Updated on:

Memulai Karier Sebagai Freelancer, Tekad atau Nekad?

Dunia kerja berkembang sedemikian pesat, baik bidang maupun bentuknya. Satu dekade terakhir, bekerja tak melulu datang ke kantor, bekerja bisa saja dilakukan di rumah atau dari mana saja. Profesi-profesi seperti freelancer, remote worker, dan digital nomad, banyak dijadikan sebagai opsi oleh mereka yang sudah lelah bekerja nine to five.

Sebagaimana bidang lain, cara menjadi freelancer juga tidak bisa sagawayah atau sembarangan. Banyak hal yang perlu dipikirkan dan dipersiapkan, terutama untuk Anda yang menjadi pencari nafkah utama atau punya tanggungan.

Artikel ini tidak dibuat untuk tujuan fearmongering, sebaliknya memberi Anda gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan seorang freelancer. Jadi yuk, kita ngobrol-ngobrol lebih jauh.


Curhat dong, Mah!

Saya sendiri memulai “karier” sebagai freelance sejak tahun hmmm … 2012. Sebelumnya pernah bekerja sebagai shipping officer dan berbagai role lainnya. Ketika resign dari kantor, tak ada skill yang saya miliki selain menulis cerpen, mengetik 10 jari, dan hafal HS code di luar kepala.

Saat itu dunia digital belum seperti sekarang. Tanpa skill memadai dan “cuma” lulusan SMK, tak banyak pekerjaan yang bisa saya dapatkan. Ripuh aslina.

Sebagai orang tua tunggal dengan dua orang anak dalam tanggungan, tentu saja saya tak bisa hanya diam. Karena tahu bahwa latar belakang pendidikan dan keahlian yang saya miliki saat itu tak akan membantu banyak, maka saya mulai mencari dan menggali keahlian baru.

Saya mulai belajar secara autodidak. Dari buku, dari situs web untuk belajar desain, dari mana saja. Seiring berjalannya waktu, profesi saya tak lagi pengangguran melainkan freelance layout designer, techno blogger, dan (self-claimed) web developer.

Saya pernah diwawancarai Uwan dan bercerita tentang suka duka jadi freelancer di blognya. Tapi itu cerita saya, cerita Anda mungkin akan berbeda dan jauh lebih gemilang dibanding saya dulu.


Hal-Hal yang Perlu Dipersiapkan

Cara menjadi seorang freelancer

Sebelum benar-benar terjun menjadi pekerja lepas, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan:

1. Skill

Jika Anda berniat menjadi full time freelancer artinya Anda menjadi tenaga kerja siap pakai, karena dunia freelance bukan tempat magang. Kita akan bersaing dengan jutaan freelancer lainnya. Dengan kata lain, perlu memiliki skill yang mamadai.

Menjadi freelancer tanpa skill memadai ibarat tidak bisa berenang tapi nekad terjun ke laut. Risikonya ya tenggelam. Kesalahan ini pulalah yang saya lakukan dulu. Untungnya, saya belajar “berenang dan menyelam” dengan cepat.

Harap diingat bahwa tidak semua field atau bidang pekerjaan tersedia untuk freelancer. So, persiapkan keahlian yang bisa dijual sejak jauh-jauh hari.

Beberapa profesi yang available untuk freelancer:

  • Desainer grafis
  • Web developer, mobile developer, software developer
  • Fotografer
  • Penulis, termasuk content writer dan bloger
  • Social media strategist
  • Editor
  • Penerjemah
  • Desain interior
  • Videografer
  • Admin online shop
  • Ilustrator

Jika Anda punya rekomendasi jenis profesi lainnya, silakan tuliskan di kolom komentar. Hatur nuhun.

Baca juga: Belajar Coding Gratis

2. Tabungan

Usahakan punya tabungan untuk biaya hidup 3 bulan ke depan sebelum benar-benar resign dan terjun jadi freelancer. Anggap saja sebagai safety net. Well, fungsinya memang sebagai safety net.

Kenapa harus menyiapkan tabungan? FYI, freelancer tidak memiliki gaji atau penghasilan tetap. Penghasilan kita nantinya by project. Jika project selesai, dibayar. Jika belum selesai atau tidak ada pekerjaan, ya artinya kita tidak akan punya penghasilan sementara perut masih harus diberi makan dan berbagai tagihan terus berjalan.

3. Portofolio

Portofolio bisa dibuat sambil jalan tapi akan lebih baik jika sebelum memulai Anda sudah punya portofolio. Setidaknya, ada contoh karya yang bisa ditunjukkan kepada calon klien.

Bagaimana jika sama sekali belum punya contoh pekerjaan yang bisa dipamerkan karena belum pernah dapet project? Anda bisa membuat karya eksplorasi, yang penting mah ada contoh karya.

Baca juga: Tip Membuat Portofolio

4. Networking

Pepatah “banyak teman banyak rezeki” itu ada benarnya. Saat sudah menjadi pekerja lepas nanti, kita akan tahu bahwa kenal dengan banyak orang adalah harta yang teramat berharga.

Jujur, selama nyaris 11 tahun ini, saya banyak mendapatkan pekerjaan dari teman-teman yang saya kenal di media sosial, termasuk dari sesama bloger. Malah, bisa dibilang bahwa teman-teman bloger adalah keluarga kedua karena support-nya yang luar biasa.

5. Administrasi

Sebagai freelancer, artinya kita tidak punya atasan, pun tidak punya admin dan HRD. Kita akan bekerja sendirian, termasuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan administrasi.

Ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui:

  • LoA (Letter of Agreement).
  • Invoice.
  • MoU (Memorandum of Understanding), sering digunakan sebagai perjanjian kerja sama antara klien dengan freelancer.

Tidak semua orang suka melakukan paperworks, tapi ya mau bagaimana lagi?

Baca juga: Cara Membuat Invoice + Aplikasi Invoice Online

6. Marketing dan Digital Marketing

Saya kira ilmu marketing perlu dimiliki oleh siapa saja, tak terkecuali seorang freelancer. Karena kita perlu memasarkan dan mempromosikan jasa kita kepada calon-calon klien di luar sana. Anda tak perlu ahli digital marketing, tapi kalau tahu tentu akan sangat membantu.

Baca juga: How to “Jual Diri” di Internet

7. Alat Kerja

Ketika jadi karyawan, kita tak perlu memikirkan alat-alat kerja karena biasanya sudah disediakan. Ketika jadi freelancer, tentu saja kita harus punya alat kerja sendiri. Misalnya laptop, kamera, dan alat lain yang dibutuhkan bidang Anda.

Tapi tidak perlu berkecil hati jika Anda belum memiliki alat kerja yang memadai. Gunakan saja yang ada atau jika memungkinkan, bisa meminjam kepada saudara atau teman. Dulu juga saya memulai karier sebagai desainer dengan laptop pinjaman. *Eh curhat mulu

Baca juga: Tip Memilih Laptop untuk yang Sedang Belajar Desain


Cara Menjadi Freelancer

Gimana, sudah mempersiapkan skill dan sebagainya? Sekarang, mari berbicara soal bisnis. *ehem

1. Kabarkan pada Dunia

Beri tahu semua orang. Keluarga, teman, kenalan, bahkan mantan-mantan rekan kerja dulu. Redaksinya tak harus, “Eh, sekarang aku jadi freelancer lho. Nanti kalau kamu ada perlu ke aku ya.”

Sebaliknya, gunakan teknik soft selling/covert selling.

Poin ini akan saya bahas dengan lebih detail di artikel terpisah.

2. Tentukan Ratecard

Ratecard adalah semacam daftar harga dari jasa yang kita berikan. Ini penting diperhitungkan agar ketika ada yang bertanya tentang harga, kita tak bingung menjawabnya.

Baca juga: Tip Menentukan Ratecard untuk Bloger

3. Mulai Mencari Pekerjaan

Prosesnya sama seperti ketika kita mencari pekerjaan: melamar, menawarkan proposal, dsb. Bedanya, freelancer melakukan itu setiap saat. Dengan kata lain, hidup freelancer itu dari klien ke klien, dari project ke project.

Anda bisa mulai mencari pekerjaan dari teman, saudara, di situs-situs freelance, sosial media, dsb. Kita akan membahas tempat mencari pekerjaan untuk freelancer di artikel lain supaya lebih komprehensif.

Baca juga: Tip Mendapatkan Penghasilan dari Blog

4. Upgrade Skill

Selalu upgrade skill. Bisa dengan menambah skill baru atau mengasah skill lama. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa ahli di satu bidang jauh lebih baik daripada bisa semua hal tapi hanya rata-rata alias medioker. Ungkapan itu ada benarnya, sayangnya kadang tak sesuai dengan realita.

Sebagai freelancer, kita harus punya banyak sekali pos pemasukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan “satu pintu”. Hal itu sulit dicapai jika kita hanya punya satu bidang keahlian. Ya, kecuali jika satu kali project bernilai puluhan juta, misalnya.

5. Usahakan Punya Klien Tetap

Karena seorang pekerja lepas tidak memiliki penghasilan tetap, jadi usahakanlah punya klien reguler. Klien yang memberi pekerjaan atau bekerja sama dengan kita secara berkala. Dengan begini, meski penghasilan kita fluktuatif, setidaknya klien tetap bisa dicanangkan untuk pengeluaran yang sifatnya tetap setiap bulan seperti bayar kontrakan, bayar Indihome, bayar listrik, dan lain-lain.

Kalaupun belum mendapatkan klien tetap, usahakan tetap menjaga hubungan baik dengan klien-klien lainnya. Saya yakin Anda sudah tahu ini. Jika pekerjaan kita bagus, bukan tidak mungkin mereka akan merekomendasikan kepada teman atau saudaranya, ya kan?


Everything Will be Okay

Saya mengerti bahwa setiap orang punya motivasi berbeda ketika memutuskan jadi freelancer. Ada yang finansialnya sudah stabil tapi bosen ngantor. Ada yang terpaksa resign. Ada yang karena di-PHK. Ada pula yang karena memang belum punya pekerjaan tetap sehingga harus menjadi freelancer dulu. Dan sejuta alasan lainnya.

Apa pun motivasi Anda, be brave!

Memulai sesuatu, apa pun itu, memang tidak mudah. Tidak akan pernah mudah. Namun, sepanjang kita gigih dan mau berproses serta terus melakukan progres, believe me, everything will be okay.

Cheers,
~eL

Langit Amaravati

Web developer, graphic designer, techno blogger.

Peminum kopi fundamentalis. Hobi mendengarkan lagu dangdut koplo dan campursari. Jika tidak sedang ngoding dan melayout buku, biasanya Langit melukis, belajar bahasa pemrograman baru, atau meracau di Twitter.

Traktir Kopi

Suka artikel-artikel di blog ini dan merasa artikel di sini berguna buat kamu? Traktir saya kopi agar saya bisa terus membuat konten-konten bermanfaat.

Nih buat jajan

5 thoughts on “Memulai Karier Sebagai Freelancer, Tekad atau Nekad?”

  1. Artikelnya membantu dan bikin saya merasa perlu banget menambah skill. Saya blogger buku, tapi rasa-rasanya terjebak di tulisan yang pada umumnya. Padahal saya yakin masih banyak orang yang rela membaca blog jika pembawaan tulisannya menarik. Aih, urgent mesti giat belajar banget ini mah.

    Terima kasih atas tulisannya Mbak Langit 🙂

    Reply

Leave a Comment