Malam itu, setelah mengisi kelas infografis di Bekasi, saya telantar di Terminal Bekasi karena bus terakhir menuju Bandung baru saja berangkat beberapa menit sebelumnya. Ketika kebingungan, sempat-sempatnya dipalak preman setempat dan nyaris ditipu tukang ojek. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa menginap dan harus pulang ke Cimahi malam itu juga.

Atas saran seorang pedagang kopi, saya naik bus menuju Jatibening. Konon, saya bisa naik bus ke Bandung dari sana, tapi karena saat itu sudah pukul 11 malam, hal yang sama pun terulang: tak ada lagi bus menuju Bandung. Maka perjalanan dilanjutkan ke Terminal Kampung Rambutan. 

Nyaris tengah malam, barulah saya bisa duduk tenang di bus jurusan Garut. Bus terakhir malam itu.

Tapi kisah nahas belum berakhir.

Di awal perjalanan, kondektur menjanjikan bahwa kami akan lewat Tol Pasirkoja jadi saya bisa turun di sana. Ternyata janjinya palsu. Saya malah diturunkan di pinggir jalan tol di daerah Cimareme. PADA PUKUL 3 DINI HARI. 

Bukan, ini bukan pintu tol, melainkan benar-benar di jalan tol. Jaraknya sekitar 2 km ke pintu tol terdekat. Anda ingin tahu bagaimana saya keluar? Memanjat pagar lalu glundungan ke jalan setapak penuh semak-semak di bawah jembatan.

Menjelang azan Subuh barulah saya tiba dengan selamat di kosan. Bersyukur berkali-kali karena saat itu tidak membawa Aksa. Andai Aksa dibawa, entah bagaimana jadinya. Membayangkan berkeliaran di terminal tanpa tiket pulang sambil membawa balita saja sudah cukup mengerikan.

Pengalaman buruk itu membuat saya introspeksi diri dan lebih matang saat merencanakan perjalanan. Termasuk memilih moda transportasi. Jika memungkinkan, biasanya saya lebih memilih kereta api karena lebih nyaman dan aman. Selain itu, jadwal kereta api fix dan cara booking-nya lebih mudah sehingga bisa memprediksi atau melakukan antisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

 

Dalam kereta menuju Solo – Nov 2018

Bagasi gratis

Gerbong makan yang nyaman

Pesan Tiket Kereta Api Online di Pegipegi

Saking trauma dengan insiden tiga tahun lalu itu, sekarang kalau mau pergi ke luar kota, saya akan booking tiket kereta PP minimal H-3 untuk Jakarta dan sekitarnya, H-7 untuk jarak lebih jauh. Bukan itu saja, sampai dari dan ke stasiun saja direncanakan betul-betul.

Itu kalau “perjalanan dinas” biasa. Bagaimana kalau mudik? Nggg … saya belum punya pengalaman mudik pakai kereta. Hiks.

Nah, berhubung sebentar lagi Lebaran dan ada rencana mudik ke rumah camer di Wonogiri (cieee …), jadi sejak beberapa hari lalu saya sudah hunting tiket Bandung-Solo Balapan supaya tidak kehabisan dan tidak ada drama. Jujur, ini kali pertama saya mudik keluar Jawa Barat dan yang ada di pikiran saya adalah: antre berdesak-desakan di depan loket. Ternyata enggak. Selain tiket reguler, saya bisa beli tiket kereta api untuk mudik nanti secara online via aplikasi Pegipegi.

Sebagai pemudik pemula, ada beberapa hal yang saya jadikan catatan saat pesan tiket kereta api online di aplikasi Pegipegi:

Harus Garcep

Meleng dikit aja tiket sudah habis. Jadi memang harus cepat agar bisa kebagian. Apalagi di peak season seperti sekarang. Semakin cepat dapat tiket, semakin cepat juga ketemu camer. Artinya, semakin cepat juga menuju pelaminan. Ya, enggak? (Ieu naha jadi ngomongkeun kawin, sih?)

+

Pesan Tiket PP

Untuk meminalisasi lonjakan arus balik, sebaiknya pesan tiket PP.

Pilih Metode Pembayaran Paling Cepat

Memang, tersedia banyak sekali metode pembayaran di Pegipegi seperti transfer bank, ATM, virtual akun, kartu kredit, Kredivo, sampai Indomaret dan Alfamart. Tapi, saran saya, sih pilihlah yang paling cepat karena jika telat, kursi yang tersedia bisa saja sudah dibeli oleh orang lain.

Buat Akun Dulu

Sebelum melakukan pemesanan, sebaiknya buat akun terlebih dahulu agar lebih mudah ngecek riwayat pemesanan.

Siapkan Data Penumpang

Pesan tiket untuk mudik itu ternyata harus konsentrasi penuh dan benar-benar dipersiapkan, ya? Kayak kemarin itu, pas mau ngisi data penumpang eh harus nyari dulu nomor KTP, alhasil kursi udah beda lagi. Booking dari awal lagi, deh.

Sesuaikan Bujet

Tiket Lodaya ekonomi 430 ribu, eksekutif 540 ribu. Selisih 120 ribu. Pilih mana? Nah, yang kayak gini-gini juga ternyata harus dipikirkan. Di satu sisi saya ingin jadi calon istri yang hemat dan rela diajak “susah”, tapi di sisi lain mudik bawa anak usia 4 tahun juga bukan hal mudah. Karena selisihnya masih masuk akal, saya pribadi lebih memilih kelas eksekutif. Ya lagian, bukan saya juga yang bayar. *eh gimana?

Terus terang, meski satu langkah menuju pelaminan hari mudik sudah diselesaikan dengan sukses berkat bantuan aplikasi Pegipegi, saya sama sekali tak memiliki bayangan apa lagi yang perlu dipersiapkan. Juga tak pernah tahu situasi stasiun atau kereta di masa-masa Lebaran. Pun tidak tahu cara aman dan nyaman mudik bersama balita.

Jadi, jika teman-teman berkenan, bolehlah berbagi tip mudik naik kereta bersama balita di kolom komentar. Hatur nuhun. *sun jauh

Salam,
~eL

Featured image: Sony Arifin

Share This