yang sakit tidak akan menuai masalah. Sayang, perkiraan saya salah. Sangat salah.

“Dokternya nggak bisa masuk, Teh. Dilarang oleh petugas piket,” Capung mengabarkan.

Sempat terjadi adu mulut antara kuasa hukum dengan petugas piket yang saat itu berjaga. Tapi pihak Mapolda Jabar tetap melarang kami menemui tahanan. Kali ini alasannya agak berbeda dari sebelumnya:

  1. Pak Carsiman tidak mengeluh sakit secara verbal. Konon, kalau mengeluh sakit mereka pasti sudah membawa ke klinik. (Kliniknya tutup, by the way)
  2. Meskipun sudah ada kuasa hukum, tapi tahanan tidak bisa ditemui karena tidak ada pihak penyidik. Entahlah, mungkin karena hari Sabtu jadi SEMUA pihak penyidik beristirahat di rumah.
  3. Dokter tidak bisa masuk karena, “Mereka sehat, kok,” kata petugas piket.
MAPOLDA_4.jpg

Tim medis RS Al-Islam didampingi Dimas (Kuasa Hukum) dan Kang Dedi (Ketua KPRI Bandung)

Itulah saat saya mulai ingin menjadi mutant yang punya kekuatan super. Itulah saat saya mulai ingin berlari ke Polda hanya untuk mengatakan hal ini kepada petugas piket, “Ari sia jelema atawa cangkang endog? Sehat ti mana horeng, ‘nji***? Teu neuleu tahanan geus barareungeup? Teu neuleu sukuna geus bareuh? Ongkoh kamari titah manggil dokter, ayeuna geus aya dokter keukeuh teu meunang dipariksa. Dilain-lain oge jelema atuh euy tahanan oge. Cik atuhlah.”

Agar postingan ini tetap beradab, saya tidak akan menerjemahkan kalimat imajiner di atas. Poin pentingnya adalah, saya memertanyakan kebijakan Mapolda Jabar mengenai hal-hal seperti ini. Memertanyakan HAM yang dilanggar hanya atas dalih administrasi. Memertanyakan satu hal paling mendasar kepada para petugas piket, “ARI SIA JELEMA?”

Karena tidak menemukan titik temu, tim medis pulang kembali. Oh iya, melalui postingan ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada pihak RS Al-Islam atas kesediaan mereka mengirimkan tim medis. Sungguh, saya dan kawan-kawan sangat menghargai ini.

Dengan alasan yang sama, karena penyidik sedang libur, keluarga juga tidak diizinkan untuk menemui tahanan. Entahlah, saya tidak tega membayangkan bagaimana perasaan mereka.

Entahlah, saya hanya bisa menyeka ujung mata.

mapolda_5

Bekal yang dibawa dari rumah akhirnya dititipkan kepada petugas

Desa yang Dijaga dengan Air Mata

Hari ini, ketika menuliskan ini, usaha untuk memeriksakan Pak Carsiman tetap dilakukan. Semoga klinik Polda buka, semoga para petugas piket sudah kehabisan tabungan alasan, semoga Pak Carsiman dan kawan petani lainnya dikuatkan.

Hari ini, ketika menuliskan ini, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada para petani di Sukamulya, Majalengka sana.

Pak, Bu, seumur hidup saya tidak pernah menjadi petani, meski saya ingin. Saya ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas jasa kalian selama ini. Kalian yang bangun dini hari, menggadaikan waktu tidur agar padi-padi tumbuh dengan subur. Padi yang kemudian sampai di perut-perut kami.

Pak, Bu, saya sebagai warga negara Indonesia sebetulnya merasa malu. Saya juga ingin meminta maaf. Atas alasan kepentingan publik, bandara internasional yang megah nan indah itu, kalian harus terusir dari sawah dan rumah kalian. Saya tidak sanggup membayangkan rasa sakit yang berdiam di dada kalian selama beberapa tahun terakhir. Saya tidak sanggup membayangkan sebesar apa pengorbanan yang kalian relakan. Saya tidak sanggup membayangkan ingatan dan kenangan yang harus kalian hapus, ingatan tentang tanah dan air tempat kalian lahir.

Tapi kita seharusnya bangga karena tidak menyerah begitu saja. Saya tahu betapa gigihnya kalian semua berjuang. Dan ketahuilah bahwa kalian tidak sendiri. Tidak akan pernah sendiri.

Kelak, jika BIJB dan proyek Aeoricity yang -seperti dikatakan bupati kalian- akan menarik para investor ini kemudian berdiri, masyarakat Indonesia tidak akan lupa bahwa landasan dan gedung-gedung itu dibangun di atas air mata dan darah kalian. Bahwa bandara internasional yang konon akan meningkatkan prestise Jabar dan nasional ini dibangun, kita akan tetap ingat bahwa di balik itu semua, ada sawah-sawah dan rumah yang dibunuh. Sawah dan rumah kalian.

Kelak, kita akan menuntun tangan anak-anak kita. Menonton pesawat-pesawat yang tengah lepas landas, menonton orang kaya berlalu-lalang. Menonton pertemuan-pertemuan bertaraf internasional. Menonton segala macam kemewahan dan kemegahan pembangunan yang entah untuk siapa itu.

Kita akan berdiri di titik paling jauh, lalu membisikkan kepada anak-anak kita, “Nak, di sanalah sawah dan rumah kita dulu. Kau lihat landasan pacu itu, Nak? Di sanalah padi-padi ditanam. Tapi, Nak. Kau harus ingat bahwa segala macam kemewahan yang kini kaulihat tak dibayar murah. Kau harus ingat bahwa tanah-tanah itu pernah kita pertahankan dan kita jaga. Tanah yang kita jaga dengan darah dan air mata.”

Tanah yang kita jaga dengan darah … dan air mata.

Salam,
~eL

 

Share This