Updated on:

Tip Belajar Bahasa Pemrograman

Saat di sekolah atau kuliah, kita pasti diajari dan dipandu oleh dosen atau guru. Tapi untuk pembelajar autodidak, kita tidak akan mendapatkan itu. Kita harus mencari materi sendiri, belajar sendiri, evaluasi sendiri, makan sendiri, bobok sendiri. *eh

Maka dari itu, diperlukan semacam strategi agar pembelajaran tidak hanya berproses, tapi juga berprogres. Nah, kali ini kita ngobrol tentang tip belajar bahasa pemrograman untuk Anda yang belajar ngoding secara autodidak.

Selamat membaca.


Tip Belajar Bahasa Pemrograman untuk Pemula

Artikel ini dibuat sebagai gambaran bagaimana saya belajar ngoding. Tapi karena setiap orang pasti punya gaya belajar berbeda, tip-tip di dalamnya bisa saja sesuai dengan Anda, bisa juga tidak. Maka, pilihlah saja yang menurut Anda paling sesuai.

1. Memahami Pengertian Bahasa Pemrograman

Apa, sih, bahasa pemrograman? Mengapa kita harus pakai sintaks/koding ketika membuatnya? Untuk apa? Hal-hal ini mesti dipahami dulu karena kalau tidak, nanti bingung.

2. Berpikir Sederhana dan Terstruktur

Ngoding itu sederhana, yang rumit mah fall in love with people we can’t have. (Euleuh, curhat)

Enggak usah ndakik-ndakik dan memperumit segala sesuatu. Anda tidak harus jadi mutant atau IQ berapa ratus sekian untuk bisa ngoding. Selow aja selow.

Maksud saya begini, ngoding memang tidak mudah. Pun, ngoding memang bukan untuk setiap orang. Tapi, kan, ada tuh developer yang memberi kesan bahwa ngoding itu susaahhh banget. Fear mongering gitu, deh. Padahal mah b aja. Jadi, jangan takut untuk mencoba dan berpikirlah dengan cara sederhana.

3. Memahami Fungsi Masing-Masing Bahasa Pemrograman

Bahasa pemrograman ada banyak jenisnya. Javascript, PHP, C, Python, dll. Masing-masing punya kegunaan. Nah, sebelum belajar suatu bahasa pemrograman, kita mesti tahu dulu bahasa pemrograman tersebut bisa digunakan untuk apa saja?

Misal, beberapa bulan lalu saya baru mulai belajar Python di Progate. Sebelum mulai, saya cari tahu dulu Python teh bisa dipakai untuk bikin apa aja. Oh, ternyata bisa bikin software invoicing, bikin aplikasi kalkulator. Dengan begini, saya ada bayangan.

Berikutnya, jika kita punya project atau task, gak bingung lagi. Contoh lain: saya mau membuat fungsi/fitur load more di website. Jadi ketika diklik, akan muncul artikel berikutnya di halaman yg sama. Pakai apa nih bikinnya? Bisa pakai Javascript, bisa pakai Ajax.

Paham masing-masing fungsi bahasa pemrograman juga bisa menghindarkan kita dari overkill. Overkill tuh menggunakan bahasa pemrograman yang sangat canggih padahal task-nya bisa dieksekusi dengan satu baris kode sederhana.

4. Native

Salah satu kesalahan pembelajar autodidak (termasuk saya dulu) adalah langsung belajar library atau framework tanpa belajar native-nya dulu.

Contoh, PHP punya beberapa framework. Dua di antaranya: Laravel & CodeIgniter. Kalau mau bener, belajarnya PHP native dulu, baru Laravel. Ibaratnya, kalau nyetir kita belajar manual dulu baru matic. Biar apa? Ya, supaya -sekali lagi- tidak bingung.

5. Struktur Sintaks

Bhs. Inggris = what

Bhs. Indonesia = apa

Bhs. Sunda = naon

Ketiganya diucapkan dan ditulis berbeda, tapi maknanya sama, bukan? Lebih jauh lagi, masing-masing bahasa punya grammar/tata bahasa berbeda.

Sama seperti bahasa manusia, bahasa pemrograman juga punya “grammar” yang berbeda-beda pula. Ada aturan dan cara penulisan sintaksnya. Kita tak harus hafal semuanya, setidaknya tahu strukturnya.

Masih tentang sintaks, ada satu kenyataan pahit yang perlu saya sampaikan: HARUS TERTIB TATA BAHASA, BOLEH TYPO TAPI TETAP HARUS DIPERBAIKI.

Begini, kalau kita sedang menulis biasa lalu lupa titik, tidak akan terjadi apa-apa. Kalau sedang ngoding, lupa titik atau titik koma, misalnya, web kita eror. Contoh, ketika saya membuat theme WodPress, kan, pakai PHP. Salah nulis titik dua doang, eror webnya. Sensitif udah kayak test pack.

6. String, Array, Variabel

Kita akan menemui istilah-istilah ini di hampir setiap bahasa pemrograman. Pahami ini and you ready to go. Saya belum punya kapabilitas untuk menjelaskan tipe data lebih jauh, nanti deh saya belajar dulu agar bisa menjelaskannya dengan cara sederhana.

Note: cara menulis string, variabel, dan array berkaitan dengan struktur sintaks. Masing-masing bahasa pemrograman punya aturan sendiri.

7. Istilah-Istilah Dunia Programming

Sama seperti di bidang lain, di dunia programming juga banyak istilahnya. Nah, kita juga perlu belajar dan hafal istilah-istilah ini agar tidak “roaming“. Misalnya, apa itu code editor, debugging, front-end developer, dan sebagainya.

Istilah-istilah tersebut memang tidak akan berpengaruh langsung pada kemampuan ngoding kita, tapi setidaknya kita paham saat membaca dokumentasi atau ketika ngobrol dengan developer lain.

8. Jangan Hejo Tihang

Tahu hejo tihang? Pindah-pindah. Ini juga kesalahan yg sering dilakukan oleh pembelajar autodidak. Lihat orang belajar apa, ikutan, ada yang baru lagi ikutan lagi. Gitu terus padahal satu aja belum beres.

Tidak ada yang melarang kita belajar apa aja, tapi ahli di satu bahasa jauh lebih baik daripada medioker di semuanya. Atau kalau Anda tidak sabaran, bisa pakai cara saya:

  • Belajar JS & PHP secara bersamaan.
  • Lanjut ke Laravel & Vue juga secara bersamaan.
  • Sekarang lagi belajar Python dan NodeJs (walau Node bukan bahasa pemrograman) juga secara bersamaan.

9. Buat Catatan

Karena gangguan kepribadian yang saya derita, sering sekali mengalami short term memory loss. Bayangkan, lagi ngoding tiba-tiba lupa aja gimana caranya mengubah ukuran huruf. Padahal sudah pernah pakai itu ribuan kali. So, it’s okay kalau kita membuat contekan atau …… atau browsing saat tidak tahu atau lupa sintaks tertentu.

Tip:

  • Buat catatan sintaks yang sulit atau belum paham betul di post it dan tempel di laptop.
  • Buat catatan sintaks, cetak, lalu tempel di tembok depan komputer.
  • Liha di dokumentasi bahasa pemrograman yang bersangkutan.

Sering nyontek di W3School tidak membuat kita jadi developer yang payah, kok. Selow aja. 🙂

10. Konsisten dan Asah Terus

Kalau kita sudah bisa membuat sesuatu dengan satu bahasa pemrograman, jangan berhenti di situ. Asah terus sampai betul-betul paham. Ibarat pisau, begitu juga dengan ingatan dan keahlian, semakin diasah maka akan semakin tajam.

11. Progresif

Yang namanya belajar, pasti harus ada kemajuan. Tapi, patokannya bukan orang lain, melainkan DIRI KITA SENDIRI. Tidak usah pasang target tinggi-tinggi, yang kecil-kecil aja dulu. Misalnya, target minggu ini bisa membuat function di PHP, minggu depan hook dan filter, begitu seterusnya.

Sekadar saran, optimis memang perlu, tapi jangan lantas lalawora ketika memasang target. Misalnya, “Aku harus bisa Java dalam waktu satu bulan!”

Bisa Java dalam waktu satu bulan? Gelo sugan.

12. Fokus pada Proses

“Saya udah setahun belajar, tapi kok gak ada kemajuan?”

“Orang lain udah bisa bikin aplikasi canggih, kok saya masih di sini-sini aja?”

Gaes, belajar bahasa pemrograman BUKANLAH PERLOMBAAN.

Boleh saja termotivasi dengan pencapaian orang lain, tapi setiap orang punya start berbeda, kemampuan belajar berbeda pula. Maka nikmati saja prosesnya. Rayakan kemenangan-kemenangan kecil yang Anda dapatkan. Ngodinglah dengan bahagia. 🙂

13. Solving Problem

Ketika belajar, tentu kita akan mendapati berbagai hambatan, teknis maupun nonteknis. Kode eror lah, webnya gak jalan lah, dsb. Jangan dulu pusing atau nangis-nangis. Memang begitulah kehidupan, kisanak. Pasti ada rungsing-rungsingna.

Kalau ada masalah pas ngoding: Masalah >> cari penyebabnya >> cari solusinya. Dan usahakan cari sendiri dulu, baca dokumentasi kek, browsing kek. Kalau sudah mentok banget, baru dilempar ke forum atau bertanya ke orang lain.

14. Materi Pendukung

Selain bahasa pemrograman, kita juga perlu belajar hal lain yang relevan dengan ini:

  • HTML & CSS (udah pasti ini mah)
  • Version Control System (Git, dll.)
  • Package Manager (npm, composer, dll.)

15. Alur Kerja

Katakanlah kita akan membuat sebuah website menggunakan bahasa pemrograman PHP dan JS. Tapi kan gak bisa ya ujug-ujug ngoding PHP weh. Nah, kita perlu tahu dulu alur kerja atau proses pembuatannya.

Kita enggak harus bisa semuanya dari mulai riset lalu desain lalu bla bla bla. Minimal paham kalau bikin web itu gak pakai tongkat ajaib yg sekali lambai langsung jadi.

“Kalau bikin aplikasi gimana, Teh?”

Nah, kalau itu saya enggak paham karena so far, saya belajar web development, bukan mobile apps.

16. Buatlah Sesuatu

Ini jurus pamungkas untuk yang autodidak: BIKIN SESUATU. Setelah paham hal-hal fundamentalnya, ya harus dipraktikkan. Nonton atau baca tutorial doang mah sama aja bohong.

Bikin landing page sederhana kek, software kek, game kek, apa pun. Kalau udah bikin, boleh tuh diunggah ke medsos atau Github dan jadi semacam portofolio. Siapa tahu dari situ Anda malah dapet kerjaan, ya kan?


Saya kira 16 poin cukup. Semoga bermanfaat dan selamat belajar.

Salam,
~eL

Langit Amaravati

Web developer, graphic designer, techno blogger.

Peminum kopi fundamentalis. Hobi mendengarkan lagu dangdut koplo dan campursari. Jika tidak sedang ngoding dan melayout buku, biasanya Langit melukis, belajar bahasa pemrograman baru, atau meracau di Twitter.

Traktir Kopi

Suka artikel-artikel di blog ini dan merasa artikel di sini berguna buat kamu? Traktir saya kopi agar saya bisa terus membuat konten-konten bermanfaat.

Nih buat jajan

Leave a Comment

You cannot copy content of this page