Lima tahun lalu, ketika pertama kali belajar desain, saya tidak pernah menyangka bahwa bidang ini adalah semacam passion yang tertunda. Saat gagal masuk FSRD ITB beberapa tahun sebelumnya, saya memang total “gantung pensil”, sama sekali tidak pernah menggambar atau menyentuh lagi alat-alat sketsa. Siapa yang menyangka bahwa desain grafis -sama seperti cinta- ternyata mengambil jalan memutar untuk kemudian kembali ke setapak yang benar.

Ngomong-ngomong soal passion, ada orang-orang yang sayangnya sampai hari ini belum menemukan passion-nya. Jadi sebelum kita membahas tentang kursus desain gratis ini, coba cari tahu dulu apakah benar bidang ini adalah passion Anda?

Ciri-Ciri Passion

Ada 4 poin (4E) untuk mengetahui apakah kita berada di jalan yang benar ataukah masih tersesat.
1. ENJOY
Kita senang ketika melakukannya. Melakukan sesuatu yang kita senangi akan memicu hormon endorphin atau hormon kebahagiaan.

2. EASY
Misalnya, Anda menganggap bahwa membuat cheese roll cake itu mudah sedangkan ketika diminta menjahit sarung bantal Anda merasa itu sulit. Jadi, passion Anda ya di bidang kuliner.

3. EXCELLENT
Hasilnya bagus atau luar biasa. Contoh, cheese roll cake-nya kok enak dan tampilannya Instagram-able padahal itu baru kali pertama Anda membuatnya.

Memang, segala sesuatu dibutuhkan proses, tapi jika orang berada di bidang yang tepat, hasilnya akan mudah terlihat. Jadi kalau setelah bertahun-tahun tulisan Anda tidak mengalami peningkatan, barangkali passion Anda bukan di situ. Atau ketika sudah belajar desain, autodidak pula, dan hasilnya gitu-gitu juga, mungkin ini bukan passion Anda.

4. EARN
Jika Anda hanya sampai pada poin ketiga, berarti itu cuma hobi. Jika hobi Anda bisa menghasilkan, itu artinya hobi Anda adalah passion dan karier.

Belajar Desain Online Gratis

Orang-orang awam atau nondesainer selalu menganggap bahwa desain adalah cara menggunakan Photoshop atau Illustrator atau Corel atau menggambar. No, it’s not. Software seperti Adobe dan Corel hanyalah alat. Saya sendiri menyimpulkan bahwa desain adalah alat/media komunikasi visual dan audio visual, sama seperti tulisan, tapi desain dibuat lebih indah. Apa pun tujuan pembuatannya, maksud utama dari desain adalah untuk menyampaikan pesan atau berkomunikasi dengan komunikan.

Satu hal lagi, desain adalah bidang ilmu yang cakupannya luasss sekali. Ada desain grafis, ada desain web, ada ilustrasi, ada komik, ada animasi, dan lain-lain. Antara satu “cabang” desain dengan cabang lainnya kadang tidak saling berarsiran. Misalnya, ada ilustrator yang jago menggambar dan membuat ilustrasi tapi dia tidak bisa kalau disuruh membuat flyer. Ada animator yang karyanya luar biasa tapi dia tidak bisa menata letak buku. Ada yang jago membuat web tapi dia tidak bisa menggambar.

Ada beberapa hal yang harus kita luruskan terlebih dahulu:

  • Untuk bisa mendesain, kita tidak harus bisa menggambar. Tapi, menggambar adalah basic skills yang akan menjadi poin plus.
  • Desainer tidak harus BISA SEMUANYA. Ingat ini, dokter spesialis bayarannya lebih mahal daripada dokter umum. Pun dengan desainer. Kuasai satu bidang dan jadilah spesialis.
  • Harus bisa semua software? No. Masing-masing software desain seperti Adobe dibuat untuk tujuan berbeda. Misalnya, Adobe Indesign untuk menata letak buku, Adobe Illustrator untuk membuat logo, dsb. Sebagai referensi, ada 3 software yang sebaiknya Anda kuasai: Indesign, Illustrator, dan Photoshop.
  • Berarti harus bisa software desain seperi Adobe atau Corel? Kalau mau belajar serius, iya. Hindari memanjakan diri dengan terus-menerus menggunakan platform desain online. Caranya? Ya belajarlah, langsung praktik.
  • DESAIN BUKAN BAKAT. Untuk bisa menggambar iya, diperlukan sedikit bakat. Tapi desain adalah disiplin ilmu dan keahlian yang bisa dipelajari dan dilatih.

Yang jago menggambar, BELUM TENTU bisa mendesain. Camkan itu, Marisol!

Saya tidak pernah bertemu atau mendengar ada seorang desainer yang menguasai semua cabang ilmu desain. So, please feel free, kalau Anda baru mulai, belajar saja dari cabang desain yang paling Anda sukai.

1.Envato Tutplus

Tutplus adalah semacam CSR-nya Envato Market, salah satu marketplace desain yang bisa dibilang prestisius. Di sini Anda bisa belajar nyaris APA SAJA. Dari mulai membuat brosur sederhana sampai 3D animation. Mau belajar cara menata letak buku? Oh, ada. Belajar mendesain web? Ada juga.

Di Tutplus, tutorialnya dibuat oleh para desainer yang ahli di bidangnya. Langkah per langkahnya sangat bisa diikuti oleh orang yang baru belajar desain sekalipun. Sayangnya yang lebih akademis atau teori dasar desain jarang sekali dibahas di Tutplus.

Ada dua jenis cara belajar: tutorial dan kursus. Di tutorial Anda bisa belajar tentang satu topik. Misalnya, cara membuat photo manipulation seperti ini:

Kalau Anda ingin metode belajar yang lebih komprehensif, Anda bisa ikut kursus. Kursus disampaikan dalam bentuk video, dalam bahasa Inggris tentu saja. Tapi hey, bahkan saya yang parah banget dalam listening, bisa mengikuti kursusnya tanpa kesulitan. Bahasanya sederhana, artikulasi dan intonasinya enakeun. Ah, pokokna mah keren.

Anda bisa menyimpan kursus yang Anda inginkan di user dashboard, mempelajarinya besok atau tahun depan atau kapan saja Anda punya waktu senggang.

Tidak semua kursus di Envato gratis. Lho, katanya gratis, gimana, sih? Well, kursus-kursus yang lebih advanced memang untuk akun berbayar. Tapi menurut saya sih untuk USD 19 per bulan, worth it lah. Saya belum ikut yang berbayar karena yang gratis aja masih buanyaaakkk yang belum saya pelajari.

2. Canva Design School

Nah, ini favoritnya para blogger, nih. Pasti sudah pada tahu dong kalau Canva bukan hanya platform desain online, tapi juga ada design school-nya? Pelajaran di Canva Design School memang tidak selengkap di Tutplus karena Canva lebih fokus ke digital marketing. Tapiii … di sini Anda bisa belajar dasar-dasar teori desain seperti tipografi, color theory, dan lain-lain.

Canva Design School memang bukan tempat kursus kondusif bagi Anda yang ingin serius di bidang desain karena nyaris semua tutorialnya diarahkan ke platform Canva. Tapi, sekali lagi, teori-teorinya bagus untuk mengisi otak.

3. Tutpad

Tutpad diinisiasi oleh Freepik, surganya vektor gratisan. Tempat yang tepat kalau Anda lebih suka berkecimpung di ilustrasi digital.

Ada dua macam kursus dan tutorial: gratis dan berbayar. Untuk 9,9 USD/bulan atau 89,9 USD/tahun, saya kira cukup memadai. Yang free course-nya juga keren, kok. Langkah-langkah tutorialnya dibagi per level dan detail sehingga kita tidak akan kesulitan mengikutinya. Di Tutpad kita bisa belajar cara membuat ikon, ilustrasi, dan lain-lain.

4. W3school

Anda yang ingin belajar basic skill tentang web development, jalan-jalan deh ke W3school. Di sini Anda bisa belajar HTML, CSS, JS, PHP, dan semuanya. Aduh, Teh, ini mah koding geuningan. Nya terus kunaon?  Selama ini, orang-orang tuh kalau ngobrol soal koding sukanya underestimate dulu terhadap kemampuan diri sendiri. Ngaku gapteklah, enggak pahamlah, inilah, itulah. Padahal nyoba belajar aja belum.

Ya memang, sih. Belajar satu dua bulan di W3school bukan berarti Anda udah jago koding. Tapi setidaknya ada keahlian baru yang akan Anda miliki.

Enaknya, di W3school kita bisa langsung belajar dan melihat hasil perubahan kode yang kita buat. Tapi saya menyarankan agar Anda belajar juga di text editor beneran seperti Notepad++, Sublime, atau Brackets.

5. Youtube

Iya, Anda tidak salah baca. Bagi saya Youtube adalah ruang kelas tanpa batas. Saya bisa belajar apa saja dari mulai how to contouring like a pro di Nikkie Tutorials sampai belajar main main biola bersama Robert Mendoza. Yang terakhir itu saya enggak serius belajar biola, saya cuma nonton Robert Mendoza sambil mimisan. -___-”

Ada jutaan channel Youtube tempat Anda bisa belajar desain. Saya sendiri belajar di channel berikut:

Dan, tentu saja, semua channel Youtube-nya Envato Tutplus. Oh ya, banyak jalan-jalan ke channel berfaedah di Youtube juga mengubah stigma saya terhadap para desainer pro di Indonesia. Dulu saya selalu mengira bahwa desainer di Indonesia jarang sekali yang mau bagi-bagi ilmu. Kalaupun ada pembahasannya seuprit-seuprit, kayak enggak niat aja ngajarin. Kayak ilmu desain itu ibarat ilmu jaran goyang yang bahaya jika diwariskan.

Lalu saya bertemu channel-nya Rafy. Ini anak muda jeniusnya semena-mena. Karyanya bisa Anda lihat di gambar berikut dan doi rajin bikin tutorial di Youtube.

Rekomendasi Buku Desain

Apalah artinya sebuah keahlian tanpa landasan ilmu yang kokoh, bukan? Kali ini saya juga akan merekomendasikan beberapa buku yang sebaiknya dibaca jika Anda serius ingin belajar desain. Ngomong-ngomong, buku-buku seperti Cara Menguasai Corel Draw dalam Waktu 1 Jam itu tidak termasuk buku desain dalam kamus saya.

Sebagai desainer autodidak, berdasarkan pengalaman, ada beberapa elemen desain yang sangat fundamental untuk dikuasai: warna, tipografi, dan grid system. Ketiganya akan menjadi landasan ketika kita mendesain apa saja dari mulai kartu nama sampai situs web.

Buku bahasa Indonesia:

  1. Tipografi dalam Desain Grafis – Danton Sihombing.
  2. Layout, Dasar-Dasar dan Penerapannya – Surianto Rustan.
  3. Hurufontipografi – Surianto Rustan.
  4. Logo – Surianto Rustan.
  5. Desain Komunikasi Visual; Dasar-Dasar Panduan untuk Pemula – Lia Anggraini S & Kirana Nathalia.

Buku luar:

  1. The Designer’s Dictionary of Color – Sean Adams.
  2. Design Elements: Color Fundamentals – Aarish Sherin.
  3. Responsive Web Design – Ethan Marcotte.
  4. Grid Systems in Graphic Design – Josef Mülller-Brockmann.
  5. Digital Design Theory: Readings from the Field (Design Briefs) – Helen Armstrong.

♥♥♥

Satu tip lagi untuk Anda yang setiap kali bertemu atau sering inbox saya dan minta diajari desain, kalau saya kasih link tempat belajar itu dibaca dan dipraktikkan. Kalau ngomong doang ingin belajar tapi enggak baca dan praktik, ya sampai Sahara beku juga enggak akan bisa-bisa meureun.

Sampai hari ini, W3school dan Envato Tutplus adalah oasis tempat saya “melarikan diri” jika sedang jenuh dengan pekerjaan. Saya kursus di Envato minimal 2 jam sehari karena, entahlah, semakin kita belajar hal baru, semakin kita merasa bahwa masih banyak hal yang tidak kita tahu.

Sebagai penutup, saya akan mengutip kata-kata Ibu, “Ilmu itu tidak akan berat dibawa. Ilmu seperti lautan dan masin air garam, semakin direguk akan semakin hauslah kita. Maka belajar dan tuntutlah ilmu hingga deguk napas penghabisan.”

Salam,
`eL

(Artikel ini dikembangkan dari artikel saya yang pernah dimuat di Serempak)


 

Share This