5 Keuntungan Membeli Rumah Bekas

5 Keuntungan Membeli Rumah Bekas

Dewasa ini, seperti yang sudah kita tahu proyek pembangunan rumah dijual memang bertebaran di mana-mana. Berbagai tipe, variasi serta harga disediakan pengembang untuk masing-masing pangsa pasar mereka. Tapi, tak jarang harga jual beli rumah baru dianggap terlalu...
Pemudik Pemula, Sebuah Cerita

Pemudik Pemula, Sebuah Cerita

Malam itu saya telantar di Terminal Bus Bekasi karena bus terakhir menuju Bandung baru saja berangkat beberapa menit sebelumnya, dipalak preman setempat, dan nyaris ditipu tukang ojek. Saya naik bus menuju Jatibening dengan maksud naik bus ke Bandung dari sana, tapi karena saat itu sudah pukul 11 malam, hal yang sama pun terulang: tak ada lagi bus menuju Bandung. Perjalanan dilanjutkan ke Terminal Kampung Rambutan. Nyaris tengah malam, barulah saya bisa duduk tenang di bus jurusan Garut. Bus terakhir malam itu. Tapi drama belum berakhir.

Sebentang Harap dari Bumi Cidadap

Kematian Nunun (61), warga Kampung Kutaluhur, Desa Ciburuy, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat ini bukanlah kisah fiksi. Bukan pula sekadar angka statistik. Nunun adalah satu dari daftar panjang korban pertambangan batu kapur di Kawasan Karst Citatah. Pun, kecelakaan serupa jelas bukan yang pertama, dan sayangnya tidak jadi yang terakhir.

Aktivitas penambangan di Citatah sudah dilakukan sejak tahun 1970-an dan selama itu pula gejolak tak terelakkan. Kecelakaan kerja dan isu lingkungan hanya dua dari sekian banyak polemik. Di satu sisi, tebing-tebing karst berusia jutaan tahun yang membentang dari Padalarang sampai Rajamandala ini mesti segera diselamatkan untuk mencegah kerusakan alam lebih jauh. Tapi di sisi lain, ribuan pekerja menggantungkan hidupnya dari sini.

Berangkat dari kegelisahan itu, para pemuda sekitar memulai langkah konkret untuk menyelamatkan pegunungan karst sekaligus kampung halaman yang mereka diami.

Share This