Anda dan Saya Blogger, Bukan Event Cheerleader

by | Last updated Jul 28, 2019 | BLOGGING, OPINION | 199 comments

Saya yakin bahwa semua blogger memiliki kebijakan tersendiri mengenai cara memperlakukan dirinya dan blog yang dikelola. Saya tidak ingin mengatakan bahwa yang begini salah sedangkan yang begitu benar. Sebab menjebak diri dalam dikotomi salah dan benar tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Sebelumnya, saya ingin mengajak Anda kembali menelaah pengertian blog dan blogger.

Blog, berasal dari kata web log, yang berarti catatan online (yang berada di web). Pengertian yang lebih lengkap, blog adalah situs web yang berisi tulisan, artikel atau informasi bermanfaat yang diupdate (diperbaharui) secara teratur dan dapat diakses secara online baik untuk umum maupun pribadi.

Blog: 1. a shared on-line journal where people can post diary entries about their personal experiences and hobbies.

Blogger: 1. a person who keeps and updates a blog.

(Sumber: artikata.com)


Dari pengertian-pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa blog adalah web berisi catatan pribadi, yang dibagikan adalah hal-hal pribadi. Kalau isinya melulu berita dan reportase, itu namanya media online. Kalau isinya melulu iklan, itu namanya e-commerce. Kalau isinya melulu placement article, itu namanya … saya tidak tahu, mungkin namanya blog kos-kosan.

Tapi tunggu dulu, beberapa tahun terakhir pengertian itu telah bergeser. Pada praktiknya blog dan blogger menjadi frontline media marketing. Ini dekade digital, brand lebih suka memasang iklan di blog dan mengundang blogger ketika mengadakan event daripada mengundang wartawan betulan.

Kita tidak bisa menutup mata terhadap kesempatan-kesempatan ini, bukan? Naif kalau kita mengatakan, “Saya cuma mau ngeblog dan berbagi dengan pembaca, tidak mau dibayar atau menjadi blog kos-kosan.”

Bohooonggg. Siapa sih yang tidak ngiler ketika melihat blogger pamer gadget hadiah doorprize dari event-event blogger? Siapa sih yang tidak tergoda untuk banting stir dari penulis media militan ke blogger yang bayarannya lebih mahal? Siapa sih yang tidak terketuk hatinya ketika melihat blogger pamer kemenangan di lomba blog yang jumlahnya berkali-kali lipat dari honor cerpen Kompas?

Well, mungkin ada, tapi tidak banyak.

Pertanyaannya adalah: sampai di mana kita menetapkan batasan-batasan agar blog kita tidak tergerus atau berakhir menjadi media online. Sampai di mana kita tahan untuk tidak (sorry) melacurkan diri?


EVENT-EVENT BLOGGER, YES OR NO?

Foto: Freepik

Sampai tiga bulan lalu saya selalu merasa berkecil hati dan pesimis ketika melihat teman-teman lain berbagi tentang event-event blogger yang mereka hadiri. Tiga bulan lalu saya selalu merasa sedih ketika melihat blogger lain diundang ke acara launching gadget sementara saya tidak.

Sekarang? Sekarang saya bahkan berani menolak undangan. Songong? Bukan, tapi karena yang mengundang adalah provider A sedangkan saya sudah jadi buzzer provider Q. Memang tidak ada kontrak ekslusif, saya sih cuma concern terhadap kode etik.

Untuk datang ke event blogger itu perlu biaya, Mas, Mbak. Kita juga perlu mengerahkan berbagai macam sumber daya. Waktu, tenaga, pengetahuan, dan lain-lain. Kalau benefit yang kita dapatkan tidak seimbang, untuk apa?

Sebelum membahas tentang biaya, cara hemat, dan (katakanlah) timbal balik, ada beberapa hal yang saya pertimbangkan sebelum datang ke event blogger.


1. Tema

Anda tahu Ulul atau Nurul Wachdiyyah? Blogger Bandung sekaligus teman satu angkatan saya di Fun Blogging. Ulul berani menolak datang ke event blogger dengan alasan, “Maaf, temanya tidak cocok dengan blog saya.”

Blogger-blogger “berdedikasi” beginilah yang kita perlukan. Contoh, saya diundang ke peluncuran eyeshadow terbaru dari brand A. Datang enggak? Enggak. Alasannya? Pertama, karena saya tidak bisa memakai eyeshadow dan enggak ngerti sama sekali soal begituan, kasihan brand-nya kalau justru mendapat hasil liputan atau review dari blogger yang tidak ahli seperti saya. Toh, ada blogger lain yang lebih kapabel. Kedua, saya enggak pakai eyeshadow. Produknya tidak akan bermanfaat buat saya.

Contoh lagi: saya diundang ke event/campaign skincare.  Pasti datang. Pertama karena skincare adalah hak semua bangsa. Kedua, karena saya memang pakai.

Oke, satu contoh lagi. Blog saya yang ini akhirnya lebih banyak membahas teknologi. Artinya berhubungan dengan ribuan launching smartphone terbaru, provider, aplikasi, dan perangkat teknologi lain. Saya akan datang apabila diundang atau mengajukan diri karena temanya sesuai. Tapi … ada faktor lain juga yang saya pertimbangkan.


2. Kode Etik

Ini sengaja saya tempatkan di urutan kedua karena (sorry to say) saya sendiri masih banyak melihat blogger yang hari ini ngetwit tentang provider A, besoknya ngetwit provider C. Saaayyy, itu namanya face to face, Saaayyy. Cari masalah sama brand.

Seperti yang saya ceritakan di atas, meski blog saya yang ini lebih banyak membahas teknologi (ini gara-gara sering ikut lomba gadget ini), saya tidak akan datang ke event yang diadakan oleh provider kompetitor.

Ini saya kasih bocoran saja, ya. Sebelum meng-hire blogger atau buzzer untuk kerja sama, brand juga memperhatikan media sosial kita. Jadi kalau misalnya Anda kerap datang ke event blogger yang diadakan provider A tapi tidak pernah di-hire jadi buzzer betulan, coba ingat-ingat, berapa banyak provider lain yang pernah Anda twitkan?

Bahkan untuk lomba pun saya hati-hati, kok. Misalnya, ada 2 lomba dari brand smartphone berbeda tapi mengedepankan fitur yang nyaris sama. Bisa dipastikan saya hanya memilih salah satunya. Sebesar apa pun hadiahnya.

Contoh lain, pernah ada 2 lomba yang diadakan 2 e-commerce dengan deadline hanya selang beberapa hari. Saya tergoda untuk ikut kedua-duanya. Tapi bedebahlah saya jika berani-beraninya ikut dua-duanya. Jadi saya cuma ikut salah satunya. Hasilnya? Juara I, dong. *lambai-lambai hadiah kamera


3. Benefit

Sebelum memutuskan datang ke event blogger, saya harus mempertimbagkan benefit yang akan saya dapat. Seperti kata Teh Ani, benefit itu bukan hanya berupa materi. Bisa saja berupa ilmu, teman baru, jaringan, atau membuka pintu baru. Ini akan saya bahas di subbab lain.

Sayangnya takaran benefit ini relatif cenderung absurd. Ada blogger yang nongol terus di setiap event dengan alasan untuk membuka kesempatan baru. Tapi lupa bahwa kesempatan yang dicari harus dibayar dengan banyak sekali sumber daya.

Tekun itu boleh, tapi sayangilah diri sendiri. Lagi pula, networking macam apa yang akan didapat kalau ketemunya dengan blogger yang itu-itu saja? Jadi, kalau tidak ada “keuntungan” sebagai timbal balik, sudah dipastikan saya tidak akan datang. Maaf, saya sibuk. Pekerjaan saya bukan cuma jadi event cheerleader.


4. Lokasi

Jakarta-Bandung itu cuma 3 jam naik kereta. Saya bisa saja datang ke setiap event blogger yang ada di sana demi kesempatan. Tapi tidak, demi keseimbangan profesi saya yang lain dan kehidupan pribadi saya yang terancam berantakan, saya harus menahan diri.

Jangankan Jakarta atau kota lain, di Bandung saja saya masih mikir-mikir, kok. Kalau event bloggernya berada di lokasi yang susah diakses atau jauh sekali dari Cimahi, biasanya saya skip. Saya tidak mau menua di jalan raya.

5. Waktu

Jadwal harian saya padat merayap. Saya punya banyak kegiatan lain selain datang ke event blogger. Jadi kalau saya datang itu artinya acaranya penting sekali atau saya memang punya waktu.

To be honest, sejak profesi saya bertambah dengan blogger profesional *eheum, kehidupan pribadi saya kacau-balau. Saya tidak punya waktu bahkan untuk diri saya sendiri.

Saya mau sih ngajak-ngajak anak ke event blogger agar sekalian ngasuh. Tapi nggak bisa karena dipikir-pikir, itu artinya saya merampok waktu mereka. Mereka berhak mendapatkan waktu yang berkualitas dengan bundanya yang seksi ini tanpa harus diganggu dengan livetweet.

6. Cost

Ini berhubungan dengan benefit. Jadi waktu ngobrol-ngobrol asyik dengan Mak Winda beberapa hari lalu, beliaunya mengatakan bahwa untuk datang ke Jakarta dibutuhkan ongkos taksi sebesar 500 ribu bolak-balik. What? Pikir saya.

Tapi memang iya sih. Untuk datang ke event blogger di Bandung saja, minimal 50 ribu mah keluar da. Kalau tidak ada benefit tanda kutip yang bisa saya dapat, ngapain saya datang? Mendingan uangnya dibelikan susu Aksa.

Masih banyak lho brand yang zalim sama blogger. Ngundang blogger dari luar kota segala tapi tidak diberi ongkos, cuma dikasih makan siang itu pun nasi kotak. Yakali travel bisa dibayar pake review.

Jangan menyamakan diri dengan jurnalis, dong. Jurnalis atau wartawan itu sudah dibayar oleh kantor, lha blogger dibayar ama siapa? Gudibeg? Say, saya nggak bilang kalau blogger itu harus mata duitan, tapi realistis sedikit lah. Anda tahu berapa tarif iklan di media cetak dan online? Satu juta sampai ratusan juta. Berapa banyak artikel di Internet yang akan didapat brand ketika mengundang blogger? Puluhan. Dan gratis. Nggak adil.

Kalau kata saya sih, ini juga cara para blogger mengedukasi brand. You’ll do your efforts, I’ll do my efforts. Itu aja sih.

“Tapi kan ini untuk mencari kesempatan, Teh. Saya blogger pemula yang sedang membuka networking, keluar modal dikit nggak apa-apa.”

Ya terserahlah. Asal jangan sering-sering. Situ sendiri yang menentukan level situ di mana, bukan saya. 


BENEFIT VS COST

Foto: Freepik

Saya blogger pemula, pengalaman saya di bidang ini hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang lebih senior. Saya juga sudah sering mendengar kisah-kisah heroik tentang loyalitas. Kisah-kisah heroik tentang blogger yang akhirnya dibayar puluhan juta rupiah. Tapi kita lupa satu hal: mereka yang loyal itu artinya loyal kepada satu brand, bukan yang hari ini ngetwit satu brand besoknya ngetwit kompetitornya.

Nah, ngomong-ngomong soal benefit dan cost, kadang kita harus tetap datang ke event blogger meskipun misalnya tidak mendapatkan benefit berupa materi. Sebagai mamah muda yang setiap kali mengeluarkan uang selalu membandingkan dengan harga susu, saya punya beberapa tip agar fardu kalaku sunnah kalampah, kalau kata urang Sunda mah.


A. COST

Semacam tip hemat:

1. Transportasi di Dalam Kota

Pilih moda transportasi dan bandingkan ongkosnya. Misalnya, kalau lokasi acara bisa diakses dengan satu atau dua kali naik angkot atau bus, saya biasanya memilih bus atau angkot. Kalau untuk datang ke lokasi saya harus turun naik 3 angkot yang ongkosnya lumayan, saya biasanya naik ojek online.

Kalau ada teman, biasanya saya mengajak barengan supaya bisa share ongkos taksi. Kalau ada teman yang membawa kendaraan, lebih baik nebeng. #eh

2. Ongkos ke Luar Kota

Kadang, ada beberapa event di luar kota yang PERLU saya hadiri. Biasanya saya akan memilih moda transportasi paling murah, paling nyaman, paling cepat, dan paling dekat ke lokasi acara.

Misalnya, ada event di Slipi, saya tidak mungkin naik kereta api ke Gambir. Lebih baik naik Baraya Travel langsung ke Slipi. Karena ongkos kereta itu 120 ribu sedangkan travel hanya 85 ribu, lebih dekat pula dengan lokasi.

3. Konsumsi

Saya tidak rempong kalau urusan makan. Ngafe-ngafe asyik, ayo. Makan di restoran, ayo. Makan di kaki lima pun mari. Tapi ada term & condition-nya. Bujet saya hanya 100 ribu, lebih dari itu artinya akan dikurangi dari pos pengeluaran lainnya.

Saya juga tidak pernah peduli apakah di sebuah event blogger saya diberi makan atau tidak. Asal amplopnya bisa mengkover biaya ngafe. #eh

Oke, begini. Biasanya saya makan dulu di rumah. Saya juga jarang jajan kecuali ngopi.

4. Akomodasi

Biasanya ini untuk event-event di luar kota. Sebetulnya, saya lebih memilih untuk tidur di Sevel daripada menginap di rumah sesama blogger. Karena apa? Takut mengganggu. Apalagi kebanyakan blogger perempuan kan sudah berumah tangga, punya suami, punya anak.

Saya merokok, sebisa mungkin tidak menginap di rumah blogger yang punya anak. Kalau menginap di blogger yang single pun harus pikir-pikir dulu, takutnya yang bersangkutan tidak tahan asap rokok.

Belum, saya belum mempertimbangkan untuk menginap di rumah blogger laki-laki, entah kenapa. Yakali mau digorok si Akang. Hahaha.

Well, kalau ada event blogger di luar kota, sebisa mungkin saya berangkat pagi dan pulang hari itu juga. Kalau harus menginap, saya harus memastikan bahwa keberadaan saya tidak merepotkan. Kalau ada bujet untuk menginap di hotel, ya menginap di hotel. Pun, kalau menginap di hotel saya akan membawa pekerjaan lain dari rumah agar waktu saya tidak terbuang percuma.


BENEFIT

Jika saya harus hadir ke event blogger dengan cost besar, saya harus memastikan akan ada benefit yang saya dapatkan. Tentu saja bukan cuma materi da rezeki mah sudah diatur sama Tuhan atuh, aikamu.

Ada beberapa bentuk benefit yang saya pertimbangkan:

1. Ilmu

Setiap event blogger menjanjikan ilmu baru, saya akui itu. Tapi saya juga harus pandai menetapkan skala prioritas. Saya juga harus pandai menetapkan ilmu yang tepat bagi saya dan blog saya.

Misalnya, event blogger tentang cara menanam padi organik. Iya, saya peduli lingkungan dan lebih senang mengonsumsi bahan-bahan organik, tapi saya tidak butuh ilmu cara menanam padi. Itu mah bagiannya Evrina Budiastuti.

“Tapi kan ilmu, Teh. Belajar mah apa aja atuh.”

Ya tapi saya tidak harus datang dan mengeluarkan biaya besar untuk ilmu yang bisa saja saya dapatkan di Internet. Lagi pula, ini bukan ilmu praktis. Saya tidak mungkin menanam padi di halaman kosan, kan? Get real aja sih.

Contoh lain, kelas-kelas advanced blogger itu datangable banget. Di luar kota sih dan saya harus mengeluarkan bujet untuk datang ke sana. Tapi ya ilmunya itu lho. Sayang kemarin sempat gagal datang karena Aksa baru saja keluar dari rumah sakit.

Atau teman-teman tahu bahwa Fun Blogging selalu mengadakan event secara berkala? Ini datangable juga. Ilmu yang didapatkan sudah terbukti membuka banyak pintu baru. Percaya deh sama saya. (Paragraf ini mengandung unsur iklan terselubung)

2. Rekreasi

Blogger juga kadang butuh hiburan, gaes. Contohnya, blogger gathering ke Tahura yang diadakan Teh Ani beberapa bulan lalu. Well, saya sih tidak mengeluarkan cost besar, yang mengeluarkan cost besar mah teman-teman yang datang dari luar kota.

Ini bukan acara yang diadakan oleh brand, tidak ada gudibeg, tidak ada biaya pengganti transportasi dan akomodasi. Tapi kenapa worth it? Karena halan-halan ke gunung dengan udara yang masih bersih itu pantas dilakukan. Duduk 12 jam lebih di depan laptop akan membuat kita cepat mati muda, sekali-kali olah raga lah.

Jadi ya gitu, kalau ada acara yang beneran rekreasi tanpa harus livetweet segala, saya sih mau-mau saja datang.

3. Silaturahmi

Waktu datang ke Jakarta bulan Desember tahun lalu, saya harus mengeluarkan ongkos sendiri. Tapi kok saya datang? Karena dua alasan: satu, karena saya sedang melakukan pencarian. Kedua, karena itu satu-satunya kesempatan saya bisa bertemu blogger dari Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya.

Silaturahmi ini juga harus dibatasi kalau menurut saya. Maksudnya, saya tidak bisa bela-belain datang terus ke setiap event dan harus mengeluarkan cost besar hanya untuk silaturahmi. Pertama, karena ketemunya dengan orang yang itu-itu aja. Kedua, takut cinta lokasi kalau terlalu sering ketemuan.

4. Berbagi

Pelatihan infografis saya kira termasuk event blogger. Sebetulnya ini tidak sengaja, waktu itu Evrina, Teh Anne, dan saya sahut-sahutan di Twitter. Membahas tentang kelas infografis, jadilah diadakan sebuah kelas dengan saya sebagai bintang tamu. Hahaha.

Mmmhhh … terus terang, saya tidak suka mengajar, dengan atau tanpa bayaran. Ngajar cerpen saja yang jelas-jelas dibayar saja saya udah nggak mau, kok. Apatah lagi grafis, di luar kota, saya bukan ahli pula. Tapi, kok saya mau? Ya karena ingin berbagi, sekadar membukakan pintu pengetahuan untuk teman-teman sesama blogger.

Sebelum ada obrolan soal “ganti ongkos”, saya sudah menyediakan bujet untuk ongkos ke Tangerang. Waktu itu eV pernah nanya, “Chan, fee kamu berapa?” Saya bilang fee saya gratis, kalian tidak akan sanggup bayar saya. Hahaha.

Tapi atas inisiatif mereka, akhirnya dibuat kesepakatan tentang iuran, itung-itung barter ilmu. Tuhan emang maha baik sama blogger salehah. Beneran, deh.

5. Networking

Jaringan ini bisa berupa dengan sesama blogger atau dengan brand. Networking juga ada term and condition-nya kalau menurut saya. Hadir di event blogger brand yang meng-hire saya jadi buzzer atau sponsored post atau yang memiliki kans besar, itu namanya networking. Hadir di setiap event dengan alasan networking itu namanya buang-buang waktu.

Untuk membangun networking ini saya lebih suka memilih satu atau dua kali pertemuan, selebihnya melakukan pendekatan secara pribadi. Pendekatan pribadi ini maksudnya melalui postingan atau komunikasi yang lebih intens. Percaya, deh. Saya lebih jago urusan mendapatkan dan menjaga networking jika dilakukan di media sosial daripada ketika ketemuan.

β™₯β™₯β™₯

Well, blogging ini adalah fenomena yang menarik untuk dikaji. Pun dengan karakteristik para blogger. Sejak dulu, sejak terjun ke dunia kepenulisan, saya belajar banyak tentang bagaimana menempatkan diri menjadi perahu kokoh yang mengapung dan punya kendali sendiri, bukan hanya menjadi gelondongan kayu yang terseret arus lalu tenggelam.

Ada berapa ribu blogger di Indonesia? Menempatkan diri hanya sebagai event cheerleader dalam mata rantai dunia marketing digital hanya akan menjadikan kita remah-remah yang mudah sekali ditepiskan.

Saya tahu, datang ke berbagai event blogger adalah hak preogratif Anda. Tapi coba pikirkan, mau sampai kapan Anda punya tenaga? Sorry to say, Anda yang setiap minggu menulis reportase event ada saja yang lupa untuk meningkatkan kualitas tulisan, bahkan lupa untuk belajar ejaan. Anda bahkan lupa cara menulis sambil bersenang-senang.

Anda bukan wartawan yang dibayar kantor untuk menuliskan laporan kegiatan. Anda dan saya adalah blogger, digital enterpreneur. Sudah saatnya kita mengedukasi brand. Sudah saatnya kita mengedukasi diri sendiri untuk meningkatkan kualitas, dedikasi, dan loyalitas. Materi itu kompensasi akhir, akan datang kepada mereka yang memang PANTAS.

Tapi, yang terpenting dari artikel minta digampar ini, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan Anda bahwa kita adalah penulis. Dan penulis yang baik akan tetap menjaga kualitas tulisannya.

Akhir kata, bersatulah blogger-blogger Indonesia! #eh

Salam,
~eL

Semacam tanggapan dari Daeng Ipul: Saya Blogger dan Saya Menulis tentang Langit

199 Comments

  1. Juliastri Sn

    tulisan cakep inih..intinya, menulislah dengan hati n hati2..bukan karena pesanan brand semata..#eh

    Reply
  2. Ria Rochma

    Sejak beberapa bulan ini, aku akui sih, agak selektif untuk ikutan acara undangan untuk blogger. Menghitung untung ruginya, secara ada anak sama suami jg yg punya waktunya, ya pas weekend. Apalagi kalau acaranya pas ngajar, mikir dua kali. Kecualiiii… Kalau temanya bagus, baruuu, ijin πŸ˜€

    Reply
  3. DollyPR

    Iya saya setuju di point benefit apa yg blogger dapatkan. Banyak juga brand yg ngajak jalan2 berhari2, semua dibayarin, tapi ga kasih uang harian. padahal ini juga penting.

    Reply
  4. Dyah Prameswarie

    Aku mah banyak nolaknya, wong blog aku isinya makanan semua :3

    Makasih sharingnya, Ceu. Love this.

    Reply
  5. Sashy

    Top tulisannya mba .. suka banget bacanya trrutama yg bagian kode etik alias etika itu. Emang sih ngejar benefit tapi bukan berarti semua tawaran diterima mentah2 yA. Thanks for sharing

    Reply
  6. Ika Puspitasari

    Di kotaku mah jarang ada event kayak di kota besar..jadi kalo pas ada undangan, cocok waktunya diusahakan datang. Kecuali kalo temanya melenceng jauh dari apa yg biasa aku tulis ya aku nggak mungkin datang.

    Reply
  7. Gustyanita Pratiwi

    Kereeeeen ulasannya teh
    Aku jugaaa pilih2..padahal rumahku tangerang jakarta doang bisa naek krl…tp yg kupertimbangkan apa ongkos transpot cukup klo rajin ikutan event tp ga sesuai benefit yg didpt…

    Reply
  8. Nufa Zee

    Cetar sekali memang artikel ini, Teh ^o^

    Reply
  9. nova violita

    sip..banget dah.., untungtnya ngeblog ditempat mencil gini..jadi suka-suka….. dan ga berasa tersinggung.. walaupun mau senggol bacok mhhahaa..

    apa pun yang dishere..ambil baiknya..buang paketnya..

    Reply
  10. Helena

    “Anda bahkan lupa cara menulis sambil bersenang-senang.”
    ini nih..ODOP jadi bikin nulis kejar setoran, nunggu anak tidur
    tapi tetep semangat ikut sampai akhir…

    Reply
  11. Ika Koentjoro

    Aku sekarang selektif ikutan acara blogger. Walaupun diundang anggota dewan dan nginep di hotel skip kalau rundown acaranya nggak berbobot.

    Reply
  12. Ika Koentjoro

    Typo pas lihat rundown acara dan isi acaranya kurang berbobot buat aku.

    Reply
  13. Rohma azha

    two thumbs up buat Unchan…
    suka bnget sama artikel ini. mengedukasi sekali untk bisa jadi blogger yang pintar. *eh
    Insyaallah… hhee
    ijin share ya, teh ^_^

    Reply
  14. Fera Nuraini

    Inilah yang bikin saya sampai saat ini belum memutuskan untuk menghadiri acara Blogger hahahaha.
    Selain alasan tema, jarak dan budget juga jadi alasan sih

    Reply
  15. Winny Widyawati

    Setuju banget terutama pas yang bagian mengudaksi brand

    Reply
  16. Nchie Hanie

    Keren tulisannya inih…
    Sukaa banget Ceu Uchan…

    Tiap blogger punya passionnya masing2, asal jangan dijadiin tmpt mendulang emas aeee
    Karena buat eykeh Ngeblog have fun deh, sakasampeurna.. kalo ada event ya tempat sosonoan hahhaa..

    Nuhun ceu, reminder buat akuh juga dan semuanya

    Reply
  17. Winda Carmelita

    Terimakasih sharingnya Mbak, pelajaran banget buat saya. Tulisannya menginspirasi utk blogger pemula seperti saya πŸ™‚

    Reply
  18. Pertiwi Soraya

    Pas banget mbak….namun utknsmentara ini emang sering ketemunya dengan orang yang itu itu juga… Tapi slama mayerinya keren, okelah dulu ?

    Reply
  19. Namora Ritonga

    bersatulah blogger2 Indonesia, udah kyk pejuang 45 kak El πŸ™‚

    Reply
  20. melati koekieku

    Baru sadar kalo blogger itu digital entrepreneur. Nge plak diri sendiri T.T

    Reply
  21. Retno

    Makasih sharingnya mbak…nutrisi buat saya yang belum pernah ikut acara blogger…

    Reply
  22. khairiah

    Panjang ulasanya tapi aku baca semya lho, jadi walau blogger pemula tetep harus punya harga diri biar brand2 itu nggak seensknya

    Reply
  23. Witri prasetyo aji

    Dapat ilmu baru lagi… loyal terhadap satu brand… okey Teteh.. makasih yaa buat ilmunyaaa…

    Reply
  24. Sally Fauzi

    Hahaha kalau teteh nulis ini tahun kemarin, aku berasa digampar hahaha.

    Untungnya sekarang sudah tobat, datang ke event blogger yang memang menghasilkan, gak cuma seseruan datang.

    Dan tulisan teteh bener banget, setujuuuu…

    Reply
  25. rahayu pawitri

    Teh, kemarin ilmunya kurang, itu nulis panjang-panjang begini idenya dari mana wkwkkk
    Kalo aku milih alasan pergi ada tiga, ada kesempatan buat Hana senang2, sesuai tema blog, dan yang terakhir ilmu lah. itu harus, nggak bisa ditawar. Makasih diingetin Teh

    Reply
  26. Oline

    Whoaaah curhatnya panjang πŸ˜€

    Reply
  27. Yati Rachmat

    Bunda suka banget isi tulisan ini, objectif banget. Alhamdulillah, bunda selama ini sudah mengambil langkah yang benar karena mengikuti event-event kebanyakan yang berkaitan dengan Penulisan. Bunda penulis pemula berusia Senior, hehe… Disamping itu bunda mengikuti event untuk menjaga agar my brain selalu fresh, untuk menjaga jangan sampai otak bunda cepat beku. Mengemai uang lelah itu nomor kesekian. Yang penting bunda bisa enjoy. Juga menengenai transport selalu yang paling ekonomis yaitu “ngojek” sejauh apa pun. Taksi sekali-seali karena atas desakan dari anak yang mengkhawatirkan “ketuaan” bunda, hehe…

    Reply
  28. eva sri rahayu

    Baru beberapa hari lalu saya mutusin buat lebih straight sama ngambil keputusan datang ke acara apa pun. Eh, pas banget malam ini baca artikel ini πŸ™‚

    Reply
  29. Nisful Ardi

    banyak job beda provider itu berarti gak boleh ya mbak… ooo.. *nyimak*
    oh iya, boleh ajarin aku tentang infografis nya gak? gratis ya… #eh

    Reply
  30. Arina Mabruroh

    Hm… sangat merasa diingatkan.

    Makasih Mba.. πŸ™‚

    Reply
  31. ulu

    Wah hatur nuhun, teh! Nama saya disebut hahahaha. Padahal saya kalo komen nolak gitu gak enak juga sih. Awalnya dulu nolak2 pake alasan palsu, ada acara lain padahal mah gak ada. Tapi sekarang saya lebih berani nolak dgn alasan emang temanya gak sesuai. Temanya bukan kepribadian saya banget sih, gak suka hahahaha. Ternyata kalo saya lebih berani nolak pake alasan tema gak cocok, saya gak ditag-tag undangan acara random lagi hahahaha.

    Saya setuju dengan semua isi tulisannya hahahaha. Yang saya sadari sekarang, my path (atau our path) as a blogger bisa jadi gak sama dengan blogger2 yg lain. Beda cara, beda pilihan. Kesadaran lainnya sih saya pengen punya daya tawar, punya kualitas sebagai blogger yang harganya gak receh karena emang saya pengen dibayar mahal.

    Makanya punya sikap itu perlu, serius dan mau mengembangkan diri juga wajib banget, sebagai bagian dari edukasi brand sekaligus sebagai daya tawar kalau ada yg tertarik pake jasa saya. Begitulah hehehhe. Tulisannya tajam banget, kalau saya yang nulis pasti urang beak, teu wani urang mah hahahhahaa nuhun sudah mewakili suara hati saya juga, Teh!

    Reply
  32. Lusi

    Sebenarnya jengah ya ngomongin aktivitas blogger lain. Aku pernah tanya, masa iya dirumah nggak berantakan ditinggal event hampir tiap hari, ibu2 jam 23.00 masih livetweet launching dan jalan2 keluar kota cuma jeda sebentar2 aja. Tapi malah dibilang nyinyir, menghakimi, dll. Padahal itu bukan karena keluargaku perfect, justru krn enggak maka aku pengin teman2 lain hati2. Tapi ya gitu deh, dibilangin pada nggak bisa, ya terserah aja kalau pada mau berantakan. Syukurlah kamu nggak mau begitu.

    Reply
  33. Ruth Nina

    Balik lagi ke alasan jadi blogger ya haha. Datang acara sesuai tema itu wajib banget buat saya. Bagian yang ilmu menanam padi bikin ngakak.

    Reply
  34. Ani Berta

    Diplomatis ini tulisannya. Keren El!
    Yuk atuh urang ka tahura deui, eh ka Stone Garden weh yuk πŸ˜€

    Reply
  35. Langit Amaravati

    Dulu aku masih datang-datang aja, temanya belakangan. Sekarang mulai selektif. πŸ˜€

    Reply
  36. Langit Amaravati

    Tapi aku seneng lho ikut ODOP walau sering keteter. Seneng nulisnya, nggak ada ketentuan dan nggak harus menang kayak di lomba. Hahaha.

    Reply
  37. Waya Komala

    akhirnya bisa baca juga..
    Mantap tulisannya. *Untung udah jarang datang ke event πŸ˜€

    Reply
  38. Helda

    Finally, ada yang 'menyuarakan' isi hatiku. Halah. πŸ˜‰ Anyway, aku juga pernah begitu terobsesi harus hadir ke acara ini-itu, tapi lama-kelamaan malah berantakin hidupku sendiri.

    Iyap, harusnya blog itu bukan jadi 'media online' dengan rentetan tulisan ulasan melulu kecuali kalau memang berencana bikin portal.

    Reply
  39. Mayya

    Adem banget baca artikel ini mbak. Keren!
    Thanks for reminding us as a blogger!
    Eh tapi aku masih blogger nggak ya? *menatap nanar blog yang terabaikan*

    Reply
  40. Innnayah

    Hahaha istilah baru “blog kost kost an” seperti biasa. Cetaarrr

    Reply
  41. Donna Imelda

    Sejak dulu, sejak terjun ke dunia kepenulisan, saya belajar banyak tentang bagaimana menempatkan diri menjadi perahu kokoh yang mengapung dan punya kendali sendiri, bukan hanya menjadi gelondongan kayu yang terseret arus lalu tenggelam. >>> Nih… ini kuncinya. *kalo gue sih ya heheheh….

    Reply
  42. Venus

    Ah saya mah santai. Dateng ke event biasanya karena kangen dan pengen ketemu temen-temen, bukan karena mikirin dapet benefit atau nggak, dapet amplop atau nggak (wait, what?!), dibayar atau nggak, karena tujuan saya dateng ke event memang bukan untuk itu sih πŸ˜€

    Aduh kok repot sekali jadi blogger ya? Seolah-olah ini profesi yang paling gimanaaaa gitu di dunia ini. Banyak sekali rambu-rambunya. Pusing saya, mbak :)))

    Reply
  43. sri rahayu

    Hihihi… anyway busway…saya selalu suka tulisanmu yang lugas seperti ini. Terlepas ada kalimat yang menyindir atau tidak, ini adalah sebuah keterbukaan dari seorang langit Amaravati. Jujur kalau buat saya yang masih bau kencur sering mupeng lihat honor JR dan hadiah lomba yang boleh dikata jarang saya capai. Termasuk banjirnya lomba blog kuliner, lomba foto kuliner yang menyertakan brand produk tertentu. Dalam hal lomba lomba berbrand ini meski saya suka masak…tidak serta merta saya ikuti walau hadiahnya fantastis..sebab selain ngeblog saya juga berusaha menjaga brand. Saya mengusung Dapur Sehat Bunda…karenanya saya tidak menerima tawaran job review dari produk yang tidak sehat menurut kriteria saya, tidak ikut lombanya bila mensyarakat menyertakan foto produk mereka.
    So far aye setuju sama mpok Langit deh… dan akan saya jadikan sebuah pertimbangan dalam menerima dan menolak undangan. Makasi ya mpok…nice sharing

    Reply
  44. Rere @atemalem

    Akuuu sukaaa dehhh bacanyaa
    Mba, kita udah pernah ketemuan belum sih, kayanya seru ketemuan sama kamu. πŸ˜€

    Reply
  45. Rinrin Rinjaniah

    Hmm, susah yah buat jadi blogger yang idealism,punya prinsip dan mampu menolak tawaran event. Kalo sayah mah masih blogger abal-abal, Ceu. Diajak ke sini mau, diajak ke sana mau. Di suruh nulis ini mau, disuruh nulis itu mau. Apalagi menerima bayaran. Semoga segera menemukan passion blog, biar blog personal sayah bisa berubah fokus satu hal. Nice sharing, Ceu..

    Reply
  46. Murtiyarini, Arin

    Saya mending datang ke undangan kawinan, gak kudu reportase πŸ˜‰

    Reply
  47. Aprillia Ekasari

    Setuju sama pendapat Mbak Langit πŸ˜€
    Salam kenal, Mbak πŸ˜€

    Reply
  48. Lathifah Edib

    Saya suka sekali pemikiran2 mbak. (y) saya juga pilah-pilih hadir di acara. Kalau gak sesuai hati, yo gak hadir. Kalau hadir di acara tapi gak diwajibkan nulis review, kebetulan itu acara gak pantes2nya ditulisin, yo saya juga ogah nulis meski sekadar basa-basi. Menuh2in blog aja. Eh! Tapi kalo acaranya mantap banget, dengan sukarela saya tulis di blog.

    Reply
  49. Euisry Noor

    Wah, mantap sekali ulasannya, Teh. Emang event2 yg ngundang blogger banyak yg menggiurkan. Tapi selektif itu tetep perlu. Aku jg lebih banyak pertimbangan ke bagi waktu. Selalu ingetin diri sendiri bahwa waktu kita gak cuma keambil buat dateng ke event, tapi juga menulis reportase setelahnya. Sekarang jadi banyak event yg skip deh. Kecuali jika dateng ke acara yg bikin kita enjoy & ketemu temen2 sesama blogger, sesekali masih perlu.
    Soal ongkos & sumber daya yg kita keluarakan juga setuju pisan. Aku sih masih beredar di event yg ada di Kota Bandung aja, & cukup ngangkot sekali-2x. Jadi ongkos sih gak pernah jebol, hehe.
    Nice sharing :).

    Reply
  50. Wulan Kenanga

    Intinya sama sih mbak, sama saya. Kalau dana ada buat berangkat, ya berangkat. Itung2 ketemu temen2 dan jalan2. Kalau nggak ada dana, ya nggak saya paksakan, kecuali saya dapat “sesuatu” yang bermanfaat. πŸ˜€

    Reply
  51. Avy Chujnijah

    nuhun sharingnya teh….
    blogger emak2 kayak saya ini mmg hrs banyak diingetin, krn kadang kebablasan hehehe

    Reply
  52. Cumilebay MazToro

    Gw banyak setuju nya, CONCERN sama kode etik ini JUARA Banget.

    Gw banyak nolak undangan atau ngebuzz kalo ngak sesuai tema dan ngak sesuai benefit plus plus nya.

    Tapi sesuai awal tujuan gw ngeblog berbagi kebahagiaan dan membuat pembaca tersenyum. Kalo dapat plus2 itu alhamdulillah bonus kerja keras

    Reply
  53. Suciati Cristina

    menulis karena kecintaan hehe, tapi jujur, emang bosen klo liat isi blog iklan semua. Tapi balik lagi, itu pilihan masing2 yaaa, mungkin ada yg bahagia dgn menulis seperti itu ^^
    Nice share teh..

    Reply
  54. Sefin

    Salam kenal, Teeeh. Iiiih. Iya banget. Kadang aku ngerasa gak enak nolak undangan. :”D Tapi postinganmu bikin melek mata bangeeet!

    Reply
  55. Nunung

    Suka sama tulisan ini.Soalnya ada juga sih blogger yang dalam sebulan datang ke tiga brand kompetitor.

    Reply
  56. Annisa Arif Rizqiani

    Plak.. kayaknya banyak yang tertampar sama tulisan Teteh.. Tapi kayaknya bakalan tetep ada 2 jalan, yang pegang prinsip “Blog urang kumaha urang” sama prinsip “Tetap sejalan sama tema dan have fun saat nulis”
    Semoga idealisme saya di dunia blogging masih dikuatkan..

    Reply
  57. Ratu SYA

    Halo mbak. Huahahaha aku setuju.
    Dulu aku iri loh sama blogger yang selalu ada di event ini itu. Juga semua lomba hempon merk apa aja diikuti, lah eksis banget. Tapi kok JD ga punya kepribadian. Tapi mungkin itu mah pikiran aku yg iri aja ga dapet undangan sebanyak itu pun males ikutan segala macem lomba.
    Kadang juga ngerasain, kita yang matre lantaran mikirin transport atau gimana. Padahal dibalik itu, beneran ninggalin Rumah dalam keadaan seadanya, buang energi, huahahahaha. Tolong ya brand, di perhitungkan hehehehe. Nice post mbak

    Reply
  58. Ipeh Alena

    Ah, saya jadi mupeng dengan ilmu infografis yg dibagiin kemarin di bekasi. huhuhuhu…saya malah pemilih abisaa. soalnya ngajuin proposal izinnya ga gampil hehe. jadi yaa diatur2 dipikir2 mana yg sangat2 berat bobot elmunya. gitu ;D

    semoga kapan2 saya bisa nimba ilmu sama Mbah chan

    Reply
  59. Pandu Aji Wirawan

    stuju dengan poin poinnya. udah punya term sendiri buat brand yg mau numpang iklan.

    Reply
  60. kurnia amelia

    Tulisannya teh Langit selalu ngena banget di hati,, *love it πŸ™‚

    Reply
  61. adiitoo

    Saya setuju dengan tulisan Teh El. Pun saya setuju sama siMbok.

    Asli, saya datang ke sebuah acara bukan karena pengen dapat duitnya atau gudibeknya, memang dasarnya pengen ketemu teman-teman saja. Ada yang baru, hati senang. Kalau ketemu yang itu-itu lagi, ya mau bagaimana? Tapi lihat-lihat lagi juga sih…

    Reply
  62. phalupi

    Kalo yang ngundang berpotensi nyinyir dan kebanyakan tuntutan juga perlu dimasukkan blacklist. Udah jauh dan luangin waktu buat dateng malah dicuekin dan disuruh review genk nero *malah curhat

    Reply
  63. E. Novia

    Saya juga banyakan nolaknya, soalnya kerjaan Di kantor Lebih penting *gaya* padahal mah efek ga Bisa ijin keluar kantor, haha.

    Kalo saya mah kebanyakan dateng Krna temanya. Kalo temanya ga sesuai, Suka ga Bisa nulisnya aka ga Ada ide, hehe (maklum blogger remahan peyek)

    Tfs, Mbak

    Reply
  64. Ety Budiharjo

    Alhamdulillah…untung saya tidak terjerumus di dalam “Pesona Event Blogger”. Nuhun teh postingannya…

    Reply
  65. dian nafi

    Wuih banyak sekali yang komen ya. Langit keren ah!

    Reply
  66. Anonymous

    Udah berapa lama ngblog? Udah ngerasain berapa ribu dollar dari blog? Kalau lo udah nyicipin manisnya dollar gua rasa lo gak bakalan nulis artikel tolol kaya gini. Dan kalau di denagr para member dan master blogger mampus lo. Nama baik lo mau dikemanain? Jangan sok dan baru belajar nulis aja udah kaya gini ^_^ Mana bawa defenisi blog segala haaaa Lol banget dah!! Eh, pahami dulu apa itu e-commerce? Asa tulis aja lol tau haaaaa Pengen gua share rasanya di Blogger Indonesia biar tau rasa!

    Reply
  67. Bai Ruindra

    Akhirnya, blog saya malah banyak curcol org-org Korea tuh, hehehe. Eh, ada lho acara keceh yg ngundang blogger daerah bayar PP trs ksh HP mahal lg. Smg tahun ini saya dan mbak diundang ya πŸ™‚

    Reply
  68. Maya Siswadi

    Tulisan ini kembali mengingatkan saya akan nasehat suami yang pernah berceramah panjang lebar soal ini. Konteksnya mirip. “Jangan mau dibodoh2i brand yg ga menghargai blogger”. Huhuhu. Itu sebabnya beberapa bulan ini saya mulai membatasi diri.
    Eh, saya pernah menulis yang hampir mirip di soal cost, tapi beda konteks, yang ini lebih to the point. Hahahaha.

    Reply
  69. Uwien Budi

    Happy blogging, teh eL ^_^
    Terima kasih tulisannya.

    Reply
  70. Tian Lustiana

    Love this. Saya kadang memiliah dan memilih event mana yang bisa saya hadiri dan juga liat kondisi, ini penting ga ya untuk saya hadiri sampai saya harus meninggalkan kerjaan dan keluarga, dan tulisan ini seenggaknya membuat mata saya terbuka lebar, makasih teh Uchan πŸ™‚

    Reply
  71. Jade Ayu

    Ahhh… iya banget inii.. aku aja yg drg ke eventnya skali2 suka mrasa bingung nulis dr sudut pandang mana lagi yaa.. salutlah tapi sama tmn2 yg tyap hari smp wiken jadwalnya full acara blogger, bs nulis liputan yg banyak n urusan rumah beres. Klo saya? Lah dtg ke 1 event di siang hari abis jemput anak pulang sekolah n pulang selepas isya aja udh bikin besoknya kudu tidur siang. Hihi.. thx ya ush nulis ini. Jd ngingetin jg. Meski balik lg ke yg punya blog tp etika itu perlu banget..

    Reply
  72. Anonymous

    Gila, Komentar gua di hapus haaaa Memang licik orang yang satu ini! Jangan sok belaga mendefenisikan blog segala dah! Kalau orang seperti lo sih enak ada kerjaan tetap, kalau seperti kami ini mencari dollar dari blog? Inilah tipe penulis pecundang yang menulis gak tentu arah ujung' an nya mencela orang karenanya gak di undang? Bearti repotasi, kontribusi lo di dunia blogger Indonesia itu gak ada? makanya nama lo gak pernah di undang? Gua bukan tipe blogger yang sering di undang, gua pencari nafkah untuk anak bini gua dari blog tapi tulisan lo ini sangat tajam dan sok mengajarkan Blogger Indonesia. Apa kontribusi lo dalam dunia blogging ini? Apa sering sharing tentang SEO, buat template, mengajarkan newbie tentang metode blogging? Enggak? gak ada bukan bahkan nama lo itu di forum-forum gak pernah kedengaran. Blog aja masih kecek gini. Tulisan ya, cuma cerpen,curhatan atau hinaan saja. Eh, asa lo tau masih banyak orang hebat di Indonesia ini dari pada lo. Eh, lo blogger bandung ya? buat nama urang badung jelek wae. Tulisan ini kalau dipublikasikan di forum gua rasa banyak mastah yang panas. Tolong sedikit bekarya lah angkat nama baik blogger bukan malah saling menghina, najis tau! Sayang blog ini masih pake cepot kalau pake WP gua bisa saja hack ni dan gua ancurkan biar lo tau rasa…. Template free boleh nyolong aja bangga haaaa benerin dulu ni blog baru belajar ngomong dan nulis. Gua punya lebih dari 100 blog aja biasa aja gak pernah sok karena gua fokus ngafkahin akan bini bua bukan kaya lo akwkakkwak. Sekarang ini gak perlu nulis yang nulis itu robot lo tau AGC? gua kira blog ini aca ecek'' apa lagi AGC wkkawkka salam blogger jiss

    Reply
  73. evrinasp

    Mas Toro mah keren dan baik hati, ramah dan tidak sombong *halah

    Reply
  74. evrinasp

    ciyeee uchan punya haters ciyeeee

    Reply
  75. Mega

    Aaaa… seneng baca artikel seperti ini, Teh. Saya ngeblog juga baru, boro-boro diundang, ngepost rutin juga jadi susah. Tetapi membaca insight seperti ini tetep asik, anggap aja pelajaran sebelum jadi blogger gaul. πŸ˜€

    Entah kenapa ngerasa lucu sama komen haters di atas-atas saya. :)) Bahasan artikel Teteh ke mana, dia ngomongnya ke mana. Terima kasih sharingnya.

    Reply
  76. Ruffie Lucretia

    Haduhhh… ngakak baca komen hater nya teteh. Pan dia gak tau aja si teteh ini eksis banget :p

    Buat ibu rumah tangga macam kita ya sekarang memang harus memilah milih event mana yang bisa didatangi, jangan kalap juga.
    Dulu saya juga kalap, setiap event blogger di datengin ujung ujung sakit. Event terakhir yang saya datengi ya itu yg pas ZTE ketemuan kan kitah teh *klo masih inget*

    Anak juga jadi korban, harusnya butuh perhatian emak nya eh ini malah emak nya rempong sendiri.

    Dan akhirnya ada tulisan teteh yang bener bener bisa mewakili isi hati saya.

    Soal rejeki mah gak kemana. Tapi jangan lupa juga ya tugas sebagai istri dan ibu di rumah. Aihh… pengen peluk tetehh XD

    Reply
  77. Langit Amaravati

    Kalau yang udah punya tema khusus mah agak enakan ya, Ceu. Nggak kayak kita-kita yang lifestyle tapi ujung-ujungnya jadi udah kayak toko kelontong: semua ada. Hahaha.

    Reply
  78. Jarwadi

    Ini merupakan salah satu tulisan yang mencerahkan. πŸ™‚

    Saya sebenarnya sudah lama kepikiran tapi memang ragu untuk menulis di blog tentang pemikiran ini

    Reply
  79. Langit Amaravati

    Positifnya, kita lebih bisa menjaga konten blog gita. Iya, nggak?

    Reply
  80. Langit Amaravati

    Aku sendiri mempertimbangkan banyak hal sebelum datang ke berbagai event.

    Reply
  81. Langit Amaravati

    Tantangannya kurang greget emang kalau di kota yang tidak terlalu banyak event, but positifnya, kita masih bisa menjaga keseimbangan.

    Reply
  82. Langit Amaravati

    Kayak kopdar Kompasiana kemarin itu, yak? Itu asyik banget sih kalau kata gue karena bisa ketemuan ama temen-temen yang sehari-hari cuma bersinggungan di dumay. Sayang kemarin gue nggak ikut.

    Reply
  83. Langit Amaravati

    Yang senior-senior kayak Teteh mah pasti udah paham betul lah perkara beginian.

    Reply
  84. Langit Amaravati

    Silaturahmi juga sering aku jadikan pertimbangan ketika datang ke event blogger.

    Reply
  85. Langit Amaravati

    Bargaining position dan bargaining power, itu yang harus kita punya.

    Reply
  86. Widy Darma

    Seru baca tulisan (dan komentarnya juga) hehehehe… ^_^

    Itu kasian yang mrepet di atas sampe typo

    Reply
  87. Mas Bocah

    Ah mbak ini bisa baca pikiranku ato gimana sih?

    Baru aja beberapa hari lalu aku memutuskan untuk meluruskan kembali tujuanku buat ngeblog, karena aku mulai jenuh dengan hingar bingar lomba lah, job review lah, event lah. Gara-gara mengejar itu semua, blog ku jadi kacau, berantakan, kehilangan identitas!

    Oke, aku nggak bilang kalo aku bakal nolak itu semua, nggak. Tapi yang pengen aku tekankan, aku gak mau jadi penjilat untuk mengejar itu semua. Mau diundang ya syukur, nggak yaa gapapa.

    Dan satu lagi, gara-gara mengejar yang seperti itu, pembacaku (yang dulu 95{02d8985cb44908aab44f386f6bd0e95916cda84c60bf28944fb245c4f338b584} bukan dari kalangan blogger) perlahan mulai menghilang. Gak ada lagi komentar dari “pembaca beneran” yang bener bener suka sama tulisanku. Yang ada, sekarang blog ku lebih sering dipenuhi oleh komentar dari blogger lain yang cuma sekedar blog walking..

    Reply
  88. Naqiyyah Syam

    hihihi di Padang enggak ada event blogger Mbk, jadi jarang banget isi reportase, kecuali acara pelatihan kepenulisan.

    Reply
  89. Langit Amaravati

    Hasil obrolan kemarin: kalau mau dibikin khusus untuk nyari duit, ya bikin yang khusus. Ndak usah dicampur-campur, kasihan pembaca.

    Reply
  90. Imawan Anshari

    Suka saya tulisannya Teh, sangat mencerahkan πŸ™‚

    Reply
  91. Imawan Anshari

    Suka saya tulisannya Teh, sangat mencerahkan πŸ™‚

    Reply
  92. Susindra

    Blogger daerah izin menjejak di sini mbak. Ikut belajar menjadi blogger yang tidak kehilangan identitas di sini

    Reply
  93. Agung Prass

    Oke tulisannya. Terbersit dari hati. hehehe…
    Nitip sandal ya kakak ^_^

    Reply
  94. sri rahayu

    Wah keren…adanya haters berarti ada perhatian yang lebih. Terlepas tulisan mba Langit menyindir ku ataupun tidak ..saya hanya ingin melihat sisi positif yang ingin disampaikan lewat tulisan ini…dan menjadikannya sebagai pembelajaran dan cermin agar bisa lebih baik dari kemarin. Makasi tulisannya mba Langit.

    Reply
  95. Priyo Harjiyono

    Tulisan yang bagus mbak, meski tidak semua saya setuju, tapi namanya beda otak pasti beda pemikiran, salam

    Reply
  96. Naufal Akhdan Baihaqi

    wah eventnya sepertinya seru. penasaran pengen ikut. kalau nanti ada lagi insyaallah saya ikut serta. semoga aja.

    Reply
  97. Review Apa Aja

    Tulisan yang menarik sekali dibalik pro dan kontranya, terkadang tidak semua event bisa dilahap oleh seorang blogger, cobalah beri kesempatan yang lain juga untuk hadir sehingga tidak itu-itu aja yang muncul dalam sebuah event, orang lain berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk ikut event tersebut :D, semoga dunia perbloggeran makin berkembang πŸ˜€ salam hangat dari blogger dari kota Pontianak, reviewapaaja[dot]com

    Reply
  98. Hilda Ikka

    Dulu awal-awal jadi blogger aku sering ikutan event. Mayan lah buat dikenal sekaligus ngider. Hehe

    Sekarang mulai realistis, karena nggak ada makan siang yang gratis. Yakali seminggu dateng 2-3 acara, kebayang gak tuh bikin reportasenya? Hehe

    Reply
  99. Alaika

    Akhirnya sampai ke komentar terakhir juga saya, Chan! Bagi air mineral dingin donk, haus, scroll downnya panjang banget! Hehe. Pro and kontra berjejer rapi di kolom-kolom komentar ini, euy! Dan seperti biasa, Uchan melaju dengan suara hati dan opini yang tersampaikan secara tajam dan matang.

    Kalo aku sih, punya beberapa alasan untuk hadir di sebuah event. Yang paling utama adalah jika event itu diikuti oleh teman-teman yang sudah lama ga ketemu. Jadi lebih ke temu kangen, dengan tentu saja bertanggung jawab untuk tunaikan kewajiban yang tersemat di dalam 'paket' undangan itu. Selain itu, memutuskan hadir atau engga, aku juga akan refers ke tema dan kesesuaian acara bakal match ga dengan passion dan kategori2 yang ada di blogku. Jika iya, dan memang ada waktu, aku akan hadir, sih! Tapi banyakan event-2 sekarang ini juga diselenggarakan pada hari kerja sih, jadi lebih sering ga hadir deh. *kok malah curcol.

    Reply
  100. Keina Tralala

    Bener mba, aku memang baru pemula, tapi entah kenapa mulai mikir buat pilih-pilih meski tulisanku masih ambur radul (gak gitu juga sih) tapi berusaha all out dengan tulisan yang menyangkut brand.. kalo udah ngupas brand susu A aku ga bakal ikutan di brand susu B.. kalo udah ngupas aplikasi A aku ga ikutan lomba aplikasi B yang apple to apple… Lalu masalah cost ato biaya transport… Ini nih yang jelek di diriku.. Kalo aku kadung suka eventnya ples aku ga mau ribet, aku berani ngeluarin uang transport lebih ketimbang bejubel di KRL ato busway.. pas nyampe rumah baru nyesel hehehe.. Thank you for reminder.. meski newbie harus tau hal-hal seperti ini ^_^

    Reply
  101. andyhardiyanti

    Selama ini belum pernah dapat undangan ke event2 gitu sih. Xixixixi..kita jauh dari keramaian euy πŸ˜€ Kebetulan aja sih ini pas ke Bandung pas ada event juga dan kebetulan suka sama topik. Jadi yuk deh cuss aja. Sekalian kopdaran sama blogger lain.

    Kalau memang gak nyambung sama topik ya jelas skip aja deh, masih banyak blogger lain juga kan?

    Oh iya, terus kapan kita kopdaran Teh? *salahfokus

    Reply
  102. Eko Nurhuda

    Ini artikel wajib baca buat saya yang baru mulai mau nyari identitas sebagai blogger. Blogku mau diarahkan kemana? Lifestyle yang sebenarnya istilah lebih halus dari blog gado-gado, atau blog tentang apa? Bingung. Kalau baca dari uraian Teteh di sini, harusnya paling nggak punya acuan agar orang langsung tahu blog ini tentang apa. Iya kan?

    Soal lain-lain, saya belum bisa komentari kecuali soal datang ke event blogger. Syarat utama ya biaya transportasinya terjangkau, gak perlu nginep dan harus dapat benefit yang jelas. Btw, tertohok nih soal networking. Saya kira sering datang ke event-event blogger itu networking, ternyata buang-buang waktu ya? Hahahaha, sepakat deh.

    Reply
  103. Slamsr

    Walah… Aku malah Blogger yg sudah jarang silaturahim, jarang nulis dan kualitasnya menurun. Lebih seneng kalau ada yg Nawarin Review, lebih masuk ke golongan kos kosan tadi bah!

    Setuju sama kode etik tadi… Ada satu brand tapi jarang ngetwit juga

    Thanks sudah sharing

    Reply
  104. Jiah Al Jafara

    Jepara mah jrg event, jd kita buat sendiri deh. yg simple sambil berbagi ilmu

    Reply
  105. Evi Sri Rezeki

    Ngeblog memang pilihan. Ada saatnya kita meraba-raba menentukan arah, ada waktunya kita menemukan jati diri ^_^

    Reply
  106. Inna Riana

    *nganga dulu*
    ini kok mewakili suara hatiku banget. aku adl blogger yg cuma diijinkan datang ke event di dalam kota doang, prioritas keluarga jd alasan. cuma dateng pas ada ilmu n ketemu temen2 asinan blogger doang. bahkan sering nolak ajakan or tawaran nulis berbayar tp kudu dateng dulu ke jkt. jauh bo…
    bukan materi yg dikejar. pernah bilang ke suami, ada event dpt gudibek setrika tuh di jkt. kamu mau? sini aku beliin setrika.hihihi asik. nah…apapun itu, teuteup aku mah ga boleh pegi jauh dr rumah.kalo aku ga ada di rumah riweuh bin kacaulah situasi.
    tulisan ini bener2 penenang jiwa n pukpukable banget πŸ™‚

    Reply
  107. Inna Riana

    *nganga dulu*
    ini kok mewakili suara hatiku banget. aku adl blogger yg cuma diijinkan datang ke event di dalam kota doang, prioritas keluarga jd alasan. cuma dateng pas ada ilmu n ketemu temen2 asinan blogger doang. bahkan sering nolak ajakan or tawaran nulis berbayar tp kudu dateng dulu ke jkt. jauh bo…
    bukan materi yg dikejar. pernah bilang ke suami, ada event dpt gudibek setrika tuh di jkt. kamu mau? sini aku beliin setrika.hihihi asik. nah…apapun itu, teuteup aku mah ga boleh pegi jauh dr rumah.kalo aku ga ada di rumah riweuh bin kacaulah situasi.
    tulisan ini bener2 penenang jiwa n pukpukable banget πŸ™‚

    Reply
  108. Imam Rahmanto

    Saya suka kalimat di paragraf penutupnya, “….bahwa kita adalah penulis. Dan penulis yang baik akan tetap menjaga kualitas tulisannya.” Hehe…salam kenal, Mbak.

    Reply
  109. indah nuria Savitri

    prinsip memang harus dijaga. Seperti juga lainnya, ngeblog pun pakai hati :). So whatever you choose for your blog, stick to it :).

    Reply
  110. nunu amir

    Wow… ulasannya provokatif ya mbak…
    Tenang… ga bakalan di gampar kok. Malahan kt nih yg berasa ditampar. Nice post

    Reply
  111. danan

    kami di daerah ngga ada pilihan karena memang tidak ada event… πŸ˜€

    Reply
  112. Adittya Regas

    Wow banyak banget yang komentar.
    Gak papa dapet komen yg gak bagus mba, saya bukan blogger terkenal atau artis blog tapi just saran… kita tetap harus mikir perasaan orang kalau nulis hhe

    digital enterpreneur! Ntap! saya setuju banget nih haha

    Reply
  113. Sie-thi Nurjanah

    *suka diem2 stalking blog-nya teh Langit, kali ini mau bersuara sedikit πŸ˜€

    Tulisannya luar biasa,cukup tepat sasaran berhubungan dgn fenomena blog/blogger belakangan ini. Viral lho artikel ini..cetarr πŸ™‚

    Reply
  114. Rina

    nice thought, baca komen-komen satu-satu banyak bgt ya, thanks mbak, lumayan buat bahan pemikiran

    Reply
  115. Hairi Yanti

    Ikut menyimak dan belajar. Buat saya event blogger masih sangat langka, tinggal di Kalimantan, di kota kecil pulak. Salam kenal, Teh πŸ™‚

    Reply
  116. Rizkyzone.com | Blogger Tulungagung

    lah kalau blog saya mayoritas isinya placement dan review, bisa dikatakan isinya mayoritas artikel iklan, kira2 apa yah namanya hehehhe lha mang fokusnya kesitu

    Reply
  117. Langit Amaravati

    Barusan lihat, beneran isinya iklan semua. Bwahahah.
    Serah situlah mau namainnya apaan.

    Reply
  118. Langit Amaravati

    Saya nggak tahu apakah event-event seperti ini akan merambah pula ke luar Jawa. Yang jelas teman-teman di (meminjam istilah Daeng Ipul) daerah sudah tahu situasi di pusat dan sekitarnya. Jadi, jika suatu saat di sana banyak event sudah punya lebih banyak pengetahuan. Demikian πŸ™‚

    Reply
  119. Langit Amaravati

    Dalam polemik seperti ini, kebenaran itu relatif. Tujuan saya cuma satu kok: menyadarkan. *eheum

    Reply
  120. Langit Amaravati

    Hahaha. Dunia Internet memang selalu penuh kejutan. Saya juga nggak nyangka artikel seperti ini malah jadi viral.

    Reply
  121. Langit Amaravati

    Seperti yang pernah saya tulis dalam komentar di Facebook, bahasa tulisan tidak memiliki intonasi. Interpretasi tergantung kepada wawasan dan pengalaman pembaca. Gaya saya memang lugas, tapi beneran nggak ada maksud “jahat”, kok. πŸ™‚

    Reply
  122. Langit Amaravati

    Jadi ketika sekalinya hadir ada kangen-kangennya gitu ya, Teh? Lebih seru sih kalau kata aku mah. πŸ˜€

    Reply
  123. Langit Amaravati

    Seperti yang saya katakan di awal postingan ini, setiap blogger memiliki kebijakan sendiri dalam memperlakukan blog dan dirinya.

    Reply
  124. Langit Amaravati

    Mungkin selain mengedukasi brand kita juga harus mulai mengedukasi pasangan untuk …mmmhhh. Anyway, sudah mencoba modus launching smartphone terbaru? Siapa tahu dibeliin juga. Hahaha.

    Reply
  125. Langit Amaravati

    Simpel, kok. Nulis aja yang bagus kalau kata aku mah. πŸ™‚

    Reply
  126. Fahmi (catperku.com)

    Saya ngeblog buat apa ya~ XD buat pamer jalan-jalan doang sih~ xixixi tapi jadi jarang bisa datang ke event karena sering nggak pas lokasi n tempatya~

    Reply
  127. Langit Amaravati

    Tempat penitipan sandal di rak ujung koridor sana,ya. Hahaha.

    Reply
  128. @unggulcenter

    Mngkn maksudnya komen Bw nya ga personal. Ketauan skdr basabasi. Wlo bagi gw sih mayan lah ada yg komen drpd sepi. Tp skrg klo ada tombol sosmed sprti likes fb tampil bs ngrasa klo oh ada yg liat hehe

    Reply
  129. Ria Buchari

    Sy slalu sk bc tulisan teteh, trims ya teh utk pencerahannya, krna sy yg trmasuk jrg utk ikutn event krn pkrjaan..slm knl teh πŸ™‚

    Reply
  130. Ririe Khayan

    Terima kasiiih Mbak, pencerahan sekaligus support banget untuk memilih dan memilah kala ada event yang mengundang blogger.

    Selain faktor macth waktunya, pertimbangan ikut event juga saya lakukan bila jaraknya masih di dalam kota (sekitaran Jogya), dan pastinya urusan keluarga come first.

    Reply
  131. Bimo Aji Widyantoro

    Saya sih belum tau apa-apa soal event karena nyatanya di daerah saya sendiri event blogger itu masih kurang, kalau ada ya syukur kalau gak ada yang gak apa-apa. Soal tipe blogger pemburu event ini mah saya sempat dengar tapi mengabaikannya dan berpikir ahh palingan cuman datang duduk doang. Tapi waduh ternyata lebih kompleks lagi masalahnya.

    lucu juga yah, ada juga blogger tipe pemburu event dan dengan angkuhnya datang cuman mau goodie bag. Yah memang sifat manusia adalah tidak akan pernah puas tapi yah jangan terlalu kelihatan banget lah.

    sip akhirnya saya ngerti ternyata dunia blogger juga ada yang seperti ini

    Reply
  132. Kresnoadi DH

    Whoaaaa seru banget nih teh. Dapet banyak pencerahan untuk blogger remah-remah serundeng kayak saya. Yang bagian kode etik itu lho. Hehehe. Mungkin yang jangan diluapain itu, bener kata teteh, soal blog sebagai wadah 'seneng-seneng'. (w)/

    Reply
  133. Grace Melia

    Tadi sudah nulis komen panjang, karena satu dan lain hal, aku hapus lagi. Hahahaha. Semoga kapan2 bisa ngopi cantik bareng dan ngebrel sepuasnya πŸ˜€

    Reply
  134. Dzulfikar

    Chan, ajarin untuk bikin konten viral dong hehehe πŸ˜€

    Terlepas dari kontroversi yang ada, gw setuju dalam beberapa poin. Jawaban diplomatis, semua kembali ke blogger masing-masing hahaha,,, duh maaf gw nyampah banget jadinya.

    Reply
  135. Ardiba Sefrienda

    Ikutan jadi 'cheerleader' komen ah. Wkwkw. Kalau di kota besar sih event banyak banget ya. Kl di kota kecil sih ada event malah jadi ajang kopdar gratisan. Untungnya effort ke tempat acara jg g besar

    Reply
  136. Primastuti Satrianto

    Bersyukur di kotaku, eventnya masih segelintir dan kompaknya dgn blogger di acara ngilmu. Kebayang pasti kl yg 1 hari smpi 3 event, pasti worthed banget ngejarnya. Buat sy, blogging is fun activity, for caring each other. Terus semangat ya mba.

    Reply
  137. Titi Alfa Khairia

    Aku setuju banget blogger bukan cheerleader, dan para pengundang juga jd memperlakukan kita semaunya karena kita meletakkan posisi kita di ” situ “. Makanya aku udah tekad in sejak 20016, hanya datang kalau ada benefit yg pantas (ilmu, networking, uang..hehe). Lhaaaa…padahal aku ini blogger apalah. Tapi kupikir kalau waktuku habis ikut event, ngabisin bensin, terus masih harus posting…mending aku bisnis dan nulis buku dan ikut lomba berhadiah jutaan. Duh…kesannya matre?? Iya juga sih, terus kita kerja untuk apa? Gudibekkk?? Haha

    Reply
  138. Rebellina Santy

    ah syukurlah. akhirnya suara hatiku yang terdalam terwakilkan oleh tulisan ciamik ini. akhir-akhir ini terus terang, tren ngeblog diwarnai oleh JR, dan reportase. agak menjemukan dan bosan bacanya. Makasih untuk tulisannya sehingga aku tak merasa terkucilkan karena punya pemikiran seperti dirimu. hanya saja aku tak cerdas dalam menuliskannya :). Jadi tulisan Mbak sangat mewakili

    Reply
  139. Wahyu Bukanrastaman

    kalo aku gag pernah datang acara, wong diundang aja jarang. hihihi

    salam kenal kak., Tulisannya kece

    Reply
  140. Noorma Fitriana M. Zain (Blogger Kesesi)

    Huuft.. Ngos-ngosan banget Kak Uchaaannn aku scrollnya. . .

    *minum es dawet*

    Teh Uchan mah ngerti banget isi hatiku,

    Haruskah aku ungkapkan isi hatiku juga?

    Aku blogger apa, ya?

    Blogger Pelosook, hehehe

    Reply
  141. Agus Safari

    Bung Anonymous,
    Kalau menyimak tulisan anda yang didasari dengan penuh emosi (baca: kasar) dan tidak punya etika sebagai seorang Blogger yang punya 100 blog, maka ungkapan tulisan anda itu menjadi tidak karuan apa yang dibahas dan kesana-kemari, ya karena faktor emosi tadi. Saya pikir seorang Blogger sejati (apalagi mencari nafkah untuk anak dan istri) tidak sepatutnya menanggapi tulisan Blogger dengan kalimat yang tidak patut, kalau pun anda mengkritisi dengan pedas sekalipun tidak akan keluar dari koridor 'berbahasa' seorang Blogger yang penuh pengalaman. Bukankah keterampilan berbahasa seseorang mencerminkan kecerdasan dan kejelasan jalan pikirannya?

    Saya tidak paham dengan ungkapan dalam tulisan anda di baris akhir yang mengatakan: “Sekarang ini gak perlu nulis yang nulis itu robot…” Maksudnya apa ya Bung? Padahal anda begitu panjang lebar menulis mengenai pendapat anda tentang tulisannya Langit Amaravati dalam bentuk tulisan, bukan oral (baca: lisan) dan padahal juga anda telah memberitahu kami dengan pengalaman 100 blog, dalam bentuk tulisankan? Nah, sampai di sini dalam jemala saya menjadi rancu dengan kerangka 'berbahasa' anda, bung..?!

    Supaya persepsi kita sama mengenai 'berbahasa' yaitu; bahwa komponen berbahasa itu adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis (maaf tidak bermaksud menggurui, tapi menyamakan dulu persepsi, bung). Artinya empat komponen berbahasa itu pasti akan ada disetiap manusia yang normal dan berbudaya, dengan demikian menulis itu bukan robot, bung. Anda toh pandai menyimak, berbicara, membaca dan menulis dengan 100 blog yang dipaparkan di atas, artinya anda bukan robot.

    Bung, anda telah menyinggung soal Cerpen. Bagi anda cuma cerpen. Apakah anda penulis cerpen juga? Cerpen adalah sebuah karya tulis yang tidak semua orang bisa melakukannya, baik cerpen sebagai karya sastra ataupun pop. Cobalah anda jalan-jalan ke dunia sastra Indonesia, begitu banyak para cerpenis Indonesia yang hidupnya dari cerpen, baik pada jaman sastra lama atau baru sampai sastra modern saat ini. Jangan hinakan profesi seorang cerpenis Indonesia, seperti anda menghinakan seorang Blogger sejati bagi diri anda sendiri.

    Sumbang saran: pakailah tanda baca dengan benar, meski kita masih terus belajar dengan tanda baca dalam bahasa Indonesia. Kalau mau pakai bahasa dengan gaya gaul, pakai gaya gaul dengan maksimal, jangan campur-campur. (Sekali lagi maaf bukan maksud menggurui Blogger yang sudah punya 100 blog).

    Sekedar pertanyaan saja: “Apakah Anonymous itu nama asli atau samaran sebagai blogger, bung?”. Saya kutip ungkapan yang menarik dari seorang Shakespeare dalam lakon Julius Caesar: “Seorang pemberani matinya hanya satu kali, tapi pengecut matinya berkali-kali..”.

    Terimakasih.
    Salam dan jabat erat,
    Agus Safari

    Reply
  142. Heni Puspita

    Sama Mbak. Di Bandar Lampung juga hihihihi.

    Reply
  143. Anjar Sundari

    Walah mbak kolom komennya jauh bingit, butuh perjuangan yang gigih untuk sampai kesini hehe

    Tapi begitu sampai malah spicles karena sudah baca banyak komen di atas

    Intinya sih tulisan ini nambah ilmu saya banget, tentang banyak hal yang berhubungan dengan perbloggingan

    Kalau sebelumnya saya nggak pernah ikutan kumpul-kumpul karena minder mungkin suatu saat harus dipaksakan juga ya mbak, karena sosialisasi itu penting juga asal ngga mengganggu pekerjaan lain yang lebih utama πŸ™‚

    Salam kenal mbak Langit, saya sudah tahu namanya dari dulu sering disebut-sebut tapi baru kali ini ikutan komentar πŸ™‚

    Reply
  144. Frida Herlina

    Astagaaaa, ada Pak Agus Safari, Chaaaaan.

    Salam kenal, Pak.
    *salim*

    Chan, Pak Agus ini yang ngajar nulis cerpen itu, yaak?

    Reply
  145. Langit Amaravati

    Mbak Frida: Yoyoy, Pak Agus ini guru saya juga.

    Anyway, jadi saya tidak perlu membalas komen Bun Any (disingkat biar gemez) karena sudah diwakili oleh Pak Agus. Makasih lho, Pak. *sungkem

    Reply
  146. Agus Safari

    Mbak Langit,
    Pada dekade tahun 1990-an di negeri kita mulai masuk yang namanya teknologi, yaitu Komputer. Semua menjadi komputerisme. Negeri kita pun mulai melahap teknologi tersebut (meski kita sudah tertinggal 30 tahun dengan negara adidaya). TV swasta mulai bertambah. Dari sinilah mulai 'riuh' dengan apa yang disebut Industri seni salah satunya yang turut terimbas oleh teknologi tersebut. Maka dari perlombaan dan berebut teknologi tersebut, Industri seni terbagi menjadi 2 kiblat; yaitu Kuantitas dan Kualitas. Mengikuti selera pasar dan tidak. Hingga terjadilah produk yang semrawut saat itu, tapi pasar banyak yang suka. Hehehe memang masyarakat Kita juga yang doyan pada selera itu. Maka terjadilah perang antara kuantitas dan kualitas.

    Indonesia pun menjadi sampah kuantitas, sementara kualitas terpinggirkan dan berlaga di dunia luar. Negeri kita saat itu belum siap dengan perangkat Industri seni, tapi Hongkong, China, Jepang dan India sudah siap dan tidak terganggu ingar-bingar industri seni. Puncaknya di bidang seni; Industri film mati suri sampai 10 tahun, di bidang politik dan ekonomi kita remuk-redam dengan peristiwa reformasi (yang saat ini sudah kehilangan maknanya).

    Mbak Langit,
    Masuk dekade tahun 2000-an. Lagi-lagi Negeri kita dihebohkan dengan malang melintangnya dunia maya. Berjamurlah media sosial dengan segala atributnya dan turunannya. Maka negeri ini menjadi kelimpahan hasil teknologi canggih tersebut yang menyiratkan jarak ribuan bahkan jutaan kilometer menjadi sedekat mata memandang. Fasilitas ini menjadi ajang berpikir dan berbuat kreatif dengan segala aspek dari media sosial tersebut, salah satunya adalah Blogger sebagai peluang untuk berbuat dan berbagi secara kreatif (tentu saja sangat menyenangkan bila menghasilkan uang hehehe..).

    Perkembangan yang membabi buta tersebut secara perlahan membentuk 2 kiblat; persis seperti dekade 90-an, yaitu: kualitas dan kuantitas. Kita hanya menikmati hasil teknologi tersebut dan tentu saja dengan kreatifitas setiap individu pemakainya. Inilah dunia Industri yang selalu menjajakan pilihan bagi kita sebagai manusia yang menggunakannya. Hidup adalah memilih bukan dipilih kan? Persis dalam dekade 2000-an ini perfilman Indonesia lahir kembali dari mati suri, tetapi tetap kembali Indonesia makin tertinggal oleh negara Asia yang tidak mati suri dalam perfilman, namun kelahiran inipun sebuah harapan baru bagi Industri film di negeri kita ini, meski tetap terjadi 2 kiblat, yaitu selera pasar dan selera non pasar (hehehe saya belum mau bilang selera idealisme).

    Mbak Langit,
    Begitu pun dengan mahluk yang namanya Blogger. Seiring dan sebangun dalam ruang Industri (seni?) saat ini, mau tidak mau dan pasti secara perlahan akan terseret pada 2 kiblat seperti di atas, yaitu Kualitas dan Kuantitas. Memilih salah satu kiblat adalah sebuah sikap dari kita, maka kita pun tidak perlu ikut campur dan memaki kiblat yang sudah kita pilih, seperti apa yang dilakukan oleh Bung Anonymous telah memasuki ranah kiblat yang bukan pilihannya, hingga pendapatnya menjadi meracau kesana-kemari, karena tidak paham terhadap kiblat yang bukan pilihannya.

    Mbak Langit,
    Memilih selera pasar (kuantitas) adalah sebuah sikap yang tidak salah dan pilihan itu bermain di ranah 'abu-abu', sedangkan memilih kepentingan kualitas adalah sebuah sikap yang tegas dan tentu saja pilihan tersebut adalah kita sedang mengetuk pintu idealisme kita untuk dibuka dan dijelajahi ranah tersebut.

    Kini tinggal kita yang menentukan pilihan. Selamat memilih bagi para Blogger. (Hihihi kaya Pilkada saja).

    Salam dan jabat erat,
    Agus Safari

    Reply
  147. itsmearni

    Wow betapa berlikunya hidup blogger hehe
    Saya mah ngeblog buat senang-senang. Salah satu “me time” saya adalag menuangkan ide dan kisah dalam bentuk tulisan. Karena memori otak terbatas, biar kenangannya gak hilang ya ditulislah dan kadang dilengkapi foto, gitu doang

    Nah kalau masalah event, saya malah belum pernah ikutan, kebanyakan hari kerja sih, lha saya pan kudu ngangon bocah. Wong dulu mutusin resign karena mau komit ngurus bocah sendiri, kalau tetap ditinggal2 karena event blogger rasanya kok mengingkari komitmen sendiri ya πŸ™‚

    Reply
  148. Andi Cintana

    Ini aku banget mbak waktu awal-awal dapet undangan event. Awalnya sih seneng, pas skrng fokus jadi food blogger aku mulai milih-milih acara, karena aku pernah di undang event (bukan berkaitan ttg food) dan bener aja aku merasa rugi, cuma keluar transport doang, gak nambah networking dan bahan untuk diposting pun gak ada-_-

    *btw komennya banyak bgt mbak, scrollnya sampe pegel tangan saya haha

    Reply
  149. Ganjar Nugraha

    Sedikit sekali blogger yang bermental seperti Teteh ini, hebat bener orang Cimohai nih πŸ˜€ salam kenal.

    Reply
  150. Dede Ariyanto

    Baca artikel ini, rasanya pengen teriak, hai brand yang suka anggap blogger murahan, baca ini he he

    Reply
  151. Gangan Januar

    Setuju, sudah saatnya mengedukasi brand.
    Hidup Cimahi! πŸ˜€

    Reply
  152. Doni

    saya sampai saat ini belum memutuskan untuk menghadiri acara Blogger, ya salah satu alasannya ini hehe

    Reply
  153. IndiRa

    Ya ampun Kak El. Jam 2 pagi dini hari, dan aku masih sibuk nyari kolom komentar. Hahaha, astaga demi apaa?
    Demi komentar tahun 2017 πŸ˜‚
    Di Surabaya sepertinya mulai ramai juga event ngundang blogger. Aku baru ikut sekali, dan memang effortnya lebih besar, karena rumah jauh di pinggiran.

    So far, demi menjalin relasi dengan blogger lain aku enjoy via WAG dan social media. Sembari mengamati trend, tetap menulis sharing tentang lifestyle. Baru sadar mungkin aku kurang cocok ikut event-event kalau bukan bidangku.

    Reply
  154. Bunda Erysha (yenisovia.com)

    Wah teteh makasih banyak ilmunya. Semoga barokah ya. Ilmunya bermanfaat banget untuk blogger pemula kayak aku ☺️

    Reply
  155. Lim Suandi

    Wih mampir kesini karena rasa penasaran. Pernah juga sih saya nulis perihal arogansi dalam dunia per-bloggeran. Akhirnya sampai seseorang juga membalas dengan membuat kembali tulisan (sebagai balasan tulisan saya). Ya saya sih senang sampai ada yang membuat tanggapan.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This